
Tidak sampai matahari terbenam, hari masih sore Naon dan Siti sudah menyelesaikan penyelidikan mereka. Setelah menyelesaikan tugas dari Fano, Naon akan segera menghadap pada Fano, dia masih di perjalanan menuju kediaman Reinhard. Naon masih ragu-ragu menjelaskan penyelidikannya pada Fano, namun karena melihat Presdirnya itu sangat marah, dia yakin setelah dia menghadap lagi pasti Fano sangat marah mengetahui siapa pengirim bunga itu.
“Semoga Presdir tidak marah lagi” batin Naon mengemudikan mobil milik Fano.
# Kediaman Reinhard.
Fano baru saja selesai meregangkan otot-otot tubuhnya di ruangan fitnes minimalis pribadi yang ada di kediaman Reinhard. Desain ruangan fitnes minimalis itu di rancang oleh desain interior karyawannya sendiri. Desainnya sangat menarik, bahkan ruangan itu membuat setiap orang yang ingin berolahraga di sana akan nyaman. Tidak berapa lama Dakota sudah masuk keruangan itu, dia melihat Fano sedang duduk di lantai.
“Sayang ....” ucap Fano, dia terkejut melihat keberadaan Dakota saat memasuki ruangan itu dengan pakaian olah raga. Pakaian olah raga yang dikenakan Dakota terlihat tipis membuat semua lekuk tubuhnya terlihat.
“Apa aku tidak boleh masuk kesini” ucap Dakota langsung melap keringat Fano dengan handuk kecil putih yang sudah tergantung di leher Fano.
“Kenapa aku harus melarangmu, apa kamu sudah baikan, kalau belum baikan lebih baik istirahat kembali” ucap Fano mengkhawatirkan Dakota, dia membiarkan Dakota melap keringatnya.
“Setelah tidur kembali tadi, aku sudah baikan, aku merasa harus mengeluarkan keringat, seharian ini aku hanya berdiam diri di dalam kamar” ucap Dakota memandangi wajah Fano sambil tangannya melap keringat yang ada di dada Fano.
“Suamiku ini memang tampan, wah.., aku sedang memikirkan apa sih.., sadarlah Dakota” gumam Dakota, wajah Dakota sudah merona melihat tubuh suaminya, dia tidak menyangka tubuh suaminya itu sudah menyatu dengannya semalam.
Sementara Fano sudah memperhatikan bekas kecupan pada leher istrinya itu sudah mulai berwarna gelap. Fano malah senyum melihat leher istrinya, kembali Fano menatap wajah Dakota, dia melihat bibir Dakota sudah merah merona tanpa dipoles apapun dan sangat menggiurkan.
“Sepertinya, aku mulai bernafsu , staminaku juga sudah kembali” gumam Fano, dia langsung menarik wajah Dakota yang masih duduk dilantai.
“Embh ....” bibir Fano sudah menyentuh bibir Dakota. Dakota sangat terkejut dengan perlakuan Fano secara tiba-tiba sudah menciumnya, Dakota hanya menerima perlakuan Fano, dia mulai memejamkan matanya. Ciuman itu semakin intens, bahkan tubuh Dakota sudah jatuh kelantai, Fano mengabaikan segalanya, dia tetap meluma* bibir istrinya itu.
“Ada apa denganku, kenapa aku juga ikut bernafsu begini” batin Dakota.
“Hah ... hah ....” keduanya mendesah karena ciuman panjang mereka.
“Sayang ....” ucap Fano mengangkat tubuh istrinya, kembali dia mendaratkan bibirnya pada bibir Dakota.
“Emmm ....” Dakota meronta dipelukan Fano untuk melepaskan ciuman mereka.
“Suamiku, aku kesini untuk olah raga” ucap Dakota. Namun Fano membawa tubuh Dakota menuju sofa yang ada di ruangan fitnes.
“Suamiku ....” ucap Dakota, dia berharap Fano menghentikan aksinya.
“Tubuhmu sudah kurusan, kenapa kau harus berolah raga” bisik Fano, dia mulai menjilati atasan gunung kembar Dakota.
“Salah siapa, kenapa kau harus memakai pakaian tipis ini, aku jadi bernafsu” gumam Fano.
“Aku olah raga itu bukan untuk mengkuruskan tubuhku, tapi menjaga kestabilan tubuh” ucap Dakota. Fano tetap melaksanakan aksinya, bahkan dia sudah melepaskan pakaiannya.
“Apa kau akan melakukannya disini, bisakah kau menunggu sampai malam nanti” pinta Dakota.
“Sayang, aku sangat ingin, aku juga baru selesai olah raga” ucap Fano melucuti tubuh Dakota.
__ADS_1
“Bagaimana jika ada orang yang masuk keruangan ini, bahkan kita belum menutup pintunya.
“Tidak akan ada yang masuk” ucap Fano kembali melakukan aksinya.
“Kayaknya dia tidak bisa menahan diri, semoga tidak ada orang yang masuk” batin Dakota.
Dakota sudah pasrah melayani Fano di ruangan itu. Setelah Fano merasakan nafsunya sudah melunjak dia langsung menyatukan juniornya pada area sensitif Dakota.
“Aahhhh ....” desah Dakota merasakan bahwa area sensitifnya masih terasa sakit, dia sudah merasakan dorongan dari suaminya, membuat tubuhnya ikut bergoyang.
“Sayang, aku akan lebih lembut” ucap Fano melancarkan aksinya. Wajah Dakota sudah malu-malu, dia bahkan mentutup wajahnya. Fano hanya senyum-senyum melihat istirnya sudah malu-malu.
