
# Keidaman Reinhard
Alfata sangat betah bermain dengan kakeknya Pak Purnomo. Bahkan saat ibu lena mengajaknya untuk makan sebentar, Alfata malah menolak karena asyik main game dengan Pak Purnomo.
“Kenapa anakmu begitu akrab dengan kakeknya hingga lupa makan, bahkan bajunya belum diganti” ucap ibu Lena pada Fano. Mereka masih berada di ruang tamu utama memperhatikan Pak Purnomo dan Alfata sedang bermain.
“Ini sudah mau sore, dia pastinya sudah lelah dalam perjalanan tadi. Mama juga istirahat saja, biar aku yang mandikan Fata” ucap Fano beranjak dari sofa.
Ibu Lenapun mengangguk untuk beranjak kekamarnya. Namun saat ibu Lena tiba di kamarnya, begitu terkejutnya ibu Lena mendapati kamarnya sudah berubah. Dekorasi kamar ibu Lena terlihat berubah. Ada foto pernikahanya dengan suaminya dipajang di dinding kamar. Foto itu dilukis sangat indah di pandang siapapun yang masuk kekamar itu. Yang ibu lena ingat foto itu dulu di ambil saat ibu Lena memaksa Pak Purnomo untuk melakukan sesi foto preweding. Pak Purnomo terlihat terpaksa memeluk tubuh ibu Lena.
Bukan hanya foto itu saja, saat ibu Lena memeriksa lemari yang ada didalam kamarnya sudah ada dua lemari pakaian. Seingat ibu Lena lemarinya hanya satu. Karena penasaran dengan isi lemari itu, ibu Lena langsung membuka lemari dan mendapati pakaian suaminya sudah tertata rapi disana. Air mata ibu Lena langsung menetes melihat pakaian suaminya sudah berada di dalam kamarnya. Setelah sekian lama, terakhir kali ibu Lena melihat pakaian suaminya berada satu kamar dengannya itu saat dia mengandung Fano. Setelah Fano lahir, ibu Lena dan Pak Purnomo sudah tidak sekamar lagi.
“Ada apa denganmu?” tanya Pak Purnomo saat Pak Purnomo masuk mendapati ibu Lena baru saja menangis.
“Aku tidak apa-apa” ucap ibu Lena melap wajahnya.
“Kau sudah lelah dalam perjalanan, lebih baik segera istirahat” ucap Pak Purnomo. Pak Purnomo langsung mengganti pakaiannya didalam kamar itu lalu beranjak kekamar mandi. Melihat hal itu membuat ibu Lena tersenyum bahagia, karena setelah sekian lama dia sudah menemukan sikap Pak Purnomo sama saat dia mengandung Fano dulu.
Sementara itu, Fano sudah kelelahan membujuk anaknya untuk segera mandi. Fano yakin saat ini istrinya sedang istirahat karena kelelahan dalam perjalanan tadi.
“Sampai kapan kau tidak mau mandi” ucap Fano menunggui Alfata menyelesaikan gamenya.
“Kenapa kau bawel sih, kau bahkan lebih bawel dari kakek buyut” ucap Alfata tetap tetap mengabaikan Fano.
“Anakku ini sangat sulit ditangani, dia meniru siapa sih ....” batin Fano.
“Ini sudah sore, kalau kau tetap tidak mau mandi, aku akan sita semua gamemu itu” ancam Fano.
“Game ini yang beli kakek, bukan ayah” ucap Alfata menyembunyikan semua gamenya kedalam pakaiannya.
“Aku tidak main-main dengan ucapanku, kalau kau tidak mau mandi, aku pastikan semua gamemu itu akan lenyap malam ini juga. Kalau kau tidak mau kehilangan gamemu, segera mandi denganku” ancam Fano mengajak Alfata untuk mandi.
“Kau hanya bisa mengancam anak kecil, lihat saja kalau aku sudah bisa cari duit, aku tidak akan takut kau ancam” ucap Alfata meletakan gamenya. Fano langsung meraih tangan Alfata sambil tersenyum memperhatikan tingkah anaknya yang sok dewasa. Fano yakin anaknya itu tidak suka lagi digendong.
