Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 69. Kecewa


__ADS_3

Sesampainya di pintu kamar Fano.


“Istirku ini mau apa sih” batin Fano.


“Sayang, bisakah kau lepas sebentar” pinta Fano pada Dakota. Sedari tadi Dakota memeluk manja lengan suaminya.


“Kau mau kemana, bukannya manajer Naon bilang tugasmu malam ini tidak ada” ucap Dakota menahan suaminya.


“Aku mau melapor ke kamar mandi, haruskah kau ikut” ucap Fano jujur pada istrinya, sedari selesai makan malam dia sudah menahan diri mau kekamar mandi, hanya saja Dakota bertingkah aneh menurutnya. Dia mengikut sambil menahan perutnya yang sudah mules di bawa istrinya menuju kamar mereka.


“Ah, maafkan aku, pergilah” ucap Dakota, dia langsung beranjak ke kasur. Fano heran dengan tingkah istrinya, dia langsung capcus menuju kamar mandi yang ada di kamar mereka.


“Ya ampun, niat mau bermesraan dan mengikuti saran Yohana, dia malah tidak peka” batin Dakota.


Tidak berapa lama kemudian Fano sudah keluar dari kamar mandi, dia melihat istrinya sudah berbaring di atas kasur, dia langsung mematikan lampu kamar mereka dan beranjak ke kasur berbaring di samping istrinya. Dakota yang berbaring di kasur belum bisa tidur, dia memaksakan matanya untuk tidur, namun dia ingat dengan saran Yohana, untuk membuang egonya, padahal dia sudah berniat untuk melayani suaminya malam itu.


“Apa dia sudah tidur, bagaimanapun dia pasti sudah ngantuk, semalam dia sudah berjaga untukku, apa malam ini aku harus berbuat itu atau tunda dulu” gumam Dakota, dia sudah gelisah diatas kasur, bahkan suaminya merasakan kegelisahannya.


“Apa mungkin obat perangsangnya belum hilang, kenapa dia terlihat gelisah, bahkan kasur ini ikut bergoyang” batin Fano.


Karena belum bisa tidur, Dakota berbalik badan tubuhnya sudah menghadap pada Fano, dia menatap wajah suaminya dan melihat Fano sudah menutup matanya. Dakota memainkan jarinya mengelus-elus pipi suaminya.


“Apa yang dia lakukan” batin Fano.


Fano menikmati elusan tangan Dakota. Sebenarnya Fano sudah mengantuk karena semalaman tidak tidur, karena istrinya itu selalu bergerak membuat kasur mereka ikut bergoyang.


“Suamiku, dia ini suamiku” gumam Dakota pelan masih terdengar oleh Fano, Dakota masih mengelus pipi Fano hingga jarinya berhenti di bagian bibir Fano, jari Dakota lama berhenti dibibir Fano, tidak berapa lama Dakota sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Fano. Fano yang sedari tadi masih sadar terkejut dengan tingkah istrinya, tidak sampai disitu saja Dakota sudah memeluk tubuh Fano, Dakota mulai meraba leher Fano membuat Fano merinding.


“Aku nggak sanggup lagi” batin Fano.


“Sayang, kau mau apa” ucap Fano, akhirnya dia membuka matanya.


“Aku mau kamu” ucap Dakota, dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Fano. Fano mengingat momen ini kemarin, saat istrinya gelisah dipelukannya karena efek obat perangsang.


“Sayang, sadarlah ... apa obat perangsang itu belum hilang dari tubuhmu” ucap Fano pada Dakota.


“Aku sudah sadar, obat itu sudah hilang dari tubuhku” ucap Dakota, dia memang merasa bahwa pengaruh obat itu sudah tidak ada lagi.


“Sayang, kamu masih sakit, lebih baik kita tidur saja” ucap Fano. Kebetulan Fano juga sudah sangat mengantuk.


“Apa dia benar-benar tidak mencintaiku, aku sudah bersedia begini, dia malah mengabaikan aku” batin Dakota.


Dakota menarik wajahnya dari dada bidang Fano dan melihat suaminya itu sudah tertidur pulas.


“Ternyata dia sudah tidur” gumam Dakota kecewa dengan suaminya. Dakota langsung memeluk tubuh Fano dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Keesokan paginya alarm baker Dakota berbunyi, dia langsung mematikan alarm itu, karena takut suaminya akan terbangun, dia belum juga mengatur volume alarm itu. Dia sudah menatap tubuh suaminya masih tidur dengan nyenyak. Dakota langsung beranjak untuk memasak sarapan pagi.


Selesai Dakota memasak, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00 wib, dia kembali kedalam kamar mereka dan melihat suaminya sedang memakaikan kemejanya. Dakota beranjak mendekat pada suaminya itu.


“Suamiku, biar aku yang pasang” ucap Dakota. Tangan Dakota sudah meraih dasi yang dipegang oleh Fano. Walau tubuh Dakota sudah termasuk tinggi untuk kalangan wanita, namun dia harus menjinjitkan kakinya untuk meraih leher suaminya. Fano yang mengerti situasi itu, dia menunduk agar istrinya itu mudah memasangkan dasinya.


