Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 158


__ADS_3

Ketika Dakota dan Siti menunduk menghindari percikan pecahan dinding cermin. Tubuh Dakota dan Siti sudah terpental mengenai meja tamu undangan dekat dengan toilet. Tubuh Dakota dan Siti sangat jauh dari jangkauan Pak Sutan mau pun bawahan Pak Sutan.


“Nyonya ....” ucap Siti sembari melap darah yang ada di pipinya.


“Siti, apa kau baik-baik saja” ucap Dakota mencoba bangkit dari lantai. Namun saat Dakota melihat sekitar, tiba-tiba saja seorang pria datang menghampiri Dakota. Pandangan Dakota masih samar-samar, ketika Dakota perhatikan lagi, tubuh Dakota pun merinding kembali mengingat wajah pria itu. Pria itu sudah membawa wanita yang mirip dengan Dakota.


“Aku berharap wanita itu tidak meninggal, bagaimana pun aku sudah melibatkannya untuk menyamar menjadi diriku, sudah banyak orang yang berkorban untukku” pekik Dakota dalam hati.


“Ternyata kau ada disini, aku sudah menangkap orang yang salah” ucap pria itu langsung melemparkan tubuh wanita yang masih pingsan itu.


“Apa yang kau lakukan” ucap Siti mencoba menahan kaki pria itu. Siti sudah tidak ada tenaga lagi karena sekujur tubuhnya juga terluka parah efek percikan kaca tadi.


“Duak ....” pria itu langsung menendang tubuh Siti.


“Uhuhk ....” Siti batuk sambil memegangi pertunya.


“Bajinga* berani sekali kau memukul wanita” pekik Dakota.


“Apa kau lupa, aku juga membantu Paman Sugiono membunuh nenekmu, aku tidak membedakan gender” ucap pria itu sembari menarik tubuh Dakota.


“Brengsek ... lepaskan aku ....” ucap Dakota memberontak di punggung pria itu. Tenaga Dakota juga sudah habis.


“Bawa wanita itu” ucap pria itu pada temannya untuk membawa Siti. Mereka pun berjalan menuju toilet Aula Hotel.


Haris yang sedari tadi memantau keberadaan Dakota. Haris pun langsung membawa orang-orangnya untuk mengejar pria itu menuju toilet wanita.


Setibanya di depan toliet, pintu toilet sudah di kunci dari dalam.


“Presdir, pintunya dikunci” ucap Eveno.


“Dor ....” Haris langsung menghancurkan pintu toilet.


“Brak ....” kaki Haris pun langsung menendang pintu toilet.


“Nyonya ....” teriak Eveno melihat pria itu sudah memasang bom bunuh diri pada tubuh Dakota.


“Dakota ....” pekik Haris melihat saudarinya sudah lemas tidak berdaya, bahkan mulut Dakota masih dibungkam dengan kain begitu juga dengan Siti.


“Jangan mendekat ... aku bisa saja langsung mengaktifkan bom ini!” ancam pria itu. Pria itu pun menodongkan senjata api miliknya pada Dakota, begitu juga dengan temananya ikut menodongkan senjata pada Siti.

__ADS_1


“Apa yang kau mau ....” ucap Haris sembari meletakkan senjata api miliknya di dekat wastapel. Begitu juga dengan Eveno dan pengawal Haris, ikut meletakkan senjata api mereka.


“Kalau kau tidak mau kehilangan nyawa saudari kembarmu ini, bawa Pak Purnomo menghadap kemari” ucap pria itu sembari mengeluarkan surat peralihan kepemilikan Reinhard Group.


“Jika aku sudah mendatangkan Pak Purnomo, kau harus melepaskan bom waktu itu” ucap Haris sudah mencemaskan Dakota.


“Tergantung” ucap pria itu sembari melepaskan kain yang pada mulut Dakota.


“Haris, pria ini ... dialah yang sudah membunuh nenek, membawa ayah pergi, aku sudah ingat wajahnya, hiks ....” tengis Dakota sembari menatap pada Haris.


“Jangan menangis, semua akan baik-baik saja” ucap Haris sembari langsung menghubungi Pak Purnomo. Tidak sampai 10 menit, Pak Purnomo dan Mail sudah tiba di depan toilet. Pak Purnomo pun langsung main mata pada Mail. Mail pun langsung mengangguk pada Pak Purnomo untuk melaksanakan rencana mereka.


“Untuk apa kau mencariku, dari dulu kau hanya menjadi anjing untuk Sugiono” ucap Pak Purnomo.


“Lepaskan senjata api yang kau bawa” ucap pria itu.


