
Dakota belum mengiyakan permintaan Janter untuk menemuinya kembali di Indonesia nanti, dia tetap melanjutkan berdansa dengan Janter. Sementara Fano saat tadi pantauan matanya terlepas dari Dakota karena wanita muda yang menghampirinya, dia yakin wanita itu bukan wanita baik-baik, sedari tadi Fano sudah menghentikan obrolannya untuk berbincang dengan wanita itu, namun wanita itu tetap berusaha mengajaknya mengobrol.
“Wanita ini masih muda, terlihat seumuran dengan istriku, bahkan dia juga dari Indonesia, apa dia kenal denganku” gumam Fano.
“Tuan, apa anda tidak ingin berdansa, sedari tadi pandangan anda sudah tertuju pada area dansa, kalau tidak keberatan aku bersedia menemani anda” bisik wanita itu, wanita itu bahkan sudah mendekati tubuh Fano. Fano langsung menepis tangan wanita itu.
“Nona, anda terlalu percaya diri untuk menjadi pasangan saya, ada banyak wanita yang ingin bersanding denganku, tapi bukan dengan cara seperti ini, caramu terlalu murahan” tegas Fano, dia langsung menendang kaki Naon, berharap Naon membawa wanita itu dari hadapannya.
Akhirnya Naon menyadari kegelisahan Fano, dengan cepat Naon menyeret wanita itu untuk menghilang dari hadapan Fano.
“Sial, karena wanita itu moodku jadi buruk, istriku bahkan sudah menghilang” gumam Fano memandangi orang-orang yang sudah berdansa.
Tidak berapa lama, dia sudah menemukan sosok istrinya berdansa dengan pria lain, betapa terkejutnya Fano saat mendekati area dansa itu, dia langsung mengenali sosok pria yang berdansa dengan Dakota, ternyata pasangan dansa Dakota adalah Janter senior istrinya. Perasaan cemburu yang ada dalam hati Fano semakin membara, dia langsung melangkah ke area dansa, dengan paksa tubuh Dakota dia tarik dari pelukan Janter.
“Ah ....” teriak Dakota meringis kesakitan, tangannya sudah terasa sakit di tarik oleh Fano.
“Apa yang anda lakukan” ucap Janter, dia juga terkejut secara tiba-tiba pasangan dansanya sudah ditarik secara paksa.
“Aku ingin berdansa dengan wanita ini” ucap Fano langsung memeluk tubuh Dakota. Mendengar suara Fano, Dakota langsung menunduk, ternyata pria itu suaminya. Dakota balas memeluk tubuh Fano.
“Anda tidak boleh bertindak kasar terhadap wanita” ucap Janter, suara Janter mulai meninggi.
“Apa aku harus teriak, supaya para fansmu tahu bahwa kau kabur untuk berdansa kesini” ucap Fano, suara Fano juga mulai meninggi.
“Brengsek, kau sudah kenal aku rupanya” ucap Janter menarik kembali tubuh Dakota dari pelukan Fano.
“Bang Janter, tolong pergilah dari sini. Aku rasa pengawalmu sudah menuju kemari karena mendengar suaramu” ucap Dakota melerai Fano dan Janter.
“Apa, bang ... dia panggil seniornya ini dengan sebutan abang” gumam Fano semakin kesal.
Benar yang dikatakan Dakota, ternyata para pengawal itu sudah berlari menghampiri Janter.
__ADS_1
“Tuan muda” ucap para pengawal itu bersamaan. Hal itu membuat orang-orang yang berdansa di area dansa itu jadi terganggu.
“Kau beruntung malam ini sudah merebut wanitaku” ucap Janter kesal, dia langsung berlari keluar dari area dansa. Para pengawal itu ikut berlari mengejar Janter.
“Apa bang Janter belum tahu siapa suamiku” gumam Dakota.
“Cih ... wanitaku” ucap Fano kesal mendengar ucapan Janter menyebut Dakota sebagai wanitanya. Sementara Dakota malah berdiri bengong di area dansa itu, karena semua orang sudah memperhatikan mereka. Fano langsung menarik tangan Dakota keluar dari area dansa.
“Aduh, tanganku sakit” ucap Dakota meringis, begitu kuatnya tenaga Fano menarik paksa istrinya keluar dari ruangan perjamuan itu. Mereka tetap melangkah mengabaikan tatapan orang-orang yang melihat mereka, apa lagi di luar ruangan perjamuan pencahayaan sangat terang.
“Presdir” ucap Naon saat Fano menghentikan langkah kakinya di depan kamar hotel. Dakota tetap diam menahan rasa sakit pada tangannya, Fano masih memegangi tangan Dakota.
“Sudah kau amankan wanita itu” tanya Fano pada Naon.
“Sudah Presdir” ucap Naon membuka pintu kamar hotel tempat Fano menginap.
“Berjagalah di luar” ucap Fano membawa istrinya masuk kedalam kamar.
