Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 139


__ADS_3

Mendengar laporan Naon barusan, Dakota pun langsung mengabari Yoki dan Kela untuk berhati-hati melalui ponselnya. Tidak lama, ponsel Dakota sudah berdering pertanda panggilan masuk. Saat Dakota buka layar ponselnya, kontak atas nama Yoki sudah terhubung dengan ponsel Dakota.


“Yoki, bagaimana keadaan kalian” ucap Dakota. Namun tidak ada respon dari balik ponsel Dakota.


“Yoki, apa kalian baik-baik saja” ucap Dakota kembali.


“Rasa empatimu sangat tinggi untuk orang lain” ucap seorang pria dari balik ponsel Dakota. Tubuh Dakota langsung merinding mendengar suara pria barusan. Suara pria itu sangat mirip dengan pria yang baru saja menabrak tubuh Dakota disekitar penginapan Mall IndoBoutik tadi.


“Kenapa kau diam, apa kau terkejut mengenali suaraku” ucap pria itu kembali. Dakota pun menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


“Kau ... kenapa ponsel Yoki ada padamu?” tanya Dakota. Walau tangan Dakota gemetar, saat ini yang paling utama dalam pikiran Dakota adalah keselamatan Yoki dan Kela.


“Jadi, anak buahmu ini namanya Yoki” ucap pria itu. Tiba-tiba saja terdengar suara dari balik ponsel itu.


“Plak ....” suara tamparan keras sudah terdengar dari balik ponsel itu. Kebetulan pria itu mengarahkan ponselnya pada sumber suara membuat suara yang terdengar sangat jelas di telinga Dakota.


“Argh ....” tangis seorang wanita dari balik ponsel.


“Yoki ... apa yang kau lakukan padanya ....” teriak Dakota.


“Astaga, jangan bilang persembunyian Yoki sudah ketahuan” batin Dakota.


“Nyonya Dakota, kami minta maaf tidak bisa menjalankan perintah dengan baik” ucap Yoki dari balik ponsel sambil menangis.


“Dimana Kela?” tanya Dakota.


“Kela ...dia sudah pingsan Nyonya karena dia sedari tadi melawan, hiks ....” tangis Yoki pecah dari balik ponsel.


“Anak buahmu lumayan juga” ucap pria itu kembali dari balik ponsel.


“Kau benar-benar bukan pria, bisa-bisanya kau menampar seorang wanita” pekik Dakota.


“Kau pikir aku yang menamparnya” ucap pria itu dari balik ponsel.


“Aku lah yang menampar bawahanmu ini, Nyonya Muda dari keluarga Reinhard” ucap salah seorang wanita dari balik ponsel. Dakota pun langsung mengenali suara wanita itu.


“Ka ... Kamila” ucap Dakota.


“Ternyata kau bisa juga menebak” ucap Kamila.


Tiba-tiba saja Pak Purnomo keluar dari kamar menghampiri Dakota di ruang tamu. Mendengar menantunya belum tidur dan masih menelvon, karena tidak ingin mengurusi urusan pribadi menantunya, Pak Purnomo hanya menguping pembicaraan menantunya dari balik dinding. Tapi saat mendengar ancaman dan teriakan dari menantunya, hal itu membuat Pak Purnomo langsung menghampiri Dakota. Dakota pun sadar dengan kehadiran papa mertuanya. Dakota langsung menloadspeaker pembicaraan panggilan masuk itu. Ponsel Dakota sudah Dakota letakkan di atas meja.


Saat ini Dakota langsung duduk di sofa, begitu juga dengan Pak Purnomo ikut duduk. Bahkan Mail dan Naon yang sedari tadi ikut berjaga di kediaman ikut bergabung karena sedari tadi, walau mereka sibuk mengurusi masalah yang sudah Fano dan Dakota perintahkan, mereka juga ikut menguping pembicaraan seirus antara Dakota dan pria misterius itu. Mereka sudah ikut bergabung di ruang tamu. Pak Purnomo sudah memainkan jarinya untuk semua orang agar tidak ada yang bersuara selain Dakota saja.


