Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 66. Pengakuan


__ADS_3

Malam semakin berlanjut, Naon dan Siti melaksanakan perintah Fano. Para pengawal Fano sudah menyekap Susi dan Kamila di ruangan kosong. Ruangan itu sangat gelap, bisa dibilang ruangan itu merupakan gudang. Gudang itu berada di apartemen milik Fano. Sengaja dibuat gudang di bawah lantai dasar atau bawah tanah. Sementara Susi dan Kamila sudah meronta-ronta karena disekap dan wajah mereka tertutup tidak bisa melihat sekitar.


“Buka penutup mereka” ucap Naon pada pengawal. Kedua tangan mereka sudah di ikat dengan tali kebagian belakang.


Naon sudah memeriksa handphone Susi juga handphone Kamila. Mereka disekap secara diam-diam oleh pengawal. Begitu terkejutnya mereka melihat Naon sudah berpenampilan berbeda, begitu juga melihat Siti. Siti sendiri sudah memakai sapu tangan dan kostum lengkapnya.


“Kamu” ucap Kamila terkejut.


“Manajer Naon” sahut Susi juga terkejut.


“Bagaimana rasanya disekap” tanya Naon.


“Apa maksudmu kenapa kau menyekap kami, kau tidak tahu aku siapa” teriak Kamila.


“Manajer Naon, kenapa kau berbuat begini” ucap Susi heran.


“Sekarang kalian merasakan bukan rasanya disekap” sindir Naon.


“Kau hanya seorang manajer kenapa kau sangat sombong, cepat lepaskan kami” teriak Kamila.


“Sekarang kau bisa teriak, bagaimana dengan nona Dakota yang sudah kalian suruh untuk diculik” ucap Naon pada intinya.


“Manajer Naon, aku tidak tahu mengenai Dakota” ucap Susi.


“Kau bahkan seorang manajer rendahan, berani sekali kau menuduhku, apa kau punya bukti” ucap Kamila.


“Nona Kamila, ucapanmu saja sudah mengarah pada kata punya bukti, seolah-olah kau sudah tau bahwa Dakota diculik” ucap Naon.


“Sial, manajer rendahan ini sangat pandai” batin Kamila.


Kamila langsung sadar pada ucapannya, dia sudah salah bicara, seharusnya dia menanyakan apa benar Dakota diculik, kapan dia diculik, malah menanyakan bukti. Kamila hanya terdiam, semakin banyak dia bicara semakin terbongkar oleh Naon si pembaca raut wajah dan psikologis orang.


“Manajer Naon, kau sudah salah menuduh kami” ucap Susi berbohong.


“Baiklah, aku sudah cek handphone kalian. Susi tadi siang saat istirahat di toilet wanita kau menghubungi nona Kamila, di handphonemu sudah ada buktinya. Begitu juga dengan Kamila, kau juga sudah melakukan panggilan pada pria asing saat selesai menelvon Susi. Bahkan aku melihat isi chat kalian ada semua kata-kata benci kalian tularkan untuk nona Dakota, yang lebih parah lagi, 30 menit setelah nona Dakota diculik dari kantor, nona Kamila mengirim pesan chat, mengatakan bahwa wanita ingusan itu sudah dibereskan. Apa kalian masih tidak mau mengakui hal ini” ucap Naon.


“Kau hanya mengarang cerita, kata dibereskan itu belum tentu, itu hanya isi chat tidak bisa dijadikan sebagi bukti falid, sudahlah manajer sialan, cepat lepaskan aku” teriak Kamila.


“Aku hanya ingin kalian mengaku, supaya malam ini tidak panjang” tegas Naon.


Kamila dan Susi saling memandang. Naon dan Siti sudah kesal melihat mereka belum juga mengaku, mereka hanya ingin Kamila dan Susi segera mengaku supaya bukti pengakuan itu bisa digunakan untuk menghancurkan mereka.


“Manajer Naon, kau sudah salah menuduh. Isi chat itu hanya kata-kata kebencian saja” ucap Susi berdalih.


