Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 160


__ADS_3

Sesampainya Fano didepan pintu kamar. Ternyata pintu kamarnya masih terbuka. Saat Fano melihat sedikit dari balik pintu, Alfata masih menangis sembari berbaring di atas kasur. Pintu kamar itu Fano buka dengan tidak bersuara, Fano pun melangkah pelan menghampiri Alfata. Fano langsung berbaring mendekati Alfata.


“Hich ... hichs ....” sahut Alfata sambil cegukan. Perlahan tangan Fano langsung meraih tubuh Alfata dalam pelukannya.


“Nak, ayah ada disini” sahut Fano. Mendengar suara Fano, begitu terkejutnya Alfata dengan suara Fano. Alfata pun berbalik badan dan melihat Fano sudah berada dihadapannya.


“Ayah ... sungguh ini ayahku, hiks ....” tangis Alfata sembari memeluk tubuh Fano.


“Fata, ini benaran ayah” ucap Fano sembari mengelus tubuh Alfata.


“Ayah jahat, kenapa baru kembali sekarang” ucap Alfata sembari memukuli badan Fano.


“Nak, ayah minta maaf” ucap Fano sembari mengecup kening anaknya.


“Bunda belum kembali, aku sangat benci pada kalian, ayah dan bunda meninggalkan aku sendirian di dalam kamar ini, huhu ....” ucap Alfata sembari melontarkan unek-uneknya.


“Bundamu sudah kembali, bunda sedang di rawat oleh Dokter Mia” ucap Fano sambil mengangkat tubuh Alfata.


“Ayah tidak bisa menjaga bunda, bahkan bunda sampai sakit” ucap Alfata lagi mengomeli Fano.


“Apa kau tidak makan akhir-akhir ini, tubuhmu terlihat kurusan” ucap Fano. Fano pun membawa Alfata menuju kamar ibu Lena.


“Aku tidak nafsu makan, ayah dan bunda tidak boleh pisah lagi. Ayah harus janji pada Fata” ucap Alfata masih merengek.


“Ayah janji” ucap Fano.


Sesampainya di dalam kamar ibu Lena. Ibu Lena masih mendampingi Dokter Mia sembari berbincang-bincang. Fano pun menurunkan Alfata dari pelukannya.


“Bunda ....” tangis Alfata sembari memeluk tubuh Dakota yang masih berbaring.


“Fata, bundamu masih tidur” sahut ibu Lena.


“Kenapa tubuh bunda banyak luka begini, ayah ... lihatlah, siapa yang sudah tega melakukan ini pada bunda” ucap Alfata lagi sembari memeluk Dakota.


“Nak, bundamu akan sembuh, biarkan bundamu istirahat ya” ucap Fano. Tidak lama kemudian pelayan pun masuk kedalam kamar sembari membawa bubur hangat untuk Alfata. Fano pun meraih tubuh Alfata kembali.


“Aku tidak mau makan” ucap Alfata menolak.


“Fata, bundamu sedang sakit, kalau sampai Fata tidak makan nanti bunda bisa sedih, setidaknya makanlah sedikit” ucap Fano langsung meraih bubur yang ada pada pelayan.


“Baiklah” sahut Alfata meraih tangan Fano untuk menyuapinya.


Setelah menghabiskan satu mangkok bubur, tubuh Alfata mulai mengantuk karena sudah kenyang. Fano bisa melihat mata anaknya sudah mengantuk, namun Alfata menahan dirinya untuk menjaga Dakota.


“Kau sudah mengantuk” ucap Fano sembari mengangkat tubuh Alfata.


“Aku tidak mengantuk” ucap Alfata sambil menguap. Mata Alfata sudah lima watt.


“Tidurlah, ayah ada disini” ucap Fano sambil mengelus punggung anaknya.


“Ayah janji tidak akan pergi saat aku bangun nanti” ucap Alfata.


“Ayah janji” ucap Fano. Tidak lama kemudian, karena sudah larut malam Alfata langsung tidur di pangkuan Fano.


“Saat dia tidur, memang sangat mirip denganku. Jagoanku ini ternyata sudah besar, tubuhnya bahkan sudah lebih tinggi dari pertama pertemuan kami” batin Fano sembari membaringkan tubuh Alfata keatas kasur. Fano pun mendaratkan kecupan pada kening Alfata.


“Suamiku ... suamiku ... jangan tinggalkan aku ....” ucap Dakota. Ibu Lena dan Dokter Mia sangat terkejut mendengar suara Dakota barusan. Fano pun langsung menghampiri Dakota.

