Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 21. Minta Maaf


__ADS_3

Mendengar penjelasan Manajer Naon yang mengatakan bahwa suaminya akhir-akhir ini memang sibuk karena permasalahan perusahaan yang mana permasalahan perusahaan ternyata juga berdampak bagi karyawan yang ada dipusat. Karyawan yang ada dipusat harus lebih ekstra lagi, walau tidak secara langsung tidak menerima tekanan, namun semuanya sibuk sampai harus lembur.


“Ah, kenapa aku harus lembur juga”ucap yang satu.


"Kenapa Presdir tidak mengikuti rapat ya akhir-akhir ini” ucap yang satu.


"Ah, akhir-akhir ini sering sekali deadline membuat pusing” ucap lainnya.


Desas desus yang terdengar oleh Dakota ketika jam istirahat siang. Memang waktu istirahat adalah waktu yang pas untuk mengobrol dengan teman sekantor.


“Menjadi pimpinan itu tidak mudah, mendapat tekanan yang berat, begitu juga dengan Presdir. Ah, kenapa aku harus memikirkan dia, apa otakku ini sudah tidak waras. Kemarin dia bahkan sudah fitnah tanpa bukti, ah aku masih marah padanya. Fokuslah Dakota, saat ini kamu harus bekerja, bekerja keraslah setidaknya kamu berguna bagi perusahaan ini” guman Dakota memandangi komputer yang ada dihadapannya.


“Nyonya Muda” bisik Naon membuat Dakota terkejut.


“Eh, Manajer Naon, kenapa kamu bisa disini?” tanya Dakota melihat sekitar ruangan, kebetulan jam makan siang, Dakota sudah selesai makan siang dia kembali keruangannya untuk kembali bekerja. Dakota tidak ingin dipanggil Nyonya Muda oleh Manajer Naon di Perusahaan sesuai dengan isi perjanjian pertama.


“Maaf Nyonya Muda, tolong baca pesan saya” ucap Naon pada Dakota.


“Oh, iya handphoneku ketinggalan tadi” ucap Dakota. Kalau dikantor Dakota sangat jarang memperdulikan handphonenya, menurutnya membaca pesan itu tidak terlalu penting saat bekerja namun untuk panggilan masuk dia selalu berusaha mengangkat karena panggilan masuk pasti ada hal penting yang ingin disampaikan.


“Baiklah, saya undur diri” ucap Naon pergi meninggalkan ruangan Desain Interior.


Tidak berapa lama kemudian.


“Dakota” ucap Susi menghampirinya. Dakota lupa, bahwa Susi memperhatikan mereka berbisik-bisik dari luar ruangan karena seingatnya Susi juga lebih dulu masuk ruangan. Namun tadi tidak kelihatan.


“Iya bu Susi” jawab Dakota.


“Tidak cukup menggoda Presdir, kamu juga mau mengembat Manajer pribadinya Presdir” ucap Susi menyindir.


“Ibu Susi, sepertinya bu Susi sudah salah paham, kami tidak seperti yang ibu pikirkan” ucap Dakota.


“Kenapa bu Susi ini selalu salah sangka” batin Dakota.


“Oh, begitu ya. Kamu kenapa celingak celinguk seperti seorang pencuri saat bicara dengan Manajer Naon? Kalau masalah pekerjaan harusnya Manajer Naon menyampaikan terlebih dahulu pada saya” ucap Susi menerka.


“Bu Susi, kenapa bu Susi tidak bertanya saja pada Manejer Naon, apa yang sudah saya katakan hal yang sama juga akan bu Susi dapatkan dari Manajer Naon”.


“Karena kamu bawahan saya, makanya saya tanya kamu, saya hanya tidak ingin mendengar kabar bahwa bagian Desain Interior ini penggoda Presdir dan Manajer pribadi Presdir. Sebagai atasan saya ingin bagian Desain Interior ini tidak tercium kabar buruk mencemarkan nama baik”.