“Bagaimana bisa kau bersama dengan pria itu” ucap Dakota.


“Aku bersama dengan siapa itu bukan urusanmu” ucap Kamila.


“Kau masih saja tidak berubah, menyekap orang yang tidak bersalah” ucap Dakota.

__ADS_1


“Bersalah, bukannya sudah jelas, kaulah yang mencari masalah terlebih dahulu” ucap Kamila.


“Apa maksudmu?” tanya Dakota.


“Kau masih tidak tahu atau pura-pura tidak tahu” ucap Kamila.


“Kau menyalahkan aku atas apa yang sudah kau perbuat padaku” ucap Dakota.


“Sudah selesai berdebatnya Dakota Kaif Admidjaya” ucap pria itu kembali.


“Aku sudah tahu kau sebenarnya adalah Mr. Pich” ucap Dakota.


“Tentu saja kau tahu aku siapa, setelah sekian banyak hal yang sudah aku buat dalam hidup kalian, tapi kalian masih bisa bersantai sampai saat ini” ucap pria itu.


“Pria ini, siapa yang bersantai” batin Dakota.


“Kau tidak perlu bebasa-basi denganku, cepat lepaskan Yoki dan Kela” ucap Dakota.


“Bagaimana bisa aku dengan mudah melepaskan apa yang sudah menjadi buruanku, aku masih mau main-main dengan mereka. Bisa-bisanya kalian menjebak Beni dan Sena” ucap pria itu.


“Kenapa kau begitu peduli pada mereka, bukannya sudah jelas kau tahu mereka berdua ingin mengerjaiku, aku hanya membalas perbuatan keji Sena saja, tapi tidak tahu, kau begitu berusaha bahkan sampai menyekap Yoki dan Kela” ucap Dakota.


“Tentu saja aku peduli, Sena itu wanitaku” ucap pria itu.


“Kau sudah tua bangka masih saja menjadikan Sena sebagai wanitamu, kau harus tahu, Sena mengandalkanmu karena kau punya duit, jangan bilang Kamila dan Irma juga wanitamu, termasuk Mia” ucap Dakota.


“Jadi dia sudah tahu semua rencana kami” batin Dakota.


“Aku tidak ingin membahas hal lain denganmu, saat ini tolong lepaskan Yoki dan Kela” ucap Dakota.


“Aku tidak akan melepaskan mereka, silahkan kau jemput saja mereka” ucap pria itu.


“Aku rasa saat aku menjemput mereka, nyawaku sudah tidak kembali lagi nanti” ucap Dakota.


“Tergantung dari sikapmu, karena kau sudah berani main-main denganku, aku akan lihat sampai mana kapasitasmu. Akan aku kirim alamat mereka besok, ingat aku memintamu menjemput mereka, kau tidak boleh memberitahukan hal ini pada siapapun, termasuk pada suamimu. Jika tidak, aku bisa jamin nyawa bawahanmu ini akan lenyap” ucap pria itu.


“Oya, satu lagi ... kau tentunya sudah menerima foto terbaru ayahmu dari Irma. Kalau kau mau melihat keberadaan ayahmu, ikuti aturan mainku” ucap pria itu langsung memutus penggilan.


Setelah panggilan itu terputus, semua orang disekitar ruang tamu saling menatap. Belum ada yang membuka suara. Hingga Pak Purnomo memecahkan suasana mencekam di ruangan itu. Saat ini perasaan Dakota sudah campur aduk, belum lagi anaknya Alfata masih sakit.


“Lebih baik kau istirahat saja, hari juga sudah larut. Kami akan susun rencana untuk hal ini” ucap Pak Purnomo.


Dakota langsung mengangguk pada Pak Purnomo.


“Bagaimana aku menghadapi hal ini, apa aku sanggup menghadapi mereka nanti. Tuhan ... kenapa begitu banyak hal yang harus kami hadapi” batin Dakota.


Sesampainya Dakota di dalam kamar mereka.


“Ayah” ucap Alfata pelan.

