
# Rumah Sakit
Setibanya di Rumah Sakit, dengan langkah buru-buru Fano memapah tubuh istrinya menemui Dokter Mia, bahkan hari sudah larut, untungnya Rumah Sakit buka 24 jam. Tubuh Dakota langsung di bawa ke ruang ICU. Wajah Fano sudah terlihat stres menunggui kabar dari Dokter mengenai istrinya. Haris dan Yohana juga sudah tiba di lokasi, begitu juga dengan ibu Lena dan Siti. Bukan hanya itu saja, ternyata Pak Admidjaya juga datang ke Rumah Sakit. Melihat kerabat juga keluarga Fano ramai di Rumah Sakit, dia semakin bingung, entah apa alasan yang akan dia sampaikan pada Pak Admidjaya, penyebab istrinya pingsan. Fano hanya bisa berharap istrinya segera pulih.
Dokter Mia langsung melaksanakan tugasnya memeriksa tubuh Dakota. Namun sebagai Dokter, baru pertama kali ini dia menemukan pasien dengan kondisi tubuh Dakota saat ini. Dokter Mia bahkan sudah geleng-geleng kepala melihat tubuh Dakota. Selama dua jam akhirnya Dokter Mia selesai melaksanakan tugasnya. Dia langsung keluar dari Ruang ICU. Saat dia keluar dari ruangan itu, sudah banyak wajah langsung berdiri menghadap padanya.
“Bagaiama keadaannya?” tanya Fano.
“Apa dia baik-baik saja” tanya Pak Admidjaya.
“Kenapa dia bisa pingsan?” tanya ibu Lena juga Haris bersamaan.
‘Kalian tolong tenanglah, kalau dia tidak segera ditangani, saya rasa bayi dalam perutnya tidak akan bisa terselamatkan” jelas Dokter Mia.
“Bayiiiiiiii” teriak Fano, ibu Lena, Haris, Pak Admidjaya serentak. Bahkan mereka sudah terkejut mendengar kabar dari Dokter Mia.
“Maksud Dokter.. istriku.. istriku sedang hamil” ucap Fano panik tidak percaya, dia bahkan sudah memegangi kepalanya, karena ulahnya istrinya sampai pingsan bahkan hampir membunuh anak masa depannya.
“Dia sedang hamil, kenapa aku tidak tahu, apa yang sudah kulakukan. Bodohnya aku ....” gumam Fano.
“Sebagai seorang Dokter aku sangat marah padamu Fano, baru kali ini aku melihat seorang suami yang sangat brutal terhadap istrinya. Pasien sudah hamil selama 2 minggu, perut dari pasien sudah sering keram membuat perutnya terasa sakit, merasa lelah juga itu gejala dari awal kehamilan, sebelumnya ada tanda-tanda prematur juga, pasien tidak boleh terkena udara dingin. Saya tekankan lagi pasien tidak boleh bersetubuh dulu sampai bayinya berkembang dan satu lagi jangan buat pasien tertekan, sebagai suaminya buatlah dia selalu tertawa dan terhibur” tegas Dokter Mia menggelengkan kepalanya menatap Fano. Mendengar ucapan Dokter Mia semua orang langsung menatap pada Fano. Pandangan mata Fano kosong setelah mendengar ucapan Dokter Mia.
“Ya ampun, Fanooo apa kamu mabuk nak ....” ucap ibu Lena, dia sebagai ibu dari Fano sangat malu dihadapan semua orang.
“Kau hampir saja membunuh anakmu” ucap ibu Lena kembali memukuli punggung Fano. Fano hanya terdiam menerima serangan dari ibu Lena.
“Nyonya Besar, tenanglah” ucap Siti melerai ibu Lena.
“30 menit lagi kalian baru boleh masuk menemui pasien” ucap Dokter Mia meninggalkan mereka di depan pintu Ruang ICU. Tidak berapa lama, Haris yang mencerna perkataan Dokter Mia langsung emosi.
“Wah, kau benar-benar suami kurang ajar” ucap Haris.
“Brughhh..” tinju Haris sudah mendarat pada perut Fano. Fano tidak membalas sama sekali, dia hanya menerima tinju dari Haris, bahkan tinjuan itu belum seberapa bila dibandingkan dengan sakit yang dirasakan oleh istrinya karena ulahnya, bahkan Dakota sampai pendarahan.
__ADS_1
“Suami macam apa kau, kau bahkan memaksa kehendakmu secara brutal. Aku saja tidak pernah memukulnya” ucap Haris kesal.
“Apa yang kau lakukan, dia itu suami adikmu” ucap Pak Admidjaya menahan Haris.
