
Dakota terus berlari menuju bagian atas kapal. Angin yang ada pada kapal sangat kencang saat kapal Peti Kemas itu mulai berangkat menjauh dari Pelabuhan Tanjung Priok. Tubuh Dakota mulai tidak stabil ketika dia menaiki tangga kapal.
Sesampainya Dakota di bagian atas kapal. Pelipis wajah sebelah kanan Dakota langsung ditodong dengan senjata api oleh Irma Sugiono.
“Aku tidak menyangka mereka memiliki senjata api juga” batin Dakota. Dakota masih diam sambil memperhatikan sekitar kapal, berharap menemukan keberadaan Yoki dan Kela.
“Jalan* kenapa kau lama sekali” pekik Irma sambil mendorong tubuh Dakota.
“Angkat tanganmu!” bentak Sena pada Dakota. Saat Dakota menoleh ke arah jarum jam pukul 12, mata Dakota sudah bertemu dengan Yoki dan Kela. Keadaan Yoki dan Kela sangat mengenaskan.
“Kau masih tidak mau mengangkat tanganmu!” ucap Irma lagi.
“Yoki ... Kela ....” ucap Dakota mencoba menghampiri keberadaan Yoki dan Kela. Saat Dakota melangkah, kaki Dakota yang sebelah kanan langsung ditendang oleh Mia. Hampir saja tubuh Dakota terjatuh kelantai. Dakota pun langsung berbalik badan untuk membalas Mia.
“Duak ....” kaki Dakota langsung mendarat pada dada Mia. Membuat tubuh Mia langsung ambruk kelantai.
“Sial ....” pekik Mia sambil memegangi dadanya.
“Aku benar-benar akan menarik pelatuk pistol ini” ucap Irma sambil mengarahkan senjata api miliknya pada Dakota.
“Kau yakin tidak mau mengangkat tanganmu” ucap Sena kembali mengancam Dakota.
“Kau sudah datang dengan tangan kosong, apa kau tidak bisa melihat ada banyak orang-orang Mr. Pich disini, aku hanya mengetes kemampuanmu, ternyata kau memiliki kemampuan juga menghindari seranganku barusan, kau sudah semakin dewasa” ucap Mia sambil berdiri dari lantai untuk merapikan dirinya.
“Apa yang kalian lakukan ... bawa dia kemari ....” teriak seorang pria dari kejauhan. Mata Dakota langsung terbelalak ketika melihat pria yang baru saja berteriak. Pria itu sudah tua, walau rambut pria itu belum memutih semua, namun Dakota sudah dapat mengenali tubuh pria itu dibalik kaca mata hitamnya.
“Tidak salah lagi, dia paman Sutan” batin Dakota.
“Baik Bos ....” ucap Irma, Sena dan Mia sertentak menyahuti perintah Pak Sutan.
“Cepat jalan!” perintah Sena sambil mendorong tubuh Dakota.
Dakota pun langsung mengangkat tangannya, karena saat ini Dakota datang dengan tangan kosong. Walau cuaca di pagi ini sangat baik, namun karena kapal sudah berlayar, angin semakin kencang menerobos kulit mereka, bahkan rambut mereka ikut bergerak karena hembusan angin. Begitu juga dengan rambut Dakota, ikut berterbangan hingga menutupi wajahnya.
Wajah Yoki dan Kela sudah babak belur karena perbuatan Irma dan teman-temannya. Mata Yoki yang masih bengkak sedikit dia buka untuk melihat siapa yang datang. Yoki sudah melihat kedatangan Dakota sedang ditodong dengan senjata api berjalan menghampiri mereka.
“Nyonya Muda” ucap Yoki sambil menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan tali yang mengikat pada tangannya.
“Nyonya ....” teriak Kela menyahuti ucapan Yoki. Kela juga sudah meronta-ronta untuk melepaskan tubuhnya dari tali yang sudah melingkar pada tubuhnya. Keadaan Yoki dan Kela sangat miris. Yoki di baringkan kelantai. Sementara tubuh Kela diikat pada tiang bendera kapal.
