Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 73


__ADS_3

# Kediaman Reinhard


Keesokan harinya hari sudah menunjukkan pukul 10 wib. Namun Fano dan Dakota belum juga keluar dari kamar mereka. Naon dan Siti tidak berani membangunkan pasangan suami istri itu, walau sebenarnya jadwal Fano masih ada terpaksa di tunda karena ibu Lena yang melarang Naon untuk membangunkan mereka.


“Ini sudah mau siang, setidaknya hari ini hari Sabtu, mereka bisa bersantai” gumam ibu Lena. Dia tetap melarang Naon untuk membangunkan anaknya walau hari sudah mau siang.


Sementara itu di kamar Fano.


“Aduh, badanku sangat sakit, semuanya terasa sakit” gumam Dakota pelan masih terdengar oleh suaminya Fano. Ternyata Fano sudah menatapnya.


“Sayang, kamu sudah bangun” ucap Fano, dia masih berbaring disamping Dakota.


“Kamu, tidak masuk kantor?” tanya Dakota.


“Hari ini hari Sabtu, aku tunda untuk mengunjungi undangan, aku ingin bersenang-senang dengan istriku” sahut Fano masih memandangi istrinya, tubuh mereka berdua masih bugil.


“Aduh..” sahut Dakota, saat dia mau beranjak dari kasur menutupi tubuhnya dengan selimut, namun tubuhnya terasa sakit semua.


“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Fano mengkhawatirkan istrinya. Fano sudah menarik tubuh Dakota.


“Aaah ... ada apa denganmu” sahut Dakota memalingkan wajahnya.


“Kenapa malu begitu, kamu sudah melihat semuanya” ucap Fano menggoda istrinya. Dakota memalingkan wajahnya, baginya semuanya terasa mimpi, dia baru saja melakukan kewajibannya sebagai seorang istri untuk yang pertama kalinya.


“Aku sangat malu mengingat hal itu, aku tidak tahu dinding kamar ini kedap suara atau tidak, dia bahkan melahapku sebanyak 3 ronde, hingga ayam berkokok urusan kami baru selesai” batin Dakota.


Dakota tetap memalingkan wajahnya dan melihat noda darah masih ada di sprei kasur mereka. Mata Dakota mulai berkaca-kaca melihat noda darah itu hingga air matanya keluar.


“Hei, kenapa kau menangis” ucap Fano memeluk istrinya.


“Air mataku begitu saja keluar, aku tidak menyangka sudah menyerahkan diriku padamu” ucap Dakota, wajahnya sudah bersembunyi pada dada bidang Fano. Fano sangat terharu mendengar ucapan istrinya. Dia langsung mengecup kening istirnya.


“Untuk sprei yang sudah kita pakai semalam, tidak perlu dicuci, aku akan mengemasnya, suatu saat nanti kalau anak kita sudah lahir, spreinya baru dicuci” ucap Fano pada istrinya.


“Kamu kenapa bertindak begitu” tanya Dakota heran dengan ucapan Fano.


“Sprei ini bukti cinta kita, aku ingin mengenangnya sampai buah hati kita lahir nanti” ucap Fano melepas pelukannya.


“Apa harus begitu, itu hanya darah kotor saja” ucap Dakota.


“Aku tidak peduli, bagiku darah itu bukti istriku sudah menyerahkan dirinya padaku, aku ingin mengenangnya” jelas Fano.

__ADS_1


“Baiklah, aku yang akan merapikannya nanti” sahut Dakota, wajahnya mulai malu-malu. Fano kembali tersenyum melihat wajah Dakota sudah malu-malu, dengan lembut dia melap pipi istrinya yang sudah basah.


“Apa kau mau mandi?” tanya Fano.


“Ahh ....” teriak Dakota kembali saat dia mau berdiri.


“Apa masih sakit, apa perlu aku panggil Dokter” tanya Fano mengkhawatirkan Dakota. Wajah Dakota sudah mulai malu mendengar suaminya akan memanggil Dokter hanya untuk permasalahan mereka. Fano sudah terlihat cemas.


“Apa aku terlalu ganas padanya, semalam aku memang tidak bisa mengontrol diriku” batin Fano.


“Suamiku, tidak perlu sampai memanggil Dokter” sahut Dakota.


“Bisa-bisa semua orang yang ada dirumah ini akan tahu aku sakit karena apa” gumam Dakota.


“Baiklah, aku akan membantumu, ayo kita mandi dulu” sahut Fano menggendong tubuh istirnya menuju kamar mandi.


Sesampainya mereka di dalam kamar mandi. Fano meletakkan tubuh istrinya didalam bak kecil.


“Suamiku, tidak perlu memandikan aku, aku bisa sendiri” ucap Dakota. Fano mengabaikan perkataan isrinya, dia malah mengambil perlengkapan mandi dan menggosok tubuh istirnya. Dakota pasrah dimandikan oleh Fano, dia merasakan bahwa suaminya itu sangat lembut memperlakukannya.


Fano menatap dan memperhatikan tubuh istrinya, semua tubuh istrinya sudah berbekas akibat ulahnya. Yang paling parah itu dibagian leher menuju gunung kembar Dakota, semuanya bekas kecupan Fano tinggal disana, hal itu membuat Fano tersenyum lebar.


