Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 39. Tamu Tak di Undang


__ADS_3

Dakota hanya diam tidak ingin menatap wajah Fano yang jaraknya sangat dekat, hanya meja Fano pembatas mereka. Fano tetap berusaha melirik wajah istrinya itu. Henri sudah sibuk dengan handphonenya dan Naon sibuk dengan kerjaannya. Walau Henri sebenarnya pura-pura memainkan handphonenya, dia penasaran dengan sahabatnya Fano, baginya Fano memperlakukan Dakota berbeda, tidak seperti seorang Presdir dengan karyawan.


“Apa mereka ada hubungan gelap antara karyawan dan bos, atau mereka sudah tidur seperti cinta satu malam” batin Henri curi-curi pandang pada mereka berdua.


“Bisakah pandanganmu tertuju padaku Dakota Kaif” ucap Fano.


“Bisa Presdir, ada apa Presdir memanggil saya” ucap Dakota mengangkat wajahnya.


“Bagaimana dengan proposal kerja sama? Sudah kau selesaikan?” tanya Fano menatap wajah Dakota.


“Sudah Presdir, saya akan ambil sekarang, kalau Presdir mau lihat” ucap Dakota ingin bergegas untuk keluar.


“Tunggu dulu, aku belum bilang ingin melihatnya sekarang, nanti dirumah juga bisa aku periksa” ucap Fano. Membuat Henri terkejut mendengar perkataan Fano di rumah bisa diperiksa.


“Untuk apa lagi saya disini kalau Presdir tidak ingin melihat Proposal saya” ucap Dakota heran melihat suaminya itu masih menahannya.


“Ini sudah jam makan siang, aku ingin makan siang denganmu” ucap Fano. Ucapan Fano ini membuat Henri sadar mendengar perkataan sahabatnya.


“Ada apa dengan kalian berdua” ucap Henri berdiri dari Sofa. Fano dan Dakota tidak merespon.


Naon langsung menyeret Henri “Nyonya Muda Dakota itu istri Presdir” bisik Naon di telinga Henri.


“Apa kau bilang” ucap Henri terkejut. Mereka masih didalam ruangan.


“Berikan mereka waktu berdua, nanti aku jelaskan, ayo kita tinggalkan mereka berdua” ucap Naon mengajak Henri keluar dari ruangan.


Terpaksa Henri ikut keluar dengan Naon, kini tinggal Fano dan Dakota diruangan itu.


“Kenapa kau bersikap sebagai seorang suami di kantor, bukannya kau yang minta untuk tidak membongkar pernikahan kita” ucap Dakota.


Kepergian Henri dan Naon membuat keberanian Dakota berbicara pada Fano sudah kembali.


“Henri itu Dokter pribadi sekaligus sahabatku, bagaimanapun dia akan tahu cepat atau lambat bahwa aku sudah menikah” ucap Fano menjelaskan.


“Begitu ya, lalu bagaimana dengan teman-temanmu yang ada di acara berbaque party, apa kau juga memberitahukan pernikahan kita pada teman-teman wanitamu saat itu?” tanya Dakota, kali ini dia benar-benar kembali menjadi dirinya sendiri, seorang Dakota yang tidak gugup menghadapi Presdir yang dingin saat di kantor.

__ADS_1


“Teman wanita katamu” ucap Fano heran dengan perkataan istrinya.


“Kau tidak perlu bohong, apa kau lupa kemarin itu kaulah yang menelvonku, bahkan kau tidak sempat mematikan panggilan kita, kau lebih memilih wanita yang mengajakmu untuk acara berbaque party kalian” ucap Dakota. Tanggannya sudah mengepal mengingat Fano saat itu mengabaikan panggilan mereka yang masih belum ditutup, dia hanya mendengarkan suara kosong dari panggilan yang berlangsung.


“Sepertinya kau sudah salah paham ....” ucapan Fano terpotong oleh panggilan seorang wanita langsung menerobos kedalam tanpa mengetuk pintu.


“Fano sayang” ucap Kamila masuk keruangan disusul dengan Susi dibelakang Kamila. Kamila langsung duduk dipangkuan Fano. Susi yang hadir diruangan itu terkejut melihat Dakota masih berada diruangan Fano.


“Kenapa kau kesini?” teriak Fano mendorong tubuh Kamila. Fano sudah memandang wajah Dakota terlihat suram dan marah.


"Jadi Kamila teman wanita bu Susi. Berarti wanita yang berfoto mesra dengan Fano kemarin itu Kamila" batin Dakota.


“Kenapa karyawan culun ini masih disini?” ucap Kamila tidak mengenali karyawan culun itu, baginya karyawan ya karyawan, juga setahunya tidak mungkin istri Fano bekerja di kantor yang sama dengan Fano. Dakota tidak berekspresi, genggaman tangannya semakin erat, emosinya sudah meledak melihat perlakuan Kamila terhadap suaminya.


“Dakota, kau sudah tidak ada urusan lagi bukan” ucap Susi pada bawahannya itu memberikan kode bahwa bawahannya itu sudah boleh keluar membiarkan Fano dan Kamila berdua diruangan itu. Mendengar ucapan Susi, Kamila baru sadar ternyata karyawan culun itu adalah Dakota istrinya Fano.


