
KEMBALI MASA SEKARANG
Keluar dari Rumah Sakit, karena ingatan Dakota hanya mengingat Pak Admidjaya dan Haris. Pak Admidjaya terpaksa membawa Dakota kembali kekediamannya. Sesuai kesepakatan dengan Fano, sampai ingatan istrinya itu pulih dia mengihklaskan Dakota tinggal di kediaman Admidjaya, walau sebenarnya setiap malam dia harus meginap di kediaman itu di kamar yang terpisah dengan istrinya, dia juga harus ekstra hati-hati menajaga istrinya sesuai dengan pesan Dokter Mia, kandungan Dakota sangat lemah.
Apa lagi hari Sabtu dan Minggu merupakan hari yang pas untuk Fano bisa bersama dengan Dakota, walau dia hanya orang asing saat ini bagi Dakota.
Walau hilang ingatan Dakota masih bisa memasak, bahkan masakannya masih terasa enak dilidah Fano.
“Kenapa masakannya bisa dia ingat, sedang pernikahannya tidak” gumam Fano memandangi punggung Dakota sedang memasak di dapur.
“Aduh kenapa panas sekali sih” ucap Dakota melepas celemeknya, mungkin karena baru selesai memasak tubuhnya terasa panas. Dia langsung membuat minuman dingin air kelapa, kebetulan tersedia di dalam kulkas.
“Adik kecil jangan minum ini” ucap Fano, tangan Fano sudah merampas minuman itu dari tangan Dakota.
“Om, apa yang kau lakukan, tolong jaga jarak denganku, kenapa kau raih minumanku, aku sangat haus” ucap Dakota kesal melihat tindakan Fano.
Dakota masih menghindari Fano mengingat tubuh pria muda pembunuh itu sama dengan tubuh Fano, walau Fano dan Pak Admidjaya sudah sering menceritakan padanya selama 3 bulan ini bahwa Fano bukan pelaku dari pembunuhan itu. Karena sifat Dakota masih anak-anak dia belum sepenuhnya percaya pada Fano.
“Adik, kau tidak boleh minum ini, nanti bayi yang ada dalam perutmu bisa melayang nyawanya, air kelapa tidak bisa diminum oleh ibu yang sedang hamil muda, kecuali kau sudah hamil tua baru bisa minum ini” ucap Fano membuang air kelapa itu, dia langsung memberikan air putih pada Dakota.
“Ih, aku mau air kelapa itu, kenapa om buang” ucap Dakota memukul punggung Fano, bahkan punggung Fano terasa sakit.
“Apa kau waktu kecil sering memukuli orang” ucap Fano meringis kesakitan, dia masih memegangi punggungnya.
“Dari kemarin om selalu bilang bayi, masa anak kecil punya bayi” ucap Dakota polos meminum air putih.
“Bagaimana cara menjelaskannya padamu, intinya di dalam perutmu ini ada bayi kecil, kau tidak boleh sembarang makan makanan juga minuman” ucap Fano menjelaskan. Fano sudah sangat frustasi menghadapi tingkah Dakota yang belum juga kunjung pulih mengingat dirinya sudah menikah.
“Om bercanda ya” ucap Dakota beranjak keruang tamu. Dengan perlakuan lembut Fano meraih tubuh Dakota.
“Sayang, aku tidak bercanda, anak kita sudah berkembang di dalam perutmu ini, bahkan usianya sudah 3 bulan 2 minggu” ucap Fano mengelus perut Dakota.
“Om, tolong lepaskan aku, ah.. kenapa Haris dan Tasya belum mampir kesini, aku ingin menonton bareng mereka” ucap Dakota melepas pelukan Fano.
“Ini hari weekend, mereka pastinya kencan. Seharusnya kita kencan juga” gumam Fano.
“Apa kau bosan di rumah ini” tanya Fano.
“Aku sangat bosan melihat wajah om di rumah ini” ucap Dakota, dia langsung duduk di sofa.
“Bagaimana kalau kita pergi kencan” ajak Fano.
“Kencan itu apa om” tanya Dakota.
__ADS_1
“Kencan itu seperti jalan-jalan melihat pemandangan” ucap Fano menjelaskan.
“Berarti kita akan pergi ketaman bermain” ucap Dakota, Fano malah terdiam mendengar taman bermain.
“Horeee, aku mau ... aku mau ....” ucap Dakota kegirangan. Fano sudah kecewa mendengar ucapan istrinya kegirangan seperti anak kecil.
“Sayang, taman bermain itu untuk anak-anak bukan tempat kencan” gumam Fano. Melihat Fano terdiam, Dakota mulai khawatir dia tidak jadi jalan-jalan.
“Om, kita tidak pergi, aku akan ganti baju, tidak akan lama kok” ucap Dakota memelas.
“Pergilah ganti pakaianmu” ucap Fano menggelengkan kepala.
Fano sudah berganti pakaian, dia bahkan terlihat tampan di balik kaus putih biasa dengan jins pendek. Dia sudah menunggu Dakota di ruang tamu. Namun Dakota belum juga kunjung keluar dari kamar. Karena Dakota belum keluar, terpaksa Fano beranjak menuju kamar. Begitu terkejutnya dia melihat penampilan Dakota sudah memakai kaus Upin dan Ipin serta rambut di kucir dua ala anak-anak, bagi Dakota penampilannya itu sudah terlihat cantik.
“Astaga, pantesan dia lama di dalam kamar, dia bahkan mengucir rambutnya ala Jini oh Jini” gumam Fano. Fano langsung menghampiri Dakota.
