
# Kediaman Reinhard
Sesampainya di kediaman Reinhard. Fano menggendong Dakota masuk kerumah. Semua orang yang ada dikediaman itu sudah terkejut melihat nyonya muda mereka terlihat gelisah dibawa oleh Fano dipelukannya, apa lagi hari belum waktunya untuk pulang kerja.
“Panas ... ini sangat panas ... tolong aku” ucap Dakota masih memeluk tubuh Fano.
“Bersabarlah sayang” ucap Fano.
Fano membawa istrinya kedalam kamar, dia membaringkan tubuh istrinya diatas kasur mereka, dia membuat suhu AC yang ada dikamarnya semakin dingin, karena istrinya itu terlihat gelisah dan juga kepanasan. Namun Dakota masih tetap kepanasan, bahkan dia sudah menaiki tubuh Fano yang sudah duduk diatas kasur.
“Kenapa bisa begini, apa yang sudah mereka lakukan” batin Fano.
“Panas ... tolong aku ....” ucap Dakota, dia kembali memeluk tubuh suaminya dan sudah menciumi leher Fano. Melihat sikap istrinya itu Fano semakin gelisah dan tidak tahu bagaimana caranya mengatasi kegelisahan dan rasa panas yang dirasakan istrinya itu.
“Siti tolong bawakan es batu yang banyak, masukkan kedalam bak mandi” perintah Fano pada Siti, kebetulan Siti sudah berdiri di pintu kamar itu. Sedari dikabari bahwa Dakota diculik Siti merasa bersalah, apa lagi dia selalu ditugaskan oleh Fano untuk mengawasai Dakota.
“Baik Presdir” ucap Siti keluar dari kamar.
“Sayang, apa yang kau lakukan” ucap Fano pada istrinya sudah meraba-raba tubuhnya.
“Tolong aku, ini sangat panas, hu.. panas” ucap Dakota.
Mendengar istrinya masih kepanasan Fano langsung memasukkan tubuh istrinya itu kedalam bak mandi. Siti dengan cepat sudah datang membawa es batu. Dia memasukkan es batu itu kedalam bak mandi dan Dakota sudah berbaring di dalam bak mandi itu.
“Kenapa belum ada Dokter yang datang” ucap Fano pada Siti.
“Maaf Presdir, Dokter Mia masih diperjalanan, Dokter Henri baru saja tiba” ucap Siti.
“Cepat suruh Henri masuk” pinta Fano. Tubuh Dakota sudah dia pakaikan baju tidur. Dakota masih terlihat gelisah. Namun wajah Dakota sudah terlihat pucat. Kembali Fano memperhatikan wajah istrinya itu, dia melihat pipi kanan Dakota sudah mulai bengkak bahkan berbiram.
“Apa mereka memukul wajahnya” pekik Fano melihat istrinya.
“Sayang, maafkan aku” ucap Fano menenangkan tubuh istrinya, dia memegangi pipi istrinya itu, dia periksa lagi tubuh istrinya itu terlihat dibagian lehernya juga sudah biram lebam.
“Sayang, maafkan aku” ucap Fano memeluk tubuh istrinya.
Tidak berapa lama Henri dengan langkahnya buru-buru masuk kekamar Fano.
“Dimana dia” ucap Henri mengatur nafasnya, dia melihat kasur Fano kosong.
“Kenapa kau lama sekali” teriak Fano dari kamar mandi, Henri langsung masuk kekamar mandi.
“Maaf, jalanan macet” ucap Henri. Dia langsung memeriksa Dakota. Fano dan Siti hanya memperhatikan Henri melaksanakan tugasnya.
“Kenapa dia terlihat gelisah” tanya Fano pada Henri.
“Tubuh nyonya Dakota sudah menerima zat aktif sildenafil citrate yang berlebihan” ucap Henri.
“Apa maksudmu?” tanya Fano masih bingung.
“Dia baru saja menelan obat perangsang dengan dosis yang berlebihan, obatnya bekerja setelah 30 menit ditelan oleh sipengkonsumsi, kau harus memuaskan hasratnya” ucap Henri pada Fano.
“Apa jadi maksudmu para bajinga* itu sudah memberinya banyak obat perangsang” ucap Fano mengepal tangannya.
“Iya, sayangnya mereka tidak tahu bahwa obatnya akan bereaksi 30 menit yang akan datang. Kalau terlambat saja bisa jadi penculik itu sudah mensetubuhi istrimu” ucap Henri.
Mendengar ucapan Henri Fano semakin emosi, dia langsung meninjukan tangannya ke dinding kamar mandi berulang kali.
“Presdir” teriak Siti terkejut melihat Fano menghancurkan tangannya.
“Apa yang kau lakukan” ucap Henri menahan Fano, bahkan tangan Fano sudah berdarah.
__ADS_1
“Aku sudah melihat darah perawan istriku tadi, mereka memperkosa istriku” pekik Fano matanya mulai berkaca-kaca, tangannya masih mengepal. Mendengar hal itu Henri dan Siti semakin terkejut.