__ADS_1


“Sayang ... aku ada disini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu” ucap Fano sembari meraih tangan Dakota.


“Suamiku ....” Teriak Dakota lagi dari baringannya. Tangan Fano semakin erat menggenggam jari-jemari istrinya.


“Dia masih mimpi buruk” batin Fano sembari mengelus punggung tangan Dakota. Perlahan Dakota membuka mata dan melihat sekitar.


“Huhu ... suamiku ....” ucap Dakota langsung sadar. Tidak terasa mata ibu Lena sudah berkaca-kaca melihat Dakota sudah sadar. Dokter Mia pun ikut melepaskan suntikan infus pada tangan Dakota, karena infusnya sudah habis.


“Sayang ... jangan menangis ... ini aku” ucap Fano langsung meraih tubuh Dakota.


“Apa aku masih bermimpi ... kenapa suamiku memelukku” ucap Dakota masih tidak bertenaga di pelukan Fano. Fano pun langsung melepas pelukannya, kedua tangan Fano meraih wajah Dakota pada wajahnya hingga tatapan mata mereka berdua bertemu. Fano langsung melap air mata Dakota.


“Sayang, lihat aku .... aku masih hidup” ucap Fano sembari mendekatkan tangan Dakota pada wajahnya.


“Apa ini tidak mimpi, apa aku sudah gila, kenapa aku masih menghayal” ucap Dakota sembari meraba seluruh wajah suaminya.


“Ini aku, lihat mataku ....” ucap Fano meyakinkan Dakota.


“Nak, ini tidak mimpi” ucap ibu Lena sembari melap wajahnya. Dakota pun mendekap wajah Fano semakin dekat pada wajahnya.


“Sungguh ... ini ... be ... nar wajah suamiku ... hangh ... hangh ....” tangis Dakota semakin keras sambil memeluk tubuh Fano.


“Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu” ucap Fano mendaratkan ciuman pada bibir Dakota. Ciuman itu hanya sekilas saja.


“Huhu ... kau sangat jahat padaku ... aku sangat marah padamu, bagaimana jika kau tidak kembali, hangh ... hangh ....” tangis Dakota sembari memukuli dada Fano.


“Marahlah padaku” ucap Fano sembari menerima serangan dari Dakota.


“Jangan pergi lagi, aku tidak mau berpisah denganmu, aku sangat mencintaimu ....” ucap Dakota sembari menenggelamkan wajahnya pada tubuh suaminya.


“Sungguh, ini memang aroma tubuh suamiku. Tuhan ... terima kasih, kau sudah mengembalikan suamiku padaku” batin Dakota.


“Sepertinya istrimu sudah membaik, aku sudah bisa pamit” ucap Dokter Mia langsung merapikan alat medisnya.


“Aku akan mengantarmu” ucap ibu Lena. Ibu Lena dan Dokter Mia pun langsung keluar dari kamar. Namun saat ibu Lena dan Dokter Mia sampai di depan pintu kamar, ternyata Pak Purnomo, Mail, Naon dan para pengawal malah mengintip di balik pintu karena mendengar suara Dakota sudah sadar.


“Kenapa kalian berkumpul disini” ucap ibu Lena sangat terkejut melihat Pak Purnomo baru saja melap wajahnya yang sudah basah.


“Maaf Tuan Besar, kami tidak melihat apa pun” ucap para pengawal langsung bubar. Ini kali pertama Pak Purnomo menangis di hadapan semua orang.


“Kenapa kalian ikutan disini” ucap Pak Purnomo sambil menatap malu pada Mail dan Naon.


“Aha, kenapa aku ikut sebagai penguntit” ucap Naon sembari menggaruk kepalanya.


“Saya tidak menyangka, ini pertama kalinya Tuan Besar menangisuntuk Tuan Muda” ucap Mail memperjelas perasaan Pak Purnomo. Dokter Mia menahan senyumnya melihat wajah Pak Purnomo sudah menahan malu pada semua orang.


“Aku tidak menangis, Mail sejak kapan kau jadi pria penggosip” ucap Pak Purnomo meninggikan suaranya.


“Aku juga sangat terkejut, ini kali pertama aku melihat pria tua ini menagis” ucap Ibu Lena.


“Benar Nyonya” ucap Dokter Mia ikut menyahuti.


“Aku sudah bilang, aku tidak menangis, aku hanya penasaran karena Mail melirik dari pintu ini, kebetulan mata Mail sudah berkaca-kaca” ucap Pak Purnomo menyangkal.


“Astaga, perasaan tadi Tuan Besarlah yang pertama kali mengintip dari balik pintu ini” ucap Naon. Semua orang sudah tersenyum melihat wajah Pak Purnomo sudah malu-malu karena berbohong.


