
Fano langsung beranjak kekamarnya, sesampainya di depan pintu kamar, dia masih mendengar suara tangisan istrinya terdengar pelan. Terpaksa dengan langkah mengendap-endap dia membuka pintu kamar mereka, dan mendapati tubuh istrinya sudah tertutup dibalik selimut mereka. Namun saat dia sudah masuk di dalam kamar suara tangisan istrinya sudah tidak ada lagi.
“Apa dia sudah berhenti menangis” batin Fano.
Fano langsung mendekati tubuh istrinya, di tariknya pelan selimut Dakota. Namun Dakota menahan selimut itu tetap menutupi wajahnya, bahkan dia membalikkan tubuhnya membelakangi Fano. Ternyata Dakota menyadari keberadaan Fano.
Akhirnya Fano menyerah, dia melepaskan selimut itu. Dengan langkah pelan, perlahan-lahan Fano naik kekasur, masuk kedalam selimut. Dia melihat pipi istrinya sudah basah.
“Sayang, bisa lepaskan selimut ini” ucap Fano pelan. Fano langsung mengelus pipi Dakota dan melap pipi Dakota yang sudah basah. Akhirnya Dakota melepaskan selimut itu.
“Kenapa kau masuk kekamar, apa pekerjaanmu sudah selesai” ucap Dakota seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia mencoba kembali membalikkan badannya untuk memunggungi Fano. Namun Fano langsung menahan lengan Dakota dan memegangi wajah istrinya. Dakota pasrah dengan tingkah suaminya, dia langsung memejamkan matanya, tidak berani menatap suaminya.
“Aku sangat tidak ingin melihatmu menangis sayang, aku hanya ingin kau selalu tersenyum bahagia menikah denganku” gumam Fano menatap wajah Dakota.
“Kenapa kau menangis” tanya Fano pura-pura tidak tahu.
“Siapa yang menangis, aku tidak menangis” ucap Dakota menyangkal perkataan suaminya. Dia mencoba kembali membalikkan tubuhnya. Kini dia sudah membelakangi Fano. Terpaksa Fano membicarakan permasalahan yang baru saja terjadi.
“Sayang aku minta maaf, artikel itu akan segera hilang dari media” ucap Fano. Dakota hanya terdiam, tidak merespon suaminya.
“Sayang” ucap Fano kembali, namun Dakota hanya terdiam.
“Hei” ucap Fano menarik kembali tubuh Dakota. Ternyata Dakota kembali menangis tidak bisa menahan sedih.
“Huhhuuu ... aku bukan wanita penggoda ... huhuu ....” tangis Dakota dihadapan Fano. Fano langsung memeluk tubuh istrinya.
“Siapa bilang kau wanita penggoda, kau itu istriku, wanita yang kucintai” ucap Fano menenangkan istrinya. Dakota malah menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Fano. Fano membiarkan istrinya itu menangis dalam pelukannya. Beberapa menit kemudian saat istrinya itu sudah merasa baikan dan juga sudah lelah menangis, Fano tidak mendengar suara istrinya lagi.
“Sayang, jangan menangis lagi ya, kau tidak boleh menangis tanpa seizinku” ucap Fano mengecup kening istrinya. Dakota hanya mengangguk.
“Tidurlah, hari sudah malam” ucap Fano kembali. Fano berencana keluar untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, dia mencoba melepas pelukannya, namun Dakota kembali memeluk tubuh Fano dengan erat. Dakota kembali merengek seperti anak kecil tidak mau ditinggalkan oleh suaminya.
“Heenghh ....” suara rengekan Dakota di pelukan Fano.
“Baiklah, aku akan disini, aku tidak akan keluar” ucap Fano mengelus rambut istrinya. Fano yakin Naon dan Siti sudah menungguinya di luar kamar mereka.
“Tindakanku begini terlihat seperti seorang ayah mengelus putrinya. Apa perlu aku bacakan dongeng” canda Fano pada istrinya.
“Henghh” rengek Dakota kembali memukul dada Fano.
“Iya iya, aku tidak bercanda lagi, tidurlah sayangku” ucap Fano kembali mengelus punggung istrinya.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Fano merasakan tubuh istrinya sudah tidak bergerak lagi, dia mencoba bersuara untuk memastikan istrinya itu sudah tertidur atau belum.
“Sayang” bisik Fano pelan. Namun tidak ada respon dari Dakota.
“Dia sudah tidur” gumam Fano.