“Hatiku sangat sakit melihat mereka, ini semua salahku sudah melibatkan mereka, Yoki ... Kela ... aku minta maaf ” batin Dakota.
“Sudah sekarat masih bisa bicara” ucap Mia sambil menjambak rambut Yoki.
“Lepaskan dia!” teriak Dakota pada Mia.
“Hah ... siapa kau berani mengaturku” ucap Mia langsung menghempaskan tubuh Yoki kelantai.
“Yoki, bertahanlah ....” teriak Dakota lagi memperhatikan tubuh Yoki mulai tidak berdaya.
“Kau masih peduli pada sampah” ucap Irma semakin mendorong tubuh Dakota untuk semakin dekat menghadap pada Pak Sutan.
“Cukup, kalian hanya menghabiskan waktu saja” ucap Pak Sutan. Irma, Mia dan Sena langsung menghampiri Pak Sutan.
__ADS_1
“Ikat dia!” perintah Pak Sutan. Sembari Irma menodongkan senjata apinya pada Dakota, Sena dan Mia bekerja sama melaksanakan perintah Pak Sutan untuk mengikat tubuh Dakota dengan tali. Sementara untuk para penjaga bawahan Pak Sutan sudah berjaga disekitar kapal. Tidak lama kemudian Dakota pasrah saja tidak melawan diikat oleh Sena dan Mia.
“Kalian sudah janji untuk tidak melukai Yoki dan Kela, aku datang sesuai dengan janjiku, tapi kalian malah menghajar mereka” ucap Dakota sambil meronta-ronta untuk melepaskan ikatan tangannya. Setelah melihat Dakota sudah diikat, Pak Sutan pun langsung menghampiri Dakota.
“Lama tidak jumpa Deren” ucap Pak Sutan sambil menyisihkan rambut Dakota dari wajahnya karena hembusan angin laut. Dari dekat Dakota bisa mencium wangi dari tubuh Pak Sutan sama dengan wangi tubuh Mr. Pich.
“Ternyata kau sudah mengenalku, kenapa kau bermain-main denganku!” tegas Dakota sambil menghempaskan tangan Pak Sutan dengan bahunya.
“Cerdik sekali ... yang kau bilang itu memang benar, bagaimana dengan bunga mawar merah yang selama ini aku kirim” ucap Pak Sutan.
“Bunga mawar, jadi ... bajinga* dimana ayahku ....” teriak Dakota langsung menendang kaki Pak Sutan. Namun Pak Sutan bisa menangkis tendangan Dakota barusan. Pak Sutan kembali mendekati Dakota.
“Kau pemberani juga, apa kau mau jadi salah satu bagian dari mereka” ucap Pak Sutan sambil menujuk kearah Irma, Mia dan Sena. Mereka pun saling menatap mendengar ucapan Pak Sutan barusan ingin merekrut Dakota.
“Cih, kau sudah seumuran dengan kakekku, kau bukan manusia, kau memanfaatkan mereka dan menjadikan mereka sebagai bonekamu” ucap Dakota sambil meludah.
“Kau sudah tahu aku bukan manusia sedari awal, tapi kau masih saja mau mendekatiku, ingat kembali kaulah yang datang mendekatiku. Aku tahu tujuan awalmu bergabung sebagai penari untuk apa, aku hanya ingin mencari waktu yang tepat saja” ucap Pak Sutan.
“Apa salahku, apa salah keluargaku ... kau kemanakan ayahku ... aku tidak kenal denganmu, kenapa kau melakukan hal keji pada keluargaku, siapa kau berani bermain-main dengan nyawa orang ....” teriak Dakota.