“Adik” ucap Fano melepas kuciran rambut Dakota.
“Om, aku sudah susah payah mengucir, kenapa kau lepas” teriak Dakota memukul tangan Fano.
“Penampilanmu itu terlihat jelek, bajumu ini juga kenapa Upin dan Ipin” ucap Fano menarik tubuh Dakota menghadap ke cermin.
“Sayang, tolong perhatikanlah tubuhmu, sudah sebesar ini, kalau kau jalan denganku, semua orang akan mengatakan aku kencan dengan anakku yang memiliki masa kecil yang kurang bahagia” ucap Fano membuka pakaian Dakota. Dakota memang tidak merasa malu di ganti pakaiannya oleh Fano, karena ingatannya masih sama saat usia 6 tahun, baginya hal itu hal biasa, sama seperti saat ayahnya mengganti pakaiannya.
“Aku sudah susah payah berpenampilan cantik, om malah menghancurkannya” ucap Dakota. Fano malah diam mengabaikan ucapan Dakota, dia kembali merapikan tubuh Dakota, bahkan rambut Dakota sudah dia kucir satu. Wajah Dakota yang sudah Dakota taburi bedak dan listip tebal langsung dihapus oleh Fano.
“Muachh ....” Fano langsung mencium bibir seksi istrinya itu. Kembali Fano menghadapkan tubuh Dakota kecermin, dia sudah melihat penampilan dewasa istrinya.
“Begini om bilang cantik” ucap Dakota polos. Fano mengangguk di belakang tubuh Dakota. Fano kembali memeluk tubuh istrinya itu.
“Om, kita harus pergi jalan-jalan” ucap Dakota melepas pelukan Fano.
“Ah, iya kita harus pergi” ucap Fano memegangi tangan Dakota. Dakota hanya mengikut saja.
“Kalian akan pergi” tanya Pak Admidjaya, dia baru saja tiba sudah duduk di ruang tamu.
“Benar Pak Admidjaya, saya mau bawa Dakota jalan-jalan” ucap Fano.
“Jangan sampai dia lepas dari pantauanmu” ucap Pak Admidjaya.
“Itu Pasti” ucap Fano.
“Kakek tidak ikut” tanya Dakota.
__ADS_1
“Tidak nak, pergilah, kakek baru saja senam pagi dengan teman-teman kakek” ucap Pak Admidjaya.
“Kami pergi kek” ucap Dakota melambaikan tangan.
Sesampainya Fano di parkiran, Naon sudah datang menyiapkan mobil.
“Om, kita tidak naik kendaraan umum” tanya Dakota. Seingat Dakota dulu, dia di bawa oleh ayahnya jalan-jalan naik kendaraan umum bersama Haris dan Tasya untuk menghindari penyelidikan Melda.
“Kita naik mobil saja” pinta Fano membuka mobil.
“Aku tidak mau, aku ingin naik bus, aku ingin melihat keramain di dalam bus, ada banyak anak-anak disana” ucap Dakota menghentikan langkahnya, dia bahkan sudah berjongkok. Naon jadi merasa kebingungan.
“Astaga, apa yang harus kita lakukan, dia sudah mengambek” ucap Fano menatap pada Naon.
“Presdir anda tidak pernah naik Busway Trans Jakarta, namun nyonya muda sedang hamil, kalau Presdir tidak penuhi keinginannya anak dalam kandungan nyonya muda akan ikut kecewa nanti pada Presdir” ucap Naon memberikan saran.
“Kau tahu apa, sudah jelas aku tidak pernah naik bus” ucap Fano kebingungan, dia beranjak mendekati tubuh Dakota.
“Adik, kita naik mobil saja ya, nanti om belikan gula-gula kesukaanmu” ucap Fano merayu Dakota.
“Aku tidak mau pergi, om saja yang pergi” ucap Dakota mengambek, di depan halaman rumah. Pak Admidjaya yang melihat dari dalam rumah ikut keluar melihat cucunya sudah mengambek.
“Kenapa kalian belum pergi” tanya Pak Admidjaya.
“Dia tidak mau naik kemobil” ucap Fano berdiri memandangi Dakota.
“Aku lupa mengatakan padamu, saat dia pergi jalan-jalan dengan Elcid, dia selalu naik kendaraan umum” ucap Pak Admidjaya.
“Astaga, jadi kami harus naik bus” ucap Fano meraih tubuh Dakota. Pak Admidjaya mengangguk.
“Adik, kita akan naik bus, jangan sedih lagi” ucap Fano.
“Serius, om tidak bercanda” tanya Dakota.
“Aku tidak bercanda, Naon kembalikan mobil itu keparkiran” ucap Fano, dia terpaksa mengikuti kemauan istrinya.
Fano dan Dakota kembali pamit pada Pak Admidjaya, diikuti oleh Naon dari belakang, mereka sudah berjalan menyusuri jalan raya menuju Halte Busway Trans Jakarta. Bahkan ditengah-tengah saat berjalan kaki, Fano sudah mendengar suara istrinya menyanyikan lagu lihat kebunku penuh dengan bunga.
“Ini bukan kencan, tapi menemani seorang gadis kecil yang sedang mengandung” gumam Fano menatap wajah Dakota.
BERSAMBUNG......
Hai Reader Wanita Presdir, Jangan lupa like dan komentar ya,
__ADS_1
Oya Sesekali Vote juga😊
SeeYou 🙋🙋🙋