Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 59. Mandikan Aku


__ADS_3

# Kediaman Reinhard


Efek obat penenang yang disuntikkan oleh Henri ternyata sangat manjur. Seharian itu Dakota menikmati istirahatnya dengan tidur nyenyak. Bahkan selesai dia mandi lalu makan malam, mulutnya kembali menguap lagi. Dia memutuskan selesai makan kembali kekamarnya.


“Kring ... kring ....” bunyi nada dering panggilan masuk dari handphone Dakota. Dia melihat nama kontak yang memanggil bertuliskan kakek misterius. Dia belum mengganti nama kontak Pak Admidjaya.


“Halo kek” jawab Dakota.


“Apa kau baik-baik saja” tanya Pak Admidjaya dari balik handphone Dakota.


“Aku baik-baik saja kek, ada apa kakek menghubungiku” ucap Dakota.


“Syukurlah, aku dengar kau menyetujui permintaan Pak Rapijay untuk pertemuan bisnis di Paris, apa kau setuju dengan permintaannya” sahut Pak Admidjaya pada tujuannya menelvon Dakota.


“Bagaimana kakek bisa tahu” tanya Dakota heran mendengar perkataan kakeknya.


“Aku tahu dari Haris, bukannya kau sudah tahu kalau Haris adalah Mr. Gipi. Kakek yakin kau sudah menemukan sedikit petunjuk, jika kau setuju pergi kesana, kau akan bertemu lagi dengan Mr. Pich dan juga pengusaha dari Indonesia” ucap Pak Admidjaya.


“Aku mengatakan pada Pak Rapijay untuk meminta izin terlebih dahulu dari Mr. Gipi, lalu apa saran kakek, apa aku pergi saja” tanya Dakota kembali.


“Kalau kau sudah mengatakan setuju pada Pak Rapijay, pergilah. Namun kau harus hati-hati nanti, kemungkinan besar akan ada resiko yang harus kau lalui” ucap Pak Admidjaya.


“Baiklah, kalau saran kakek begitu, aku akan pergi” sahut Dakota. Dakota tidak menyadari bahwa suaminya sudah berada di dalam kamar sedang menguping pembicaraannya.


“Ingatlah saran kakek untuk tetap berhati-hati nanti” saran Pak Admidjaya kembali.


“Iya kek, akan kuingat” jawab Dakota mengakhiri panggilannya.


Saat Dakota memutus Panggilannya, dia sangat terkejut melihat suaminya sudah berdiri dihadapannya.


“Kamu ... sejak kapan kau masuk kesini” ucap Dakota gugup.


“Semoga dia tidak lama sudah berada disini” batin Dakota.


“Kenapa kau ketakutan” ucap Fano mendekat pada Dakota.


“A ... a ... aku hanya terkejut, kau tiba-tiba sudah berdiri disini” ucap Dakota mengalihkan pandangannya.


“Apa kau takut aku mendengar pembicaraanmu dengan kakekmu” ucap Fano sudah menekan tubuh Dakota.


“Kenapa kau bicara begitu, aku hanya terkejut tiba-tiba sudah melihatmu disini” ucap Dakota mendorong tubuh Fano. Dia sudah terlihat gugup.


“Serius ... apa yang kau sembunyikan dariku” ucap Fano, tatapannya semakin tajam seperti tatapan mengancam.

__ADS_1


“Ah, apa yang harus kusembunyikan darimu, kau baru saja pulang dari kantor. Tubuhmu pasti bau keringat, lebih baik kau mandi” ucap Dakota mendorong tubuh suaminya menuju kamar mandi.


Tubuh Fano mengikut saja didorong oleh Dakota hingga sampai kekamar mandi. Dakota tidak sadar, Fano mendorong tubuh Dakota menuju bak kecil yang ada dikamar mandi, dengan cepat Fano mengunci pintu kamar mandi, kuncinya dia taruh di tempat paling tinggi yang tidak bisa diraih oleh istrinya.


“Hei apa yang kau lakukan, kenapa kau menutup pintunya” ucap Dakota sudah heran dengan tingkah Fano, dia menghalangi tangan Fano untuk tidak melempar kunci itu. Namun kuncinya sudah nyangkut dekat dengan langit-langit kamar mandi.


“Bukannya kau menyuruhku untuk mandi” ucap Fano dengan sigap dia membuka semua pakaiannya dan melemparkannya kesembarang arah.


“Apa yang kau lakukan” teriak Dakota sudah menutup matanya.


“Aku hanya mengikuti perkataanmu” ucap Fano, dia melangkah mendekat pada istrinya. Sejenak jari tangan Dakota dia buka sedikit, dia ingin memastikan apakah suaminya itu benar-benar sudah telanjang atau bercanda. Namun dia tidak sengaja sudah melihat junior suaminya.


“Kyaaa ... kau tidak tahu malu, juniormu itu harusnya kau tutup” ucap Dakota mulai meronta-ronta seperti anak kecil mendorong tubuh Fano, satu tangannya menutup matanya, satunya lagi memukuli tubuh Fano, tidak sadar dia sudah menyentuh junior Fano.