Mungkin karena Alfata sudah mendapatkan banyak kasih sayang dari semua orang, membuatnya tidak ingin terlihat manja apa lagi dipeluk-peluk.
Alfata mengikut saja untuk segera mandi. Karena dia sangat takut kehilangan game terbaru yang baru saja dibelikan oleh Pak Purnomo. Selama Alfata di Jerman ibunya Dakota selalu melarang Alfata memainkan game, bahkan sekalipun Alfata tidak diperbolehkan untuk main game. Namun saat dia kembali ke Jakarta, Alfata mendapat dukungan penuh dari Pak Purnomo.
“Ayah, aku bukan anak kecil, sini biar aku saja” ucap Fano menepis tangan Fano saat Fano mencoba menggsok punggung Alfata.
“Kau itu masih kecil, biar aku saja” ucap Fano tetap memandikan Alfata. Mereka berdua sama-sama mandi di dalam kamar mandi yang ada di kamar Fano.
“Aku sudah terbiasa mandi sendiri, aku sudah bilang aku bukan anak kecil lagi” teriak Alfata menyemprotkan cairan sabun pada wajah Fano, bahkan sabun itu sudah menetes sampai keseluruh dadanya. Padahal Fano sudah selesai mandi, kini wajahnya kembali ditaburi sabun.
“Hie ... hie ....” tawa Alfata lepas memainkan sabun cairan yang ada pada wajah Fano hingga menutupi brewoknya.
“Kau nakal ya, sudah tahu aku sudah selesai mandi” teriak Fano menggelitiki tubuh Alfata.
“Hie ... hie ... ayah curang ... taunya main gelitiki anak kecil ... sudah ... aku mau dimandikan” tawa Alfata menyerah akan di mandikan oleh Fano. Fano langsung melanjutkan kembali membersihkan tubuh Alfata. Setelah Alfata selesai mandi, Alfata masih main air di dalam sambil menyirami tubuh Fano. Terpaksa Fano kembali melepas handuk kecilnya, dia kembali membasuh tubuhnya.
Dakota tidak bisa istirahat mendengar keributan dari dalam kamar mandi. Ternyata Fano tidak menutup pintu kamar mandi. Bahkan air dari kamar mandi sudah bercipratan keluar. Saat Dakota menghampiri kamar mandi, dia sudah mendapati suami dan anaknya saling serang siram-menyiram memainkan air dari bak kecil. Dakota sudah melihat mereka sesekali mereka tertawa lepas.
“Pantesan aku mendengar keributan, ternyata Fata sudah memainkan air, kebiasaan buruknya kambuh lagi” gumam Dakota.
__ADS_1
“Fata, kebiasaan ya ... sudah Bunda katakan kalau mandi itu yang benar” ucap Dakota meraih handuk kecil. Dakota sudah mendapati tangan Alfata mulai keriput karena kelamaan berada dikamar mandi. Melihat istrinya sudah datang dengan ekspresi wajah yang kesal, Fano langsung beranjak dari bak mandi.
“Aku sudah selesai” ucap Fano langsung mengambil handuk baru.
“Ayolah Bunda jangan marah, kami hanya bermain air” ucap Alfata malah balas menyiram air pada Dakota.
“Fata ....” teriak Dakota membuat Alfata memberhentikan aksinya menyirami Dakota.
“Ayah yang mulai lebih dulu Bunda” ucap Alfata melirik pada Fano yang sedang mengeringkan rambutnya pakai handuk kecil. Dakota langsung menatap pada Fano. Fanopun menggelengkan kepala tidak ingin di salahkan.
“Aku sudah selesai tadi mandi, kemudian berencana memandikan Fata. Fata yang lebih dulu menyemprotkan sabun cair padaku” ucap Fano melemparkan kesalahan pada Alfata.
“Bunda percaya pada Ayah, aku ini masih kecil untuk apa aku berbohong, Bunda bilang berbohong itu dosa” ucap Alfata melemparkan kembali kesalahan pada Fano. Fano langsung menatap tajam pada Alfata.
