Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 99


__ADS_3

Sesampainya Fano di Halte Busway, dia sudah melihat kerumunan orang banyak untuk berpergian, bahkan anak-anak juga ramai. Fano yang memegangi tangan Dakota terlihat cemas, pasalnya setiap anak yang melirik pada Dakota, Dakota ikut tersenyum dan mengajak anak-anak itu bicara.


“Disini sangat panas, bisa-bisanya aku berdiri disini, bahkan Busnya belum datang lagi” gerutu Fano memegangi tangan Dakota. Sementara Naon sudah membawa botol minuman dan kebutuhan pasangan suami istri itu.


Tidak berapa lama, Bus Trans Jakarta tujuan Monas sudah tiba.


“Horeeee, Busnya sudah tiba, ayo Om kita naik” ajak Dakota menarik tangan Fano.


“Sayang, pelan-pelan, tidak perlu lari” ucap Fano. Namun belum Dakota dan Fano melangkah masuk, sudah datang segerombolan orang tua lansia berbondong-bondong untuk ikut masuk.


“Ya ampun, kenapa ramai begini” ucap Fano melihat ibu-ibu lansia sudah mendorong tubuh Fano.


“Yang lebih muda mengalahlah sedikit” ucap ibu lansia itu menyenggol lengan Fano. Namun Dakota tetap memaksa masuk, membuat tubuh Fano ikut masuk berdesakan kedalam Bus. Naon yang melihat Presdirnya masuk berdesakan tersenyum kecil, dia tidak menyangka Presdirnya itu mau naik Busway.


Saat sudah di dalam Busway, tempat duduk sudah habis terisi oleh orang tua juga anak kecil. Fano sudah mendengar bahasa gaul elu gua di dalam Bus, mata Fano tertuju pada kursi prioritas. Walau Fano tidak pernah naik Bus, dia masih memahami kursi prioritas untuk lansia juga ibu hamil.


“Sayang, kamu duduk disini” ucap Fano menyuruh Dakota duduk di kursi prioritas. Dakota sejenak melihat kursi prioritas itu sudah di duduki oleh orang tua yang juga sudah terlihat tua.


“Om, kita berdiri saja, kita masih muda” ucap Dakota menolak.


“Benar dek, kalian masih muda, mengalah pada orang tua, itu lebih baik” ucap ibu-ibu lansia itu kompak.


Terpaksa Naon berinisiatif pada Pramugara Bus. Tidak berapa lama Pramugara itu langsung mencarikan kursi untuk Dakota.


“Wah, pasangan suami istri rupanya, kenapa panggil om”.


“Sudah hamil rupanya. Jangan malu anak muda, beritahukan saja, istri saya sedang hamil, tolong kursi prioritasnya, bagitu..”.


Ucap ibu-ibu lansia memberikan nasihat pada Fano. Fano hanya mengangguk, dia sudah berdiri disamping Dakota. Sementara Dakota sudah sibuk tertawa cekikikan melihat balita yang ada di sampingnya. Tubuh Fano sudah dipenuhi keringat karena cuaca di luar juga panas serta penumpangnya juga ramai. Namun dia heran melihat istrinya begitu nyaman dan terbiasa dengan orang yang ada disekitarnya, Dakota bahkan sudah akrab pada balita yang ada di samping mereka.


“Apa karena dia sedang hamil, jiwa keibuannya sudah muncul” gumam Fano, dia sudah senyum memandangi Dakota sedang tertawa merayu balita itu untuk ikut tertawa.


“Bahhh ... bahh ....” ucap Dakota menirukan celukba. Ternyata balita itu ikut tertawa. Fano bahkan ikut tertawa karena tingkah konyol istrinya.


Sekitar 20 menit kemudian, Busway yang membawa Dakota dan Fano sudah berhenti di Monas. Fano sengaja memilih untuk mengunjungi Monas, karena melihat Dakota sangat suka dengan keramaian, walau sebenarnya dia tahu Dakota pasti kecewa karena mereka tidak pergi mengunjungi taman bermain atau kebun binatang.

__ADS_1


“Om, kita kenapa kesini” tanya Dakota kesal.


“Disini juga banyak orang, apa kau tidak suka?” tanya Fano mencemaskan istrinya.


“Aku sudah pernah kesini” ucap Dakota melihat sekitar.


“Tidak apa-apa, ini untuk yang pertama kali kita kesini sebagai pasangan suami istri” ucap Fano memegangi tangan Dakota. Fano langsung mengajak istrinya itu membeli topi santai. Dakota sudah memilih topi Dragon ball, padahal Fano sudah memilih topi pasangan. Bahkan penjual topi itu heran melihat tingkah Fano dan Dakota, sama sekali tidak serasi, penjual itu ikut kebingungan melihat Fano sudah berdebat dengan Dakota karena topi.


“Sayang, tolong lepaskan topi ini” bisik Fano, dia sudah malu melihat istrinya memakai topi anak-anak.


“Om, apa salahnya memakai topi ini” ucap Dakota melepas topi itu.


“Pakailah ini, aku janji setelah ini kita beli gula-gula” pinta Fano memohon.


“Topi ini sangat jelek, tapi baiklah. Om harus beli gula-gula, awas saja tidak jadi beli, aku pastikan om tidak bisa tidur malam ini, karena habis kugelitiki” ancam Dakota polos, dia langsung memakai topi pilihan Fano.


