
Selesai Yohana berbincang-bincang dengan ibu Lena. Yohana dan ibu Lena langsung beranjak menuju kamar Fano. Saat mereka tiba dipintu kamar, mereka bisa mendengar tangis Dakota yang pelan itu dari pintu kamar.
“Kayaknya Dakota sudah bangun tante” bisik Yohana pada ibu Lena.
“Ayo kita hibur dia” bisik ibu Lena.
Ibu Lena membuka pintu kamar dan melihat Siti sudah ada di dalam kamar. Ternyata setelah kepergian Fano, Dakota langsung menanyakan pada Siti mengenai kejadian penculikan itu, setelah Siti menceritakan semuanya, Dakota sudah menyuruh Siti keluar dari kamar, namun Siti tidak tega membiarkan Dakota sendiri, dia hanya mematung berdiri di dekat pintu. Bagaimanapun dia sudah salah tidak mengawasi nyonya mudanya itu saat jam istirahat di kantor kemarin, kalau saja dia tidak lalai pastinya penculik itu bisa dicegah olehnya.
Ibu Lena mengendap-endap berjalan mendekat pada Siti. Ibu Lena melihat Dakota sudah berbaring membelakangi Siti. Yohana ikut berjalan pelan dari belakang.
“Siti, kau sudah menjelaskan semuanya pada Dakota” bisik ibu Lena.
“Maaf nyonya besar, nyonya muda memaksa saya untuk mengatakan yang sebenarnya” bisik Siti.
“Begitu ya, baiklah dia sudah mengetahui semuanya” ucap ibu Lena pelan. Ibu Lena beranjak mendekati kasur.
“Sayang kamu sudah bangun” ucap ibu Lena.
“Beb” ucap Yohana beranjak mendekati kasur Dakota. Dakota langsung menghapus air matanya, dia berbalik melihat ibu Lena dan sahabatnya sudah berdiri memandanginya.
“Mama dan Yohana sudah datang” ucap Dakota, dia langsung duduk di atas kasur.
“Gimana perasaanmu nak, apa masih terasa panas” tanya ibu Lena menyentuh kening Dakota.
“Aku sudah baikan ma” ucap Dakota.
“Syukurlah sayang, kalau kamu lapar segera beritahukan pada Siti” ucap ibu Lena.
“Iya ma, aku juga sudah muak berada didalam kamar, aku akan keluar nanti” ucap Dakota.
“Baiklah, kalian mengobrollah dulu” ucap ibu Lena mengedipkan matanya pada Yohana. Yohana balas mengangguk pada ibu lena. Ibu Lena mengajak Siti keluar dari kamar itu.
Sepeninggalan ibu Lena dan Siti, Yohana langsung mengajak sahabatnya itu bicara.
“Beb, aku sudah mendengar semuanya dari mama mertuamu. Aku tidak menyangka atasanmu Susi yang kau katakan tidak menyukaimu itu bertindak sejauh ini, untungnya suamimu segera menemukanmu” ucap Yohana memeluk Dakota.
“Pastinya kau sudah melewati masa sulit selama jadi bawahannya, belum lagi sepupu jauh suamimu Kamila. Jadi itu alasamu selama ini terlihat kurusan dan murung setiap datang melatih ke Sanggar” ucap Yohana sedih. Jika dia diposisi sahabatnya itu kemarin, rasa syok berat juga akan dia rasakan.
__ADS_1
“Beb” ucap Dakota, air matanya mulai keluar.
“Beb, kalau memang itu urusan pribadimu aku tidak akan ikut campur, namun selagi aku bisa bantu aku pasti membantumu” ucap Yohana.
“Beb, aku sangat malu pada mama mertuaku” ucap Dakota membuka suaranya. Ternyata dia menangis setelah Siti menjelaskan semuanya, dia mendengar bahwa suaminya itu sangat emosi bahkan tangan suaminya masih diperban saat suaminya salah paham mengenai darah palsu yang dia gunakan, belum lagi semua orang yang ada dirumah itu dan mama mertuanya sudah mengetahui bahwa dia belum di sentuh oleh suaminya.
“Hei, kamu tidak perlu malu pada mama mertuamu beb, aku menilai mama mertuamu sangat baik beb, dia tidak akan memaksamu. Kalau kau belum siap melayani suamimu itu sudah menjadi hakmu beb. Namun, kamu harus tau beb, dia itu seorang pria yang sudah menikah, pastinya dia menginginkan keturunan, itu salah satu tujuan menikah beb. Aku sebagai sahabatmu hanya bisa memberikan saran padamu, jangan berlama-lama membuat suamimu itu menunggu beb” ucap Yohana.
“Iya beb, dia sudah sangat sabar menghadapiku. Namun aku selalu ragu padanya, karena dia belum mencintaiku, dia belum menyatakan cinta padaku, aku tidak bisa menyerahkan diriku pada orang yang tidak mencintaiku” ucap Dakota.
“Beb, kamu sudah salah paham mengenai cinta. Cinta itu bukan dari perkataan beb, tapi dari perbuatan. Apa kamu selama ini tidak merasakan perhatian darinya yang tidak kamu ketahui, semisal dia memperhatikanmu saat kau sudah tertidur, merapikan selimutmu, mengkhawatirkan tubuhmu terlihat kurusan, mengajakmu makan. Semua pria itu memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan rasa cintanya beb, bukan dengan perkataan saja” jelas Yohana.
Dakota mencerna perkataan sahabatnya itu, mungkin karena dia masih muda dan belum pernah pacaran, dia merasa bahwa semua pria itu kalau mencintai pasangannya dengan pernyataan atau ucapan. Seperti drama-drama cinta yang selama ini dia tonton.