“Wah, kalian sudah meremehkan aku. Sayangnya aku tidak suka memukul perempuan, seandainya saja majikanku kalian buat sampai sekarat, kalian sudah mati ditanganku” tegas Naon, dia mematikan lampu gudang. Siti melakukan tugasnya untuk membereskan mereka.


“Apa yang kalian lakukan.”


“Lepaskan kami.”


Teriak Kamila dan Susi


“Bagh ... bugh ....” kaki Siti sudah melayang pada mereka berdua.


“Aduh ... sakit” Susi sudah meringis memegangi perutnya.

__ADS_1


“Aih ...” ringis Kamila.


“Kamu kenapa memukuli kami” teriak Kamila.


“Kau masih bisa bersuara” ucap Siti, cambuk panjang Siti sudah keluar. Dia menghabisi kedua gadis itu.


“Cetar .. Ceter ....”


“Ah ....”


“Sakit ....”


“Bak ... buk ....”


Suara tendangan bertubi-tubi dari Siti.


Teriakan mereka masih terdengar oleh Naon diluar gudang. Tidak berapa lama Naon kembali kedalam gudang. Naon sudah melihat keadaan Kamila dan Susi sudah sekarat, walau begitu bagian wajah mereka tidak hancur dibuat oleh Siti, karena mereka harus bisa bicara.


“Apa mereka sudah mau mengaku” tanya Fano.


Naon dan Siti sangat terkejut, pasalnya untuk hal seperti ini Presdir mereka tidak harus turun tangan. Kamila dan Susi mendengar suara Fano, walau tubuh mereka sudah luka-luka mereka masih bisa bergerak.


“Belum Presdir” ucap Siti meletakkan cambuknya.


“Fano” ucap Kamila.


“Presdir” ucap Susi terkejut.


“Aku berikan kalian kesempatan dua menit dari sekarang, kalian mengaku saja, apa kalian dibalik penculikan Dakota hari ini” tanya Fano.


“Presdir, bagaimana bisa Presdir peduli pada karyawan baru itu, apa dia selama ini sudah merayu Presdir” ucap Susi. Ucapan Susi itu menunjukkan bahwa itulah alasan dia membenci Dakota selama ini.


“Merayu katamu. Susi sadarkah kau, kau adalah karyawan andalan perusahaan, tapi kau masih bisa berbuat keji pada istriku. Harusnya tidak kau tau pun Dakota itu istriku kenapa kau harus menyuruh orang untuk meperkosanya” ucap Fano mengakui Dakota dihadapan Susi. Mendengar kata istri Susi sangat terkejut. Kamila tidak menyangka kalau Fano akan mengakui Dakota sebagai istrinya dihadapan karyawannya.


“Presdir, bagaimana bisa Dakota istri Presdir” ucap Susi gugup.


“Untuk apa aku harus memberitahukan padamu aku sudah menikah atau belum, sahabatmu itu juga tau bahwa Dakota istriku, kenapa kau tidak menggunakan otak cerdasmu itu” ucap Fano, dia semakin geram melihat mereka masih tidak mau mengakui.


“Apa, jadi kau sudah tau kalau Dakota istri Presdir, kenapa kau tidak memberitahuku” ucap Susi pada Kamila.


“Aku hanya membantumu, karena kau sangat benci padanya, kenapa kau jadi menyalahkan aku” sahut Kamila kesal dengan sahabatnya yang menyalahkannya.


“Harsunya kau bilang dari awal, kau memang wanita licik, kau sudah memanfaatkan aku” ucap Susi kesal pada Kamila. Mereka berdebat dihadapan Fano.


“Waktu kalian satu menit lagi, kalian mengaku atau tidak” tegas Fano.


“Kami tidak tahu apa-apa” ucap Kamila.


“Masukkan” perintah Fano. Tidak berapa lama anjing-anjing liar pemangsa sudah banyak masuk kedalam gudang dibawa oleh pengawal. Mata Kamila dan Susi langsung terbelalak melihat anjing-anjing itu terlihat menyeramkan.


“Aku sudah punya rekaman suaramu Kamila, kalau kalian tidak mau mengaku, anjing-anjing ini akan kulepas” ucap Fano.