“Stop ... kalian berdua hanya beralasan saja, kalian berdua sama-sama salah” ucap Dakota langsung melap seluruh tubuh Alfata pakai handuk.
“Bunda aku juga bisa mengeringkan rambutku” tolak Alfata.
“Kau itu masih kecil, itu tidak bisa kau pungkiri, bahkan kau belum bisa meraih punggungmu pakai tanganmu” ucap Fano menunjuk punggung anaknya.
“Cih, awas saja kalau aku sudah besar nanti” ucap Alfata balas menatap tajam pada Fano.
“Suamiku, lebih baik kau segera berpakaian” ucap Dakota mendorong tubuh Fano untuk segera keluar dari kamar mandi. Dakota langsung menggendong tubuh Alfata.
“Kau sudah basah, lebih baik kau mandi, biar aku yang pakaikan pakaian untuk Fata” ucap Fano meraih tubuh Alfata dari pelukan Dakota.
“Fata sangat sulit dipakaikan pakaian, kulitnya juga sudah keriput karena kelamaan mandi” ucap Dakota memberikan pakaian Alfata pada Fano. Alfata sudah Fano letakkan di atas kasur.
Dakota langsung mandi karena sudah terlanjur basah juga. Tidak berapa lama saat Dakota selesai mandi, dia sudah mendapati Alfata sudah rapi berpakaian. Namun lagi-lagi Dakota menemukan suami dan anaknya kembali bertengkar.
“Kau sudah main game seharian ini" tolak Fano membuka pintu kamar.
“Kau pikir setelah kau tutup kamar ini, aku tidak bisa keluar” ucap Alfata langsung meraih handphone jam tangannya untuk menghubungi Pak Purnomo. Ternyata jam tangan handphone itu juga pemberian dari kakeknya Pak Purnomo.
Fano merasa kalah tidak bisa mencegah anaknya untuk segera istirahat.
“Kakek ... aku sudah dikunci didalam kamar” teriak Alfata saat handphonenya sudah terhubung dengan Pak Purnomo.
“Berikan jammu pada Fano” teriak Pak Purnomo dari seberang. Melihat tingkah anak dan suaminya Dakota memilih beranjak kepintu untuk membukakan pintu kamar itu. Kebetulan pintu kamar itu masih sama paswordnya dengan tanggal lahir Dakota sampai sekarang. Belum sempat Pak Purnomo berbicara pada Fano, Alfata langsung kegirangan beranjak dari kasur.
“Yeey ... Bunda yang terbaik” ucap Alfata langsung kabur keluar dari kamar.
“Kenapa kau buka pintunya, dia akan kembali bermain game” ucap Fano pada Dakota.
“Percuma saja menghalanginya, dia akan sulit ditangani saat mengambek nanti” ucap Dakota beranjak menuju lemari pakaian karena sedari tadi dia masih memakai handuk setelah selesai mandi.
Tiba-tiba saja Fano sudah beranjak mendekati tubuh istrinya. Belum sempat Dakota memakai pakaiannya Fano sudah memeluk tubuhnya dari belakang.
“Wangimu masih sama sampai sekarang” bisik Fano ditelinga Dakota. Tangan Fano mulai liar meremas gunung kembar istrinya.
"Ahh ...” ringis Dakota merasakan rasa sakit pada dadanya setelah 5 tahun kembali dia merasakan sentuhan tangan suaminya menyentuh dadanya. Fano sudah menciumi leher Dakota dari belakang. Tubuh Fano sudah merespon rangsangan dari wangi istrinya. Tubuh Dakota memang tubuh yang sangat Fano rindukan.
“Aku belum memakai pakaianku” ucap Dakota menggeliat menerima serangan dari Fano.
__ADS_1
“Nanti saja” ucap Fano. Nafas Fano sudah memburu menjilati punggung Dakota sambil tangannya liar mengelus seluruh tubuh Dakota. Dakota langsung berbalik badan menatap wajah suaminya. Fanopun langsung meraih wajah Dakota.