Fano langsung melepas pelukannya, dengan langkah pelan dia merapikan posisi tidur istrinya. Selesai memasangkan selimut istrinya, Fano kembali keluar dari kamar, tidak lupa dia mematikan lampu kamar mereka.
Fano sudah menemukan Naon dan Siti di ruang tamu kedua dekat kamarnya.
“Presdir” ucap Naon dan Siti saat Fano melangkah mendekati mereka. Mereka langsung berdiri dari duduknya.
“Bagaimana dengan sumber foto itu” tanya Fano langsung pada intinya sambil mendudukkan pantatnya di atas sofa.
“Begini Presdir, orang kita sudah mengintrogasi nona Kamila dan Susi, sepertinya nona Kamila saat itu tidak menyuruh orang lain untuk mengambil foto Presdir. Dari penyelidikan, foto tersebut di sebarkan oleh seorang paparazi yang pandai mengambil gambar dari jarak jauh. Paparazi itu menyebarkan ke media, media juga membayar paparazi itu saat menerima foto itu karena memang foto itu asli, sehingga media berani menyebarkan berita itu. Dia hanya disuruh oleh orang lain Presdir, dia dikirimi uang yang banyak, dia langsung melaksanakan perintah. Kami sudah menyuruhnya untuk mengaku sampai babak belur, dia jawab dengan jujur dia hanya disuruh oleh seorang lelaki, dia menjelaskan bahwa suara yang menelvonnya sudah terdengar berumur (tua). Kami hanya mendapatkan nomor lelaki berumur itu. Namun nomor handphone yang memerintahkannya hanya sekali pakai saja Presdir, terakhir kami lacak, nomor tersebut berasal dari Kota X” jelas Naon panjang lebar.
“Lagi-lagi dari Kota X” ucap Fano kesal.
“Benar Presdir, saya rasa ini ulah dari MP Presdir” ucap Naon.
“Presdir, media sudah minta maaf pada perusahaan, hal itu merupakan pencemaran nama baik, mereka sudah menarik semua pemberitaan mengenai Presdir dan nyonya muda, mereka sudah mempost artikel perminta maafan pada Reinhard Group dan mengatakan bahwa berita itu hoax, mereka sudah menyatakan bahwa saat itu nyonya muda diculik oleh penculik bayaran dan Presdir hanya membantu mengangkat tubuh nyonya muda ke mobil untuk di bawa kerumah sakit” ucap Siti menyerahkan tablet pada Fano. Fano menerima tablet itu, dia langsung membaca artikel yang baru saja terbit.
“Lalu bagaimana dengan bunga mawar yang dikirim untuk istriku” tanya Fano kembali.
“Kediaman Sugiono” ucap Fano terkejut.
“Benar Presdir, namun itu hanya penelvon pertama saja Presdir, pemesanan berikutnya tujuan yang sama namun dengan nomor yang berbeda dan asal dari penelvon berada di Kota X” ucap Siti menimpali.
“Bagaimana dengan pengirim yang kedua” tanya Fano penasaran.
“Untuk kurir yang di tugaskan adalah orang yang sama, pemesanan bunganya secara online Presdir melalui email, kurir itu mengatakan bahwa pria muda yang memesan bunga dan pria muda itu berinisial JS. Setelah kami periksa lagi, ternyata pria muda itu adalah artis terkenal JS. JS seorang penyanyi mancanegara Presdir” jelas Naon.
“Apa hubungan JS dengan istriku, kenapa dia bilang cinta pertamanya istriku” ucap Fano kesal.
“Begini Presdir, artis JS adalah anak dari pak Sucipto penerus dari Sucipto Group nama aslinya adalah Janter Sucipto. Dia pernah satu sekolah dengan nyonya muda, Janter Sucipto merupakan senior satu klik diatas nyonya muda, kalau tidak salah mereka saling suka sewaktu di SMA Z yang ada di Kota Malang, namun karena ada insiden kecil yang terjadi pada nyonya muda, artis JS pindah keluar negeri” jelas Siti menimpali.
“Kenapa dia tau istriku sudah menikah?” tanya Fano semakin kesal mendengar istrinya pernah menyukai pria lain selain dirinya.
“Apa mungkin istriku masih berhubungan dengannya” batin Fano.
