Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 162


__ADS_3

“Sayang ... kita belum selesai” bisik Dakota pada Fano. Namun Fano sudah tepar masih belum memakai sehelai benang pun di tubuhnya.


“Sepertinya dia sangat kelehahan, bahkan tidak sanggup lagi menghadapiku. Apa akhir-akhir ini dia tidak tidur” batin Dakota sembari menarik selimut mereka. Dakota langsung mendekati tubuh Fano, sembari tangan Dakota mengelus wajah Fano.


“Ini benaran suamiku ... kenapa dia sangat tampan. Tapi kenapa kumisnya cepat sekali tumbuh, ih geli ....” ucap Dakota langsung mengecup kening suaminya.


Waktu pun terus berjalan, tidak terasa matahari sudah terbit, semua orang di kediaman Reinhard sudah kembali beraktifitas seperti biasa, begitu juga dengan Pak Purnomo sedang joging bersama ibu lena dan Alfata di halaman belakang kediaman mereka.


“Nenek tidak perlu ikut berlari” ucap Alfata sembari memberikan air mineral pada ibu Lena. Pak Purnomo ikut istirahat dengan mereka.


“Pria tua yang disampingmu memaksa nenek untuk ikut joging” ucap ibu Lena sembari cemberut pada Pak Purnomo.


“Walau sudah tua, harus rajin olah raga” ucap Pak Purnomo sambil meregangkan otot-ototnya. Alfata pun mengikuti Pak Purnomo untuk meregangkan ototnya.


“Tapi kenapa kakek tidak mengajak ayah dan bunda” ucap Alfata.


“Bundamu masih sakit” ucap ibu Lena bangkit dari duduknya ikut meregangkan otot lengannya.


“Apa bunda belum sembuh, seharusnya sesuai perkataan Dokter Mia semalam, bunda sudah bangun, hari juga sudah pukul 10.00 pagi” ucap Alfata sembari melihat jam tangannya.


“Kau mau kemana?” tanya Pak Purnomo ketika Alfata melepaskan sepatu jogingnya. Alfata pun meraih sendal jepitnya karena sepatu joging itu terasa panas di kakinya.


“Aku mau menemui bunda” ucap Alfata langsung berlari menghiraukan kakek dan neneknya.


“Tunggu dulu” ucap ibu Lena, namun Alfata sudah berlari.


“Kenapa kau mencegahnya” ucap Pak Purnomo pada ibu Lena.


“Aku yakin Fano tidak mengunci kamarku, bisa-bisa Alfata melihat hal yang tidak senonoh nanti, apa kau tidak tahu sifatmu dan Fano hampir sama dalam urusan ranjang” ucap ibu Lena beranjak mengejar Alfata meninggalkan Pak Purnomo sendirian.


Pak Purnomo langsung tersenyum mendengar ucapan istrinya barusan.


Saat Alfata membuka pintu kamar ibu Lena, benar saja sesuai dengan perkataan ibu Lena, pintu kamar itu tidak dikunci sama sekali. Bahan gagang pintu kamar itu sudah bisa Alfata raih karena tinggi Alfata sudah bertambah.

__ADS_1


“Bunda ....” ucap Alfata sembari membuka pintu kamar. Namun Dakota tidak ada di atas ranjang. Hanya ada Fano masih tertidur. Alfata pun mendekati kasur untuk menghampiri Fano.


“Fata ....” ucap Dakota dengan cepat meraih tubuh Alfata.


“Bunda sudah bangun” ucap Alfata langsung memeluk tubuh Dakota.


“Sudah nak, badanmu bau keringat” ucap Dakota sembari mencium pipi Alfata.


“Kenapa bunda sudah rapi begini” ucap Alfata memperhatikan penampilan Dakota sudah rapi dengan pakaian kantor.


“Bunda harus mengurus masalah perusahaan, aduh kenapa kau tumbuh begitu cepat” ucap Dakota langsung menurunkan tubuh Alfata.


“Kenapa ayah masih berbaring?” ucap Alfata langsung menarik selimut Fano.


“Fata ... jangan ....” teriak Dakota membuat Fano bangun mendengar suara istrinya.


“Um ... uh ....” ucap Fano masih tidak sadar sembari meregangkan otot-ototnya. Dakota sudah menutup matanya bukan menutup mata Alfata karena tubuh Fano masih telanjang.


