
Setelah menyusun strategi dengan team penyidik, Fano juga sudah mendapatkan alamat dari Irma. Ternyata Irma baru saja kembali ke Indonesia selama sebulan dan tinggal di kediaman Pak Sugiono. Fano sudah mengirim teamnya untuk mengawasi pergerakan dari Irma beserta temannya Sena dan Mia.
Hari sudah menunjukkan pukul 01.00 wib, baru Fano tiba di kediaman Reinhard. Sebelum Fano beranjak kekamarnya, terlebih dahulu Fano memeriksa keadaan di rumah. Fano langsung mencek keadaan anaknya. Fano berjalan mengendap-endap memasuki kamar ibu Lena. Saat Fano masuk, Fano sudah mendapati Alfata tidur memeluk Pak Purnomo.
“Anakku ini nyenyak sekali, bahkan air liurnya menetes membasahi pakaian papa” batin Fano membersihkan mulut Alfata pakai tisue basah.
“Aku belum pernah tidur disamping papa seperti anakku saat ini” batin Fano kemabli mengelus pipi Alfata.
“Nyum ... nyum ... Bunda ....” ucap Alfata dalam tidurnya.
“Bunda ... kapan Bunda kasih aku adik, Bunda sudah janji, ayolah Bunda, aku mau adik” rengek Alfata kembali dalam tidurnya.
“Anankku ini ternyata bermimpi” batin Fano menggelengkan kepala.
Fanopun merapikan posisi tidur anaknya, tidak lupa dia mencium kening anaknya beserta kening ibu Lena. Memang selama ini, hal itu sudah menjadi kebiasaan baik baginya, sebelum dia istirahat, dia harus memastikan orang-orang terdekatnya tidur terlebih dahulu. Saat Fano melihat papanya, Fano ragu untuk mencium kening Pak Purnomo mengingat hubungannya dengan Pak Purnomo tidaklah dekat. Namun Fano bersyukur, setidaknya anaknya Alfata bisa mendapatkan kasih sayang dari papanya.
“Dalam sejarah hidup, sejak kelas satu SD, aku tidak pernah lagi mencium kening papa” batin Fano.
Fano melangkah mendekati tubuh Pak Purnomo, Fanopun mendaratkan ciuman dikening Pak Purnomo. Ternyata Pak Purnomo sedari tadi Fano masuk sudah sadar dengan keberadaan anaknya, hanya saja Pak Purnomo pura-pura tidur. Pak Purnomo begitu terkejut mendapati anaknya Fano sudah mencium keningnya. Saat Fano menatap wajah Pak Purnomo yang sudah mulai keriput karena usia, tiba-tiba saja tubuh Pak Purnomo bergerak membuat Fano terkejut dan langsung beranjak, hendak keluar dari kamar ibu Lena.
“Kau bukan pencuri, untuk apa masuk mengendap-endap” ucap Pak Purnomo.
“Asataga, ternyata dia sadar, aku lupa papaku ini selalu dalam keadaan sadar walau sekalipun dia sudah mengantuk” batin Fano.
“Kau sudah bangun” ucap Fano menghentikan langkahnya.
“Sekali lagi kalau kau ingin mencium keningku, kau lap dulu bibirmu itu, siapa tahu kau membawa virus dari luar” ucap Pak Purnomo. Pak Purnomo sudah bangkit dari kasur. Fano hanya bisa diam mendengar ocehan dari papanya. Fano dan Pak Purnomo sudah keluar dari kamar menuju ruang tamu utama.
Naon dan Mail yang juga baru kembali dari Aprtemen. Mereka sangat terkejut melihat Pak Purnomo memakai sarung, bukan seperti Pak Purnomo yang biasa selalu berwibawa dengan penampilannya yang rapi sambil menyilangkan kakinya duduk disofa ruang tamu, namun kali ini penampilan Pak Purnomo sama seperti kakek-kakek pada umumnya bahkan posisi duduknya dekat disamping Fano.
“Ada apa dengan Tuan Besar” batin Naon.
“Selamat malam Tuan Besar” ucap Mail dan Naon bersamaan.
“Kalian sudah kembali” ucap Pak Purnomo menyapa kedatangan Naon dan Mail. Kali ini Pak Purnomo melirik pada Naon. Sementara itu, Fano sudah sibuk memainkan handphonenya.