“Mohon maaf sebelumnya bu Susi, saya sebagai bawahan ibu tidak memikirkan hal tersebut, lain kali saya akan menjaga sikap saya”.


“Hah, sadar diri juga sebagai bawahan, bahkan kamu masih bau kencur” batin Susi.


“Ya, makanya jaga sikapmu, jangan sampai ada laporan yang aneh aneh nanti” ucap Susi meninggalkan Dakota.


“Baik bu” ucap Dakota.


#Sementara itu di Ruangan Presdir.


Naon memang stay di Kantor Pusat untuk mengurusi pekerjaan Presdirnya yang sudah tertunda.

__ADS_1


"Kenapa Nyonya Muda belum membalas pesan saya, apa beliau lupa untuk mebacanya” batin Naon.


“Kring ... kring ....” bunyi panggilan masuk dari handphone Naon. Naon langsung mengangkat.


“Halo Presdir” ucap Naon.


“Apa sudah kau tanya pada istriku, benda apa yang dia sukai” ucap Fano dari seberang.


“Mohon maaf Presdir, seprtinya Nyonya Muda sangat sibuk, sudah saya kirimkan pesan tadi” ucap Naon merasa bersalah.


“Hah, menanyakan itu saja kau tidak bisa” ucap Fano kesal.


“Mohon maaf Presdir saya salah”


“Ya, sudah. Aku tanya saja padamu, apa yang harus kau berikan pada orang yang kau cintai kalau dia sedang marah” tanya Fano.


“Maksud Presdir orang yang saya cintai itu seperti kekasih begitu?” tanya Naon.


“Iyalah Naon bodoh, apa lagi kalau bukan kekasih”


“Oh, ternyata kekasih. Biasanya saya akan memberikan bunga Presdir” ucap Naon.


“Maaf Presdir saya sudah berbohong, sampai sekarang saya belum memiliki kekasih. Tapi setahu saya memberikan bunga biasanya dilakukan kebanyakan pria pada kekasihnya” batin Naon.


“Bunga ya, kenapa tidak terpikirkan olehku” ucap Fano.


“Maksud Presdir apa?” tanya Naon yang bingung.


“Baik Presdir, Apa tidak ada yang lain” tanya Naon memastikan.


“Ada, jangan lupa buat tulisan kata maaf dari suamimu” perintah Fano.


“Baik Presdir” panggilan terputus.


“Ternyata Presdir tau juga minta maaf” batin Naon.


Naon heran dengan tingkah Presdirnya. Karena selama hidup mendampingi Fano belum pernah melihat atau mendengar ucapan maaf keluar dari mulut Presdirnya itu. Naon mengirim rangkaian bunga mawar merah dengan tulisan minta maaf sesuai dengan perintah Fano.


# Kediaman Reinhard


Karena karyawan semuanya sibuk, begitu juga dengan Dakota, dia ikut lembur dikantor. Dakota tidak ingin mengandalkan kekuasaan suaminya, baginya saat ini dia hanya seorang karyawan biasa sama hak dan kewajibannya dengan karyawan lain. Dia sudah pulang larut kembali kerumah.


“Sayang, kenapa selarut ini baru pulang” ucap ibu Lena duduk santai diruang tamu.


“Maaf ma, tadi kami agak sedikit sibuk” ucap Dakota menghentikan langkahnya.


“Ya udah sayang, cepat mandi lalu istirahat yang cukup” ucap ibu Lena melihat menantunya yang sudah terlihat lelah.


“Iya ma, aku undur diri ma” ucap Dakota


melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


“Kenapa Fano tidak mencemaskan istrinya, diakan baru pulang juga, kenapa tidak sekalian dijemput. Apa hubungan mereka tidak baik” batin ibu Lena.


Dakota membuka kamarnya. Dia langsung melihat rangkaian indah bunga mawar merah sudah bertengger di atas kasur.


