
“Kalian sudah tahu ini ruangan untuk pasien ... bisa-bisanya kalian masuk ....” teriak Mail sambil menghalangi para wartawan itu untuk masuk kedalam ruangan ICU untuk menemui Pak Purnomo. Pak Purnomo dan ibu Lena pun terpaksa keluar dari ruangan itu. Belum sampai Pak Purnomo beranjak di dekat pintu ruangan itu.
“Kami juga mendapatkan surat ijin untuk pengunjung Pelabuhan Tanjung Priok atas nama Presdir Celofano Reinhard beserta Manajer pribadinya.”
“Mungkinkah Presdir Fano sudah meninggal bersamaan dengan meledaknya kapal itu.”
Ucap para wartawan itu melayangkan pernyataan bertubi-tubi.
Mendengar suaminya meninggal, Dakota semakin syok.
“Tidak ... itu tidak mungkin ... suamiku tidak meninggal ....” teriak Dakota sambil melepas infusnya.
Mata para wartawan itu langsung terbelalak mendengar kata suami dari mulut Dakota barusan. Kamera dari para wartawan itu langsung mengambil gambar Dakota.
“Cekrek ... cekrek ....” Foto semua orang yang ada di dalam ruangan itu sudah diambil.
“Apa ... suami ......”
“Bukannya dia Nona Dakota.”
“Lalu siapa anak kecil itu.”
“Anak kecil itu terlihat mirip dengan Presdir Fano sewaktu kecil dulu.”
“Jangan bilang Presdir Fano memang sudah menikah sesuai dengan rumor yang beredar.”
Pak Purnomo pun langsung main mata pada Mail. Dengan paksa Mail mengangkat senjata apinya, membuat para wartawan itu langsung mundur dari pintu ruangan ICU itu.
“Huhu .... anakku Fano ... lihatlah istri dan anakmu ....” tangis ibu Lena lagi sambil memeluk suaminya.
“Bunda, kenapa ayah ... bunda ... hangh ....” Tangis Alfata sambil memeluk tubuh Dakota.
“Suamiku tidak meninggal, aku tidak mengijinkan dia untuk berpisah denganku, Yo ... tolong jaga anakku” ucap Dakota. Yohana hanya bisa menunduk pada Dakota sembari meraih lengan Alfata.
“Bunda, aku mau ikut” ucap Alfata.
“Nak, bunda pasti menemukan ayahmu, baik-baik disini ya nak, kau belum sembuh” ucap Dakota sambil mengecup kening anaknya.
“Papa, tolong cegah Dakota” ucap ibu Lena pada Pak Purnomo. Pak Purnomo hanya diam, tidak menghalangi kepergian Dakota. Siti langsung mengangguk pada Pak Purnomo untuk mengikuti Dakota.
“Huhu ... suamiku ....” Tangis Dakota sembari melap air matanya. Bahkan kaki Dakota sama sekali tidak beralas. Pakaian pasien pada tubuh Dakota masih menempel. Haris yang berencana untuk menghampiri Dakota.
__ADS_1
“Kau mau kemana?” ucap Haris melihat Dakota berlari. Bahkan Dakota tidak menghiraukan sahutan Haris barusan.
“Tuan Haris, sepertinya Nyonya Dakota akan pergi ke Pelabuhan Tanjung Priok” ucap Siti ikut berlari mengejar Dakota. Haris pun ikut keluar dari Rumah Sakit untuk mengejar Dakota diikuti oleh Eveno.
“Cepat ... perintahkan pada yang lain untuk membawakan mobil untuk adikku” ucap Haris pada Eveno. Eveno langsung melaksanakan perintah dari Haris barusan.
“Nyonya Muda ....” teriak Siti sambil mengejar Dakota.
Sesampainya Dakota di lobi utama Rumah Sakit. Mobil yang Haris perintahkan barusan sudah berhenti.
“Silahkan Nyonya” ucap pengawal itu dari dalam mobil. Dakota pun langsung masuk kedalam mobil, untungnya Siti cepat lari, dia juga ikut masuk kedalam mobil.
“Antarkan aku ke Pelabuhan Tanjung Priok!” perintah Dakota pada pengawal itu. Mobil itu langsung melaju. Beberapa menit kemudian Eveno sudah membawa mobil Haris menuju lobi utama Rumah Sakit, mobil itu untuk Haris naiki. Setelah Haris masuk kedalam mobil, Eveno langsung melajukan mobil itu untuk mengikuti Dakota.
#Pelabuhan Tanjung Priok
Sepanjang perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Air mata Dakota terus mengalir mengingat wajah terakhir suaminya yang menyuruhnya untuk segera keluar dari kapal Peti Kemas itu. Dakota masih ingat, saat di dalam kapal, Fano sama sekali tidak menatap wajahnya. Sambil menunduk Dakota melihat jari-jemarinya.
“Dia bahkan tidak menatap wajahku, bahkan tidak menghiraukan genggaman tanganku, aku tidak mau bepisah denganmu, kenapa kau pergi” tangis Dakota.
“Nyonya Muda” ucap Siti sembari memeluk tubuh Dakota.
Keluar dari mobil, dengan telanjang kaki Dakota langsung berjalan menyusuri Pelabuhan Tanjung Priok untuk menuju terminal Peti Kemas. Dakota tidak peduli lagi dengan tubuhnya saat ini. Pandangan Dakota hanya tertuju pada laut. Para pengawal yang sudah mengikuti Dakota dari Rumah Sakit sudah mendampingi Dakota. Hal itu membuat semua fokus orang hanya memandangi kedatangan Dakota, termasuk para wartawan. Karena informasi yang Dakota sampaikan barusan di Rumah Sakit, dengan cepat kabar sudah beredar bahwa Dakota adalah istri Fano.
