
Dengan emosi yang tidak menentu Dakota melangkahkan kakinya menuju Perusahaan. Ingatannya masih terngiang saat mendengar perkataan papa mertuanya itu. Dia tidak habis pikir ternyata dikeluarga Reinhard orang yang paling besar kekuasaannya adalah Pak Purnomo, kehadiran papa mertuanya itu bisa mengubah keadaan rumah semakin dingin, ibu Lena yang awalnya selalu ceria dengan cepat senyum indahnya sudah hilang ditelan bumi.
“Kring ... kring ....” handphone Dakota berbunyi pertanda panggilan masuk. Dakota melihat layar handphonenya ternyata nama kontaknya Tukedi, dia lupa mengganti nama kontak suaminya itu. Ini pertama kalinya Fano menelvonnya. Dia langsung keluar dari Ruangan Desain Interior menuju tangga darurat untuk menghindari keramaian dari karyawan perusahaan.
“Halo sayang” ucap Fano dari seberang.
“Ya, halo” ucap Dakota. Dakota belum terbiasa memanggil suaminya itu dengan sebutan sayang mesra.
“Kenapa lama sekali angkat telvonnya. Apa ada masalah?” tanya Fano.
“Tidak, tidak ada masalah. Apa kamu sudah sampai disana?” tanya Dakota. Dakota sedang mendengar seseorang sedang presentasi.
“Aku baru saja sampai. Apa kamu hari ini kekantor” tanya Fano.
“iya, aku ke kantor” ucap Dakota.
“Aku pikir kamu tidak kekantor karena kesiangan” canda Fano, mengingat istrinya itu belum pernah tidur larut malam. Dia selalu menemukan istrinya sudah tertidur dengan lelap setiap kembali kerumah.
“Hmm, seharusnya kamu bangunkan aku tadi” ucap Dakota kesal.
“Kamu tidurnya sangat lelap, bahkan ilermu jatuh, tapi kamu tidak sadar” canda Fano.
“Ih, kamu ini, setidaknya aku bisa antar kamu, kamukan sebulan tidak akan kembali kerumah?” ucap Dakota khawatir.
“Aku nggak tega bangunin kamu. Oya Siti yang antar kamu kekantor?” tanya Fano.
“Iya, dia yang antar” ucap Dakota.
“Kamu udah bertemu dengan papaku, kalau dia ngomong sesuatu abaikan aja ya” ucap Fano.
“Hmm, Kenapa kamu bicara begitu tentang papamu” ucap Dakota.
“Udah dulu ya sayang, nanti kita lanjut lagi, aku udah harus kerja. Aku tutup ya.”
“Ya, kamukan seenaknya main tutup aja” ucap Dakota sebenarnya sudah sangat rindu pada suaminya itu.
“Kamu marah sayang? Apa kamu ingin kita membahas hal romantis, aku lagi rapat sekarang sayang” ucap Fano.
“Apa? kamu lagi rapat, ya udah aku tutup aja” panggilan langsung terputus.
“Haha ... sayangku ini sangat lucu. Ah, aku sudah kangen padanya” batin Fano dari seberang.
“Kenapa dia kekanakan sekali, bahkan disaat rapat begitu, pantesan aku dengar suara orang seperti presentasi” batin Dakota.
# Kediaman Reinhard.
Sepulang dari kantor, Dakota melihat suasana rumah terlihat tidak seperti biasanya. Ada pelayan wanita yang hanya berdiri mematung didepan kamar mama mertuanya. Dia melihat pelayan wanita itu terlihat gelisah.
__ADS_1
“Kenapa kamu mematung begitu” ucap Dakota pada pelayan wanita itu. Sebenarnya dia ingin menuju kamarnya.
“Nyonya Muda, maaf”ucap pelayan ragu-ragu.
“Ada apa? kenapa kamu minta maaf” ucap Dakota.
“Saya minta maaf Nyonya Muda, Nyonya Besar sehari ini tidak keluar dari kamar. Kami sudah mencoba masuk, tapi Nyonya Besar melarang kami masuk”
“Kenapa bisa begitu?” tanya Dakota meletakkan tasnya di Sofa.
“Begini Nyonya, sejak Tuan Besar masuk kamar Nyony ....” Belum selesai dijelaskan oleh pelayan itu sudah dipotong oleh pelayan wanita yang satu.
“Nyonya mungkin Nyonya Besar ingin sendiri, namun sampai sekarang Nyonya Besar belum keluar dari kamarnya, kami sangat khawatir, apa lagi beliau belum makan apapun. Bolehkah Nyonya membujuk Nyonya Besar?” pinta pelayan wanita memohon pada Dakota.
“Baiklah, tolong kalian siapkan makan untuk mama mertua” pinta Dakota pada kedua pelayan wanita itu.
“Baik Nyonya Muda” ucap pelayan menyediakan makan Nyonya Besarnya.
“Aneh, sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu” batin Dakota
Sesaat Dakota langsung membuka pintu kamar mama mertuanya yang memang tidak di kunci. Mata Dakota langsung terkejut melihat ibu Lena tergeletak dilantai dengan pakaiannya sudah sobek, dan tubuhnya penuh dengan luka.
“Ya Tuhan, apa yang terjadi?” batin Dakota.
