
# Kediaman Reinhard
“Bagaimana keadaan mereka?” tanya Pak Purnomo saat Dokter Mia keluar dari kamar Dakota.
“Tubuh mereka harus segera istirahat, mereka juga belum makan, sepertinya saya harus menyuntik mereka dengan obat penenang” ucap Dokter Mia minta ijin pada Pak Purnomo. Pak Purnomo pun masuk kedalam kamar karena menyadari ada yang aneh dengan Alfata.
“Aku serahkan padamu” ucap Pak Purnomo sambil meraih tubuh Alfata dari kasur. Ternyata Alfata belum tidur dan Pak Purnomo sangat menyadari keadaan Alfata yang pura-pura tidur.
“Baik Tuan, saya akan laksanakan sebisa saya” ucap Dokter Mia kembali melanjutkan tugasnya pada Dakota dan ibu Lena. Tubuh Dakota dan ibu Lena sudah berbaring di atas kasur, karena sugesti dari Dokter Mia membuat mereka cepat mengantuk.
“Kakek” ucap Alfata sambil memeluk Pak Purnomo.
“Cucuku ini masih kecil, bisa-bisanya dia menutupi kesedihannya dari ibunya” batin Pak Purnomo.
“Kakek, kapan ayah akan kembali?” tanya Alfata sembari memperhatikan wajah Dakota sudah tidur dengan lelap.
“Kakek akan ceritakan padamu nanti, lebih baik kita keluar dari kamar ini, biarkan nenek dan bundamu istirahat” ucap Pak Purnomo. Pak Purnomo pun membawa Alfata keluar dari kamar anaknya.
“Kakek ... aku kangen ayahku ... kapan ayahku kembali kek ....” ucap Alfata sambil menyeka air matanya.
“Ayahmu akan kembali, pegang ucapan kakek” ucap Pak Purnomo sambil mengelus punggung Alfata.
“Baiklah, aku percaya pada kakek, aku tidak akan menangis, nanti bunda ikut bersedih lagi” ucap Alfata.
“Siapa yang melarangmu menangis, menangislah jika kau bersedih, tidak ada yang melarangmu menangis” ucap Pak Purnomo semakin sedih melihat Alfata terlihat pura-pura tegar.
“Nanti kalau aku menangis, siapa yang menjaga bunda, ayah belum kembali, huhu ....” tangis Alfata semakin menjadi di pelukan Pak Purnomo.
“Menangislah, kau masih kecil, belum waktunya untuk menjadi dewasa” ucap Pak Purnomo sambil memeluk erat cucunya.
__ADS_1
Tidak terasa waktu terus berjalan, obat penenang yang Dokter Mia berikan pada Dakota dan ibu Lena beraksi dengan baik, bahkan waktu sudah berjalan selama sehari semalam, namun Dakota belum juga bangun. Ternyata dosis obat penenang lebih banyak di berikan pada Dakota karena tubuh Dakota sangat tertekan dengan situasi saat ini dan untuk ibu Lena sudah lebih dulu sadar. Hingga pagi berikutnya, Dokter Mia masih berjaga di kediaman Reinhard. Bahkan Haris dan Yohana juga datang kekediaman Reinhard untuk berkunjung. Alfata sudah masuk kedalam kamar, karena Dokter Mia mengatakan efek dari obat penenang pada tubuh Dakota sudah habis.
“Bunda” ucap Alfata sambil mengelus pipi Dakota. Perlahan Dakota sadar dengan suara barusan tidak asing ditelinganya. Mata Dakota pun terbuka dan melihat anaknya sudah berbaring disampingnya.
“Alfata anakku” ucap Dakota langsung memeluk tubuh Alfata. Dakota pun langsung melepas tubuh Alfata setelah sadar sudah ada sahabatnya ikut bergabung di dalam kamar.
“Beb ....” ucap Yohana langsung memeluk tubuh Dakota.
“Beb ... kau datang kemari” ucap Dakota sambil mengelus perut Yohana yang mulai membuncit.
“Bagaimana persaanmu saat ini?” tanya Yohana pada Dakota.
“Saat ini aku masih syok dengan semua ini beb, aku juga tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur” ucap Dakota sambil menunduk.
“Nyonya Dakota saya minta maaf, anda tidur selama 30 jam” ucap Dokter Mia sambil melihat jam tangannya.
“Sepertinya kalian berdua harus berbicara, Alfata biarkan bundamu berbincang dengan tante Yohana” ucap ibu Lena sembari meraih tangan Alfata. Perlahan ibu Lena, Alfata, Dokter Mia dan Siti langsung keluar membiarkan Dakota dan Yohana di dalam kamar.
“Beb ... kita berdoa saja supaya suamimu segera kembali, aku yakin Fano pasti ada disuatu tempat saat ini” ucap Yohana lagi.
“Aku juga berharap demikian, tapi bagaimana jika ... jika harapanku itu tidak terjadi beb ... aku sangat takut jika dia tidak kembali ... aku ... aku mungkin akan menyusulnya ....” tangis Dakota di pelukan Yohana.
