
Waktu yang diberikan pada Fano hanya 2 jam untuk mengambil keputusan berat. Ini pertama kalinya dia sangat kebingungan mengambil keputusan. Fano tidak tahu sampai kapan dia akan berpisah dengan Dakota dan Alfata.
Dakota juga masih kebingungan melihat keadaan suaminya sedang duduk memandangi putra mereka.
“Sayang, tidurlah kembali” ucap Fano menyuruh istrinya untuk tidur. Ternyata Fano sudah sadar sedari tadi dipandangi oleh Dakota.
“Aku tidak bisa tidur, jika kau membuatku cemas” ucap Dakota.
“Sayang, ada begitu banyak hal buruk yang sudah kau lewati. Tolong jangan cemaskan aku, saat ini dan seterusnya kau harus bahagia demi dirimu dan anak kita” ucap Fano menggenggam erat tangan Dakota. Air mata Fano kembali mengalir.
“Ada apa denganmu, kau bahkan menangis lagi” ucap Dakota semakin cemas melihat suaminya kembali mengeluarkan air mata. Setahu Dakota suaminya itu bukan pria yang cengeng.
“Mataku hanya kelilipan” ucap Fano. Fano langsung mendaratkan ciuman pada bibir Dakota. Ciuman itu sangat dalam.
“Saat kau bangun besok, aku tidak tahu kau masih bertemu denganku atau tidak. Ini ciuman perpisahan kita, sayang ... aku mencintaimu” ucap Fano membatin.
“Sayang” ucap Dakota saat Fano melepaskan ciuman mereka. Fano masih menggegam erat tangan Dakota.
“Sayang, aku lupa Dokter akan kembali masuk kedalam untuk memeriksa keadaanmu” ucap Fano. Dakota hanya mengangguk mendengar Dokter akan memeriksa kembali tubuhnya. Fano beranjak keluar dari ruangan itu. Saat tiba di depan pintu ruangan Dakota, dia sudah kembali berhadapan dengan keluarganya.
“Apa kau sudah mengambil keputusan?” tanya Pak Purnomo.
“Sudah” ucap Fano terasa berat.
“Itu pilihan yang tepat” ucap Pak Purnomo menepuk pundak Fano.
“Aku akan panggil Dokter untuk segera membiusnya kembali” ucap Haris beranjak memanggil Dokter. Fano kembali masuk keruangan istrinya. Beberapa menit kemudian, Dokter sudah masuk keruangan Dakota. Dokter sudah menyuntikkan obat penenang untuk Dakota. Agar Dakota bisa istirahat di pesawat. Fano hanya bisa pasrah melihat tubuh Dakota kembali tertidur. Jika dibangunkanpun Dakota tidak akan sadar.
“Kau harus kuat, ini demi kebahagiaan mereka” ucap Pak Admidjaya menepuk pundak Fano.
“Aku akan segera mengirim ibu mertuamu Endangsi untuk ikut mendampingi mereka di Jerman” ucap Pak Admidjaya kembali. Semua orang sudah sibuk membantu berkemas untuk keberangkatan Dakota ke Jerman.
“Kita harus segera membawa mereka kemobil” ucap Haris. Fano langsung menggendong Alfata. Tidak semua orang bisa mengantar kepergian mereka. Hanya Haris yang mengantarkan Fano dan ibu Lena. Tidak banyak waktu yang dimiliki oleh Fano, karena ancaman dari MP, Fano harus segera kembali ke Jakarta setelah mengantarkan Dakota ke Jerman ketempat kediaman kakeknya Reinhard. Fano yakin setibanya nanti di Jerman, istrinya Dakota akan sangat marah dan benci padanya.
# Jerman
Sesampainya di Jerman tepatnya di Kediaman kakek Fano yakni Pak Reinhard. Meski selama ini kakek Fano masih hidup. Namun kakeknya itu tidak pernah sekalipun berkunjung lagi ke Indonesia. Sejak meninggalkan perusahaannya pada kedua putranya dia memutuskan menetap di Jerman tempat asalnya berada. Usia dari Pak Reinhard saat ini sudah 83 tahun. Walau kakek Fano sudah tua, kakek Fano masih sanggup mengurus bisnisnya yang ada di Jerman.
“Papa mertua” ucap ibu Lena mencium punggung tangan Pak Reinhard saat mereka tiba di kediaman Pak Reinhard. Pak Reinhard hanya mengangguk. Fano sudah membawa tubuh Dakota di bantu pelayan menuju kamar khusus. Memang kediaman Pak Reinhard sangat ketat penjagaannya. Ibu Lena juga ikut membantu menjaga Alfata.
“Segera suruh Fano menghadap padaku” perintah Pak Reinhard.
“Baik” ucap ibu Lena menyusul Fano masuk ke kamar khusus.
