
Perintah Fano untuk segera membawa Yohana kembali sudah Naon laksanakan. Setelah Naon mengantarkan Yohana kembali, Naon pun kembali menuju Hotel Admidjaya.
“Aku tidak mau naik mobil ini, aku bukan penjahat ....” teriak Pak Sutan ketika pihak kepolisian memasukkan Pak Sutan kedalam mobil tahanan. Walau Pak Sutan tidak bisa berjalan, ia masih mampu membrontak.
“Aku dengar telah terjadi penyerangan oleh penjahat di dalam Aula.”
“Awalnya kita disuruh menjauh dari radius 500 meter karena keberadaan bom bunuh diri.”
“Sepertinya penjahatnya bukan hanya satu orang saja.”
“Aku sampai mengamankan semua barang berhargaku kedalam mobil, karena takut Hotel Admidjaya benar-benar akan meledak.”
Ucap masyarakat yang ada di sekitar pekarangan Hotel. Kebetulan Hotel Admidjaya berdiri di tengah-tengah kota. Ketika mengetahui ada bom bunuh diri di dalam Aula Hotel, pihak kepolisian sempat menyuruh warga untuk menjauh dari Hotel. Namun saat diketahui bahwa bom bunuh diri itu ternyata palsu, pihak kepolisian langsung mengabari warga sekitar untuk kembali karena keadaan sudah aman.
“Sepertinya badai ini sudah berlalu” batin Naon ketika memasuki lobi utama hotel. Naon pun melihat keatas karena helikopter baru saja lewat.
“Apa Nyonya Muda sudah ditemukan” batin Naon. Naon pun memasuki hotel, belum jauh Naon melangkah, di ruang tunggu sudah muncul Pak Purnomo dan Haris diikuti oleh Mail.
“Selamat malam Tuan Besar” ucap Naon ketika langkah kaki Pak Purnomo semakin dekat padanya.
“Kau sudah kembali” ucap Pak Purnomo sembari mengelus pundak Naon.
“Sudah Tuan” ucap Naon sambil menunduk.
“Bawa kembali wanitamu kekediaman” ucap Pak Purnomo langsung beranjak pergi. Haris pun tersenyum mendengar ucapan Pak Purnomo barusan.
“Apa ....” ucap Naon sangat terkejut mendengar ucapan Pak Purnomo.
“Sepertinya Eveno juga tertarik pada Siti” canda Haris pada Naon sambil melambaikan tangan.
“Berjuanglah anak muda, jangan sampai kalian cekcok karena perempuan” tawa Mail mengikuti langkah Haris.
Naon pun melangkah menuju tangga darurat, lift hotel tidak berfungsi karena insiden di Aula, membuat akses lift menuju Aula rusak. Walau Aula Hotel berada di lantai 8, semua orang harus melewati tangga darurat bahkan sebagian tamu undangan serta korban baku hantam tadi terpaksa di oper melalui helikopter dan melalui tangga darurat.
Siti sudah merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit, apa lagi luka pada tubuhnya masih basah karena pecahan dinding cermin Aula tadi hampir mengenai semua kaki dan tangannya, bahkan wajahnya juga tergores.
“Aku masih mampu berjalan” ucap Siti menolak Eveno untuk menggendongnya. Siti tetap menolak niat baik Eveno, terpaksa Eveno memapah tubuh Siti untuk menuruni tangga.
__ADS_1
“Kau memang keras kepala” sahut Eveno sembari memperhatikan anak tangga yang akan mereka turuni. Begitu juga dengan Siti ikut memperhatikan tangga yang akan dia turuni, sampai tidak menyadari bahwa Naon sudah berada dekat dengan mereka.
“Siti” ucap Naon melihat Siti sudah di papah oleh Eveno. Mendengar namanya disebut, Siti pun memperhatikan sekitar, saat Siti melihat kebawah, begitu terkejutnya Siti melihat Naon sudah berdiri dihadapannya.
“Ma ... najer Naon ....” teriak Siti tidak percaya melihat kehadiran Naon.
“Tubuhmu sudah terluka begini kau masih mampu menuruni tangga” ucap Naon langsung meraih tubuh Siti dari sisi Eveno.
“Huhu ... aku pikir aku tidak akan bisa lagi meihatmu, kau sangat jahat” ucap Siti langsung memukuli pundak Naon.
“Siti, kau masih luka, lebih baik kita segera turun” ajak Eveno. Naon pun langsung menepiskan tangan Eveno, ketika Eveno meraih pundak Siti. Siti masih menangis karena sangat merindukan kehadiran Naon, tidak sadar kalau kedua pria yang ada didekatnya sudah saling menatap dengan sinis memperebutkannya.