“Ups ... ayah kenapa kau telanjang” ucap Alfata masih memperhatikan tubuh Fano. Ibu Lena baru saja sampai di depan pintu kamarnya, langsung geleng kepala melihat Alfata memergoki Fano. Mendengar ucapan anaknya barusan, Fano pun langsung melihat kebawah, benar saja dia tidak memakai sehelai benang pun, Fano pun melihat istrinya sudah berbalik badan.


“Inilah yang aku maksud” ucap ibu Lena kembali menarik pintu kamar, ibu Lena tidak mau masuk, ibu Lena pun beranjak untuk membersihkan tubuhnya. Ternyata Fano sadar sudah ada mamanya di balik pintu.


“Fata, ini sudah jam berapa?” tanya Fano untuk mengalihkan pembicaraan.


“Suamiku ... lebih baik kau pakai dulu pakaianmu” ucap Dakota langsung memakaikan piyama untuk Fano.


“Ayah, apa ayah selalu telanjang saat tidur?” tanya Alfata lagi dengan wajah polosnya. Fano dan Dakota saling menatap karena pertanyaan Alfata barusan.


“Nak, kau sudah bau keringat, biar bunda mandikan ya” ucap Dakota langsung meraih tubuh Alfata.


“Bunda, aku serius ... kakek saja tidak telanjang kalau tidur bersamaku, kenapa ayah telanjang saat tidur dengan bunda” ucap Alfata masih penasaran.


“Kenapa rasa penasarannya begitu besar, kalau kau sudah dewasa nanti dan sadar akan hal ini, ayah akan sangat malu dengan hal ini” batin Fano sembari mengikat tali piyamanya.

__ADS_1


“Nak, cukup bahas itu, kau masih kecil, nanti kalau kau dewasa pasti akan mengerti hal ini” ucap Dakota membawa Alfata kedalam kamar mandi. Fano pun beranjak dari kasur, Fano segera keluar dari kamar ibu Lena.


“Selamat pagi Presdir” ucap Naon ketika Fano melewatinya di ruang tamu kedua dekat dengan kamar Fano.


“Bagaimana keadaan Siti?” tanya Fano sembari duduk di sofa. Mata Naon tidak sengaja tertuju pada leher Fano.


“Astaga, Presdir keluar dari kamar dengan bekas itu, apa dia tidak sadar” batin Naon.


“Siti sudah membaik, Dokter Mia juga memeriksanya semalam, luka kecil pada tubuh Siti sudah mengering” ucap Naon masih memperhatikan leher Fano.


“Bagaimana dengan Paman Sutan?” tanya Fano sembari meminum air mineral yang ada di meja.


“Kasus Pak Sutan akan diadili di pengadilan besok Presdir, kemungkinan untuk kasus ini Tuan Besar yang mengurusnya. Tuan Besar dan Nona Yohana sudah menyetujui untuk menghukum mati Pak Sutan, namun untuk kakek Presdir Tuan Reinhard belum ditanyai masalah ini” ucap Naon.


“Bukannya hari ini kakek akan datang kemari” ucap Fano sembari meraih ponselnya dari tangan Naon.


“Kemungkinan sebentar lagi Tuan Reinhard akan sampai” ucap Naon.


“Bagaimana dengan rencanamu, kapan kau akan menikahi Siti?” tanya Fano.


“Hal ini tidak perlu di bahas dulu, saat ini rapat pemegang saham akan dimulai pukul 13.00 nanti, saya memberitahukan hal ini pada Nyonya Muda terlebih dahulu, karena saya pikir Presdir tidak akan bangun karena kelelahan” ucap Naon sembari batuk masih geli melihat leher Fano.


“Kelelahan” ucap Fano sembari melihat cermin yang ada di ruang tamu.


“Pantesan mata si Naon bodoh ini jelalatan, ternyata istriku sudah memberikan banyak bekas” batin Fano sembari memegangi lehernya. Fano pun langsung beranjak dari sofa.


“Presdir, saya belum menjelaskan jadwal Presdir hari ini” ucap Naon mencegah Fano untuk tidak beranjak dulu.


“Naon, kalau kau mau bekas cupangan seperti ini dilehermu, segeralah kau menikah dengan Siti, ah aku lupa, bahkan ciuman pun kau tidak pernah ya” ucap Fano sembari main mata pada Naon.


“Presdir ....” teriak Naon sangat kesal pada Fano karena sudah mengejeknya.


“Sejak kapan Presdir jadi narsis begitu” batin Naon.

__ADS_1


Bersambung...............


__ADS_2