“Nyonya Dakota, anda dilarang untuk mendekat kelokasi kejadian” ucap salah satu team penyidik pada Dakota. Dakota hanya diam tidak menggubris sama sekali. Sejenak Dakota menghela nafas sambil memejamkan matanya.
“Bagaimana dengan suamiku? Apa kalian sudah menemukan dia? Apa dia baik-baik saja?” ucap Dakota tanpa menatap pada lawan bicaranya. Pandangan Dakota hanya tertuju pada laut.
“Team satgas sedang melakukan tugas mereka, kita tunggu saja mereka selesai melakukan tugas mereka” ucap team penyidik itu ragu-ragu.
Semua team satgas sudah bergantian memasuki area tempat kejadian kapal raksasa itu meledak. Mereka masih mengumpulkan bukti-bukti sisa kepingan ledakan kapal. Dakota hanya bisa menatap ke arah laut, rambut Dakota masih terurai, karena angin laut terus berhembus membuat rambut Dakota ikut menari-nari hingga menutupi wajahnya. Dibalik rambut hitam Dakota, air mata Dakota kembali mengalir. Sudah selama 1 jam Dakota berdiri di sekitar terminal.
“Nyonya, sepertinya kita tidak bisa berlayar, para wartawan itu hanya pergi bersama dengan pihak kepolisian saja untuk mengambil informasi terbaru, hari juga semakin gelap” ucap Siti.
Tidak lama kemudian Haris datang menghampiri Dakota. Haris langsung memeluk tubuh Dakota dari belakang.
“Aku tahu perasaanmu saat ini, kau sangat mencintai pria itu, tapi kau juga harus perhatikan dirimu, ini sudah mau gelap” ucap Haris di telinga Dakota sembari melingkarkan jasnya.
“Ini sudah 4 jam lebih, suamiku belum ditemukan, aku harus menunggu suamiku” ucap Dakota. Air mata Dakota sudah mulai mengering karena terus-terusan menangis.
“Jika kau menyiksa dirimu, siapa yang akan menemani Alfata nanti malam untuk tidur, kalau ayahnya tidak ada” ucap Haris.
__ADS_1
“Tidak ... aku sudah katakan padamu, suamiku tidak pergi, aku masih menunggunya ... apa kau tidak lihat ....” teriak Dakota sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Tangan Haris kembali mengepal melihat kondisi Dakota yang sudah terlihat pucat.
Tidak lama kemudian, kapal kecil milik rombongan satgas yang melakukan penyelidikan sudah kembali dari tempat kejadian. Dakota pun buru-buru menghampiri kapal kecil itu, diikuti oleh Haris dan Siti serta para pengawalnya. Begitu juga para wartawan dan penduduk yang penasaran dengan kabar meledaknya Kapal Peti Kemas itu datang berbondong-bondong walau pihak kepolisian sudah melarang mereka untuk tidak mendekat.
“Dimana suamiku, kalian tidak membawanya?” tanya Dakota.
“Maaf Nona Dakota, tidak ada satu pun mayat pria yang kami temukan, selain kedua mayat wanita ini, kebetulan mayat mereka masuk kedalam tumpukan barang. Sepertinya ada yang sengaja memasukkan mayat mereka kedalam tumpukan barang dan saat kapal meledak, barang itu sudah mereka keluarkan dari kapal itu” ucap salah satu team satgas pada Dakota. Team satgas itu pun langsung membuka pembungkus mayat untuk kedua mayat itu.
“Cekrek ... cekrek ....” kamera dari para wartawan sudah mengambil gambar dari kedua mayat itu. Dakota pun ikut melihat mayat kedua wanita itu.
"Kamila dan Mia, lalu Sena ada dimana? Tapi kenapa mayat mereka masih utuh, lalu suamiku ada dimana?" batin Dakota.
“Bukannya ini Kamila dan Mia” ucap Haris sambil menutup hidungnya.
“Lalu bagaimana dengan Nahkoda dan awak kapal yang lain?” tanya Dakota lagi.
“Bisa jadi mereka hangus terbakar” ucap salah satu team satgas itu.
“Maksudmu semua orang yang ada di kapal itu sudah lenyap termasuk suamiku” pekik Dakota sembari mengepalkan tangannya.
“Bisa dibilang begitu” ucap team satgas itu.
“Itu tidak mungkin, suamiku masih hidup”
ucap Dakota langsung berlari menuju kapal kecil.
“Dakota, tunggu dulu ....” ucap Haris langsung menangkap tubuh Dakota.
“Haris ... lepaskan aku, suamiku sudah kedinginan berada ditengah-tengah laut, aku harus menjemput suamiku” ucap Dakota membrontak. Siti pun ikut menahan kaki Dakota.
“Sadarlah ... ini sudah mau gelap” ucap Haris.
“Suamiku ... kau dimana ... jangan tinggalkan aku, bawa aku kemana pun kau pergi ....” teriak Dakota.
“Suamiku ... aku mencintaimu .. bisakah kau mendengar suaraku ini, aku mencintaimu ... aku sangat mencintaimu ... aku tidak mengijinkanmu pergi... kenapa kau belum kembali, apa kau tidak peduli padaku ....” teriak Dakota. Tangis Dakota kembali pecah.
BERSAMBUNG ............
To Reader Wanita Presdir: Terimah kasih untuk dukungan kalian terhadap novel ini. Untuk kalian yang sudah memberikan vote, yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Jangan lupa tetap dukung novel ini, dengan like dan komentar kalian. Saya minta maaf kalau saya sangat lama up.🙏
See You 👋👋👋
__ADS_1