__ADS_1
Setelah Fano merapikan posisi tidur Dakota. Fano harus menghadap pada kakeknya. Fano menyerahkan Alfata pada ibu Lena, dia beranjak keruangan kakeknya.
“Kakek” ucap Fano memeluk tubuh Pak Reinhard. Fano memaksakan diri untuk terlihat tergar dan bahagia dihadapan kakeknya.
“Kau sudah jadi ayah rupanya” ucap Pak Reinhard memukul lengan Fano.
“Kakek sudah setua ini, masih saja suka mukul” ringis Fano. Fano langsung mengambil posisi duduk dihadapan kakeknya karena mereka akan membicarakan hal serius.
“Aku sudah dengar semuanya dari papamu. Selama ini aku tidak pernah ikut campur masalah pribadi Purnomo maupun Sutan. Aku juga sudah tua untuk mengurusi masalah putraku. Namun melihat cucu buyutku juga ikut terlibat permasalahan ini, sepertinya aku harus turun tangan” ucap Pak Reinhard.
“Maksud kakek?” tanya Fano belum juga memahami maksud ucapan Pak Reinhard.
“Ingatlah kata pepatah ini, teman saling mengkhianati, saudara saling membantai, ayah dan anak saling berkelahi, bahkan orang yang tidur disampingmu menjadi bumerang diwajahmu” ucap Pak Reindard. Fano mencoba mencerna maksud dari Pak Reinhard.
“Jadi maksud kakek orang terdekat. Selama ini orang terdekat papa belum ada yang sanggup melakukan hal keji begini, apa mungkin orang itu paman Sutan. Tapi ... dia sudah meninggal” batin Fano.
“Apa kau sudah bisa memahami hal ini?” tanya Pak Reinhard kembali.
“Tapi kek, bukannya paman Sutan sudah meninggal?” tanya Fano menebak semua ucapan kakeknya mengarah pada pamanya Sutan Reinhard.
“Selama mayatnya belum ditemukan, bisa jadi dia masih hidup. Kakek tidak pernah peduli dengan papamu dan pamanmu. Tapi yang kakek tahu, Sutan sangat benci pada Purnomo. Selama ini kasih sayang yang kakek berikan bahkan lebih banyak pada Sutan. Melihat pamanmu tidak terima kakek membantu ayahmu, kakek memilih meninggalkan Indonesia, menyerahkan perusahaan pada mereka. Pada akhirnya kakek tahu kemampuan ayahmu sangat baik mengelola perusahaan” ucap Pak Reinhard.
“Jadi selama ini yang sudah menghancurkan keluarga adalah paman” ucap Fano mengepalkan tangannya.
“Aku harus segera mencari tahu keberadaan paman” ucap Fano.
“Apa kau harus kembali malam ini?” tanya Pak Reinhard. Fano langsung diam kebingungan, berat rasanya dia harus pergi saat Dakota belum sadar.
“Pikirkanlah baik-baik, kalau kau harus berpisah dengannya dalam waktu yang lama, lebih baik kau luangkan waktumu sampai dia bangun. Kau akan menyesal nanti, bisa jadi dia semakin benci padamu” saran Pak Reinhard.
“Tapi kek, aku sudah tidak masuk kantor hari ini, kalau sampai aku tidak juga masuk kantor sampai besok, bisa jadi keberadaanku disini akan segera diketahui oleh Mr. Pich. Akan sia-sia aku membawa istri dan anakku kesini. Belum lagi saat istriku terbangun nanti, aku tidak bisa melihat dia menangis kek. Aku ...” ucap Fano menunduk.
“Jangan terlalu gegabah, aku menjamin istri dan anakmu aman disini. Tunggulah dia sampai dia terbangun, kalian akan berpisah dalam waktu yang lama. Kalau tidak, kau akan menyesal nanti” saran Pak Reinhard. Fano kembali terdiam kebingungan dengan situasi saat ini.
“Temuilah mereka” perintah Pak Reinhard. Fano mengangguk kembali beranjak masuk ke kamar khusus menemui Dakota.
Saat Fano memasuki kamar itu dia sudah mendapati Dakota terbangun sedang menyusui Alfata. Bahkan Dokter keluarga dari Pak Reinhard sudah selesai memeriksa keadaan fisik Dakota. Dokter itu langsung keluar dari kamar khusus itu.
“Ternyata dia sudah bangun” batin Fano.
Sejak Dakota sudah bangun dari tidurnya tadi, dia sangat terkejut sudah berada diruangan yang berbeda, saat dia memperhatikan sekitar terlihat bangunan ruangan kamar khusus itu corak dan desainnya mirip perumahan Eropa. Terpaksa ibu Lena yang berada di dalam kamar menceritakan pada Dakota saat ini mereka ada di Jerman. Alasan kenapa Dakota dibawa ke Jerman, hingga ancaman dari Mr. Pich ingin menghancurkan cucunya Alfata.