“Ihhh, apa yang sudah kusentuh” batin Dakota.


“Aaahhh ....” teriak Dakota kembali meringis, tangannya dia lap dengan pakaiannya.


“Haha ....” tawa Fano lepas sudah mengerjai istrinya.


“Haha ... istriku ini sangat lucu, mari kita bermain-main sebentar” batin Fano.


“Kau, tidak tahu malu” ucap Dakota masih menutup kedua matanya, dia berbalik badan tidak sanggup berhadapan dengan suaminya.


“Sayangku ... kenapa aku harus malu, bukannya kau sudah melihatnya, tidak usah tutup matamu” goda Fano membalikkan tubuh istrinya. Dia sudah menari-nari dihadapan istrinya. Dakota tetap menutup matanya.


“Kau begitu mesum, tidak bisakah kau sedikit bersabar” ucap Dakota serius. Fano sadar dengan ucapan istrinya, tidak bisa dibercandaiin lagi.


“Haih, aku akan sabar menunggumu” tegas Fano memeluk tubuh istrinya.


“Kalau kau bisa sabar, ya udah lepaskan aku, bukannya kau harus mandi. Hari juga semakin larut, nanti kau masuk angin” ucap Dakota mendorong tubuh Fano.


“Baiklah, aku akan mandi, tapi kau harus memandikan aku” ucap Fano.


“Kau bukan anak kecil lagi” sahut Dakota.


“Baiklah, aku akan tetap berdiri disini dan tidak akan mandi, kau juga tidak bisa keluar” goda Fano berdalih.


“Bagaimana bisa pria ini begitu mesum” batin Dakota.


“Kau harus janji tidak akan berbuat macam-macam saat aku memandikanmu” ucap Dakota, akhirnya dia pasrah untuk tetap memandikan suaminya, walau matanya masih tertutup. Dia juga tidak bisa keluar dari kamar mandi.


“Kalau begitu ayo mandikan aku” seringai Fano berhasil mengerjai istrinya. Nampaknya dia sangat senang untuk yang pertama kali dimandikan oleh istrinya.

__ADS_1


“Kau masuklah dulu ke bak mandi” ucap Dakota, satu tangannya masih menutup matanya.


“Baiklah, aku akan masuk” ucap Fano beranjak masuk kedalam bak mandi sudah berisi air.


“Kau benar-benar seperti anak kecil” ucap Dakota, dia sudah membuka matanya. Dia melihat punggung suaminya dari dekat, masih terlihat bekas cambukan dari Pak Purnomo.


“Bekasnya sangat banyak” batin Dakota.


“Ada apa denganmu, apa kau tidak suka melihat tubuhku” ucap Fano dingin, dia sudah kembali menjadi dirinya sendiri, saat istrinya masih meraba punggungnya.


“Kau sudah menjadi suamiku, apa pun yang ada pada tubuhmu itu tidak jadi masalah. Suami istri itu harus saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing” ucap Dakota tulus, dia ingin beranjak mengambil sabun cairan. Namun Fano sudah menahannya. Fano sangat tertegun mendengar perkataan istrinya itu, dia berbalik badan dan menarik tubuh istrinya untuk dekat dengannya. Kedua tangannya meraih wajah Dakota, tidak berapa lama mata mereka sudah bertemu. Pandangan mata Fano semakin dalam menatap wajah istrinya itu, dengan secepat mungkin wajah mereka semakin dekat.


“Embh...” bibir Fano sudah menyentuh bibir Dakota, perlahan-lahan bibirnya itu menikmati ciuman intens itu, dia menggerakkan bibirnya dan menari-narikan lidahnya didalam mulut Dakota, bahkan air liurnya sudah masuk. Dakota hanyut dengan ciuman yang diberikan oleh suaminya itu. Dakota hanya bisa memejamkan matanya, menerima ciuman itu, ciuman itu sangat lembut dan suaminya juga tidak brutal. Dakota hanya bisa menahan nafasnya, dia belum terbiasa berciuman.


“Hah ... hah ....” mereka berdua mendesah akibat ciuman panjang itu. Fano kembali menatap wajah istrinya. Dakota langsung memalingkan wajahnya, dia melap bibirnya.


“Bisakah kau tidak memandangiku” ucap Dakota, wajahnya sudah mulai merona.


“Apa salahnya aku menatap wajah isrtiku sendiri” goda Fano.


“Hari sudah larut, sebaiknya kau harus segera mandi” ucap Dakota membalikkan tubuh Fano. Dia beranjak mengambil sabun cair dan peralatan mandi. Fano senyum-senyum sendiri melihat istrinya salah tingkah. Dengan manja dia dimandikan oleh Dakota.


“Sayangku, lebih lembut sedikit dong” gerutu Fano saat Dakota menggosok punggungnya.


“Ya ... ya ... baiklah” ucap Dakota, dia lebih lembut lagi menggosok punggung suaminya.


“Ternyata begini kalau dimandikan istri sendiri” batin Fano.


BERSAMBUNG.........


Hai Reader😘


Jadiin Favorite + Vote ya😍


.


.


.


.


Eh,...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya 😍


See you😘


__ADS_2