
Mendengar perkataan security, Yohana langsung memeriksa keberadaan Dakota dirumah. Dia memeriksa kamar mereka, ternyata tidak ada. Namun dia melupakan keberadaan sepatu pansus kerja Dakota berada didepan pintu kamar ibu Endangsi.
“Sial, jelas-jelas ini sepatunya, kenapa aku mengabaikan ini” batin Yohana.
Betapa terejutnya dia melihat posisi Dakota tertutup dengan selimut.
“Kebiasaan dia kalau lagi sedih pasti menutup diri dengan selimut, apa tidak gerah” batin Yohana melangkah mendekat pada Dakota.
“Srekk ....” Yohana melihat Dakota sudah tertidur dengan lelap. Namun kali ini berbeda, Dakota sama sekali tidak menangis bahkan matanya tidak bengkak.
Hal itu membuat Yohana semakin terkejut dengan penampilan sahabatnya itu. Melihat Dakota sudah tidur dan aman bersamanya, Yohana langsung mengabari Fano.
“Halo” jawab Fano dari seberang.
“Halo, Presdir Fano ternyata Dakota ada dirumah bersamaku. Apa kamu akan menjemputnya” ucap Yohana.
“Ya, aku akan menjemputnya” ucap Fano.
“Tapi dia sudah tidur, bisakah jemputnya besok saja” pinta Yohana.
“Aku sudah didepan rumah” ucap Fano.
“Apa? ya ampun kenapa secepat itu sudah sampai” ucap Yohana tidak percaya. Dia langsung menuju jendela depan rumah dan melihat dari gorden bahwa mobil mewah Fano sudah berhenti dihalaman rumah.
“Aku akan masuk” ucap Fano menutup panggilannya.
“Belum aku jelaskan kalau Dakota mau bertemu dengannya atau tidak, dia sudah main matiin aja” oceh Yohana heran dengan sikap suami sahabatnya main mutusin panggilan.
Yohana langusung menuju kamar ibu Endangsi, ternyata Dakota sudah terbangun dan mendengar keberadaan sahabatnya melangkah masuk kekamar.
“Beb” ucap Yohana menghampiri Dakota, dia langsung duduk di kasur.
__ADS_1
“Kamu kenapa baru tiba beb, ini sudah pukul berapa” tanya Dakota menggerakkan tubuhnya yang sudah pegal-pegal karena kelamaan tidur. Dia melihat jam di handphonenya, namun handphonennya sudah mati.
“Sepertinya handphoneku kehabisan batrei” ucap Dakota.
“Beb, ini sudah larut malam” ucap Yohana heran dengan keberadaan sahabatnya.
“Begitu ya, pantesan kepalaku sakit, aku tidur terlalu lama” ucap Dakota memegangi kepalanya.
“Kamu kesini tidak mengabari suamimu?” tanya Yohana penasaran ada masalah apa sahabatnya itu sampai harus kerumah di hari kerja.
Sementara itu Fano sudah masuk kerumah dan menguping pembicaraan Yohana dan Dakota di dekat pintu Kamar disusul Naon ikut berdiri disamping Fano. Namun Dakota tidak merespon pembicaraan Yohana.
“Kamu lagi marahan sama Fano” ucap Yohana.
“Kenapa harus bahas dia sih beb, aku kesini karena kangen kamar ibuku” ucap Dakota, tujuannya kerumah memang ingin menghindari Fano karena emosinya yang meluap saat di kantor tadi siang, belum lagi masalah sebelumnya membuatnya tidak ingin bertemu dengan suaminya. Walau begitu dia juga sudah merindukan ibunya, dengan tidur dikamar ibunya dia merasakan kehadiran ibu Endangsi.
“Beb, kalau kamu kangen pada ibu, kenapa kamu tidak mengabari suamimu bahwa kamu disini, dia sudah khawatir samamu beb” ucap Yohana.
“Apalagi suamimu sudah ada didepan rumah, aku bahkan belum mempersilahkan dia masuk” batin Yohana.
“Beb, kamu itu bukan anak gadis lagi, bebas tidur ditempat teman atau ingin menginap. Kamu harus ingat kalau kamu sudah berkeluarga. Setidaknya kasih kabar kalau kamu memang menginap disini, belum lagi mama mertuamu pasti ikut cemas” ucap Yohana mengingatkan sahabatnya.