“Menarik sekali wanita culun ini ternyata Dakota, bahkan karyawan di kantor ini tidak mengetahui bahwa Dakota istrinya Fano. Sekalian aku kerjai saja, aku ingin lihat apakah Fano sudah menyukainya” batin Kamila.


“Fano sayang, kita makan siang dimana?” ucap Kamila kembali memeluk tubuh kekar Fano. Melihat hal itu membuat Dakota tidak tahan menahan emosinya.


“Ada apa dengannya, dia terlihat sangat marah” ucap Henri pada Naon. Naon sudah membuka pintu dan melihat Fano sudah teriak memarahi Kamila dan mendorong tubuh Kamila.


“Gawat Dokter Henri, sepertinya Nyonya Muda Dakota sudah salah paham karena Nona Kamila” ucap Naon pelan pada Henri.


“Hah, ternyata wanita yang tak diundang datang juga kesini” ucap Henri sudah masuk keruangan.


“Hen, tolong kau bawa wanita licik ini keluar” ucap Fano merapikan pakaiannya.


Perlakuan Fano terhadap Kamila kali ini seperti orang luar, posisi Kamila sudah duduk dilantai, Fano mendorong tubuhnya dengan tenaga membuat tubuhnya terpental kelantai, mendapat perlakuan tidak wajar dari Fano membuat air mata Kamila menetes.


“Kau bahkan memperlakukan aku seperti ini, aku tidak percaya bahwa wanita culun itu sudah ada dihatimu. Aku akan buat wanita culun itu tidak bisa bersamamu lagi” batin Kamila.


Sementara Susi serba salah melihat situasi itu, dia mengira bahwa Fano akan bersikap baik pada Kamila, bahkan Kamila diperlakukan kasar oleh Fano, belum lagi Susi sangat terkejut dengan tingkah bawahannya Dakota yang membanting pintu dengan keras.


“Kau tidak apa-apa cin” ucap Susi memapah tubuh Kamila untuk berdiri.

__ADS_1


“Aku nggak apa-apa cin” ucap Kamila melap air matanya.


“Kamila, sadarlah dirimu sudah diperlakukan kasar oleh Fano, kenapa kau masih mengejar-ngejar orang yang tidak mencintaimu” ucap Henri menarik tubuh Kamila dari Susi.


“Tahu apa kau, kalau bukan karena kau yang awalnya tidak mengerjaiku, aku tidak akan jatuh cinta padanya” ucap Kamila melepaskan tangan Henri.


“Justru aku sangat mengenalmu, aku ingin kau sedikit saja melihat padaku. Ayolah Kamila, masih ada aku yang mencintaimu” ucap Henri menatap wajah Kamila.


“Cinta katamu, makan cinta sepihakmu itu, dari dulu kau tidak pernah sadar” ucap Kamila menepis tangannya dari genggaman Henri.


“Kalian boleh lanjutkan drama cinta kalian diluar ruangan ini” tegas Fano masih emosi pada Kamila, bahkan aura kejam Fano sudah terlihat.


“Dokter Henri, Nona Kamila dan bu Susi, mohon keluar dari ruangan, Presdir sudah sangat marah, tolong jangan buat saya tidak sungkan” ucap Naon pada mereka bertiga.


“Cin ayo kita keluar” ucap Kamila menarik tangan Susi. Henri di abaikan begitu saja, padahal tujuannya kesini ingin bertemu dengan Kamila. Susi heran dengan keadaan itu, dia heran melihat wajah Presdirnya begitu marah pada Kamila, dia hanya mengikut.


“Inilah hasil ulahmu, kau sendiri yang membuat semua ini terjadi, kalau saja kau tidak mulai semua ini. Hanya karena urusan rasa cintamu aku bahkan menanggung banyak hal, bahkan istriku membenciku” ucap Fano pada sahabatnya.


“Aku minta maaf padamu dari dulu sampai sekarang sudah membuatmu susah, aku memang pecundang. Aku tidak menyangka padanya, masih bisa datang kesini, padahal dia sudah tahu bahwa kau sudah menikah” ucap Henri duduk di Sofa.


“Aku sudah bilang padamu, kau mencintai wanita yang salah, sadarlah kau, kalau begini terus, aku tidak segan bertindak untuk menghancurkannya, walau dia sepupu jauhku. Hanya karena rasa cintamu padanya, dari 5 tahun yang lalu, aku biarkan dia hidup” tegas Fano pada Henri.


“Ya, lagi-lagi aku hanya bisa minta maaf” ucap Henri.


“Kali ini kalau dia berbuat lebih jauh, aku tidak segan-segan lagi padanya. Selagi aku menghargai rasa cintamu, aku sarankan kau buang saja cinta bertepuk sebelah tanganmu itu” ucap Fano mengingatkan sahabatnya.


“Terimakasih atas saranmu, kalau saja kau pernah jatuh cinta, pasti kau sulit melupakannya” ucap Henri meninggalkan Fano dan Naon diruangan itu.


“Si bodoh ini sudah buta oleh cinta. Kau pikir hanya kau yg pernah jatuh cinta, kau bahkan membuat wanita yg kucintai salah paham” batin Fano.


BERSAMBUNG............


Terima kasih sudah mampir.😊


Mohon favorite+vote ya, jangan lupa tinggalkan jempol dan komentar.🙏🌹

__ADS_1


See You🙋🙋🙋


__ADS_2