“Mari kita pulang, lukamu harus segera di obati” ucap Noan langsung mengangkat tubuh Siti dalam pelukannya. Eveno sangat terkejut melihat Siti pasrah saja di gendong oleh Naon.
“Wanita ini sangat keras kepala ketika aku ingin menggendongnya, tapi saat Naon meraihnya, dia tidak menolak, apa mungkin mereka saling menyukai. Kalau iya, rasa sukaku ini kuluapkan pada siapa” batin Eveno.
“Kau tidak boleh pergi lagi, kau harus ijin padaku kemana pun kau pergi” ucap Siti sembari memeluk tubuh Naon. Naon pun melihat tubuh Siti dari dekat.
“Pakaiannya sangat terbuka begini, dia nyaman saja memakai pakaian ini” batin Naon.
“Apa yang kau bilang” ucap Siti masih tidak sadar dengan ucapan Naon barusan.
“Lupakan saja” ucap Naon.
Sementara itu, Helikopter milik Pak Rapijay sudah membawa Fano dan Dakota menuju kediaman Reinhard. Dakota masih pingsan dalam pelukan Fano.
“Kenapa aku mencium aroma tubuh suamiku” batin Dakota. Tubuh Dakota masih lemas karena luka di sekujur tubuhnya masih basah. Walau samar-samar Dakota mencoba melirik sekitar dan melihat wajah Fano.
“Apa aku bermimpi” ucap Dakota kembali memejamkan matanya.
“Sayang, kau tidak bermimpi, aku ada disisimu, tidak akan ada lagi yang menyakitimu” ucap Fano mendekap tubuh Dakota dalam pelukannya.
“Kau semakin kurusan, sudah banyak luka yang kau dapat” batin Fano sembari memperhatikan jari-jemari istrinya.
Tidak lama kemudian, Helikopter itu sudah mendarat di kediaman Reinhard.
“Djhudjhu ... djhudjhu ....” suara helikopter mulai mendekati area halaman belakang kediaman Reinhard.
__ADS_1
“Tuan Muda ....” ucap para pelayan sangat terkejut melihat kedatangan Fano menggendong Dakota turun dari helikopter.
“Selamat malam tuan muda” ucap para pengawal menyambut kedatangan Fano.
Ibu Lena sudah mendapat kabar bahwa anaknya masih hidup, bahkan Dokter Mia sudah stand by di kediaman Reinhard untuk merawat para pengawal yang terluka, begitu juga dengan Dokter Henri. Ketika Fano sampai di lobi utama kediaman, semua orang sangat terkejut menyambut kedatangan Fano.
“Anakku Fano ....” ucap ibu Lena sembari membuka pintu kamarnya.
“Mama ....” ucap Fano membawa Dakota masuk kedalam kamar, Dokter Mia pun ikut masuk kedalam sambil membawa alat medisnya.
“Dokter Mia tolong balut semua luka istriku” ucap Fano.
“Aku akan melakukan tugasku” ucap Dokter Mia langsung melakukan tugasnya.
“Fano, Dakota sudah banyak melalui kesedihan akhir-akhir ini. Mulai saat ini buatlah dia tersenyum” ucap ibu Lena sembari merapikan rambut Dakota. Air mata ibu Lena seketika langsung keluar melihat luka di tubuh menantunya.
“Mama, jangan menangis ... aku pasti membuatnya bahagia, semua sudah berlalu” ucap Fano langsung memeluk ibu Lena.
“Nak, mama tidak menangis, mama bahagia ... anak mama sudah kembali, kalau saja kau tidak kembali, mama tidak tahu harus bagaimana, kemungkinan mama akan menyusulmu” ucap ibu Lena.
“Aku sudah kembali, mama tidak boleh menangis lagi” ucap Fano sembari melap air mata ibu Lena.
“Dimana Fata?” tanya Fano sembari memperhatikan sekitar.
“Aku sangat rindu padanya, terakhir kali aku lihat hasil rekaman kamera pengawas, dia bersembunyi di dalam kamar sambil memeluk fotoku” batin Fano.
“Alfata sudah tidur, sedari awal Dakota berangkat kehotel Admidjaya, dia langsung menangis histeris, bahkan dia meminta ikut dengan papamu, tapi papamu menolak, tidak ada yang bisa membujuknya, dia langsung lari kedalam kamar. Lama mama menunggu di luar, karena kelelahan menangis, akhirnya Fata tertidur di dalam kamarmu” ucap ibu Lena.
“Aku pergi dulu melihat Fata” ucap Fano melepas pelukannya dari ibu Lena. Ibu Lena mengangguk, Fano pun beranjak menuju kamarnya.
BERSAMBUNG...........
Author kembali lagi. Terima kasih sudah mampir reader. Tetap like dan komentar ya, biar author semangat 🙏
Sesekali di Vote juga boleh ☺️
See You 👋👋👋
__ADS_1