Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 128


__ADS_3

Wajah Siti sudah malu-malu saat ini, apa lagi dia duduk disamping kemudi, tentunya di samping Naon. Siti dan Naon tidak berani untuk menatap, apa lagi setelah Naon memeluk Siti tadi, rasanya hal itu membuat jantung Siti mau copot. Sementara si Naon mencoba terlihat cool dan pura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal jantungnya juga berdebar sangat kencang bila dekat dengan Siti.


“Aku harus menahan diriku, belum waktunya aku menyatakan perasaanku padanya, ada banyak hal yang akan kami lalui untuk menghadapi Mr. Pich” batin Naon. Fano dan Dakota sangat memahami situasi dari Naon dan Siti saat ini. Sedari awal Siti sudah meminta pada Dakota untuk naik di mobil pengawal saja, namun Dakota memaksa Siti untuk duduk didepan disamping Naon. Fano dan Dakota kembali tersenyum melihat suasana canggung diantara Siti dan Naon.


Sepanjang perjalanan mau pulang, Fano sudah memegangi jari-jemari istrinya, sesekali Fano menatap wajah istrinya. Namun Dakota sudah malu bahkan mengalihkan pandangannya keluar arah jendela mobil karena tingkah dari suaminya. Fano kembali mengelus sambil menatap jari-jemari Dakota.


“Sayang, cincin kawin kita sudah bisa kau pakai” ucap Fano sambil mengecup punggung tangan Dakota. Dakota langsung mengangguk menyahuti ucapan suaminya. Tangan Dakota memang kosong dari segala aksesoris. Tidak ada satupun cincin yang bertengger di jarinya. Karena pernikahan mereka tersembunyi dari publik sejak awal menikah Dakota tidak berani memakai cincin kawinnya. Apa lagi saat itu dia bekerja di perusahaan yang sama dengan suaminya.


“Oh ya, apa kita bisa berhenti di Super Market terdekat” ucap Dakota pada suaminya.


“Bisa, tapi kenapa harus ke Super Market? Kalau kau mau memasak semua bahan-bahan akan disiapkan oleh pelayan” ucap Fano. Fano merasa segala kebutuhan istrinya sudah di siapkan oleh pelayan.


“Ada yang harus aku beli” ucap Dakota mengalihkan pandangannya.


“Sepertinya istriku ini menyembunyikan sesuatu dariku, apa yang mau dia beli” batin Fano mulai curiga.


“Nyonya Muda, kita berhenti di Mall saja, kebetulan ada Mall terdekat di area sini” ucap Naon.


“Di Mallpun jadi” ucap Dakota. Tidak lama kemudian, Naon sudah memarkirkan mobil Fano di Mall terdekat. Mereka sudah masuk kedalam Mall sembari para pengawal mengikuti mereka dari kejauhan untuk memantau.


“Suamiku, lebih baik kalian tunggu disini, aku dan Siti yang akan belanja” ucap Dakota menarik lengan Siti.


“Apa yang mau dia beli” batin Fano. Rasa penasaran di hati Fano mulai besar terhadap barang apa yang akan istrinya beli.Tidak mau ditinggalkan dan ingin mengetahui barang apa yang Dakota akan beli.


“Sayang, tunggu dulu, biarkan Siti bersama dengan Naon” ucap Fano menarik lengan istrinya. Fano sudah main mata pada Siti untuk segera menolak ajakan Dakota.


“Tapi ....” ucapan Dakota dipotong oleh Siti.


“Nyonya Muda, lebih baik Presdir menemani Nyonya berbelanja, saya dan Manajer Naon akan ikut melihat-lihat” ucap Siti beranjak mendekat pada Naon.


“Baiklah, beli saja kebutuhan pribadimu” ucap Dakota.

__ADS_1


“Tidak perlu Nyonya” ucap Siti menolak.


“Kalian beli saja keperluan kalian” ucap Fano. Fano tidak ingin perintahnya ditolak atau diabaikan.


“Baik Presdir” ucap Naon dan Siti bersamaan.


“Manajer Naon, tolong jaga Siti, jangan sampai dia lepas” canda Dakota pada Naon. Siti sudah membuang wajahnya untuk tidak menatap wajah Naon.


“Padahal barang yang aku beli itu kebutuhan pribadiku, aku sangat malu kalau dia sampai tahu hal ini” batin Dakota.