Mendapat perlakuan kasar dari Fano membuat hati Dakota sedih, dia merasakan aura suaminya itu sudah terlihat marah padanya, bahkan tangan Dakota sudah terlihat memerah.
“Tidak adakah yang perlu kau jelaskan padaku” ucap Fano, suara Fano mulai meninggi.
“Aku hanya berdansa dengan pria itu” ucap Dakota memandangi tangannya.
“Hanya berdansa katamu, jangan bilang kau masih suka padanya” sindir Fano pada Dakota.
“Aku berdansa dengannya karena dia secara tiba-tiba menarik tubuhku. Sedari tadi aku ingin menemuimu, namun kau asyik ngobrol dengan seorang wanita, di saat itulah bang Janter menyeretku karena lampu juga mati” ucap Dakota, mata Dakota mulai berkaca-kaca.
“Jangan alihkan pembicaraan, jawab pertanyaanku, apa kau masih suka padanya” teriak Fano pada Dakota.
“Ada apa denganmu, kita berangkat kesini dengan baik-baik, kenapa kau sekarang marah-marah padaku, siapa yang aku sukai, bukannya aku hanya mencintaimu, kenapa masih bicarakan orang lain diantara kita” ucap Dakota menutup wajahnya.
__ADS_1
“Bahkan kata tidak pun tidak bisa kau ucapkan, sepertinya kau sangat menyukai seniormu itu, tindakanmu padanya saja masih berbeda” ucap Fano kesal, dia langsung keluar dari kamar itu, bahkan pintu kamar itu dia tendang hingga pintu kamar itu terpental.
“Apa dia salah paham padaku, aku tidak menyukainya, aku sudah menyerahkan hidupku padamu, tapi kau tidak bisa memperlakukan wanita yang kau sayangi dengan baik, bahkan tanganku masih sakit begini” gumam Dakota. Dakota malah menangis di kamar itu karena perlakuan kasar suaminya.
Dua jam kemudian, setelah menenangkan diri dari luar, Fano kembali masuk kedalam kamar penginapannya. Dia sudah mendapati tubuh istrinya tertidur di atas kasur. Karena kelehan setelah menari akhirnya Dakota tertidur selesai dia menangis.
Fano memandangi tangan istrinya yang sudah memerah karena genggamannya tadi. Dia merasa bersalah sudah memperlakukan Dakota dengan kasar. Siti langsung masuk kedalam kamar itu membawakan obat untuk di olesi ketangan Dakota. Setelah memberi obat oles pada Fano, Siti langsung undur diri.
Dengan gerakan pelan, Fano melepas mask eyes yang masih bertengger di wajah Dakota. Fano mengelus pipi istrinya itu, dia yakin Dakota baru saja menangis karena ulahnya.
Dengan lembut tangan Fano mengolesi obat pada pergelangan tangan Dakota. Efek dari obat oles itu terasa panas dingin ditangan Dakota, membuat tubuh Dakota bergerak karena merasakan ada efek yang aneh di tangannya. Melihat istrinya bergerak, Fano langsung mengeluarkan nafasnya untuk menghembus tangan istirnya itu, dengan cepat nafas Fano memburu agar efek obat oles itu segera hilang, Fano tidak ingin istrinya itu terbangun karena dirinya, dia juga melihat istrinya itu sudah terlihat lelah dan capek saat menari dipanggung tadi.
Beberapa menit kemudian Fano langsung melepaskan pakaiannya, dia saat ini sudah bertelanjang dada. Fano langsung merapikan selimut istrinya, dia masuk di balik selimut itu memeluk tubuh Dakota.
“Aku sangat merindukan dirimu” gumam Fano, tidak berapa lama Fano langsung menciumi leher istrinya. Aksi Fano itu membuat tubuh Dakota menggeliat, dia membuka matanya dan mendapati suaminya sudah menciumi atasan kedua gunung kembarnya. Dakota hanya terdiam membiarkan Fano melakukan aksinya. Apa lagi mereka baru bertengkar tadi, dia tidak tahu harus menyampaikan apa pada Fano, kalau dia salah menyampaikan kata yang keluar dari mulutnya, bisa saja suaminya itu semakin marah padanya. Dakota memilih pasrah membiarkan Fano mengkeloninya.
Fano sadar bahwa istrinya itu sudah terbangun karena aksinya.
“Tidurlah, aku tidak akan melakukan itu, aku hanya ingin mengkeloni istriku” ucap Fano, dia kembali mendaratkan wajahnya pada dada Dakota.
“Perutku terasa keram akhir-akhir ini, mungkin karena lelah menari” ucap Dakota pelan pada Fano.
“Aku sudah bilang, aku tidak akan memintamu untuk melayaniku, tidurlah kau sudah lelah” ucap Fano. Dakota langsung melaksanakan perintah Fano.
BERSAMBUNG.........
Hai Reader Wanita Presdir, dimanapun berada semoga sehat selalu🙏
Jangan bosan ya reader untuk dukung novel ini, dengan berikan like dan komentar kalian😊
Oya, sesekali Vote ya reader😍
__ADS_1
See You 👋👋👋