“Huhh, jangan sampai aku digelitiki, aku ampun soal itu” ucap Fano pelan. Dia sudah mengingat kejadian selama menginap di kediaman Pak Admidjaya. Saat dia ketahuan oleh Dakota masuk kekamarnya secara diam-diam, Dakota langsung menggelitiki telapak kaki Fano hingga tubuh Fano, agar Fano segera keluar dari kamarnya. Karena Dakota sedang hamil, Fano pasrah saja, bahkan tidak berani melawan atau menolak, dia bahkan sampai muntah-muntah karena ulah Dakota. Kalau mengingat itu kembali, hal itu hal yang paling menyedihkan bagi Fano, biarlah Fano dihajar atau dipukul, kalau sampai digelitiki, membuat isi perut keluar semua seperti orang sakit, Fano menyerah.


“Semoga saja, anakku besok, sifatnya tidak menurun dari istriku ini” gumam Fano menggelengkan kepala, dia kembali meraih tangan istrinya itu untuk berjalan mengitari sekitar Monas. Naon yang selalu ikut mengawasi pergerakan Fano dan Dakota tidak ingin melewatkan momen itu, diam-diam dia mengambil gambar Fano dan Dakota.


“Om, aku mau balon itu” ucap Dakota menghentikan langkah kakinya.


“Sayang, balon itu untuk anak kecil” ucap Fano menolak. Wajah Dakota sudah cemberut, bahkan dia sudah kembali berjongkok. Fano langsung main mata pada Naon. Naon langsung melaksanakan perintah Fano.


“Kau sudah terlihat lelah, naiklah kepunggungku” ucap Fano, dia sudah berjongkok memunggungi Dakota.


“Balonnya jadi Om beli” tanya Dakota manja. Dia langsung naik di punggung Fano.


“Kau tidak perlu cemas, balon itu akan segera datang” ucap Fano menggendong tubuh Dakota menuju tempat teduh.


Sesampainya di tempat teduh, orang-orang juga sudah ramai ditempat itu untuk istirahat.


“Sayang, kau sudah bisa turun” ucap Fano, kebetulan mereka sudah sampai di tempat bangku yang kosong. Dakota masih saja memeluk tubuh Fano dengan erat.


“Aku nggak mau turun, kalau balon itu belum datang” ucap Dakota merengek, dia bahkan mencubit pinggang Fano.

__ADS_1


“Aku ini bukan ayahmu, tapi suamimu, orang-orang sudah ramai melihat kita, bisa tidak kau turun” pinta Fano pelan pada Dakota.


“Om bahkan belum membeli gula-gula, balon itu juga belum datang, om sudah hutang banyak padaku” ucap Dakota tetap tidak mau turun. Beberapa menit kemudian, Naon sudah datang membawa balon dengan jumlahnya yang banyak, sudah di ikat rapi memakai pegangan.


“Wah, Ommmm, balonku sudah tiba” teriak Dakota kegirangan melihat kedatangan Naon, dia langsung melompat kegirangan dari punggung Fano. Semua orang sangat terkejut mendengar teriakan Dakota tadi terdengar seperti anak kecil. Hal itu membuat Fano cemas, karena mereka sudah di pandangi oleh orang lain disekitar mereka.


“Berikan padaku” ucap Dakota meraih balon itu dari tangan Naon.


Fano pasrah saja menghadapi sikap kekanakan istrinya itu. Dakota mulai bermain dengan balon-balon itu, namun Dakota tidak sadar kalau sampai pegangan balon itu lepas, maka balon itu akan terbang ke udara. Karena sangkin semangatnya, pegangan balon itu lepas dari tangan Dakota membuat tali balon itu ikut terbuka, semua balon itu langsung melayang ke udara.


“Hengggg, balonku, balonkuuu” teriak Dakota meraih balon itu, namun semua balonnya sudah terbang ke angkasa. Dakota malah menangis melihat balon itu tidak bisa kembali padanya.


“Sayang, kita bisa beli balon lagi, jangan menangis, kita kesini untuk jalan-jalan, melihat keramaian” ucap Fano mendekati tubuh Dakota.


“Balonku sudah pergi, dia tidak bisa kembali lagi, hiks..” tangis Dakota menutupi wajahnya.


“Hei, kenapa kau menangis, lebih baik kita pulang saja” ucap Fano semakin khawatir pada istrinya, bukannya menghibur istrinya, Fano malah melihat Dakota menangis terisak-isak karena sebuah balon.


Mobil Fano sudah berada di gerbang utama Tugu Monas, ternyata pengawalnya sudah stand by sejak Fano berangkat keluar dari kediaman Pak Admidjaya. Fano langsung menggendong tubuh istrinya itu, membawa Dakota masuk kedalam mobil. Sesampainya di dalam mobil, Dakota malah kembali menangis.


“Kenapa dia menangis, hanya karena balon yang berterbangan” gumam Fano.


Wajah Dakota sudah dia palingkan menghadap kearah jendela, dia bahkan tidak menatap wajah Fano.


“Ayah, aku masih ingat hari terakhir kita bertemu, saat itu ayah beli balon yang banyak, namun balon itu terbang karena pengikatnya yang tidak kuat. Ayah berjanji padaku akan membeli balon itu kembali, namun keesokan harinya, aku sudah tidak bertemu lagi dengan ayah, balon itu bahkan tidak kembali lagi padaku. Aku ... aku sangat sedih mengingat itu, tidak sampai setahun aku punya ayah, ayah sudah menghilang tidak bisa kembali” gumam Dakota memandangi area perkotaan yang mereka lewati. Sepanjang perjalanan pandangan Dakota hanya keluar, sesekali tangannya melap pipinya yang sudah basah.


BERSAMBUNG..........


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, ayo dukung novel ini, tetap beri like dan komentar kalian,😊


Sesekali Vote ya,😊


Oya, BERI BINTANG juga🙏


See You🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2