Dakota pasrah saja diikuti oleh Fano. Dakota sudah membawa Fano beranjak kebagian bumbu dapur. Setelah selesai memilih bumbu dapur. Dakota kembali beranjak melihat bagian tempat pakaian wanita.


“Apa dia mau membeli pakaian, kemarin pakaian terbaru sudah aku siapkan, apa pakaian itu tidak cocok untuknya” batin Fano. Sebenarnya Dakota membawa Fano ketempat pakaian wanita untuk mengalihkan pandangan Fano saja.


“Sayang, kenapa kau terlihat buru-buru” ucap Fano. Langkah kaki Fano sudah tertinggal jauh dari istrinya, akhirnya Dakota mengecilkan langkahnya untuk menunggui Fano.


“Aku tidak bisa menyembunyikan hal ini darinya” batin Dakota. Dakota langsung meraih lengan suaminya untuk membawa Fano beranjak ke tempat bagian pakaian kecil wanita.


“Jadi, dia menyembunyikan hal ini dariku, apa salahnya membeli pakaian dalam bersama” batin Fano.


“Sayang, bukannya ini yang sesuai dengan ukuranmu” bisik Fano sambil mengangkat bra berukuran kecil.


“Ukuran itu sudah sempit, tidak muat lagi” ucap Dakota. Dakota memaksa tangan suaminya untuk segera melepaskan bra yang dipegang oleh Fano tadi. Mata ibu-ibu yang ada di ruangan itu sudah tertuju pada Fano. Hal itu membuat Dakota semakin malu juga tidak nyaman sudah dipandangi oleh ibu-ibu pengunjung Mall.


“Kompak sekali suami istri membeli bra.”


“Suami idaman.”


“Jarang ada istri yang mau membeli bra barengan dengan suaminya, apa lagi sampai tahu ukuran istrinya.”


“Sepertinya mereka masih pengantin baru, masih hangat-hangatnya.”

__ADS_1


Gosip ibu-ibu pengunjung Mall saat melihat Fano memilih bra untuk Dakota beli.


“Jadi ukuran berapa yang sesuai dengan tubuhmu saat ini” ucap Fano sambil melihat jenis bra yang sudah terpajang di Mall itu. Tangan Fano kembali cekatan mengambil bra dengan ukuran lebih besar dari biasanya.


"Apa ini sesuai?” ucap Fano menunjukkan bra yang sudah dia raih pada istrinya. Dakota langsung menggelengkan kepalanya.


“Biar aku saja yang pilih, itu tidak muat” ucap Dakota langsung mengembalikan bra yang dipegang suaminya tadi. Fano pun mulai tersenyum nakal pada istrinya.


“Baru beberapa hari dia kembali, apa aksiku kemarin membuat miliknya semakin besar, tidak sia-sia usahaku, yes ... aku berhasil” batin Fano. Saat ini senyum sumringah sudah terpancar dari wajah Fano. Bahkan Fano sampai memperhatikan gunung kembar istrinya. Saat ini Dakota sibuk memperhatikan ukuran size bra yang sesuai dengan tubuhnya saat ini.


“Memang miliknya sangat besar” batin Fano. Wajah Fano kembali memerah. Dakota sadar sudah dipandangi oleh suaminya.


“Inilah akibatnya aku membawanya kemari, dia sudah nakal” batin Dakota.


Mata Fano mulai liar, kembali dia melihat model bra dengan warna yang menarik.


“Jika dia pakai ini pasti akan terlihat seksi” batin Fano sambil tersenyum nakal.


“Sayang, bagaimana dengan itu” ucap Fano menunjuk bra dengan model kucing garong.


“Ih, dasar mesum” ucap Dakota menarik lengan Fano untuk melihat model yang lain.


“Haha” tawa Fano sudah berhasil mengerjai istrinya.


Beberapa menit kemudian, dengan cepat Dakota memilih bra yang sesuai dengan ukuran tubuhnya saat ini. Karena pandangan ibu-ibu masih tertuju pada mereka, Dakota tidak ingin berlama-lama di ruangan itu.


“Sayang, kau tidak perlu menyembunyikan hal ini dariku” goda Fano ditelinga istrinya.


“Sini, biar aku yang bawa” ucap Fano kembali meraih semua belanjaan Dakota. Fano pun langsung menuju kasir, dia sudah membayar semua belanjaan istrinya juga belanjaan Siti dan Naon.


BERSAMBUNG...........

__ADS_1


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komentar ya, di Vote juga boleh🙏


See You 😍😍😍


__ADS_2