“Mama” Dakota memegangi tubuh ibu Lena, dia memeriksa apakah mama mertuanya itu masih benafas. Dakota langsung memapah tubuh mama mertuanya keatas kasur.
“Pelayan!” teriak Dakota memanggil pelayan yang sudah berada diluar kamar.
"Iya Nyonya Muda” kedua pelayan wanita tadi masuk kekamar.
“Tolong bantu aku, kita akan membawa mama mertua ke Rumah Sakit?” ucap Dakota memapah tubuh ibu Lena.
“Tunggu dulu” ucap ibu Lena pelan, ibu Lena membuka matanya.
“Mama ... mama sudah bangun” ucap Dakota memegangi tubuh ibu Lena.
“Tolong ambil air hangat” pinta Dakota pada pelayan.
“Sayang, tolong jangan bawa mama ke Rumah Sakit. Tolong hubungi Dokter keluarga saja” ucap ibu Lena masih dipelukan Dakota.
“Tapi ma, ini darurat mama harus segera dirawat” ucap Dakota.
“Aku mohon, biarkan Dokter keluarga saja yang menangani, aku tidak ingin diekspos oleh publik” pinta ibu Lena pelan.
“Baiklah, pelayan segera kalian hubungi Dokter keluarga” ucap Dakota pada pelayan. Dakota membawa ibu Lena kembali kekasur. Dia membersihkan luka luka ibu Lena denganair hangat.
“Baik Nyonya Muda” pelayan keluar dari kamar.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian Dokter keluarga sudah tiba di kediaman Reinhard. Ibu Lena segera ditangani dengan peralatan lengkap yang sudah dibawa. Dokter keluarga ini sudah memahami keadaan ibu Lena. Membuat Dakota keheranan melihat keluarga suaminya itu.
“Kenapa papa mertua tidak muncul sama sekali, bahkan istrinya sakit parah. Apa mungkin ibu Lena menerima luka luka itu dari suaminya” batin Dakota.
“Pelayan, apa kalian melihat papa mertua” tanya Dakota di luar kamar ibu Lena.
“Nyonya Muda, Tuan Besar sudah kembali ke Kota X siang tadi” ucap pelayan wanita.
“Apa katamu, beliau sudah kembali lagi. Lalu siapa yang berani berbuat keji begitu pada mama mertua. Apa kalian tidak tahu?” tanya Dakota heran, kenapa bisa ibu Lena menerima penderitaan begitu di usianya yang sudah tua.
“Maaf Nyonya Muda, kami tidak tahu” ucap pelayan wanita itu.
“Kamu kenapa bisa tidak tahu, bukannya kamu berada di rumah ini 24 jam” ucap Dakota kesal.
“Maaf Nyonya Muda, kami tidak mengetahui kejadian didalam kamar. Kami hanya mengawasi dari luar saja” ucap pelayan.
“Tunggu, Nyonya Muda” ucap Siti memotong pembicaraan.
“Kenapa Siti?” tanya Dakota.
“Dokter keluarga ingin bicara dengan tuan rumah” ucap Siti.
“Oh, ya baiklah” ucap Dakota menghampiri Dokter keluarga dikamar mertuanya.
#Di kamar ibu Lena
“Dokter, bagaimana keadaan mama mertua saya?” tanya Dakota.
“Nyonya Besar mengalami luka luka ini sudah 11 jam, kenapa tidak dari tadi menghubungi saya, beliau sudah lama tidak menerima serangan begini, tubuh beliau sudah tua, luka lama sudah hampir sembuh, ditambah lagi luka baru” ucap Dokter memperlihatkan tubuh ibu Lena pada Dakota
“Apa?” Dakota sangat syok melihat tubuh ibu Lena, ternyata banyak bekas lukanya, ada juga bekas jahitan. Darah Dakota mulai mendidih melihat tubuh ibu Lena, ternyata semua bekas luka lama brcampur dengan baru.
“Dibalik senyumnya yang indah dan gaun yang dikenakannya, dia menyimpan begitu banyak luka” batin Dakota.
“Dokter, kenapa bisa begini?” ucap Dakota heran.
“Sebenarnya, sayalah orang yang tahu keadaan ibu Lena. Mulai dari beliau menjadi istri sah Tuan Besar. Saya tidak perlu menceritakan ini pada anda Nyonya. Anda bisa mengetahui ini dari ibu Lena sendiri. Yang saya khawatirkan hanya kesehatan beliau. Jadi kalau ada kejadian seperti ini lagi, tolong langsung hubungi saya” ucap Dokter keluarga.
“Kapan mama mertua bisa pulih Dok” tanya Dakota memandangi tubuh ibu Lena yang sudah dibius dan lukanya sudah dibalut.
“Besok beliau sudah sadar, saya sudah selesai menangani beliau. Baiklah saya undur diri dulu Nyonya Muda” ucap Dokter keluarga undur diri.
“Terima kasih Dokter” ucap Dakota mengantarkan Dokter keluarga kedepan.
BERSAMBUNG........
Hai Reader yang setia.😊
__ADS_1
Mohon like dan komentarnya ya. Untuk membangkitkan semangat penulis. Cerita ini semoga bisa menghibur.🙏🌹