Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 109


__ADS_3

Pak Admidjaya menahan emosinya untuk tidak menyerang Pak Sugiono. Dia langsung melap pipinya yang sudah basah. Pak Purnomo hanya terdiam, dia memahami situasi dan keadaan dari Pak Admidjaya saat ini.


Tidak berapa lama kemudian, Mail datang dari luar kamar langsung melompat kearah Pak Purnomo juga Pak Admidjaya.


“Tuan Besar ... tolong menunduk” teriak Mail berguling melindungi tubuh Pak Purnomo. Mereka yang ada di dalam kamar itu langsung menunduk.


“Apa yang terjadi” teriak Pak Purnomo dan Pak Admidjaya serentak.


“Segera lindungi Tuan Besar” teriak Mail pada pengawal yang ada di dalam kamar. Para pengawal itu langsung berkeliling melindungi tubuh Pak Purnomo dan Pak Admidjaya.


Tidak lama kemudian sudah datang dua orang pria penyusup membawa senjata api.


“Bang ... bang ...” penyusup itu langsung menembak tubuh Pak Sugiono dari arah celah pintu kamar Hotel. Mail mencoba membalas menembak penyusup itu, namun mereka sudah berhasil kabur. Tubuh Pak Sugiono langsung tewas ditempat.


“Sial, siapa mereka. Sugiono sudah meninggal” pekik Pak Purnomo.


“Aku akan kejar mereka” ucap Mail.


Mail langsung keluar mengejar kembali para penyusup itu.


Beberapa menit kemudian, pengawal yang ada disekitar Hotel sudah memeriksa kamar Fano. Semua orang yang didalam kamar itu termasuk ibu Melda ikut tertembak. Tubuh ibu Melda sudah tidak bernyawa lagi. Pengawal itu langsung memeriksa keadaan di Hotel sampai keadaan kondusif. Bahkan Mail kalah cepat bergerak, para penyusup itu sudah jauh menghilang. Mereka meninggalkan surat dari arah koridor. Mail mengambil surat itu. Dia kembali mengkerahkan semua tim keamanan Hotel untuk berjaga siaga ditempat.


“Lindungi sekitar” teriak Mail pada semua orang yang berada diluar kamar Pak Purnomo.


“Tuan Besar, saya minta maaf. Ini salah saya, kedua penyusup itu menyamar menjadi pengawal” ucap Mail menghadap pada Pak Purnomo.


“Ini pasti ulah Mr. Pich” ucap Pak Admidjaya.


“Perketat keamanan” perintah Pak Purnomo. Semua pengawal langsung bergerak diluar.


“Maaf Tuan Besar, ada surat yang mereka tinggalkan” ucap Mail memberikan surat itu pada pada Pak Purnomo.


Pak Purnomo dan Pak Admidjaya langsung menerima surat itu. Namun surat itu berupa gambar keluarga kecil, gambar bayi itu digendong ibunya disampingnya ayah sibayi memeluk ibu si bayi, namun gambar sibayi terpanah, gambar itu bertuliskan inisial MP. Pak Purnomo sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Admidjaya langsung menghubungi Seto dan Naon untuk memperketat penjagaan di Rumah Sakit. Apa lagi Dakota belum bisa bergerak.


“Kita harus kerumah sakit, Mail segera persiapkan mobil” pekik Pak Purnomo memahami gambar petunjuk itu mengarah pada cucunya.


“Baik Tuan” ucap Mail. Mereka sudah bergerak kembali menuju Rumah Sakit.

__ADS_1


#Rumah Sakit Kota X.


Waktu terus berjalan, karena kejadian penyekapan Dakota yang melibatkan kedua keluarga besar dari Pak Purnomo dan Pak Admidjaya, semua orang masih di Rumah Sakit. Yohana dan Siti masih menerima perawatan intens dari Rumah Sakit. Saat Fano mendapat kabar dari papanya, bahwa akan ada serangan dari Mr. Pich ke Rumah Sakit, bahkan sasaran Mr. Pich adalah Alfata anaknya. Ibu Lena terpaksa menemani Yohana dan Siti, karena Naon, Seto dan Haris sudah sibuk berjaga diluar.


Fano dan Haris langsung memperketat situasi di dalam ruangan Dakota. Apa lagi ruangan Dakota baru saja di pindahkan dari Ruangan ICU. Tubuh Dakota bahkan belum kering sepenuhnya. Semua orang terpaksa terkurung di dalam Rumah Sakit itu. Dakota masih tertidur setelah memberikan ASI kembali pada Alfata. Alfata juga ikut tidur karena sudah kenyang.


Tidak berapa lama, suara tembakan senjata api sudah terdengar ditelinga Fano dari arah luar ruangan istrinya. Fano langsung menutup telinga Alfata yang masih tertidur lelap.


“Apa yang terjadi” ucap Dakota membuka mata. Dia sangat terkejut mendengar suara tembakan. Mendengar itu kembali tubuh Dakota gemetar, apa lagi dia baru saja disekap. Fano langsung beranjak menenangkan tubuh istrinya.