Dengan gerakan yang lembut Dakota memasang dasi suaminya itu. Fano masih heran dengan tingkah istrinya itu. Fano mencium aroma tubuh istrinya sudah bau dapur. Walau begitu Fano menikmati momen itu.


“Sudah selesai” ucap Dakota merapikan pakaian Fano.


“Lumayan juga” ucap Fano.


“Ih, hanya kata lumayan, seharusnya puji dong, aku sudah memasangnya dengan rapi” batin Dakota.


Dakota malah menatap pada Fano, bahkan tubuh mereka sangat dekat.


“Sayang, bolehkah kau mundur” ucap Fano.


“Kenapa suamiku, akukan istrimu, apa aku tidak boleh berdekatan denganmu” ucap Dakota kesal, seharusnya momen itu kesempatan buat Fano untuk menciumnya. Dia mengingat kebanyakan pasangan kalau si wanita selesai memakaikan dasi pada prianya pastinya hal romantis yang akan terjadi.


“Dia tidak memberikan aku kecupan” batin Dakota.


“Bau tubuhmu terasa bau dapur sangat menyengat, lebih baik kau mandi segera” ucap Fano, dia melangkah menjauh dari Dakota dan merapikan rambutnya.


“Aku sangat kesal padanya, aku tarik lagi niatku untuk menyerahkan diriku padanya, dia bahkan mengabaikan aku dan mengataiku bau dapur” gumam Dakota kesal.


Selesai Dakota mandi, dia langsung merapikan dirinya, namun tidak berapa lama Siti sudah menekan bel kamar mereka.


“Ting Nong” Dakota langsung melangkah menuju pintu kamar dan melihat Siti sudah berdiri didepan pintu.


“Ada apa Siti?” tanya Dakota.


“Maaf nyonya muda, Presdir berpesan bahwa nyonya muda belum bisa bekerja hari ini sampai nyonya benar-benar pulih” ucap Siti.


“Dimana suamiku?” tanya Dakota.


“Presdir sudah berangkat lebih awal nyonya muda” ucap Dakota.


“Apa dia tidak sarapan?” tanya Dakota.


“Sudah nyonya muda, selesai sarapan beliau langsung berangkat” ucap Siti.


“Baiklah Siti” ucap Dakota kecewa.


“Baik nyonya muda, kalau ada sesuatu panggil saya saja nyonya” ucap Siti untuk undur diri.

__ADS_1


Dakota mengangguk, Siti langsung pergi menjauh. Dakota baru saja mau beranjak ke meja makan untuk sarapan pagi bersama suaminya, namun langkah kakinya berat menuju meja makan, dia harus mengganti pakaian kantor menjadi pakaian santai kembali.


“Kenapa dia begitu buru-buru pergi ke kantor” batin Dakota.


Sementara itu Fano sepanjang perjalanan menuju perusahaan Reinhard Group.


“Kenapa Presdir senyum-senyum sendiri” gumam Naon melirik Fano dari balik kaca depan mobil. Naon tetap fokus mengemudikan mobil itu.


“Bhahaha ....” tawa Fano semakin keras, dia mengingat tingkah lucu istrinya, dia tidak sanggup lagi menahan tawa, tawanya lepas didalam mobil itu, membuat Naon terkejut.


“Presdir tidak apa-apa” ucap Naon, dia bingung dengan tingkah Fano. Fano masih saja tertawa-tawa sendiri.


“Dia sangat imut, mungkin dia sudah kesal padaku. Aku ingin lihat sampai kapan dia bertingkah seperti itu, bisa-bisanya istriku itu” batin Fano masih tertawa dengan tingkah konyol istrinya.


“Presdir, apa Presdir baik-baik saja” tanya Naon kembali.


“Apa aku terlihat sakit” ucap Fano dingin, dia sadar dari tawanya sudah diperhatikan oleh Naon.


“Tidak Presdir, anda sangat sehat” ucap Naon menggelengkan kepalanya.


“Kalau bergitu kenapa kau bertanya” ucap Fano.


“Maaf Presdir, saya salah” ucap Naon.


“Kau fokus saja mengemudi, jangan banyak omong” ucap Fano.


“Baik Presdir” ucap Naon serba salah.


“Apa aku sudah menyinggungnya, jelas Presdir tertawa-tawa sendiri tanpa sebab” batin Naon.


BERSAMBUNG............


Reader: thor bukan hanya Dakota yang kecewa, kami juga kecewa pada Fano.😏😌😔😬


Author: Sabar Reader semuanya bertahap😊


Reader: Karena kami kecewa, no like😌😏😔😪😎


Author: 😭😭😭😭😭😭😭


Reader: Gitu aja nangis thor, tenang kami bercanda. Cius😝😝😝😝


Author: Makasih Reader, sudah like, Vote, Favorite dan komentar nya,🙏🙏🙏🙏🙏


See you🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2