“Aung ... aung ....” anjing-anjing itu sudah mengaung, bahkan air liur anjing-anjing itu sudah menetes siap menerkam mangsa.


“Kau harus tahu, aku tidak bersalah” ucap Kamila.

__ADS_1


“Kau pikir aku orang yang tegaan, lepas ...” perintah Fano terpotong oleh Susi.


“Tunggu Presdir, saya mengaku” teriak Susi. Kamila sangat ketakutan melihat anjing-anjing itu sudah mendekat pada mereka.


“Kalian mundur” perintah Fano. Pengawal menunduk dan membawa anjing-anjing itu keluar dari dalam gudang.


“Aku bukan orang yang punya banyak waktu untuk meladeni kalian” ucap Fano.


“Presdir, maaf semua rencana penculikan Dakota, kamilah yang sudah menyuruh penculik itu. Tapi Kamilalah yang merencanakan ini semua dari awal” ucap Susi menatap sinis pada Kamila.


“Kau! Kaulah yang dari awal menyuruhku untuk menghancurkannya hari ini, aku hanya membantumu” ucap Kamila kesal pada Susi.


“Aku tidak ingin mendengar kalian berdebat” tegas Fano, membuat Kamila dan Susi merinding, aura Fano sudah terlihat kejam.


“Maaf Presdir” ucap Susi, air mata Susi sudah mengalir. Kamila hanya diam, dia tidak ingin minta maaf pada Fano.


“Maaf Presdir, Aku menelvon Kamila siang tadi, menyuruhnya untuk menghancurkan Dakota hari ini. Kamila menyuruh pembunuh bayaran, uangnya sudah di transfer oleh Kamila pada mereka. Kamila memerintahkan pada mereka untuk memperkosa Dakota dan mendokumentasikan pemerkosaan itu seolah-oleh Dakota tidur dengan pria itu, lalu dokumentasi itu rencananya akan disebarkan di media sosial juga di kantor, bahwa Dakota adalah wanita perayu” ucap Susi menjelaskan, air mata Susi kembali mengalir. Fano menatap pada Kamila, tatapan Fano seperti ingin membunuh.


“Fano, maafkan aku, aku hanya membantu Susi, aku tidak memerintahkan mereka untuk membunuhnya, dia hanya diperkosa, besok dia pasti baik-baik saja. Bagaimanapun aku masih sepupumu, tolong kali ini maafkan aku” ucap Kamila mengaku pada Fano.


"Baik-baik saja katamu" geram Fano mendengar ucapan Kamila, sangat terlihat jelas Kamila tidak tulus minta maaf.


"Presdir tolong maafkan kami" ucap Susi, wajah mereka sudah tersungkur kelantai.


“Tiada maaf untuk kalian" tegas Fano.


"Karena kalian sudah mengaku, pengakuan kalian baru saja direkam. Semua cctv ada digudang ini, suara kalian juga sudah terekam. Siap-siaplah masuk penjara, karena kalian dibalik penculikan ini” ucap Fano lagi, dia langsung beranjak keluar dari ruangan gelap itu.


“Fano, kau tidak akan berbuat itu padaku kan” teriak Kamila. Fano mengabaikan mereka. Fano keluar dari gudang itu, tangannya masih mengepal.


“Kalau saja kalian bukan wanita, aku sudah menghancurkan kalian malam ini hingga babak belur” batin Fano.


Naon kembali membawa Fano pulang, sementara Siti kembali melaksanakan tugasnya membereskan Susi dan Kamila.


BERSAMBUNG..........


Hai Reader, terima kasih sudah mampir,


Jangan lupa like dan komentarnya ya,😊


Jadiin Favorite, dan sesekali Vote ya😘


Reader: Aku gak mau thor, 😏😏😏


Author: Kenapa reader?😭😭😭


Reader: thor pelit gak up banyak???😏😌😖😔😢


Author: 😭😭😭😭😭


Reader: jangan nangis thor, nanti kami like dan komentar😄


Author: terima kasih Reader🙏🙏🙏🙏


See you🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2