Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 70. Sudah Baikan


__ADS_3

Dakota sangat bosan libur di rumah, dia sangat ingin menemui Yohana, namun suaminya masih melarangnya untuk keluar rumah, apa lagi Siti selalu mengawasinya.


“Aku telvon Yohana saja” gumam Dakota.


“Halo beb” ucap Dakota.


“Halo beb, tumben telvon jam segini” tanya Yohana heran, setahunya ini masih jam kerja.


“Aku masih libur beb, belum dikasih keluar rumah. Kamu sedang apa” tanya Dakota balik.


“Aku sedang melatih beb, baguslah kamu harus istirahat yang cukup” ucap Yohana.


“Iya beb, maaf ya beb, aku belum bisa kesana” ucap Dakota.


“Nggak apa-apa beb, bagaimana hubunganmu dengan suamimu? sudah berkembang?” tanya Yohana.


“Aku sudah mengikuti saranmu beb, tapi dia mengabaikan aku, dia bilang aku masih sakitlah” ucap Dakota kesal.


“Mungkin karena kamu baru saja mengalami hal buruk, suamimu tidak ingin memaksamu” ucap Yohana.


“Iyalah, oya beb, tolong kabari untuk para penari mempersiapkan diri, tinggal hitungan hari kita akan berangkat ke Paris” ucap Dakota.


“Untuk acara itu, Haris sudah mengabari beb, dia bahkan sudah mengurus pasport kita” ucap Yohana. Tiba-tiba saja bel kamar Dakota sudah berbunyi.


“Ting Nong ....” Siti sudah menekan bel kamar.


“Kalau aku sudah bisa dapat izin keluar dari rumah, aku akan jelaskan nanti strategi disana beb, nanti aku kabari lagi” jelas Dakota mendengar bel kamar berbunyi.


“Oke beb” ucap Yohana, panggilan mereka terputus.


Dakota langsung membuka pintu kamarnya.


“Nyonya muda maaf sudah menggangu” ucap Siti.


“Iya, kenapa Siti” tanya Dakota.


“Nyonya, Dokter Henri baru saja tiba, dia sudah di ruang tamu, dia akan memeriksa anda sesuai dengan perintah Presdir” ucap Siti.


“Maksudmu Dokter Henri sahabat suamiku” ucap Dakota heran.


“Iya nyonya muda, selama anda sakit, Dokter Henrilah yang memeriksa dan mengobati nyonya muda” ucap Siti.


“Begitu ya Siti, baiklah Siti, aku akan segera kesana” ucap Dakota.


“Baik nyonya muda” ucap Siti undur diri.


“Dia bahkan memerintahkan Dokter untuk memeriksaku kembali, kenapa dia tidak percaya bahwa aku sudah pulih, apa itu alasannya untuk mengabaikan aku” batin Dakota.


Dakota merapikan dirinya sebentar dan menemukan keberadaan Henri sudah duduk di sofa ruang tamu kedua arah kamar Fano.


“Hai Dokter Henri” sapa Dakota menghampiri Henri.

__ADS_1


“Nyonya Dakota, ini kedua kalinya kita bertemu saat kamu dalam keadaan sehat” ucap Henri membalas sapaan Dakota, dia mengatur nafasnya.


“Pria ini, saat pertemuan pertama kami di kantor dia bahkan ingin merayuku, sekarang dia memanggilku dengan sebutan nyonya, aku sangat berharap dia tidak menyebutku dengan panggilan itu, aku merasa risih” batin Dakota.


“Dokter Henri kenapa memanggilku dengan sebutan nyonya” ucap Dakota, dia sudah duduk di sofa.


“Bagaimanapun kamu adalah nyonya muda di kediaman ini, maaf saat itu aku tidak mengetahui bahwa kamu istrinya Fano” jelas Henri.


“Tidak perlu begitu Dokter Henri, hal itu hanya salah paham saja, karena kamu juga tidak mengetahui kebenarannya. Karena Dokter Henri juga sahabat suamiku, bisakah panggilannya biasa saja” pinta Dakota merasa canggung dengan panggilan Henri padanya.


“Baiklah, aku panggil nona saja” ucap Henri.


“Begitu juga tidak apa-apa Dokter Henri, tapi kenapa Dokter Henri terlihat ngos-ngosan dan berkeringat” ucap Dakota melihat Dokter Henri terlihat gerah, padahal ruangan ber AC.


“Nona Dakota, aku kesini untuk memeriksa kamu kembali. Padahal kamu sudah sehat, tapi suamimu Fano bersikeras menelvonku untuk memeriksa kamu kembali, dia mengatakan kamu terlihat gelisah dan bertindak seperti tidak dirimu, tapi aku melihat nona Dakota sudah baik-baik saja” jelas Henri melap keringatnya dengan sapu tangannya.


“Dokter Henri, benar yang kamu bilang, sebenarnya aku sudah baikan tapi dia salah sangka padaku karena aku sedikit merayunya, sehingga dia mengatakan padamu bahwa tingkahku bukan seperti diriku” jelas Dakota malu-malu.


“Pantesan Fano mengatakan obat perangsang itu belum hilang dari tubuh istrinya, ternyata Fano sangat bodoh menghadapi perempuan, sudah jelas istrinya mau melayaninya. Aku sudah mengenalnya, kalau hubungan mereka begini terus bisa-bisa Fano tidak mendapatkan keturunan” batin Henri.


“Nona Dakota, aku sudah tau apa maksudmu, sebagai Dokter dan sahabatnya, aku sudah mengenalnya. Dia memang pria bodoh dan terlihat bodoh kalau untuk urusan perempuan” jelas Henri.