“Aku lupa kalau aku sudah berkeluarga. Kenapa aku merasa seperti anak kecil saat aku berada dikamar ibuku ini. Seandainya saja aku tidak dijodohkan, mungkin aku masih bisa bebas kemanapun aku pergi sepulang kerja, tidak perlu marah saat Presdir di tempat kerjaku dipeluk oleh wanita lain, tidak cemas kalau dia harus bermalam dengan wanita lain. Aku ... aku sangat benci dengannya beb” ucap Dakota, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dia mulai meluapkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.
Fano yang medengar unek-unek istrinya diluar kamar mengepal tangannya, dia baru sadar bahwa istrinya itu sangat membencinya.
“Beb, sadarlah ibumu sudah berhasil dioperasi, kamu menikah dengan Presdir Fano bukannya untuk membiayai operasi ibumu. Kalau ibumu mendengar kamu sedih karena perjodohan ini, dia akan ikut sedih” ucap Yohana, dia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai Fano, dia juga belum pernah pacaran atau memiliki suami.
Mendengar penjelasan Yohana membuat Fano terkejut alasan istrinya menikahinya karena keadaan ibu dari istrinya sendiri.
“Jadi dia mau menikah denganku karena uang, bukan karena dia memang mau menikah” batin Fano.
__ADS_1
“Apa aku bisa kembali seperti dulu lagi dan tidak peduli dengan semuanya sekarang” ucap Dakota.
“Hei, kamu harus sadar beb, saat ini kamu sudah sah jadi istri Fano. Apa kamu tidak peduli padanya, dia sudah mencemaskan kamu beb, bahkan selarut ini dia sudah ada didepan rumah kita untuk menjemputmu” ucap Yohana jujur dengan kehadiran Fano.
“Apa? kenapa kamu tidak bilang dari tadi beb” ucap Dakota terkejut, dia heran dengan sahabatnya kenapa tidak memberitahukannya dari tadi, dia langsung bergegas keluar dari kamar.
“Brugh ....” Dakota sudah menabrak tubuh Fano. Hal itu membuat Fano terkejut seperti pencuri di rumah orang melihat istrinya sudah ada dihadapannya.
“Kamu, kenapa kamu berdiri disini” ucap Dakota.
“Dia tidak lamakan berdiri disini” batin Dakota.
“Apa kau tidak memakai mata untuk berjalan” ucap Fano merapikan pakaiannya, posisinya tepat berhadapan dengan tubuh istrinya. Dakota hanya diam, dia merasa bahwa suaminya ini bicara seperti tidak terjadi apapun diantara mereka bersikap seperti seorang bos dirumahnya sendiri. Hal itu membuatnya semakin kesal.
“Apa? suaminya sudah lama berdiri disini, bisa gawat kalau dia dengar unek-unek Dakota tadi” batin Yohana.
“Ehem” ucap Yohana sudah memandangi pasangan suami istri yang sedang marahan berdiri dihadapannya.
“Nona Yohana, sepertinya kita harus menghirup udara malam. Mari kita keluar sebentar” ucap Naon memahami situasi.
“Ah, iya manajer Naon” ucap Yohana mengikut saja. Dia memahami sahabatnya itu perlu bicara dengan suaminya.
Perasaan Dakota kembali mengingat semua kejadian yang dialaminya hingga tadi siang membuatnya tidak ingin melihat wajah suaminya itu, apa lagi tujuannya kesini untuk menghindar dari Fano dan meredakan amarah dihatinya. Dakota berharap suaminya itu segera keluar dari rumah itu dan tidak ingin diajak bicara, dia sudah memalingkan wajahnya. Lama mereka berdiam diri, tidak ada yang membuka suara untuk bicara.
“Kau lupa dengan perjanjian pernikahan kita, harus terlihat romantis dihadapan orang tuaku. Kau bahkan kabur dari rumah” ucap Fano membuka suara.
“Wah, dari sekian banyak bahan pembicaraan ini yang ingin kamu sampaikan. Membahas perjanjian pernikahan, aku heran kenapa aku harus menuruti isi perjanjian pernikahan itu. Bahkan aku tidak bisa bertemu dengan pria lain manapun tanpa seizin darimu. Lantas kau bisa seenaknya bertemu dengan wanita lain begitu” ucap Dakota. Mata Dakota sudah memandang wajah tampan Fano, baru kali ini dia benar-benar dengan jelas menatap wajah tampan suaminya itu tanpa gugup atau ada tekanan.
BERSAMBUNG........
Hai Reader, terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like dan komentarnya.🙏🌹
__ADS_1
Vote juga boleh😊
See You🙋🙋🙋