Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 141


__ADS_3

Keluar dari kamar ibu Lena, Fano sudah membangunkan Naon untuk segera berangkat kelokasi tempat Yoki dan Kela di sekap.


“Presdir, kita berangkat dengan tangan kosong” ucap Naon sambil membukakan pintu mobil untuk Fano. Naon sangat khawatir dengan keadaan mereka.


“Benar” ucap Fano langsung masuk kedalam mobil.


“Tapi Presdir, bukannya lebih baik Presdir membawa senjata api” ucap Naon ikut masuk kedalam mobil. Naon sudah duduk disamping Fano, karena pengawal Fanolah yang mengemudikan mobil.


“Kau tidak perlu khawatir, kita harus menemukan Yoki dan Kela dulu” ucap Fano.


“Bagaimana dengan Nyonya Muda” ucap Naon.


“Kita lihat saja nanti” ucap Fano sambil memejamkan matanya. Naon pun ikut memejamkan matanya karena perjalanan mereka menuju tempat penyekapan Yoki dan Kela membutuhkan waktu yang lama agar mereka sampai.


#Pelabuhan Tanjung Priok


Pelabuhan Tanjung Priok berada di Jakarta Utara. Pelabuhan ini menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia, pasalnya pelabuhan ini menjadi pintu keluar masuknya barang-barang impor dan ekspor. Semua kegiatan pelabuhan berpusat di lima terminal, yaitu JICT I (Jakarta International Cotainer Terminal), JICT II, TPK (Terminal Petikemas) Koja, MAL (Mustika Alam Lestari) dan MTI (Multi Terminal Indonesia).


Menempuh perjalanan selama 90 menit mobil yang membawa Fano sudah berhenti di Pelabuhan Tanjung Priok. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 wib. Fano pun keluar dari mobilnya, diikuti oleh Naon dan pengawalnya. Team penyidik kepercayaan Fano sudah menunggu kedatangan Fano.


“Presdir, posisi mereka berada di Terminal Petikemas, sesuai dengan petunjuk dari hasil rekaman kamera pengawas” ucap salah satu team penyidik sambil menyerahkan video posisi keberadaan Yoki dan Kela pada Fano.


Fano pun kembali melihat hasil rekaman itu. Dari awal Fano hanya tahu bahwa Yoki dan Kela di bawa ke Pelabuhan Tanjung Priok. Lama Fano memperhatikan isi video itu. Dari isi video, Fano sudah melihat tubuh Yoki dan Kela sedang terkapar di lantai dengan tubuh mereka sudah babak belur.


“Aku pasti menemukan mereka” batin Fano.


“Presdir, kita harus memiliki surat ijin untuk masuk keterminal” ucap Naon.


“Tolong kalian urus surat ijin untuk semua terminal yang ada di pelabuhan ini” ucap Fano.


“Presdir, kenapa semua terminal, bukannya posisi mereka berada di Terminal Mustika Alam Lestari” ucap Naon.


“Laksanakan saja apa yang aku perintahkan” ucap Fano.


“Baik Presdir” ucap Naon undur diri untuk mengurus surat ijin.


“Presdir, apa mungkin hasil dari kamera pengawas itu salah” ucap salah satu team penyidik itu lagi.


“Tidak ada yang salah, hanya saja ... hasil rekaman ini belum pasti menunjukkan posisi mereka ada di Terminal MAL. Aku yakin mereka sudah menyadari kamera pengawas yang sudah tertempel di pakaian mereka” ucap Fano.


“Maksud Presdir, mereka sudah menyadari rencana kita” ucap team penyidik itu.


“Aku yakin mereka sudah berpindah posisi” ucap Fano sambil memperhatikan jam tangannya.

__ADS_1


“Pelabuhan ini sangat luas, ada banyak kapal yang sudah parkir” ucap team penyidik.