“Dengan perbuatan ya, walau dia terlihat mesum dan brutal, namun dia juga terlihat lembut. Jadi apa dia sudah mencintaiku” batin Dakota.
“Beb, yang menjadi pertanyaan itu ada padamu, aku yakin kau juga sudah menyukainya, hanya saja kamu terlalu egois, lebih mementingkan gengsimu, kamu mungkin berharap bahwa pria itu harus lebih dulu menyatakan cinta padamu seperti kebanyakan pasangan. Kalau saja kamu buang rasa egoismu itu beb, tapi semuanya kembali padamu beb, tanya hatimu, saat bersama dengannya, apa tidak ada sedikit rasa untuk suamimu” ucap Yohana kembali mengetuk hati Dakota. Namun Dakota jadi bengong karena penjelasannya yang terlalu panjang lebar.
“Kayaknya aku sudah ngomong panjang lebar deh, lebih baik kamu mandi dulu gih, setelah itu kita keluar dari kamar ini, kita harus refresing sejenak” ucap Yohana menarik tubuh Dakota. Dakota mengikut saja, dia langsung mandi.
Seharian itu Yohana menghibur Dakota, walau mereka berdua hanya disekitar kediaman Reinhard, mereka bisa melakukan kebiasaan mereka kalau lagi senggang, bermain game, hingga bercanda. Karena hari sudah mau magrib Yohana langsung pulang diantar supir.
Setelah Yohana pergi, Dakota langsung mandi dan berdandan. Dia juga menyiapkan makan malam untuk suaminya. Kebetulan Fano pulang kerumah agak larut. Ibu Lena hanya duduk di ruang tamu, dia melihat tingkah Dakota agak berubah membuat ibu Lena langsung senyum-senyum sendiri.
“Kayakanya kehadiran Yohana tadi membantu juga” batin ibu Lena.
Tidak berapa lama, mobil Fano sudah sampai menuju lobi rumah, dia melihat istrinya dari gerbang sudah berdiri menyambut kedatangannya.
“Naon, kenapa istriku berdiri didepan rumah” tanya Fano heran melihat tingkah istrinya.
“Maaf Presdir, saya tidak tau” ucap Naon memberhentikan mobil itu di lobi rumah. Fano langsung keluar dari mobil.
“Selamat malam suamiku” ucap Dakota langsung menarik jas Fano. Fano sangat terkejut dengan tingkah istrinya itu. Naon juga terkejut, biasanya Naon yang melakukan itu. Dakota melihat tangan suaminya yang masih di perban. Dia langsung memeluk lengan suaminya dan memegangi tangan Fano yang masih di perban.
“Sayang, kenapa kau di luar, nanti bisa masuk angin” ucap Fano sudah melangkahkan kakinya. Dakota mengabaikan perkataan suaminya, dia ikut melangkah menuju kamar mereka. Semua pelayan yang ada di rumah saling menatap kebingungan. Sementara ibu Lena senyum-senyum sendiri melihat tingkah menantunya. Sesampainya di kamar mereka.
“Suamiku, kamu pasti sudah lapar, aku sudah menyiapkan makan malam, cepatlah mandi. Aku tunggu di meja makan” ucap Dakota mendorong tubuh suaminya menuju kamar mandi. Fano hanya mengikut saja perintah istrinya.
__ADS_1
Selesai mandi Fano keluar dari kamarnya dengan pakaian santai, dia langsung beranjak ke ruang makan, Dakota sudah duduk dimeja makan, dia perhatikan lagi istrinya itu dengan seksama.
“Kenapa dia berdandan, tidak berdandanpun dia sudah cantik” batin Fano.
Dakota langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dia memilih lauk pauk kesukaan suaminya.
“Kau yang memasak ini semua?” tanya Fano menatap makan malam itu.
“Tidak semua, aku dibantu oleh pelayan” ucap Dakota.
“Kau baru sembuh, tidak perlu melakukan banyak hal” ucap Fano.
“Bukankah harusnya dia senang, aku bersikap sebagai istri yang baik memasak untuknya, kalau dia mencintaiku harusnya dia memujiku sudah masak untuknya” batin Dakota, persepsinya salah, dia menyalahkan saran Yohana.
Fano dan Dakota menghabiskan makan malam mereka, namun istirnya itu sedari tadi mulai Fano makan selalu dipandangi oleh Dakota.
“Apa Henri salah kasih obat padanya” batin Fano.
Selesai mereka makan, Naon mendatangi meja makan dan berbisik pada Fano, karena selama makan tadi Fano mengedipkan matanya pada Naon, dia berbisik pada Naon “Tanyakan pada Henri obat apa yang sudah diberi pada istriku, kenapa istriku tidak seperti dirinya” perintah Fano pada Naon.
“Apa dia masih ada tugas yang harus dikerjakan, kalau dia sibuk bagaimana bisa aku melayaninya malam ini” batin Dakota melihat suaminya berbisik dengan Naon.
“Ehem, manajer Naon, apa suamiku masih ada tugas yang harus dia kerjakan” ucap Dakota beranjak dari duduknya.
“Tidak nyonya muda” ucap Naon. Saat Fano beranjak berdiri dari duduknya, Dakota langsung memeluk lengan suaminya.
“Kalau begitu, suamiku sudah bisa istirahat. Manajer Naon istirahat juga, hari sudah larut” ucap Dakota membawa suaminya menuju kamar mereka.
“Apa benar nyonya muda salah minum obat” batin Naon.
BERSAMBUNG..........
Hai Reader, terima kasih sudah mampir, 😘😘😘😘😘
Jangan lupa like dan komentar ya, 😘
oya Jadiin Favorite untuk up lanjutan. 😘
__ADS_1
Sesekali Vote ya,😍
See you🙋🙋🙋