
Dakota mengerjakan tugasnya di ruang tamu, tanpa sadar dia sudah selesai mengerjakan tugasnya hingga ayam berkokok. Dia berencana untuk masuk kekamar memejamkan matanya sebentar saja sebelum matahari terbit.
Tiba dikamarnya, dia sudah melihat Yohana tertidur dengan lelap bahkan tidak menyadari kedatangan Dakota.
“Dia sama saja denganku, kalau sudah tidur tidak akan sadarkan diri” batin Dakota menatap sahabatnya itu.
Lalu Dakota beranjak ke kasur untuk merebahkan tubuhnya. Belum sempat dia memejamkan matanya, pintu rumahnya sudah diketuk.
“Tok ... tok ....” ketukan pintu dari luar rumahnya.
Mendengar ketukan pintu itu, Dakota keluar dari kamar melangkah menuju pintu, sejenak dia perhatikan jam yang tergantung di dinding ruang tamu rumahnya sudah menunjukkan pukul 04.40 wib. Dakota melihat dari balik jendela, sudah ada dua orang pria yang berdiri di depan rumah itu.
“Siapa mereka ya? ini masih subuh” batin Dakota.
Dakota langsung membuka pintu rumah itu.
“Selamat pagi nona Dakota” ucap pria itu.
“Ya, pagi ... Ada apa sepagi ini sudah datang kemari?” tanya Dakota heran.
“Maaf nona Dakota kami kesini diperintahkan oleh Presdir Haris untuk mengantarkan kostum” ucap salah satu pria itu. Pria yang satunya lagi sudah menyerahkan 2 kardus paket berisi kostum dan kelengkapan aksesorisnya pada Dakota.
“Ah ya, terima kasih sebelumnya” ucap Dakota menerima 2 kardus paket itu.
“Oya nona, silahkan tanda tangan disini, untuk laporan bahwa paket ini sudah sampai” ucap pria itu. Dakota langsung menandatangi, setelah itu kedua pria itu pamit undur diri.
Tidak berapa lama, Yohana ternyata terbangun mendengar pembicaraan Dakota tadi. Dia langsung memeriksa kedua paket yang sudah terletak diatas sofa. Dia sangat terkejut melihat kostum itu, semuanya memang bagus namun kostum itu terlihat terbuka.
“Beb, serius ini kostum yang akan kita pakai” ucap Yohana menunjukkan sehelai kostum pada Dakota.
“Kenapa beb” ucap Dakota menghampiri Yohana, lalu dia ikut duduk di sofa.
“Lihatlah beb” ucap Yohana menyerahkan kostum yang dipegangnya pada Dakota.
“Hmmm.., kenapa terbuka begini” ucap Dakota meperhatikan kostum itu.
“Tidak mungkinkan Haris yang memesan ini” ucap Yohana heran.
“Pakaian ini sangat terbuka, jika kami memakai ini kami sama saja dengan wanita-wanita tadi” batin Yohana.
“Tadi yang mengantarkan mengatakan kalau itu pesanan Haris beb, kualitasnya bagus beb benar-benar kain sari dari India” ucap Dakota juga memeriksa semua isi paket itu.
“Tapi beb, bukan hanya itu, kostum utama yang lebih parah. Lihatlah ini” ucap Yohana, dia memberikan kostum untuk penari utama, ternyata lebih terbuka lagi dari penari pendamping.
“Mungkin konsep acara kali ini memang gadis dewasa beb” ucap Dakota.
“Aku nggak sanggup beb, jika memakai ini yang ada orang akan bilang banyak susu bertebaran. Kita pesta susu” ucap Yohana blak-blakan.
“Hus, kamu ini ngomong apa sih beb. Kali ini tamu yang datang dari India, dari informasi yang kudapat tamu itu merupakan orang yang sangat berpengaruh didunia beb, pastinya Haris sudah mempertimbangkan ini” ucap Dakota.
“Hmmm, betul juga yang kamu bilang beb, semalam saja yang melayani mereka wanita-wanita cantik berpakaian terbuka” ucap Yohana.
__ADS_1
Mereka merapikan kostum itu dan menyusun kostum sesuai dengan ukuran beserta gelang dan aksesoris yang akan mereka kenakan.
Tidak terasa hari sudah semakin siang, walau tidak tidur semalaman mata Dakota masih sanggup untuk masuk kekantor. Dia sudah mempersiapkan dirinya untuk memperlihatkan hasil kerjanya pada Fano. Dia sudah menunggu di ruangannya, namun belum ada perintah padanya untuk menghadap keruangan Presdir.
“Dakota” ucap Susi menghampiri meja Dakota.
“Iya bu Susi” ucap Dakota.
“Ayo kita keruangan Presdir” ajak Susi pada Dakota.
“Maksud ibu saya dan ibu” ucap Dakota.
“Iya, siapa lagi. Presdir meminta kita menghadap keruangannya” tegas Susi pada ucapannya.
“Baik bu” ucap Dakota. Dia dan dan Susi melangkah menuju lift.
# Ruangan Presdir
“Presdir, kami sudah tiba” ucap Susi pada Fano. Fano terlihat sibuk dengan dokumennya begitu juga dengan Naon dan Yunas sudah ada diruangan itu juga sibuk dengan tugas mereka. Naon dan Yunas menghiraukan kedatanagan Dakota dan Susi.
“Kalian duduklah” ucap Fano pada mereka berdua. Beberapa menit kemudian setelah Fano menyelesaikan dokumennya, dia kembali pada tujuannya memanggil Dakota dan Susi.