“Naon, sepertinya kita terlalu berani, aku takut kita tidak akan digaji” ucap Mail menyahuti.

__ADS_1


“Apa salahnya orang tua menangis terharu melihat anaknya sudah kembali” ucap Pak Purnomo langsung meraih tubuh ibu Lena.


“Ada apa denganmu, ada banyak orang disini” ucap ibu Lena sangat terkejut melihat tingkah Pak Purnomo. Pak Purnomo memeluk tubuh istrinya semakin erat.


“Apa salahnya aku memeluk istriku sendiri” ucap Pak Purnomo mengalihkan pembicaraan.


“Nyonya anda tidak perlu mengantar saya” ucap Doter Mia sambil tertawa kecil melihat tingkah Pak Purnomo mirip seperti anak kecil.


“Astaga, apa Tuan Besar salah minum obat ....”


“Bisa-bisanya Tuan Besar bertingkah seperti Alfata”


Para pelayan pun bergosip melihat tingkah Pak Purnomo.


“Aku sangat malu, bisakah kau mengalihkan pembicaraan” ucap Pak Purnomo pada ibu Lena.


“Biasanya kau sangat berwibawa, kenapa jadi menciut begini” ucap ibu Lena sambil mencubit lengan Pak Purnomo.


“Ehem ... kenapa kalian masih disini, apa kalian ingin melihat aku sedang bermesraan dengan istriku” ucap Pak Purnomo meninggikan suaranya. Mendengar ucapan Pak Purnomo barusan, Mail dan Naon langsung berhenti tertawa.


“Maaf Tuan, kami akan kembali bekerja” ucap Mail dan Naon bersamaan sembari beranjak dari depan pintu. Para pelayan pun ikut bubar menjauhi pintu kamar ibu Lena.


“Mereka sudah pergi” ucap ibu Lena. Namun Pak Purnomo masih memeluk tubuh ibu Lena, bahkan Pak Purnomo tidak sedikit pun melirik wajah ibu Lena.


“Seorang ayah wajar menangis untuk putranya” ucap ibu Lena sembari mencium aroma pakaian Pak Purnomo sudah bau keringat.


“Ini bukan pertama kalinya aku menangis untuk Fano” ucap Pak Purnomo masih belum berani menatap wajah istrinya.


“Sungguh, aku sangat terharu mendengar ucapanmu barusan, aku pikir selama ini kau tidak akan menganggap putraku sebagai anakmu” ucap ibu Lena langsung menenggelamkan wajahnya pada dada suaminya.


“Aku minta maaf” ucap Pak Purnomo.


“Apa yang kau katakan, coba ulangi lagi” ucap ibu Lena menggoda Pak Purnomo.


“Aku tidak akan mengulanginya” ucap Pak Purnomo.


“Sayang, ayolah, kita tidak muda lagi, kenapa kau malu-malu” goda ibu Lena lagi.


“Kalau kau begini, bisa-bisa kita membuat adik Fano lagi” ucap Pak Purnomo langsung mengangkat tubuh ibu Lena.


“Astaga, masih banyak orang disekitar kita, apa yang kau bicarakan” ucap ibu Lena. Hal itu membuat ibu Lena sangat malu.


“Kamar mana yang harus kita pakai” ucap Pak Purnomo lagi sembari melihat kamar ruang tamu. Pak Purnomo tidak peduli dengan para pelayan yang ada disekitar mereka. Pak Purnomo terus saja melangkah mengabaikan pelayan yang bergosip.


“Pak tua, tutup mulutmu” ucap ibu Lena sembari menutup mulut Pak Purnomo dengan tangannya. Para pelayan sudah bergosip melihat tingkah Pak Purnomo.


“Aku masih fit begini, jangan panggil aku pak tua” ucap Pak Purnomo.


“Ini sangat memalukan” batin ibu Lena sembari menutup wajahnya.


BERSAMBUNG ..........


To Reader 🤗


Maaf author baru kembali. Ada hal penting yang tidak bisa author katakan, membuat novel ini lama up. Penyebab utamanya karena notebook saya eror bunyi beep panjang, terpaksa harus di servis dulu😩😭


Jangan lupa dukung novel ini dengan like dan komentar ya, biar author semangat 🙏

__ADS_1


Sebelumnya author mengucapkan terima kasih sudah mendukung novel ini, walau novel ini tidak bagus. Semoga kalian terhibur, novel ini akan tamat sebentar lagi.


See You 👋👋👋


__ADS_2