“Sayang, hari ini tidak perlu keluar rumah, rebahan saja di dalam kamar” sahut Fano. Dakota langsung mengangguk.


Setelah mereka berdua selesai mandi, Fano sudah memerintahkan Siti untuk segera membawakan kebutuhan istrinya. Tidak berapa lama, Siti sudah membawa semua yang dibutuhkan oleh Dakota. Bahkan sampai jamu pemulih staminapun sudah dibawa olehnya, hal itu membuat Dakota semakin malu menghadapi Siti. Untungnya Siti langsung keluar dari kamar itu, dia memahami situasi pasangan suami istri itu.


“Sayang, makanlah semuanya, supaya staminamu kembali pulih” ucap Fano menyuapi Dakota.


“Suamiku, aku bisa sendiri, tidak perlu disuapi” sahut Dakota, Fano mengabaikan perkataan Dakota, dia tetap menyuapi Dakota, bahkan saat memakaikan pakaian tadi dilakukan oleh Fano.


“Aku tidak tahu, sejak kapan suamiku ini ahli melakukan segalanya, bahkan dia sangat paham memakaikan pakaian wanita, hingga makananpun dia memahami semua itu” batin Dakota.


Tidak berapa lama mereka sudah selesai makan. Sesuai dengan perkataan Fano, Dakota kembali rebahan di kasur mereka. Fano sudah keluar dari kamar menuju ruang baca.


# Ruang baca Fano.


“Presdir” ucap Naon sudah menghadap pada Fano


“Hmm ....” ucap Fano, dia sedang memeriksa dokumen yang harus dia selesaikan hari itu. Dia terlihat tidak serius menghadapi Naon.


“Maaf Presdir saya harus menyampaikan hal penting pada Presdir” ucap Naon serius.

__ADS_1


“Apa yang mau kau sampaikan” ucap Fano menghentikan pekerjaannya.


“Kemarin saat pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi rumah nyonya muda, ada seorang kurir mengantar rangkaian bunga mawar merah Presdir” jelas Naon.


“Lalu” tanya Fano.


“Rangkaian mawar itu awalnya pengawal itu berpikir untuk ditujukan untuk nona Yohana, karena nyonya muda tidak menyukai mawar berwarna merah, namun bunga mawar merah itu langsung dibuang oleh nona Yohana, saat nona Yohana menerima bunga mawar itu. Tidak sampai disitu saja, wajah nona Yohana terlihat kesal dan marah” jelas Naon.


“Kenapa bisa begitu?” tanya Fano penasaran.


“Pengawal mengawasi lagi untuk minggu berikutnya, kurir pengantar bunga mawar yang sama datang mengantar rangkaian bunga mawar berwarna merah, kebetulan nona Yohana tidak ada dirumah, kurir itu meletakkan bunga mawar itu didepan pintu. Pengawal yang bertugas mengawasi langsung melihat bunga mawar itu, ada tulisan yang di tujukan, ternyata tulisan itu untuk nyonya muda” jelas Naon.


“Apa isi dari tulisan itu” tanya Fano semakin penasaran.


“Isi dari tulisan itu mnegatakan gadis kecil, aku ingin bermain-main denganmu, kau pasti sangat syok dengan kiriman ini, selamat menikmati, begitu Presdir” ucap Naon.


“Apa?” ucap Fano terkejut, dia mulai emosi.


“Bukan hanya itu saja Presdir, keesokan harinya ada lagi kurir yang mengantarkan bunga mawar berwarna merah, namun untuk nama pengirim bunga mawar itu hanya inisial saja Presdir. Tulisan yang tertempel pada bunga mawar itu ditujukan untuk nyonya muda dari JS, tulisan itu mengatakan, sudah lama kita tidak bertemu, aku dengar kamu sudah menikah cinta pertamaku, aku sangat merindukanmu, begitu Presdir” ucap Naon kembali, membuat emosi Fano semakin menjadi.


“Jadi maksudmu, ada dua orang yang mengirimkan bunga mawar sekaligus untuk istriku” ucap Fano, suara Fano mulai meninggi.


“Benar Presdir, dapat disimpulkan bahwa kedua pengirim ini tujuannya berbeda Presdir, satu bertujuan jahat untuk nyonya muda dan yang satu lagi bertujuan sebagai kekasih lama” jelas Naon ragu-ragu. Fano langsung melemparkan buku yang ada dihadapannya pada Naon.


“Ah ....” sahut Naon meringis, ternyata buku yang dilempar oleh Fano itu sangat tajam sudah melukai hidung Naon.


“Apa kau tidak bisa bekerja, temukan segera, siapa kedua pengirim itu” tegas Fano, tangan Fano mulai mengepal.


“Baik Presdir” ucap Naon.


“Kalau sampai hal ini tidak kau temukan sampai nanti malam, jangan harap kau bisa bangun besok pagi, keluar..!! tegas Fano.


Naon langsung menunduk, keluar dari ruangan baca Fano, sementara Siti yang mendengar dari balik pintu ikut keluar mengikuti Naon.


BERSAMBUNG.............


Hai Reader Wanita Presdir, semoga semuanya sehat selalu ya🙏


Terima kasih sudah mampir, Jangan lupa like dan komentar ya,😘


Sesekali Vote ya dan jadikan novel ini Favorite untuk up lanjutan.

__ADS_1


See you 🙋🙋🙋


__ADS_2