“Apa yang kau katakan, jangan bilang kau belum menyentuh istrimu sama sekali” ucap Henri. Ibu Lena baru saja dikabari oleh Siti bahwa Dakota diculik dan sudah ditemukan. Dia yang baru saja masuk kedalam kamar mandi itu sangat terkejut mendengar perkataan Henri.
“Fano, apa yang dikatakan oleh Henri itu benar” tanya ibu Lena tidak percaya.
Fano hanya terdiam, tidak tau harus menjelaskannya dari mana. Dia menatapi tubuh istrinya sudah tenang didalam bak mandi.
“Bagaimana bisa begini nak, kenapa istrimu ini mendapatkan perlakuan kejam ini, hiks..” tangis ibu Lena, air matanya sudah berlinang mendengar menantunya diperkosa.
“Aku akan memeriksa istrimu lebih lanjut” ucap Henri pada Fano.
Melihat istrinya sudah mulai tenang, Fano keluar dari kamar itu. Sementara itu, ibu Lena dan Siti mendampingi Henri melaksanakan tugasnya lebih lanjut. Selesai Henri memeriksa Dakota, ibu Lena dan Siti memapah tubuh Dakota keatas kasur. Tubuh Dakota sudah dibaringkan.
“Bagaimana pemeriksaanmu Hen” tanya ibu Lena, sedari tadi dia sudah cemas. Dia berharap menantunya itu tidak diperkosa seperti kata anaknya Fano tadi.
“Tante, nyonya Dakota belum disentuh sama sekali” ucap Henri.
“Serius Hen” ucap ibu Lena memastikan, dia merasa bersyukur karena harapannya itu benar.
“Iya tante, Fano masih diberi keberuntungan, seandainya obat perangsang itu bekerja tadi, kemungkinan besar nyonya Dakota sudah tidak perawan lagi” ucap Henri menjelaskan.
“Jadi Fano belum menyentuh istrinya” gumam ibu Lena.
“Tante, dia akan terbangun lagi nanti, saya harap langsung berikan obat ini. Saya mau memeriksa tangan Fano dulu tante” ucap Henri menyerahkan obat pada ibu Lena.
“Iya Hen” ucap ibu Lena menerima obat yang diberikan oleh Henri.
Henri keluar dari kamar itu, dia melihat kesekitar rumah, matanya sudah menemukan sosok Fano duduk disudut ruang tamu kedua. Henri sangat terkejut melihat sahabatnya itu sudah menghisap rokoknya dengan tangannya yang masih berdarah.
“Bukannya kau sudah berhenti merokok” ucap Henri menarik rokok yang dipegang oleh Fano. Fano hanya terdiam dan pasrah rokoknya di ambil oleh Henri. Henri melaksankan tugasnya, dia membasuh tangan Fano dan membungkus tangan Fano dengan perban.
Fano hanya terdiam, dia tidak meladeni sahabatnya itu.
“Kau tidak perlu cemas. Aku sudah memeriksa tubuh istrimu, dia sama sekali belum disentuh” ucap Henri.
“Apa yang kau katakan, aku melihat sedikit darah diatas kasur tadi” ucap Fano.
“Apa kau meragukanku” ucap Henri. Fano hanya terdiam, tidak membalas ucapan Henri.
“Lalu, darah apa yang kulihat tadi” batin Fano.
Tidak berapa lama Naon sudah datang menghadap pada Fano.
“Presdir” ucap Naon mengatur nafasnya.
“Siapa dalang dibalik ini semua” tanya Fano pada Naon.
“Penculik itu masih baru Presdir, mereka tidak mengenal siapa yang menyuruh mereka, mereka dipesan secara online, mereka dikirim uang banyak baru mereka melaksanakan tugas mereka. Namun kami dapat mengetahui nomor yang menghubungi penculik itu nomor sekali pakai saja. Kami mengetahui suara rekaman wanita itu masih tersimpan dihandphone penculik itu, dia sengaja merekam pembicaraan mereka kalau terjadi sesuatu. Dari lokasi terakhir nomor itu aktif berada di area apartemen Susi. Namun untuk suara yang menelvon, suara wanita itu mirip dengan suara nona Kamila” ucap Naon menjelaskan panjang lebar.
“Apartemen Susi, bukannya Kamila menginap disana” sahut Fano. Fano semakin terkejut mendengar lokasi penelvon. Henri ikut terkejut mendengar nama Kamila disebutkan oleh Fano.
“Apa mungkin Kamila dibalik ini semua” batin Henri.
“Iya Presdir, nona Kamila selama ini menginap di apartemen Susi” ucap Naon.
“Tangkap Susi dan Kamila, suruh Siti yang mengamankan mereka, sampai mereka buka mulut. Kalau benar mereka dibalik ini semua, kau tau apa yang harus kau perbuat. Untuk penculik itu segera cebloskan mereka ke penjara” tegas Fano.