“Kita akan berpencar untuk mencari keberadaan mereka. Sebelumnya team bayangan sudah kalian sebar” ucap Fano memperhatikan sekitar pelabuhan. Ada banyak orang yang sudah lalu lalang melewati mereka.


“Sudah Presdir, mereka sudah masuk terlebih dahulu memeriksa kapal-kapal yang sudah terparkir di sekitar pelabuhan” ucap team penyidik.


“Bagaimana dengan Septa, apa kalian menemukan posisinya saat ini, bisa jadi dia juga bersama dengan Yoki dan Kela” ucap Fano sambil mencek ponselnya.


Fano berharap menerima pesan baru dari Septa melalui email. Namun tidak ada pesan baru yang Fano terima. Tidak lama ponsel Fano pun berdering. Saat Fano melihat ternyata Dakota yang sudah menghubunginya.


“Kenapa dia bangun secepat ini” ucap Fano dalam hati sambil mematikan ponselnya.


“Kami tidak bisa melacak posisi Septa saat ini, dari data terakhir menunjukkan kalau kamera pengawas yang ada pada tubuh Septa sudah lepas sejak 20 jam yang lalu” ucap team penyidik.


“Maksudmu Septa sengaja melepas kamera pengawas itu sejak acara pameran semalam” ucap Fano menghitung waktu 20 jam mundur kebelakang.


“Benar Presdir, hal itu bisa jadi saat Septa diperintahkan untuk menculik Yoki dan Kela” ucap team penyidik.


“Septa juga mengirimiku pesan, apa mungkin saat ini dia sudah ketahuan bahwa dia kerja sama dengan kita” ucap Fano sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perasaan kesal sudah mulai merasuki pikiran Fano. Apa lagi kalau sampai Septa ketahuan, mereka tidak akan bisa menemukan keberadaan Yoki dan Kela.


“Kalau sampai posisi Septa juga tidak kita temukan, kita benar-benar sudah masuk dalam perangkap Mr. Pich. Pelabuhan ini sangat luas. Suruh yang lain mengawasi istriku, aku yakin istriku akan menyusul kemari” ucap Fano lagi sambil meraih ponselnya.


“Baik Presdir”ucap team penyidik.


Fano pun mencoba menghubungi nomor istrinya. Namun panggilan Fano sedang menunggu.


menghubunginya” pekik Fano dalam hati.


###


Setelah ibu Lena bergabung kekamar anaknya. Ibu Lena sudah menggendong Alfata, karena Alfata kembali rewel merasakan sakit pada tubuhnya. Mendengar suara tangisan anaknya, Dakota pun bangun dari tidurnya. Dakota sudah mendapati ibu Lena sedang menenangkan Alfata.


“Hengh ... nenek sakit” ucap Alfata dipelukan ibu Lena.


“Iya Fata, nenek ada disini” ucap ibu Lena.


“Mama” ucap Dakota sambil mengucek matanya. Dakota langsung melihat sekitar dan tidak menemukan keberadaan Fano.


“Nak, ini masih subuh, kembali saja tidur” ucap ibu Lena sambil mengelus pantat Alfata.


“Kemana suamiku” ucap Dakota langsung beranjak keluar dari kamar untuk memeriksa keberadaan Fano.


“Nak, Fano sudah berangkat” ucap ibu Lena lagi dari dalam kamar membuat langkah Dakota berhenti di depan kamarnya. Tubuh Dakota langsung lemas mendengar suaminya sudah pergi.

__ADS_1


“Barusan sebentar aku tidur, tapi dia sudah pergi tanpa pamit, setidaknya pamit padaku” batin Dakota. Mata Dakota mulai berkaca-kaca. Dakota pun kembali melangkah masuk kedalam kamar.


“Fano akan kembali” ucap ibu Lena menenangkan Dakota.