Mendengar ucapan Pak Admidjaya, kembali lagi semua orang malah melongo. Pernyataan Pak Admidjaya itu menunjukkan bahwa Dakota adalah cucu kandungnya.
“Kakek, dia ini pria brengsek, tidak pantas jadi suami adikku” ucap Haris, dia belum puas menghajar Fano, ingin rasanya dia memukuli wajah Fano, namun Pak Admidjaya dan Naon sudah menahan tubuh Haris.
Semua orang kembali bengong menatap Ruang ICU, setelah 30 menit berlalu seorang perawat baru saja keluar dari Ruang ICU. Melihat perawat keluar kembali mereka berbondong-bondong mendekati pintu ruangan itu.
“Apa istriku sudah bangun?” Fano langsung bertanya.
“Apa dia baik-baik saja” tanya Haris.
“Maaf sebelumnya, pasien selalu memanggil ayah, ibu, nenek dan kakek, bahkan lebih sering memanggil ayah. Apa diantara kalian ada ayahnya” tanya perawat.
“Ayah..” ucap Haris tidak percaya menatap kakeknya. Semua orang saling memandang, bahkan Fano tidak dicari oleh Dakota.
Tidak berapa lama Dokter Mia kembali masuk ke Ruang ICU. Semua orang kembali khawatir dengan kondisi Dakota termasuk Pak Admidjaya. Bahkan Pak Admidjaya sudah berdiri menunggui cucunya.
“Apa mungkin ingatan cucuku sudah kembali” gumam Pak Admidjaya.
“Kakek, duduklah dulu” ucap Haris menarik tubuh Pak Admidjaya.
Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Dokter Mia kembali keluar dari ruangan itu.
“Tolong diantara kalian yang merasa paling dekat dengannya segera masuk kedalam, saya ingin mengetes ingatannya” ucap Dokter Mia.
Semua orang langsung memandang, Fano sudah ikut masuk kedalam begitu juga dengan Pak Admidjaya. Fano sudah menatap wajah Dakota.
“Ayah ... ayah jangan pergi ....” ucap Dakota. Bahkan suara Dakota sangat manja terdengar seperti suara anak kecil. Fano langsung memegangi tangan Dakota.
“Sayang, bangunlah aku sudah disini” ucap Fano menatap wajah Dakota. Sementara itu Pak Admidjaya sudah terlihat cemas melihat keadaan cucunya. Tidak berapa lama mata Dakota sudah terbuka menatap ruangan itu. Orang pertama yang Dakota pandang adalah Pak Admidjaya.
__ADS_1
“Kakek, ayah belum meninggalkan, dia masih hidupkan, pembunuh itu.. pembunuh itu tidak membunuh ayahkan?” tanya Dakota, dia langsung menangis suaranya masih tedengar seperti anak kecil. Hal itu membuat Fano bingung juga heran dengan kondisi Dakota.
“Cucuku sayang, ayahmu belum meninggal, dia sedang dinas di luar kota” ucap Pak Admidjaya meyakinkan Dakota, mata Pak Admidjaya mulai berkaca-kaca.
“Sayang ... jangan menangis” ucap Fano melap wajah istrinya. Dakota langsung menatap wajah Fano, sejenak dia memperhatikan wajah Fano. Dakota langsung mendorong tubuh Fano.
“Kakekkkkk ... tolong aku, ommm itu ... om itu ...” teriak Dakota menutupi matanya, Dakota terlihat ketakutan melihat keberadaan Fano.
“Dakota, tenanglah” ucap Pak Admidjaya mencemaskan Dakota.
“Sayang ini aku suamimu” ucap Fano. Namun Dakota tetap ketakutan menutupi wajahnya.
“Dokter kenapa dengan istriku” tanya Fano kebingungan.
“Tolong usir om itu, dia pembunuh ... aku tidak mau bertemu dengannya.. tolong ....” ucap Dakota mengusir Fano. Fano yang heran dengan keadaan itu juga bingung mendengar ucapan istrinya.
“Fano, tolong keluarlah dulu” ucap Dokter Mia memahami situasi.
“Kenapa dia mengataiku pembunuh Dok, aku ini suaminya, ada apa dengannya, apa kalian salah kasih obat” teriak Fano pada Dokter Mia.
“Fano, tolong keluarlah” perintah Pak Admidjaya.
Fano tidak tega melihat istrinya sudah menangis. Dia terpaksa keluar dari ruangan itu. Dokter Mia langsung memberikan obat penenang pada Dakota.
BERSAMBUNG...............
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, 🙏
Jangan bosan ya reader beri like dan komentar kalian,😊
Sesekali Vote ya reader😊
See You 🙋🙋🙋
__ADS_1