“Sreek ....” Dakota langsung memindahkan bunga itu keluar dari kamar. Dia melihat tong sampah tepat disudut arah ujung luar kamar. Bunga mawar indah itupun langsung bertengger ditong sampah.


“Kenapa ada bunga itu” batin Dakota.


Dakota langsung mandi dan istirahat dikasurnya. Dia berencana menunggu Fano karena perkataan Manajer Naon bahwa suaminya itu akan tiba larut malam kerumah karena peduli padanya sebagai istrinya dia memilih pulang kerumah.


# Diluar kamar.


Fano memang lebih dulu tiba dirumah, dan dia sudah tahu bahwa rangkaian bunga mawar merah dengan tulisan maaf darinya sudah berada di kamar mereka. Dia mampir ke ruang bacanya untuk menyelesaikan dokumen yang tertunda bersama Naon. Naon memang selalu bersama dengan Presdirnya kemanapun Fano melangkah, kecuali Fano sudah istirahat dikamarnya. Naon harus memastika Presdirnya sudah istirahat, setelah Presdirnya istrirahats saat itu juga dia baru bisa istirahat.


“Aku yakin dia sudah melihat bunga itu, semoga saja dia memaafkanku” batin Fano.


Fano beranjak dari ruang baca menuju kamarnya.Saat dia melangkah matanya langsung melihat bunga mawar bertengger di atas tong sampah yang dia lewati. Sontak dia sangat emosi melihat mengapa bunga mawar itu berada di tong sampah.


“Apa-apaan kau ini? Kenapa bisa bunganya ada di tong sampah!” teriak Fano melemarkan bunga mawar itu kelantai membuat bunga mawar itu rusak dan berserakan menutupi sepatu Naon.


“Mohon maaf Presdir, bunga itu sudah sesuai perintah dan diletakkan dikamar presdir” ucap Naon gugup melihat Presdirnya sangat marah.


“Hah, kau bahkan tidak bisa melaksanakan perintah” teriak Fano menuju ruang baca kembali.


“Apa mungkin dia yang membuang bunga itu. Hah, wajar saja, dia tidak akan memaafkan kesalahanku kemarin. Bukan, bukan hanya kemarin tapi juga yang sebelumnya” batin Fano.


Dakota mendengar suara suaminya berteriak sedang memarahi Naon membuatnya keluar dari kamar. Dakota hanya menjumpai Naon membersihkan bunga mawar yang hancur berserakan dilantai.


“Manajer Naon, kamu kenapa?” tanya Dakota.


“Mohon maaf Nyonya Muda, bunga ini seharusnya sudah berada di kamar Presdir dan Nyonya, tapi bunga ini sudah ada di tong sampah. Presdir marah karena bunga ini khusus permintaan maaf buat Nyonya Muda” ucap Naon menjelaskan.


“Apa maksudmu?” tanya Dakota.


“Mohon maaf Nyonya Muda, bunga ini sebagai bentuk permintaan maaf Presdir untuk Nyonya, ada juga tulisan tangan permintaan maaf dari Presdir. Apa Nyonya sudah membaca pesan yang sudah saya kirim tadi. Saya mengirim pesan untuk menanyakan benda apa yang Nyonya Muda sukai itu perintah dari Presdir Fano.” ucap Naon.


“Baiklah Naon, kamu tidak perlu minta maaf, akulah yang membuang bunga itu. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan Presdir, kamu jangan khawatir” ucap Dakota merasa bersalah juga melihat Naon dimarahi oleh Fano karena kesalah pahaman.


“Tapi Nyonya kenapa Nyonya membuang bunga ini?” tanya Naon.


“Itu ada alasannya” ucap Dakota.


“Baiklah Nyonya, saya undur diri” ucap Naon.


BERSAMBUNG......


Hai Reader, terima kasih sudah setia.😊


Mohon like dan komentarnya ya.


Untuk membangkitkan semangat penulis. Semoga novel ini bisa menghibur.🙏🌹

__ADS_1


__ADS_2