“Alfata sedang sakit, dia sudah janji untuk merawat Alfata, tapi dia malah menyuruh mama datang kemari” ucap Dakota sembari beranjak kekasur. Dakota pun meraih ponselnya yang terletak disamping meja. Tidak lama Dakota sudah memanggil kontak atas nama My Misua. Namun panggilan Dakota ditolak oleh Fano.


“Dia mematikan panggilanku” ucap Dakota langsung melempar ponselnya keatas kasur. Kemudian Dakota membaringkan tubuhnya diatas kasur. Beberapa menit kemudian, ponsel Dakota berdering pertanda panggilan masuk. Dakota langsung buru-buru meraih ponselnya berharap suaminya kembali menghubunginya. Namun harapan salah, Dakota malah mendapati nomor baru sedang menghubunginya.


“Halo” ucap Dakota pelan sambil mengangkat panggilan masuk itu.


“Ini aku, pria yang barusan kau tabrak tadi” sahut seorang pria misterius dari balik ponsel Dakota. Mendengar ucapan pria itu, Dakota pun mulai serius mendengar ucapan pria misterius itu, tidak ingin Dakota melewatkan satu katapun yang akan pria itu ucapkan, apa lagi saat ini Yoki dan Kela belum juga ditemukan.


“Ini masih subuh, kau sudah mengabariku kembali” ucap Dakota.


“Aku tidak kenal waktu, akan kukirim alamatku saat ini, segeralah datang kemari” ucap pria itu. Ibu Lena yang ada didalam kamar itu ikut menguping pembicaraan serius menantunya dengan lawan bicara Dakota.


“Aku akan datang, asal kau tidak menyentuh Yoki dan Kela” ucap Dakota.


“Itu tergantung denganmu, kalau kau semakin lama tidak datang kemari, aku tidak bisa jamin keselamatan bawahanmu ini” ucap pria itu.


“Kau seorang pria, aku yakin kau memegang janjimu, aku pasti akan datang, setelah panggilan ini berakhir, aku segera berangkat saat ini juga” ucap Dakota.


“Ingat, kau hanya boleh datang sendiri, tidak ada pengecualian” ucap pria itu.


“Kau juga harus janji tidak membunuh mereka” ucap Dakota. Pria itu langsung memutus panggilan mereka. Dakota langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dakota sudah terlihat buru-buru di dalam kamar itu dan mengabaikan keberadaan ibu Lena. Tidak sampai 10 menit kemudian, Dakota sudah selesai merapikan dirinya. Tidak lupa Dakota memakai mantel karena lokasi yang akan Dakota kunjungi berhubungan dengan laut.


“Kau akan pergi juga” ucap ibu Lena pada Dakota.


“Ma, aku titip Alfata pada mama” ucap Dakota sambil mengecup kening Alfata yang sudah berbaring kembali di atas kasur.


“Tidak bisakah kau dirumah saja, Alfata masih sakit, kalian sepasang suami istri sudah janji akan membawanya liburan sepulang dari pameran. Alfata selalu ingat janji yang sudah kalian buat” ucap ibu Lena menahan menantunya untuk tidak pergi.


“Ma, aku minta maaf, ada hal penting yang harus aku selesaikan, tolong jaga Alfata, jangan sampai kalian keluar dari kediaman ini. Ini resep obat tradisional yang harus Alfata mandikan” ucap Dakota sambil menyerahkan resep obat pemberian Henri. Ibu Lena pun menerima resep obat itu.


“Nak, jangan rewel ya” ucap Dakota kembali mengecup kening anaknya.


“Ma, aku berangkat dulu” ucap Dakota pamit pada ibu Lena.


“Hati-hati nak” ucap ibu Lena mengantar menantunya keluar dari pintu kamar.


BERSAMBUNG...............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir🙏

__ADS_1


Maaf ya author baru bisa up, tetap dukung novel ini ya. Mohon like dan komentar kalian. Karena like kalian itu gratis ya, di Vote juga boleh🌹


See You🙋🙋🙋


__ADS_2