“Sudah Tuan” ucap Naon gugup. Selama ini belum pernah Pak Purnomo peduli pada Naon.
“Naon, tolong kau suruh pelayan membuatkan bandrek untuk kita” ucap Pak Purnomo.
“Baik Tuan” ucap Naon melaksanakan perintah Pak Purnomo.
“Kau duduklah” ucap Pak Purnomo pada Mail.
“Tapi Tuan” ucap Mail menolak, hal itu bukanlah hal yang pantas untuk duduk bersama dengan Tuannya, mengingat Mail juga orang yang setia. Mail masih tetap berdiri disamping Pak Purnomo.
__ADS_1
“Duduk!” perintah Pak Purnomo menegaskan ucapannya.
“Baik Tuan” ucap Mail langsung duduk menghadap pada Pak Purnomo.
“Tidak biasanya Tuan dan Presdir duduk bersantai di ruang tamu, Tuan Besar kesambet apa ya, dia terlihat akrab dengan Presdir, biasanya telapak sepatunya selalu melayang ditubuh Presdir, apa kali ini Presdir dan Tuan sudah baikan” batin Naon.
Tidak lama kemudian pelayan sudah membawa minuman bandrek untuk mereka.
“Naon, kau istirahatlah” ucap Fano saat Naon masih stay mendampinginya. Naon tidak mau pergi, karena Fano belum juga istirahat, hal itu sudah menjadi kewajiban Naon untuk memastikan Fano istirahat terlebih dahulu.
“Kau sangat setia Naon, duduklah” ucap Pak Purnomo.
“Tapi Tuan” ucap Naon menolak. Namun Fano sudah mengangguk untuk menyuruh Naon ikut duduk bergabung dengan mereka. Naonpun ikut duduk.
“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Pak Purnomo membuka pembicaraan serius itu.
“Sampai saat ini masih aman” ucap Fano sambil mematikan ponselnya. Bagi Fano tidak baik memainkan ponsel saat orang tuanya berbicara.
“Secepatnya masalah ini harus kita selesaikan, saat ini istrimu sudah kembali, aku yakin mereka sudah melakukan pergerakan” ucap Pak Purnomo.
Pembicaraan itu terus berlanjut hingga diselingi canda tawa, bahkan mereka sudah kompak bermain ludo melalui tablet milik Pak Purnomo. Ternyata Pak Purnomo menang melawan Fano, Mail juga Naon.
“Ah sial, aku kalah” ucap Mail. Lagi-lagi. Maillah yang kalah dalam permainan. Pak Purnomo sudah mencoreti wajah Mail dengan spidol.
“Aku tidak menyangka bisa menang melawan kalian, tapi aku selalu kalah melawan Alfata” tawa Pak Purnomo sambil mencoret wajah Fano, Mail juga Naon. Bukan hanya spidol, tapi juga listip milik ibu Lena sudah habis mendarat dibibir mereka. Pak Purnomo sangat senang sudah bisa berncanda dengan putra semata wayangnya itu.
“Presdir, wajah Presdir, bhaha ....” tawa Naon cekikikan menatap wajah Fano.
“Wajahmu juga tuh, haha ....” tawa Fano memandangi wajah Naon juga Mail. Mereka bertiga saling menatap.
Akhirnya mereka kembali tertawa melihat wajah mereka sudah seperti badut. Permainan ludo itu berlanjut sampai 3 ronde. Ketiga-tiganya dimenangkan oleh Pak Purnomo. Permainan terus berlanjut, mereka tidak terima kalah hingga lupa waktu.
Dakota tidak bisa tidur, dia masih menunggui kepulangan suaminya, apa lagi hari sudah pukul 03.00 wib. Karena mendengar suara ribut-ribut diluar, Dakota beranjak dari kamarnya. Begitu terkejutnya Dakota melihat suasana yang ada di ruang tamu utama, ada canda tawa yang Dakota dapati saat Dakota menghampiri ruang tamu. Hampir saja mulut Dakota kebablasan untuk tertawa melihat penampilan suaminya sudah seperti monyet.
“Bhahaa ....” tawa Dakota dalam hati. Dakota masih bisa menahan diri dihadapan papa mertuanya.