“Maksud Dokter bagaimana” tanya Dakota.


“Dia tidak pernah pacaran, selama aku jadi sahabatnya, dia hanya mendapatkan pernyataan cinta dari banyak perempuan, namun dia belum pernah jatuh cinta pada perempuan manapun, bahkan setiap perempuan yang menyatakan cinta padanya dulu, seingatku dia langsung menolak mereka. Mungkin karena itu dia tidak bisa terlihat romantis nona Dakota. Jadi nona Dakota harus lebih ekstra lagi menghadapi suami seperti Fano” jelas Henri. Dia sudah senyum mengingat tingkah Fano.


“Lebih ekstra” ucap Dakota, dia jadi malu dihadapan Henri.


“Silahkan Dokter Henri” ucap Dakota mengantar Henri keluar sampai di lobi rumah.


# Reinhard Group.


“Halo Hen” ucap Fano, dia menghubungi Henri.


“Aku bahkan belum sampai di Rumah Sakit, kau sudah menghubungiku” ucap Henri dari balik Handpone Fano, Henri masih menyetir mobilnya.


“Apa kau sudah memeriksa istriku” tanya Fano.


“Aku sudah memeriksanya, dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir padanya” jelas Henri.


“Kenapa dia masih terlihat gelisah dan agresif” tanya Fano.


“Kau sangat bodoh ya, sudah jelas istrimu itu mau melayanimu, apa kau tidak bisa memahami keinginan istrimu” ucap Henri.


“Hmmm, begitu ya” ucap Fano malu-malu.


“Sudahlah, aku lagi menyetir, aku tutup dulu” ucap Henri menutup panggilan.


“Berarti tebakanku tidak salah, tapi kenapa dia mau melayaniku, apa dia sudah mencintaiku” batin Fano.


Tidak berapa lama, Naon sudah mengetok pintu dari luar ruangan Fano.

__ADS_1


“Tok ... tok ....” ketukan pintu oleh Naon.


“Masuk” ucap Fano.


“Presdir” ucap Naon.


“Ya, sudah kau cek” tanya Fano.


“Sudah Presdir, saya sudah mendengarkan hasil rekaman cctv, walau mereka berbicara pelan, baru hari ini bisa tertangkap suara mereka. Saat Presdir mengangkat telvon meninggalkan tuan Rapijay dan nyonya muda, ternyata nyonya muda menanyakan pada tuan Rapijay kenapa beliau bisa mengetahui nama samaran nyonya muda. Tuan Rapijay mengatakan bahwa dia mengingat postur tubuh seseorang walau sekali bertemu serta suara nyonya muda. Tuan Rapijay juga mengatakan bahwa penari Endangsi Kaif ada kaitannya dengan nyonya muda” jelas Naon.


“Bukannya Endangsi Kaif penari yang dikabarkan sudah meninggal dan menghilang dari Sanggar Elaya” jelas Fano.


“Benar Presdir, namun apa Presdir sudah memastikan pada nyonya muda mengenai ibu kandung nyonya muda, pasalnya nama nyonya muda sama dengan nama India penari Endangsi nama belakang mereka sama Kaif” jelas Naon.


“Benar juga, aku mendengar dari sahabatnya Yohana bahwa ibu istriku di rawat di Singapore” jelas Fano.


“Benar Presdir, saya sudah selidiki identitas ibu kandung nyonya muda sesuai perintah Presdir, namun nama ibunya yang dirawat di Singapore atas nama Amela Kestani. Namun saat penyelidikan di Malang dengan salah satu penari, kami mengetahui bahwa nama ibu kandung nyonya muda adalah Endangsi Kaif” jelas Naon.


“Kenapa bisa begitu” tanya Fano, dia sangat terkejut mendengar penjelasan Naon.


“Bisa jadi Pak Admidjaya dibalik ini semua Presdir, karena berita kematian ibu Endangsi sampai sekarang semua orang tahu bahwa ibu Endangsi sudah meninggal” jelas Naon.


“Apa masih ada pembicaraan lain tuan Rapijay pada istriku” tanya Fano.


“Ada Presdir, tuan Rapijay mengundang nyonya muda dan para penari untuk menghadiri acara bisnis di Paris. Acara itu akan dilaksanakan 10 hari lagi Presdir” jelas Naon.


“Selidiki lebih lanjut mengenai istriku, cari hubungan darah istriku dengan Pak Admidjaya dan Haris. Untuk ibu Endangsi segera hapus rekam jejak informasi mengenai ibu Endangsi dari media” jelas Fano.


“Baik Presdir, apa ada yang lain Presdir” tanya Naon.


“Kosongkan jadwalku untuk acara bisnis di Paris, kita akan berangkat juga kesana” jelas Fano lagi.


“Baik Presdir” ucap Naon, dia beranjak keluar dari ruangan Fano.


“Kenapa Pak Admidjaya merahasiakan ibu kandung istriku, apa mungkin ini berkaitan dengan pembunuhan ibu Milen dan paman Elcid, namun sampai sekarang mayat paman Elcid belum ditemukan” batin Fano.


BERSAMBUNG........


Hai Reader setia Wanita Presdir, semoga semuanya dalam keadaan sehat ya.🙏


Ayo dukung novel ini dengan beri like, Vote, komentar dan Favorite,😊


Reader: Kapan thor Dakota dan Fano anu anu😏😌😔😐😶


Author: Sabar ya Reader, selanjutnya hubungan mereka akan itu itu lah😍


Reader: Cius thor???😱😱😱😰😰


Author: Cius😍😍


See you🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2