__ADS_1


“Fata, ayah sudah gendong, tidur ya nak, biar cepat sembuh” ucap Fano.


“Suamiku” ucap Dakota melihat Fano sudah menggendong Alfata dalam pelukannya.


“Fata sangat rewel, benar kata Henri, sepertinya aku harus lembur malam ini” ucap Fano. Dakota langsung mendaratkan punggung tangannya di kening Alfata.


“Anakku masih panas” ucap Dakota sambil mengecup kening anaknya.


“Hengh ....” rengek Alfata menahan rasa sakti ditubuhnya.


“Nak, apa yang bisa bunda buat, seandainya saja rasa sakitnya bisa pindah pada bunda” ucap Dakota sambil mengelus pipi Alfata.


“Sayang, lebih baik kau tidur, biar aku yang berjaga untuk Fata” ucap Fano.


“Kau saja yang tidur, besok kau harus kembali kekantor. Aku besok libur saja, anakku sedang sakit” ucap Dakota.


“Tidak apa-apa, kau juga sudah lelah seharian ini, biar aku yang berjaga” ucap Fano.


“Begini saja, kita ganti-gantian. Kau juga sudah lelah” ucap Dakota.


Setelah Alfata tidur dalam pelukan Fano. Fano pun meletakkan kembali tubuh Alfata kekasur, namun saat Fano meletakkan tubuh Alfata, kembali lagi Alfata merengek menahan rasa sakit di tubuhnya. Melihat Fano terlihat lelah, Dakota pun meraih tubuh Alfata. Dakota sudah duduk disamping Alfata. Sementara Fano, langsung masuk kekamar mandi untuk merapikan diri. Sedari kembali dari IndoBoutik Fano sama sekali belum mengganti pakaiannya.


“Jagoan bunda, gak boleh nangis, main game saja hebat, masa melawan sakit langsung nangis” ucap Dakota sambil mengepok-epok pantat Alfata.


Beberapa menit kemudian saat Fano selesai mandi dan memakai piyamanya. Fano pun keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Begitu terkejutnya Fano melihat istrinya sudah menangis sambil mengelus-elus tubuh anaknya.


“Kenapa dia menangis” batin Fano. Fano pun langsung beranjak mendekati istrinya.


“Sayang, anak kita akan sembuh, tadi kau bilang pada Fata jangan nangis, sekarang kau malah menagis” ucap Fano sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dakota pun langsung berbalik badan menghadap pada Fano, mata Dakota sudah basah.


“Aku sangat sedih saat ini, bukan karena anakku sakit saja, tapi Yoki dan Kela saat ini sedang disekap” ucap Dakota dalam pelukan suaminya.


“Aku sudah tahu hal ini, ini bagian dari rencana kita” ucap Fano.


“Apa maksudmu” ucap Dakota.


“Kami sudah menyusun bayanyk planing, maaf aku tidak mengatakan hal ini dari awal padamu, kau tidak perlu cemas, saat ini anak kita sedang sakit, fokus saja pada Fata” ucap Fano sambil melap pipi istrinya.


“Tapi saat ini Kela sudah pingsan, tadi aku juga barusan mendengar pipi Yoki ditampar. Kita tidak boleh melibatkan mereka terlalu jauh, mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini” ucap Dakota merasa bersalah pada Yoki dan Kela.


“Aku tahu sayang, tapi ini salah satu cara untuk masuk dalam perangkap mereka. Sayang, dengarkan aku ... malam ini lebih baik kau istirahat, Fata juga sudah kembali tidur, aku akan berjaga, nanti kalau aku sudah ngantuk aku akan membangunkanmu” ucap Fano.


Dakota pun langsung mengangguk pada Fano. Karena memang seharian ini Dakota sangat lelah, ada banyak hal yang sudah dia lalui. Dakota sudah berbaring di samping Fano. Fano pun mengelus punggung istrinya agar Dakota bisa tidur nyenyak.


BERSAMBUNG............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komentar ya, di Vote juga boleh🙏


See You🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2