“Astaga ... istriku masih bangun, ini sangat memalukan” batin Fano menyembunyikan wajahnya. Apa lagi brewoknya yang masih panjang, Fano yakin penampilannya sangat buruk sudah dilukis seperti badut oleh Pak Purnomo. Melihat Dakota sudah datang, Fano langsung beranjak dari duduknya menyembunyikan wajahnya dari Dakota.
“Aku sudah selesai” ucap Fano langsung menghentikan permainan. Fano sudah buru-buru melangkah menuju kamarnya disusul oleh Dakota.
“Aku juga sudah mengantuk” ucap Pak Purnomo. Permainanpun selesai.
Dakota langsung meraih lengan suaminya. Fano tetap menyembunyikan wajahnya.
“Suamiku” canda Dakota untuk melihat wajah Fano.
__ADS_1
“Tolong, jangan lihat aku” ucap Fano tetap mengalihkan wajahnya.
“Hihi ....” tawa Dakota sambil menutup mulutnya. Mereka beranjak menuju kamar mereka. Sesampainya didalam kamar, Fano sudah buru-buru meraih tisue basah untuk membersihkan wajahnya.
“Biar aku bersihkan” ucap Dakota menghentikan tangan Fano.
“Kau kalah bermain ya” ucap Dakota sambil memperhatikan wajah Fano. Dakota langsung meraih handphonenya.
“Aku tidak kalah” ucap Fano berbohong.
“Apa yang kau lakukan” ucap Fano saat istrinya mengambil fotonya.
“Kalau kau tidak kalah, tidak mungkin wajahmu dicoret begini, aku mengabadikan penampilanmu ini” tawa Dakota sambil melap wajah suaminya.
“Menurutmu penampilanku seperti ini memalukan bukan?” ucap Fano bertanya pada Dakota.
“Benar, ini sangat memalukan, akan kutunjukkan pada Fata nanti” tawa Dakota kembali.
“Hapus saja” ucap Fano mencoba meraih ponsel istrinya. Dakota langsung melemparkan handphonenya diatas kasur.
“Lebih baik kau basuh saja di kamar mandi” ucap Dakota menarik lengan Fano untuk beranjak kekamar mandi. Saat sudah didalam kamar mandi, Fanopun melepas kaus oblongnya, dia langsung membersihkan wajahnya. Dakota masih ikut didalam kamar mandi. Melihat tubuh kekar suaminya, Dakota langsung memeluk tubuh Fano dari belakang. Dakotapun mengecup leher Fano kemudian menenggelamkan wajahnya dipunggung suaminya.
“Ini sudah pagi, kenapa belum tidur malah bermain” bisik Dakota mencemaskan suaminya. Fanopun berbalik badan menatap wajah istrinya.
“Aku sudah tampankan” ucap Fano saat wajahnya sudah bersih. Dakotapun mengangguk, mata mereka sudah beradu pandang, tidak lama Fano langsung meraih wajah istrinya.
“Embh ....” bibir Fano sudah mendarat dibibir Dakota. Dakota sudah memejamkan matanya. Dengan lembut Fano mengarahkan ciuman itu sambil menari-narikan lidahnya didalam mulut istrinya. Dakota ikut menyahuti serangan dari Fano. Kamar mandi itu menjadi saksi dari ciuman intens mereka.
“Hah ... hah ....” Fano dan Dakota mendesah akibat ciuman panjang barusan.
“Sayang, anak kita minta adik” goda Fano sembari memeluk tubuh istrinya.
“Ini sudah pagi, lebih baik kita tidur” ajak Dakota.
“Oya, kanapa kau bangun” ucap Fano.
“Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu, lebih baik kita istirahat saja” ucap Dakota mendorong tubuh Fano keluar dari kamar mandi.
“Apa yang mau kau katakan?” tanya Fano penasaran dengan ucapan istrinya.
“Besok saja, saat matahari terbit, kau sudah lelah” ucap Dakota meraih pakaian tidur untuk suaminya. Senyum Fano mengembang melihat Dakota memakaikan pakaian tidur untuknya.
“Enaknya punya istri yang penurut dan perhatian” batin Fano, saat Dakota dengan cekatan merapikan tubuhnya.
BERSAMBUNG..............
__ADS_1
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Mohon like dan komentar ya, di Vote juga boleh🙏
See You🙋🙋🙋