“Siapa aku, tanyakan sendiri pada kakekmu Admidjaya, kenapa dia membantu mertuamu Purnomo, aku lebih dulu kenal dengan kakekmu, saat aku meminjam uang padanya, dia mengatakan uangnya tidak ada, tapi saat Purnomo kesulitan dia malah membantu adik tiriku itu, malah mengabaikan aku sebagai sahabatnya. Apa kau tahu apa yang aku alami saat aku tidak dapat pinjaman, semua klien bisnisku menganggap aku sebagai pencundang, bahkan banyak yang sudah menjelek-jelekkan kemampuanku. Untuk mengembalikan nama baikku dihadapan kelienku, aku sampai mencuri uang perusahaan untuk mengurus bisnisku. Aku sudah mengorbankan semua uang itu di korupsi oleh anakku. Aku pikir karena anakku dan Purnomo dekat, aku yakin Purnomo akan membantunya, tapi... anakku malah tewas bersama menantu dan cucuku. Purnomo dan Admidjaya harus tanggung jawab sudah menghilangkan nyawa anakku” ucap Pak Sutan panjang lebar.
“Kau pikir dengan tindakanmu menghilangkan nyawa nenekku Milen, membawa kabur ayahku, menyerang keluargaku, anakmu yang sudah meninggal akan bahagia melihat tindakan brutalmu itu” ucap Dakota.
“Siapa kau berani mengguruiku” ucap Pak Sutan langsung mencekik leher Dakota.
“Kau memang pecundang, kau bertahan hidup selama ini dibalik topengmu itu, dasar pecundang ....” teriak Dakota. Pak Sutan semakin menekan leher Dakota sampai nafas Dakota sudah satu-satu.
“Nyonya ...” teriak Kela. Tubuh Dakota sudah gemetar karena cekikan dari Pak Sutan pada lehernya.
“Tuhan ... aku tidak akan matikan ... aku masih mau hidup ... masih ada anakku dan suamiku yang membutuhkan aku, tolong ... selamatkan aku” batin Dakota. Selang hitungan Detik.
“Dor ... dor ....” Suara tembakan mengarah pada tubuh Pak Sutan.
“Argh ....” ucap Pak Sutan langsung melepas tangannya dari leher Dakota. Ternyata tembakan itu mengarah pada kaki Pak Sutan.
“Bos ....” teriak Irma, Sena dan Mia langsung membantu Pak Sutan.
“Cari penembak itu! Sial ... kenapa Helikopternya belum datang juga” pekik Pak Sutan sambil memegangi kakinya yang sudah berlumuran darah.
“Uhuk ... uhuk ....Yoki ... Kela ... kalian baik-baik saja” ucap Dakoga saat tubuh Dakota sudah mulai ambruk dekat dengan Yoki.
“Nyonya ... hiks ... kenapa bisa begini” tangis Yoki sambil mengesot untuk mendekati Dakota. Belum sempat Irma membantu Pak Sutan untuk membalut luka di kaki Pak Sutan. Kembali lagi datang serangan.
“Dor ... dor ....” Tembakan barusan mengarah pada Mia dan Sena. Spontan tubuh Mia dan Sena langsung ambruk di hadapan Yoki.
“Nyonya, mereka sudah tewas ....” teriak Yoki.
Yoki sangat ketakutan melihat tubuh Mia dan Sena sudah berlumuran darah dan tidak bernyawa lagi. Namun mata mereka belum menutup masih terbuka.
“Sepertinya penembak jitu itu berpihak padaku, tapi siapa penembak jitu itu” batin Dakota.
“Yoki, jangan lihat mereka, tutup matamu” ucap Dakota. Semua penjaga bawahan Pak Sutan langsung membantu Pak Sutan bersama Irma untuk membalut luka Pak Sutan.
__ADS_1
“Kaian tidak berguna, cepat seret wanita itu!” ucap Pak Sutan pada bawahannya.
“Baik Bos” ucap Dakota. Saat penjaga itu menyeret tubuh Dakota, kembali lagi serangan dari penembak jitu itu mengarah pada para penjaga itu. Dakota langsung menutup telinganya merasakan akan ada serangan lagi.
“Dor ... dor ...” Tembakan bertubi-tubi kembali mengarah pada para penjaga. Para penjaga itu langsung ambruk kelantai. Wajah Dakota sudah ikut berlumuran darah karena cipratan dari tubuh para penjaga tadi.
“Kurang ajar, kalian mau main-main denganku ....” teriak Pak Sutan. Pak Sutan langsung menarik senjata api miliknya dari sakunya.