“Beb ... kau tidak boleh bicara begitu, Dokter Henri sudah melaporkan hasil penyelidikannya pada kakek Purnomo, tidak ada sampel yang menunjukkan golongan darah Fano maupun golongan darah Manajer Naon, hanya ada sampel golongan darah dari awak dan kapten kapal, serta para pengurus kapal” ucap Yohana.
“Saat aku meninggalkan kapal itu, sedikit pun dia tidak melirik padaku, hatiku sangat sakit beb ... setidaknya dia memegang tanganku ini, dengan wajah marah, dia malah mengusirku dari kapal itu, aku masih ingat wajah suamiku berpaling dariku untuk pertemuan terakhir kami” ucap Dakota masih memeluk Yohana.
“Suamimu melakukan hal itu untuk kebaikanmu, jika dia melihatmu mungkin dia tidak ingin berpisah denganmu saat itu, jika dia tidak menyuruhmu pergi, bisa jadi kau juga tidak akan bertemu dengan Alfata lagi. Beb ... hidup ini terus berlanjut, lihat anakmu Alfata sangat mirip dengan Fano, bukan hanya Alfata, ayah mertua juga sudah kembali, kau harus keluar dari kamar ini” ucap Yohana sambil mengangkat tubuh Dakota dari kasur.
“Ayah ....” ucap Dakota masih tidak percaya.
__ADS_1
“Iya beb ... ayah mertua sedang berada di ruang tamu” ucap Yohana mengajak Dakota keluar dari kamar. Mereka pun beranjak keluar dari kamar menuju ruang tamu. Ternyata semua orang sudah kumpul di ruang tamu begitu juga dengan Pak Admidjaya dan keluarga besarnya.
“Anakku yang malang ....” ucap ibu Endangsi langsung meraih tubuh Dakota.
“Ibu ....” tangis Dakota kembali pecah sambil memeluk tubuh ibu Endangsi.
“Ibu sangat tahu perasaanmu saat ini nak, rasa kehilangan ... tapi ibu yakin, Fano pasti kembali nak” ucap ibu Endangsi sambil mengelus punggung Dakota.
Ibu Lena dan Alfata ikut menangis melihat Dakota kembali menangis. Ketika Dakota melap air matanya, tidak salah lagi arah pandangan Dakota tertuju pada Pak Elcid Admidjaya. Orang yang selama ini Dakota cari keberadaannya, bahkan Dakota sampai harus bergabung menjadi penari demi mencari tahu keberadaan ayah yang sangat dia rindukan. Tubuh Dakota langsung gemetar melihat tubuh Pak Elcid duduk di kursi roda. Dakota langsung melepas tubuhnya dari ibu Endangsi, perlahan langkah kaki Dakota semakin berat melihat keadaan ayahnya semakin tua bahkan terlihat lebih kurus dari kakeknya Pak Admidjaya.
“A ... ayah ... ini benaran ayahku ... ayahku ....” tangis Dakota pecah sambil mencium kaki Pak Elcid, kemudian Dakota langsung memeluk tubuh Pak Elcid.
“Ayah .... tolong jawab aku, aku ini anakmu, ini aku Dakota ... kau berjanji akan membawaku jalan-jalan ... kemana saja ayah selama ini, huhu .....” tangis Dakota. Namun tidak ada respon dari Pak Elcid. Karena tidak ada respon dari Pak Elcid, Dakota pun memperhatikan wajah Pak Elcid sudah penuh dengan air mata.
“Ayah ... kenapa ayah diam saja, aku ada disini, ada apa denganmu ... kenapa ayah duduk dikursi roda ini, bukankah ayah akan menggendongku ....” ucap Dakota sambil meraba wajah ayahnya.
“Hiks ....” Hanya suara tangisan yang keluar dari mulut Pak Elcid. Tidak lama kemudian Eveno memberikan papan tulis kecil beserta spidol pada Pak Elcid. Tangan Pak Elcid langsung gemetar menulis kata demi kata untuk putrinya.
“Putriku Dakota, maafkan ayahmu ini tidak bisa bersama denganmu, ayah sangat merindukanmu” tulis Pak Elcid pada Dkaota. Dakota terheran-heran melihat ayahnya terlihat seperti orang bisu.
“Nak, ayahmu saat ini tidak bisa bicara” ucap Pak Admidjaya.
“Huhu ... bahkan ayahku tidak bisa bicara, apa yang sudah ayah alami selama ini ... aku juga sangat merindukanmu ... ayahku yang malang ... pasti ayah sudah menderita selama ini, huhu ....” Tangis Dakota sambil menciumi wajah ayahnya. Semua orang kembali bersedih melihat momen itu, bahkan Haris dan Pak Admidjaya ikut menangis.
BERSAMBUNG.................
Hai Reader 🤗
Mohon like dan komentar ya 🙏
__ADS_1
Jangan lupa Vote biar author semangat ☺️
See You 👋👋👋