Melihat situasi saat Fano masuk kedalam kamar, hanya ada keheningan, ibu Lena memilih keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Sejak ibu Lena menjelaskan alasan Fano membawa Dakota dan Alfata ke Jerman, Dakota hanya diam tidak bersuara lagi. Setelah menyusui Alfata, Dakota langsung menaruh tubuh Alfata kekeranjang bayi tepat berada disampingnya. Alfata kembali tertidur karena sudah kenyang menerima ASI dari Dakota.
Fano sudah yakin Dakota akan marah padanya. Fano langsung mendekati tubuh istrinya itu, bahkan saat ini Fano sudah berlutut dihadapan Dakota.
“Apa yang kau lakukan?” ucap Dakota bertanya, dia sangat terkejut melihat suaminya itu berlutut mengahadap padanya.
“Aku terpaksa melakukan hal ini pada kalian. Tolong jangan marah ataupun benci, hiduplah bahagia disini, aku ...” ucapan Fano terpotong.
“Berdirilah! Aku mohon ....” pinta Dakota menegaskan ucapannya. Fano langsung berdiri.
“Kalau memang ini yang terbaik. Kita bisa apa? aku tidak mau anakku menghilang dari bumi ini. Tapi ... aku juga tidak bisa pisah jauh darimu, bagaimana ini? Huhuhu ....” tangis Dakota sudah meledak. Dakota belum bisa bergerak, kedua tangannya menutupi wajahnya. Fano langsung meraih tubuh Dakota.
“Sayang, tolong jangan menangis” tangis Fano memeluk Dakota.
“Huhuhu ....” Dakota tetap menangis. Sejenak dia pandangi wajah suaminya itu. Dakota langsung meciumi seluruh wajah Fano, karena wajah itu akan dia rindukan. Sambil menangis Dakota melap air mata suaminya.
“Kau harus segera mencari tahu siapa Mr. Pich itu. Dia sudah menghancurkan keluarga kecil kita. Huhuhu ... aku tidak ingin berpisah jauh darimu, bahkan seharipun aku tidak sanggup. Kenapa kita harus berpisah, kenapa ....” tangis Dakota kembali memeluk Fano.
Sangat lama waktu yang mereka lewati untuk Fano berpamitan pada istri dan anaknya. Dakota tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari Fano. Hingga suara tangisan Dakota selesai. Fano kembali menatap wajah istrinya itu. Wajah Dakota akan sangat dia rindukan. Kali ini Fano kembali menciumi seluruh wajah Dakota. Hingga dia mendaratkan ciuman perpisahan pada bibir Dakota. Setelah selesai mencium istrinya, tangan Fano masih digenggam erat oleh Dakota. Fanopun mencium Alfata, sejenak tubuh Alfata bergerak karena sentuhan lembut dari Fano.
“Aku harus pergi” ucap Fano. Namun Dakota belum juga melepaskan genggaman tangannya. Dakota menatap wajah Fano dan menggelengkan kepalanya mengatakan agar Fano tidak pergi meninggalkannya.
Tidak berapa lama Pak Reinhard sudah masuk kedalam bersama ibu Lena. Ibu Lena sudah membawa semua perlengkapan keberangkatan Fano untuk kembali ke Indonesia.
“Nak, suamimu itu tidak akan pergi, dia akan selalu ada dihatimu. Begitu juga denganmu Fano, istrimu akan selalu ada dihatimu. Kalau kalian sudah selesai berdiskusi, Fano harus segera pergi nak, supaya tidak sia-sia Fano mengantarkan kalian kemari” saran Pak Reinhard.
Mendengar ucapan Pak Reinhard, genggaman tangan Dakota mulai melonggar. Dakota pasrah melepas kepergian Fano untuk kembali ke Jakarta. Fano kembali mencium kening Dakota.
“Aku pamit” bisik Fano pada Dakota. Dakota hanya diam tidak merespon lagi. Dengan langkah kakinya yang berat, terpaksa Fano meninggalkan istri dan anakknya di kamar itu.
“Kakek, Mama ... aku titip istri dan anakku” ucap Fano berangkat keluar dari kediaman itu. Mereka langsung mengangguk. Pengawal Pak Reinhard sudah menunggui Fano.
BERSAMBUNG.........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah setia bersama Fano dan Dakota.🙏
Reader : Thor, aku sedih thor ... kenapa mereka harus berpisah?😢😫😭
Author : Aku juga sedih membuat naskah ini, bahkan air mataku menetes tidak karuan.😭
Reader : Huaaa ... Author jahat. Tidak ada like dan komentar untuk author sudah buat kami sedih.😎😣😤
Author : Huuaaaaa ...😭😭😭
__ADS_1
See You 🙋🙋🙋