“Aku sudah setua ini tidak akan jadi pengecut” ucap Pak Purnomo sembari mengibaskan jaketnya. Pria itu pun melihat bahawa Pak Purnomo tidak membawa senjata api.


“Cepat tanda tangani surat ini” ucap pria itu sembari menggeser surat itu mendekat pada Pak Purnomo.


“Aku tidak mau” ucap Pak Purnomo.


“Hum ... hum ....” seru Siti melihat Dakota. Haris sudah cemas melihat keadaan Dakota.


“Lepaskan menantuku dulu, aku pasti menanda tangani surat itu” ucap Pak Purnomo. Pria itu pun memandang temannya.


“Aku selalu memegang ucapanku” ucap Pak Purnomo sudah meraih surat itu, bahkan pena yang ada di saku Pak Purnomo sudah dia keluarkan. Pria itu pun mulai melepaskan tubuh Dakota dari dekapannya, tali ikatan Dakota sudah dia lepaskan. Seketika itu juga serangan mendadak langsung datang pada pria itu.


“Dor ... dor ....” seorang penembak jitu dari ventilasi atap tolilet langsung menembak tubuh pria itu dan temannya. Haris pun memanfaatkan keadaaan langsung menendang senjata api yang ada ditangan pria itu, begitu juga dengan Pak Purnmo langsung menedang tangan teman pria itu. Walau perut pria itu sudah mengeluarkan darah karena tembakan tadi, tangan pria itu masih ada tenaga, bahkan tombol on pada bom bunuh diri itu sudah hidup.


“Haris ...” teriak Dakota melihat lampu pada bom yang di sekujur tubuhnya sudah hidup.


“Dakota, tenanglah ....” ucap Haris langsung meraih tubuh Dakota. Eveno pun ikut melepaskan tubuh Siti.


“Kalian juga bakalan ikut mati bersamaku” ucap pria itu. Tubuh pria itu pun langsung tergeletak.


“Tidak akan, brengsek ....” pekik Pak Purnomo sembari menendang tubuh pria itu.


“Nit ... nit ....” Bunyi bom waktu pada tubuh Dakota. Mendengar bunyi bom itu, tubuh Daktoa tersa panas.

__ADS_1


“Haris ... aku takut sekali, selamatkan aku, hiks ....” tangis Dakota. Pikiran Dakota tidak tenang, bahkan tubuuhnya sangat syok mendengar bunyi bom itu sudah aktif pada tubuhnya, apa lagi tenaga Dakota juga sudah habis, tubuh Dakota tidak sanggup lagi, Dakota sudah pingasan dalam pelukan Haris.


“Nyonya, bertahanlah ...." teriak Siti sembari mengelus pipi Dakota.


Ditempat yang sama, Fano pun membangunkan wanita yang menyamar sebagai istrinya.


"Uhuk ... uhuk ...." ucap wanita itu.


"Siapa yang menyuruhmu menyamar sebagai istriku?" tanya Fano pada wanita itu.


"Tuan, tugas saya hanya pemeran pengganti, saya bekeja dengan Nyonya Dakota" ucap wanita itu.


"Gawat bos, saat ini Nyonya Dakota berada di toilet wanita" ucap Septa pada Fano setelah mendapat informasi dari Pak Purnomo.


"Toilet" ucap Fano langsung berlari menuju toilet wanita. Septa pun ikut berlari mengikuti Fano.


Tidak lama kemudian, Fano pun tiba di dalam toilet.


"Sayang ...." Teriak Fano melihat tubuh istrinya sudah dipenuhi rakitan bom waktu.


"Presdir ...." ucap Siti tidak percaya. Mata semua orang tercengang melihat kedatangan Fano.


"Nit ... nit ...." bom bunuh diri itu terus berjalan.


"Waktunya terus berjalan, tolong selamatkan Dakota" ucap Haris sangat cemas melihat keadaan Dakota.


"Sayang, bertahanlah" ucap Fano mengecup kening Dakota sembari melepaskan rakitan bom waktu itu. Pihak kepolisan pun datang membantu Fano. Tidak butuh yang lama, Fano pun berhasil melepas rakitan bom itu.


"Sial, bom waktu ini palsu ...." teriak Fano langsung melemparkan bom waktu itu.


"Apa ...." teriak orang-orang yang ada di dalam toilet. Mereka kembali tercengang melihat kemampuan Fano membaca bom waktu itu. Fano pun langsung menggendong tubuh Dakota keluar dari toilet.


"Memang benar anakku" ucap Pak Purnomo ikut keluar dari toilet itu.


BERSAMBUNG..........


Hai Reader 🤗


Mohon like dan komentar ya 🙏

__ADS_1


See You 👋👋👋


__ADS_2