“Saat Presdir dan nyonya muda menikah, ternyata nona Yohana memposting acara pernikahan nyonya muda di Facebook, walau wajah dari kedua mempelai di tutupi, ada kata-kata yang di tulis oleh nona Yohana yaitu happy wedding sahabatku, begitu tulisannya dengan caption love. Semua teman-teman SMA mereka menebak bahwa yang menikah itu nyonya muda Dakota. Namun nona Yohana tidak memberikan klarifikasi dan saat saya cek ternyata artis JS berteman dengan nona Yohana, dia juga mengomentari status nona Yohana, happy weding my darling” begitu Presdir jelas Naon.
__ADS_1
“Bagaimana bisa keluarga Sugiono ikut campur mengetahui istriku tidak suka bunga mawar warna merah, ada apa dengan mereka. Kalau untuk Janter Sucipto itu hanya masa lalu istriku, tapi kenapa dia masih mengirim bunga, sudah tahu istriku sudah menikah” gumam Fano kesal.
Fano semakin marah mendengar penjelasan Naon dan Siti, Fano masih diam membuat Naon dan Siti serba salah, mereka berdua saling menatap dan mengedipkan mata seolah-olah berbicara dari hati-kehati.
“Apa Presdir akan melemparkan sesuatu seperti saat itu” gumam Naon menatap Siti.
“Siap-siap saja tutupi wajah, aku sudah mengamankan benda-benda kecil di sekitar sini” gumam Siti menatap Naon. Tidak berapa lama selesai Fano berpikir, dia mulai membuka suaranya.
“Naon, bagaimana menurutmu dengan keluarga Sugiono, kenapa dari keluarga itu tahu bahwa istriku tidak suka bunga mawar berwarna merah” tanya Fano pada Naon.
“Presdir, saya belum bisa mengambil kesimpulan, kemungkinan besar kita harus mengetahui penyebab nyonya muda tidak menyukai bunga mawar warna merah, bisa jadi ada masa kelam yang sudah nyonya muda alami, namun nyonya muda lupa. Kemudian pengirim selanjutnya dengan tujuan yang sama berbuat jahat juga dari Kota X, bisa jadi ini adalah musuh Presdir juga atau tuan besar. Saya simpulkan sementara, bisa jadi ini orang yang sama, hanya saja lokasinya yang berbeda, seperti kerja sama begitu Presdir, begitu juga dengan paparazi yang sudah dibayar. Itu artinya target mereka adalah Presdir dan nyonya muda” jelas Naon memberikan hasil analisisnya.
“Benar juga pendapatmu, berarti untuk mendapatkan pelaku, kita harus melepaskan umpan” ucap Fano menerima analisis Naon.
“Benar Presdir, nyonya muda adalah umpan yang jadi sasaran mereka. Namun akan ada resiko yang besar bila pengawasan kita lepas dari nyonya muda” ucap Naon lebih lanjut.
“Kalian sudah boleh istirahat” perintah Fano. Naon dan Siti saling menatap, mereka kebingungan melihat Presdirnya tidak seperti biasa, seharusnya mereka harus memastikan Fano sudah istirahat lebih dulu baru mereka bisa istirahat juga.
“Apa yang kalian tunggu” ucap Fano heran melihat Naon dan Siti belum juga beranjak.
“Presdir juga harus istirahat, hari sudah larut” ucap Naon menunduk. Siti ikut menunduk.
“Besok kalian harus bangun pagi untuk mengawasi kegiatan istriku, apa perlu aku suruh kembali kalian lari mengelilingi rumah ini” tegas Fano.
“Tidak Presdir” ucap Naon dan Siti secara serentak, mereka langsung keluar dari ruang tamu itu.
Namun Naon masih mengawasi Fano dari sudut ruang yang lain. Naon menyuruh Siti untuk istirahat lebih dulu. Dia melihat Fano sudah menghidupkan api batang rokoknya.
“Kalau sudah ada masalah pasti Presdir merokok, padahal dia sudah lama berhenti merokok” gumam Naon.
BERSAMBUNG.............
Hai Reader Wanita Presdir, Semoga kita semua sehat selalu ya🙏
Jangan lupa jadiin Favorite untuk up lanjutan, Oya Sesekali Vote ya 😘
Jangan lupa like dan komentar 😍
Reader: Thor, kenapa Naon setia amat sama Fano, udah di suruh Istirahat masih saja nunggui.
Author: Iyalah, author juga setia sama reader untuk up😍😍😍
__ADS_1
Reader: Aih, thor😎😝😌😌😝
See You 🙋🙋🙋