“Embhh ....” Fano sudah menjulurkan lidahnya menari-nari di dalam mulut istrinya. Dakota menerima ciuman itu, sesekali Dakota juga balas memainkan lidahnya. Ciuman itu semakin dalam membuat Dakota tidak sanggup menatap mata Fano, Dakota memilih memejamkan matanya. Fanopun mengarahkan ciuman mereka menjadi sangat lembut, hingga mereka saling balas bersahut-sahutan. Ternyata istrinya itu sudah pandai berciuman.
“Hah ... hah ....” Mereka mendesah karena ciuman panjang itu. Tidak sampai disitu kembali nafas Fano memburu pada kedua gunung kembar Dakota. Fano sudah mendaratkan bibirnya untuk menciumi dada Dakota. Karena Fano memiliki kumis juga brewok, Dakota merasakan rasa geli pada dadanya sudah bersentuhan dengan kumis Fano.
“Suamiku” ucap Dakota menatap wajah Fano.
“Hmm ..." ucap Fano sambil tetap menikmati kedua gunung kembar istrinya. Karena mereka masih berdiri didepan lemari. Fano langsung berinisiatif mengendong tubuh Dakota beranjak kekasur.
“Kumismu ini lebih baik kau cukur saja” ucap Dakota mengelus brewok Fano. Mendengar ucapan istrinya Fano menghentikan aksinya.
“Kenapa? Bukannya kau suka aku berkumis” tanya Fano menatap wajah Dakota.
“Alasanku memintamu berkumis dan brewokan itu untuk mengurangi ketampananmu saja, aku tidak ingin wanita lain melirikmu” batin Dakota.
“Kumismu terasa geli” ucap Dakota malu-malu. Fano langsung tersenyum melihat istrinya sudah malu-malu.
“Akan aku cukur” ucap Fano kembali melaksanakan aksinya yang tertunda, dia kembali meluma* bibir Dakota sambil tangannya bereaksi mengitari tubuh Dakota. Karena pintu kamar mereka tidak mereka kunci kembali tadi saat Alfata langsung menerobos keluar. Saat ini Alfata yang masih polos main masuk saja menerobos kembali kamar ayah dan bundanya.
“Ups ... kalian sedang apa?” tanya Alfata pada Fano dan Dakota. Alfata sudah mendapati ayahnya sedang menidih tubuh Dakota diatas kasur.
“Fata” teriak Dakota segera mendorong tubuh Fano.
“Astaga, aku lupa sudah punya anak. Kenapa pintu itu tidak dikunci kembali sih” batin Fano merasa aksinya sudah berhenti karena kehadiran anaknya.
“Ayah, kau kejam sekali, kenapa ayah menindih tubuh Bunda” ucap Alfata dengan wajah polosnya. Alfata langsung naik keatas kasur meraih tubuh Dakota. Wajah Dakota sudah malu bukan kepalang main dia tertangkap basah. Setidaknya anaknya masih polos dan lugu.
“Bunda, kenapa leher Bunda merah” ucap Alfata memperhatikan leher Dakota.
“Leher Bundamu barusan digigit nyamuk, ayah hanya ingin mengolesi salep saja” ucap Fano mengarang cerita.
“Nyamuk” ucap Alfata kebingungan. Setahu Alfata digigit nyamuk itu bukan begitu bekasnya.
“Aku lupa anakku ini sudah bijak” batin Fano kembali khawatir mendengar ucapan Alfata selanjutnya.
“Fata untuk apa kau kembali kesini” tanya Dakota mengalihkan pembicaraan.
“Aku disuruh nenek memanggil Bunda” ucap Alfata menarik tubuh Dakota untuk segera turun beranjak dari kamar.
“Bunda belum memakai pakaian, tunggu sebentar” ucap Dakota melirik suaminya sudah terlihat kecewa. Fano langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“Aku harus sabar, aku masih tahan meredam” batin Fano.
Setelah berpakaian Dakota dan Fano langsung keluar dari kamar di ikuti Alfata sudah berlari di depan mereka.
BERSAMBUNG...............
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir😊
Tetap dukung novel ini, dengan like dan komentar kalian.🙏
Jangan lupa Vote juga😊
__ADS_1
See You 🙋🙋🙋