“Dor ... dor ....” serangan tembakan oleh Pak Sutan keudara.
“Bos, kenapa tidak bunuh saja Dakota, kedua temanku sudah tewas” ucap Irma sambil mengarahkan senjata api miliknya pada Dakota.
“Nyonya” ucap Yoki dan Kela secara bersamaan mendengar ucapan Irma barusan.
“Setidaknya kakinya kita tembak” ucap Irma lagi mulai menarik pelatuknya.
“Tunggu ... dia tawananku” ucap Pak Sutan mencegah Irma.
“Sial, aku ini hanya bawahanmu, teman-temanku sudah tewas, hanya karena satu wanita ini ... bahkan keluargaku sudah ikut hancur” ucap Irma dalam hati.
“Aku ingin lihat sampai kapan kalian tidak keluar, apa perlu aku bermain-main dulu dengan wanita ini” ucap Pak Sutan langsung meraih rambut Dakota. Pak Sutan menarik paksa rambut Dakota hingga Dakota duduk.
“Ahhhh sakit ....” teriak Dakota menahan rasa sakit pada rambutnya. Rambut Dakota rasanya sudah mau copot semua. Pak Sutan langsung meraih ponselnya lalu memperlihatkan layar ponselnya pada Dakota. Dakota langsung syok melihat isi dari rekaman yang Pak Sutan berikan barusan.
“Ayah ....” teriak Dakota melihat isi video tersebut. Dakota sudah melihat ayahnya sedang berbaring disekap disuatu tempat.
“Bodoh, lihat baik-baik rekaman ini” ucap Pak Sutan. Dakota kembali melihat isi dari rekaman video barusan. Dakota hampir saja pingsan bahkan air mata Dakota mulai bercucuran melihat anaknya Alfata juga disekap berbarengan dengan Elcid Admidjaya serta ibu Lena. Alfata sudah berbaring tidak sadarkan diri.
“Anakku ... jangan bunuh anakku, tolong jangan bunuh anakku ... dia masih sakit, huhu ....” tangis Dakota. Tubuh Dakota langsung ambruk kelantai melihat tubuh Alfata tidak berdaya lagi.
“Kalian sudah lihat wanita ini, hei berdiri ... kasih tahu pada mereka untuk menyerah!” teriak Pak Sutan kembali menarik rambut Dakota. Pak Sutan mulai mengarahkan senjata apinya pada Dakota.
“Aku mohon pada kalian ... tolong menyerahlah, kasihani anakku ... anakku sedang sakit ....” teriak Dakota.
“Kalian tidak dengar! Apa perlu aku bunuh wanita ini ...” teriak Pak Sutan mengancam agar penembak jitu itu keluar.
“Aku hitung sampai 3 kali” ucap Pak Sutan.
“Satu ....” Belum sempat hitungan ketiga, Fano langsung keluar sambil melemparkan senjata apinya kelantai. Fano pun angkat tangan sambil menghampiri PaK Sutan.
“Kau rupanya, sudah berani bermain-main denganku” ucap Pak Sutan langsung menghempaskan tubuh Dakota kelantai.
“Sayang ....” teriak Fano langsung meraih tubuh Dakota.
“Suamiku, anak kita ... anak kita... ayahku, mama mertua juga disekap olehnya, huhu ....” ucap Dakota dalam pelukan suaminya.
“Ternyata kalian saling mencintai, ini semakin menarik, keluarga yang bahagia sebentar lagi akan berduka. Anak kalian ada ditanganku, jangan main-main denganku” ucap Pak Sutan.
BERSAMBUNG...............
To Reader Wanita Presdir: Terimah kasih untuk dukungan kalian terhadap novel ini. Untuk kalian yang sudah memberikan vote, yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Jangan lupa tetap dukung novel ini, dengan like dan komentar kalian. Saya minta maaf kalau saya sangat lama up. Sembari menunggu up, kalian juga bisa cek profil saya masih ada satu karya saya Putri Boma yg tidak kalah menarik dari novel ini😊
See You 🙋🙋🙋
__ADS_1