Sementara Naon dan Siti sudah sampai di kediaman Reinhard, sedari tadi mereka ingin melaporkan hasil penyelidikan mereka. Namun mereka tidak menemukan keberadaan Fano di ruang baca, juga di kamar Fano. Saat mereka menekan bel kamar Fano tidak ada suara yang terdengar menyahut mereka dari dalam. Bel kamar itu sudah di tekan berulang kali.
“Siti, menurutmu Presdir ada dimana, setahuku Presdir mengkosongkan jadwalnya seharian ini” tanya Naon pada Siti.
“Manajer Naon hari ini hari Sabtu, biasanya kalau sudah sore begini Presdir sedang olah raga, kemungkinan Presdir di ruang fitnes” tebak Siti menjawab pertanyaan Naon.
“Bisa jadi Siti, kalau Presdir pergi ke gym seharusnya dia mengabariku. Dia pasti di sekitaran rumah ini” ucap Naon melangkahkan kakinya, Siti sudah mengikuti Naon dari belakang.
Mereka langsung menuju keruang fitnes. Tidak berapa lama mereka langsung masuk keruang Fitnes.
“Presdir ....” ucap Naon gugup melihat Fano dan Dakota sudah bugil di ruangan itu. Mata Naon langsung terbelalak melihat adegan itu, sementara Siti sangat terkejut, dia langsung menutup matanya dan menendang kaki Naon mengajak Naon segera keluar dari ruangan itu. Namun karena syok Naon malah berdiri melongo. Fano dan Dakota sangat terkejut mendengar suara Naon, mereka langsung menoleh ke sumber suara dan melihat keberadaan Naon dan Siti sudah berdiri di ruangan itu.
“Suamikuuuu ....” teriak Dakota memukuli dada Fano, Dakota langsung memejamkan matanya. Dakota sangat malu dengan keadaan itu, mereka sudah di pergoki oleh Naon dan Siti.
“Maaf Presdir, kami salah” ucap Naon dan Siti bersamaan, mereka langsung lari terbirit-birit keluar dari ruangan itu.
“Dasar bodoh, masih bisa minta maaf” batin Fano.
Fano melihat wajah istrinya masih memejamkan mata.
“Mereka sudah keluar” ucap Fano.
“Aku sudah mengatakan padamu tadi, mereka bahkan melihat kita” ucap Dakota memalingkan wajahnya, dia kembali melihat sekitar.
“Ya ampun, aku sangat malu, bagaimana aku bertemu dengan mereka nanti” batin Dakota.
“Bisakah kita berhenti saja” ucap Dakota memegangi lengan Fano.
“Sayang, masih tanggung, sebentar lagi ya” ucap Fano melanjutkan aksinya.
“Kenapa suamiku ini tidak tahu malu, masih mau melanjutkan” batin Dakota.
Sementara Naon dan Siti sudah ngos-ngosan berlari sampai ke ruang tamu.
__ADS_1
“Kenapa kalian ngos-ngosan” tanya ibu Lena melihat Naon dan Siti sedang mengatur pernafasan mereka.
“Tidak apa-apa nyonya besar” sahut Naon. Siti ikut mengangguki perkataan Naon.
“Apa terjadi sesuatu yang aneh” tanya ibu Lena kembali.
“Tidak nyonya, tidak terjadi apa-apa, kami hanya lomba lari” ucap Siti menjelaskan.
“Begitu ya, apa kalian melihat Fano dan istirnya, sedari tadi aku mencari mereka, mereka belum terlihat olehku” ucap ibu Lena.
“Nyonya ....” ucapan Siti terpotong, mulut Siti langsung ditutup dengan tangan Naon.
“Nyonya besar, Presdir dan nyonya muda masih hangat-hangatnya, bisakah mereka tidak usah diganggu” ucap Naon. Siti langsung memukul pundak Naon.
“Kenapa manajer Naon terlihat bodoh, malah ngomong yang tidak-tidak” gumam Siti.
“Kenapa kau memukulku” bisik Naon.
“Nyonya besar, kami juga mau menghadap pada Presdir, nanti kalau kami sudah bertemu dengan mereka, akan kami beri tahu pada Presdir bahwa nyonya mencari sedari tadi” ucap Siti.
“Baiklah, sampaikan pada mereka nanti” ucap ibu Lena meninggalkan Naon dan Siti.
“Huh ....” ucap Siti menahan nafasnya. Dia mendudukan pantatnya di sofa.
“Siti, mataku masih sucikan, kenapa aku melihat adegan wik wik secara live” ucap Naon terlihat polos.
“Ya ampun, manajer Naon, kenapa kau terlihat bodoh begini” ucap Siti melihat Naon terlihat bodoh.
“Siti, bagaimana ini, kita pasti mendapatkan hukuman” ucap Naon menggaruk kepalanya.
“Manajer Naon, kau hanya pandai mengatasi masalah perusahaan saja” ucap Siti kesal, entah kenapa dia merasa bahwa Naon sungguh terlihat polos juga bodoh.
“Bisa-bisanya manajer Naon berdiri lama disana, aku sudah menendang kakinya, dia malah terdiam” batin Siti.
BERSAMBUNG.............
Hai Reader Wanita Presdir, semoga semuanya sehat selalu ya🙏
Terima kasih sudah mampir, 😄
Jangan lupa like dan komentar ya😘
Oya, jadiin Favorite untuk up lanjutan,😄
Sesekali Vote ya🙏
__ADS_1
See you 🙋🙋🙋