“Sayang, kau akan baik-baik saja. Aku ada disini” ucap Fano mencium kening Dakota.


“Anak kita, anak kita ada dimana?” tanya Dakota, rasa gemetar dari tubuh Dakota belum hilang.


“Dia ada disampingmu” ucap Fano. Dakota langsung memandangi tubuh Alfata masih tertidur disampingnya.


“Kalian baik-baik saja” ucap Pak Purnomo menghampiri anak dan menantunya. Fano balas mengangguk. Disusul oleh Pak Admidjaya masuk kedalam ruangan itu, wajah Pak Admidjaya sudah terlihat cemas.


“Kakek kenapa?” tanya Dakota.


Pak Purnomo langsung memainkan mata pada Fano untuk keluar sebentar agar menantunya itu tidak terlalu cemas dengan situasi yang baru saja terjadi. Fano keluar sebentar meninggalkan Dakota dan anaknya. Haris sudah masuk kedalam menemani Dakota dan Alfata.


Diluar ruangan Dakota


“Tembakan barusan, apa itu sebagai ancaman” ucap Fano bertanya pada papanya dan Pak Admidjaya.


“Kalian harus segera keluar dari Rumah Sakit ini” ucap Pak Admidjaya menyerahkan selembar surat kembali pada Pak Purnomo. Pak Purnomo membaca isi surat itu, dia tidak ingin membuat Fano ikut cemas.


“Aku sudah dapat petunjuk, harta berhargamu baru saja lahir, tinggal menunggu waktu saja, hartamu itu pasti akan hancur, dari MP” isi dari surat itu.


“Kita tidak punya banyak waktu lagi, kalian harus segera keluar dari Rumah Sakit ini. Pengawasan dari Rumah Sakit ini tidak bisa menjamin kalian aman disini. Target mereka adalah anakmu” ucap Pak Purnomo menyerahkan surat itu pada Fano. Pak Purnomo tidak bisa lagi menutupi hal itu dari Fano. Fano sangat terkejut membaca surat itu.


“Kenapa bisa begini, anakku belum sampai 24 jam keluar dari rahim istriku” pekik Fano memegangi surat itu.


“Aku tidak tahu siapa Mr. Pich yang asli. Aku berlaku kasar pada mamamu selama ini, itu karena dia menginginkan rumah tanggaku hancur. Aku hidup terpisah di Kota X, itu karena aku terpaksa melakukan semua ini. Aku sudah sering mendapat teror darinya, dia sangat bahagia melihat aku tidak baikan dengan mamamu” ucap Pak Purnomo.


“Aku tidak bisa jamin anakmu bisa selamat selama berada di Jakarta ini” ucap Pak Admidjaya menimpali pembicaraan itu.

__ADS_1


“Lebih baik kau antarkan istrimu ke Jerman ketempat kakekmu. Kita tidak punya banyak waktu, jika kau memperlambat, maka aku tidak bisa menjamin cucuku bisa bertahan hidup” ucap Pak Purnomo.


“Aku tidak bisa hidup terpisah dengan istri dan anakku” ucap Fano menolak.


“Kau tidak punya pilihan, kau harus mengorbankan sesuatu untuk hal yang berharga” tegas Pak Purnomo. Fano hanya diam.


“Tentukan pilihanmu, 2 jam lagi. Kalau sampai kau belum juga mengambil keputusan. Berarti kau memang pecundang” ucap Pak Purnomo.


“Aku akan segera menghubungi jadwal penerbangan kalian” ucap Pak Admidjaya.


“Bawalah mamamu ikut menjaga cucunya” ucap Pak Purnomo kembali.


“Tolong beri aku waktu berpikir” ucap Fano langsung beranjak kembali masuk keruangan istrinya. Perasaan Fano sangat hancur saat ini.


“Sampai kapan semua ini akan berakhir, aku ... aku tidak bisa jauh dari istri dan anakku” batin Fano.


Langkah kaki Fano sangat berat menghampiri Dakota. Dakota bahkan sudah heran melihat suaminya seperti bukan dirinya.


“Suamiku, kau baik-baik saja” tanya Dakota dari tempatnya berbaring. Haris yang memahami situasi saat ini. Haris langsung keluar membiarkan pasangan suami istri itu berdiskusi. Fano hanya diam saja, dia langsung mengusap kening Dakota dengan lembut.


“Ada apa denganmu, kau terlihat pucat” ucap Dakota mengkhawatirkan keadaan Fano.


“Lebih baik kau makan dulu” ucap Dakota kembali.


“Aku tidak ingin makan” tangis Fano memeluk Dakota.


“Sayang ... kenapa kau menangis” tanya Dakota melap pipi Fano yang sudah basah. Fano tetap diam memeluk wajah Dakota.


“Sayang, kita akan berpisah” batin Fano.


BERSAMBUNG...............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir🙏


Tetap dukung novel ini dengan like, komentar juga Vote😊


See You🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2