“Susi” ucap Fano masih duduk dikursinya.
Mendengar Fano memanggilnya, Susi dan Dakota langsung beranjak ke meja Fano.
“Ya Presdir” ucap Susi.
“Sudah Presdir, dia sudah menyerahkan filenya seminggu yang lalu padaku” ucap Susi jujur. Walau Susi benci pada Dakota, namun untuk urusan pekerjaan dia selalu profesional.
“Bagaimana tanggapanmu” tanya Fano pada Susi.
“Proposalnya bagus Presdir, namun saya belum memeriksa bentuk presentasinya. Saya rasa Presdirlah terlebih dahulu yang memeriksanya” ucap Susi.
“Baiklah kalau kamu mengatakan bagus. Kamu boleh keluar” ucap Fano.
“Baik Presdir” ucap Susi melangkah keluar dari ruangan dan Dakota juga ikut melangkah pergi. Dia merasa bahwa Fano hanya menanyakan proposalnya saja.
“Tunggu dulu, siapa suruh nona Dakota sudah boleh pergi” ucap Fano menahan Dakota.
“Maaf Presdir” ucap Dakota berbalik badan menghadap pada Fano.
“Saya pikir Presdir hanya menanyakan proposal saya saja” ucap Dakota kembali.
“Kemarilah” perintah Fano memainkan tangannya, dia fokus pada laptopnya. Dakota bingung, dia melangkah semakin dekat dengan meja Fano, Dakota sudah berdiri tepat di hadapan Fano.
“Kemarilah itu maksudnya apa, aku kan sudah menghadap didepannya” batin Dakota.
“Duduklah disini” ucap Fano. Fano sudah menarik satu kursi disampingnya.
“Presdir saya disini saja” ucap Dakota gugup.
__ADS_1
“Kenapa pria ini menyuruhku duduk disampingnya, disini masih ada karyawan yang lain” gumam Dakota masih terdengar oleh Fano.
“Apa yang nona Dakota pikirkan, aku hanya ingin melihat presentasimu saja” ucap Fano heran dengan Dakota.
“Maaf Presdir” ucap Dakota, dia langsung duduk tepat disamping Fano. Senyum Fano lepas sudah berhasil mengerjai istrinya itu.
“Bisakah kau mulai menjelaskan proposalmu” ucap Fano membuka file yang sudah dikirim oleh Dakota padanya, sebenarnya dia sudah memeriksa hasil proposal dan presentasi yang di buat oleh istrinya itu.
“Baik Presdir” ucap Dakota. Dakota menjelaskan proposal yang sudah dia buat, dia juga menunjukkan format gambar dan video hasil desainnya sendiri. Panjang lebar Dakota menjelaskan, namun Fano hanya memandangi wajah istinya itu. Tanpa Dakota sadari tangan Fano sudah bertengger dipahanya meraba-raba dengan lembut. Mata Dakota langsung tertuju pada pahanya.
“Apa yang pria ini lakukan, tidak orangnya bahkan tanggannya juga mesum” batin Dakota.
“Presdir, bisakah anda tarik tangan anda” bisik Dakota geram dan menepis tangan Fano dari pahanya, dia melihat sekitar dan melihat Naon dan Yunas masih sibuk.
“Tingkat kesadaranmu kurang. Kau harus banyak-banyak makan sayur pahit” ucap Fano menarik tangannya.
“Apa hubungannya sayur pahit dengan pria mesum sepertimu” ucap Dakota pelan merapikan roknya.
“Sayur pahit bisa meningkatkan tingkat refleks seseorang, seandainya saja ada pria lain yang menyentuhmu sewaktu kau tidur kan bisa bahaya karena kau tidak sadarkan diri. Saat ini saja kau bahkan tidak sadar aku sudah menyentuhmu” ucap Fano.
“Kalau kau tidak mesum, kau bisa baik-baik mengatakannya padaku, tidak harus menyentuhku” ucap Dakota geram.
“Pelankan suaramu” bisik Fano pada Dakota. Dakota melihat sekitar ternyata Yunas sudah memergoki mereka dan keluar dari ruangan Presdir.
“Bukannya kau yang cari masalah terlebih dahulu” bisik Dakota, dia menjauhkan duduknya dari Fano.
“Proposalmu sudah aku periksa, besok persipakan dirimu, kita akan menghadapi pebisnis dari India” ucap Fano sudah bertindak seperti biasa.
“Baik Presdir” ucap Dakota, dia hendak melangkah, namun langsung dicela oleh Fano.
“Nanti malam kau kemana?” tanya Fano kembali.
“Kenapa dia bertanya aku pergi kemana nanti malam, apa dia tau sesuatu” batin Dakota.
“Aku ada acara dengan temanku” ucap Dakota gugup.
“Temanmu siapa?” tanya Fano pura-pura tidak tau.
“Temanku Yohana dan kalau sudah larut aku berencana akan menginap dirumahku saja” ucap Dakota.
“Selarut apapun itu pulanglah kerumah kita, aku tidak memberimu izin” tegas Fano.
“Baik Presdir, saya undur diri” ucap Dakota keluar dari ruangan itu.
“Wanita ini terlihat bodoh kalau lagi berbohong” batin Fano.
BERSAMBUNG........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Jadiin favorit untuk up selanjutnya. Jangan lupa like dan komentarnya ya.🙏🌹
Vote juga boleh😊
__ADS_1
See You🙋🙋🙋