“Baik, Presdir masih ada yang harus saya sampaikan. Mengenai penculik itu, mereka belum sempat menyentuh nyonya muda Presdir” ucap Naon.
Ucapan Naon itu membuat Fano sadar, dia legah bahwa istrinya itu belum disentuh oleh penculik itu.
__ADS_1
“Jadi dia tidak disentuh” batin Fano.
“Bagaimana dengan darah yang ada di atas kasur” tanya Fano.
“Untuk darah yang ada di atas kasur sudah kami cek, ternyata darah itu merupakan darah palsu jenis fake blood artery yang berasal dari softex nyonya muda, softexnya terjatuh dilemparkan oleh penculik itu kelantai saat membuka pakaian nyonya muda. Kemungkinan besar nyonya muda sudah melakukan perlindungan diri” ucap Naon.
“Jadi maksudmu istriku sudah mengetahui bahwa dia akan diculik” ucap Fano, dia heran mendengar perkataan Naon.
“Mohon maaf Presdir, kemungkinan besar nanti Presdir saja yang menanyakan itu pada nyonya muda. Saya melihat nyonya muda keluar dari toilet wanita kantor sudah terihat pucat, kemungkinan besar nyonya muda memakai darah palsu itu saat berada di toliet wanita sebelum penculikan” jelas Naon kembali.
“Baiklah, segera kalian laksanakan tugas kalian” perintah Fano.
“Baik Presdir” ucap Naon.
Naon masuk kekamar Fano untuk mengajak Siti. Mereka menjalankan perintah dari Fano. Sepeninggalan Naon, Henri juga sudah selesai melakukan tugasnya di kamar Fano.
“Bagaimana dengan keadaan istriku” tanya Fano saat Henri memeriksa kembali tubuh Dakota. Ibu Lena sudah keluar dari kamar itu karena Fano juga sudah ada di dalam untuk menjaga istrinya. Hari juga sudah larut malam namun istrinya itu belum bangun juga.
“Obat perangsang itu dosisnya sangat banyak ditelan olehnya, dia masih merasakan panas ditubuhnya, aku sudah menetralisir agar tubuhnya bisa melawan rasa panas yang ditimbulkan oleh obat itu. Efek obat itu akan hilang 36 jam lagi” ucap Henri.
“Apa efek samping dari obat perangsang itu” tanya Fano mengkhawatirkan istrinya.
“Seluruh tubuhnya akan mengalami kemerahan karena tidak bisa bersetubuh, bisa jadi dia akan pusing juga. Tidak ada efek samping lain, kemerahan dalam tubuhnya itu karena obat itu akan keluar melalui rongga kulit (pori-pori), makanya tubuhnya terasa panas terus” jelas Henri.
“Kau serius” ucap Fano meragukan Henri.
“Aku serius. Aku juga mau mengatakan padamu bahwa istrimu ini baru selesai berhalangan, tadi aku lupa mengatakan padamu sesuai dengan yang dikatakan oleh Naon, darah palsu itu merupakan pencegahan yang dia lakukan. Hanya softex yang dia punya dan darah palsu itu kemungkinan besar dia melakukan perlindungan diri. Selama ini darah palsu itu sudah sering dia bawa, itu artinya istrimu ini pernah mengalami bahaya atau penculikan sebelumnya, salah satu cara untuk melindungi diri dengan cara itu bagus juga” ucap Henri menganalisis keadaan Dakota.
“Berarti dia sudah yakin bahwa dia akan diculik” ucap Fano.
“Kau bisa menanyakannya padanya nanti, jangan asal ambil kesimpulan dan kau memarahi dia karena tidak memberitahukannya padamu terlebih dahulu, tidak ada orang yang mau mendapat musibah” jelas Henri.
“Siapa yang akan memarahi dia, aku hanya mencemaskan istriku saja” ucap Fano.
“Aku tidak tahu siapa yang sudah tega melakukan ini pada istrimu, kalau sampai orangnya dapat, kau hancurkan saja sekalipun itu Kamila” ucap Henri menepuk bahu Fano.
“Kau tidak perlu mengguruiku, tanpa kau bilangpun aku akan menghancurkannya” tegas Fano.
“Baiklah, aku akan pergi. Tugasku sudah selesai” ucap Henri merapikan perlengkapan medisnya.
Fano hanya mengangguk membalas pamit Henri. Henri keluar dari kamar itu membawa perlengkapannya.
“Kalau benar Kamila dibalik ini semua, aku tidak bisa lagi mencegah Fano. Bagaimanapun hal ini sudah keterlaluan, tidak manusiawi” batin Henri.
BERSAMBUNG............
Hai Reader, terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa like dan komentar ya😄
Oya, sekali-kali tekan Votenya dan jadiin Favorite untuk up lanjut😘
Reader: Ah, author banyak banget permintaannya.😪😔😖😌😏
Author: Hiks....😭😭😭😭😭😭😭😭
Reader: Bercanda thor, 😝😝😝😝😝
Author: Makasih Reader🙏🙏🙏🙏🙏
See You🙋🙋🙋
__ADS_1