
Semua orang di Rumah Sakit sudah harap-harap cemas menantikan kabar dari Dakota. Begitu Dokter keluar dari Ruang ICU, Fano langsung menghadap pada Dokter itu. Namun tubuh istrinya sudah dibawa keluar dari ruangan itu.
“Dokter ... bagimana keadaannya” tanya Fano. Semua orang ikut berdiri menghampiri tubuh Dakota.
“Presdir Fano, anda segera ikut dengan kami” sahut salah satu Dokter yang menangani Dakota. Tubuh Dakota sudah dibawa keluar menuju Ruang Operasi Persalinan. Fano langsung mengikuti kemana istrinya dibawa. Semua orang kembali bertanya pada perawat yang baru juga keluar dari Ruang itu.
“Bagaimana keadaanya” tanya mereka penasaran.
“Kalian tenanglah, pasien akan dibawa ke Ruang Operasi. Bayi dalam kandungannya harus segera dikeluarkan, air ketuban pasien sudah pecah” ucap Perawat itu membawa alat medis.
“Dia dan bayinya baik-baik sajakan?” tanya mereka kembali.
“Kita berdoa saja, semoga pasien dan bayinya selamat” ucap Suster tersebut meninggalkan mereka. Kembali semua orang beranjak menuju Ruang Operasi.
# Ruang Operasi.
Tubuh Dakota sudah dibius. Dokter menyuruh Fano segera masuk untuk melihat proses persalinan istrinya. Setelah Fano memakai pakaian yang di sediakan oleh Rumah Sakit, dia langsung masuk ke Ruangan Operasi. Fano sudah melhat tubuh istrinya sedang berbaring diruangan itu.
“Anda suami dari pasien, apa anda sudah siap” tanya salah satu perawat sebagai pendamping.
Dengan mantap Fano langsung mengangguk.
“Aku siap ... tolong selamatkan istri dan anakku” ucap Fano memohon.
Dokterpun langsung memakai sarung tangan. Fokus Operasi sudah berada pada perut Dakota. Tidak berapa lama Dokter langsung membelah perut Dakota. Walau sudah dibius, Dakota masih merengek kesakitan.
“Hihh ...” ringis Dakota merasakan sayatan pisau diperutnya. Dokter tetap melaksanakan tugasnya. Air mata Fano langsung keluar begitu melihat anaknya sudah keluar dari perut Dakota. Namun anaknya itu belum juga bersuara. Membuat tangisan Fano semakin menjadi karena Dokter itu sedang mengoyang-goyangkan tubuh bayinya untuk merespon sekitar. Hingga Dokter mengusapkan sedikit air kewajah bayi itu.
“Oekk ... oekk ....” suara tangis bayi itu langsung keluar. Air mata Fano semakin mengalir mendengar tangisan anaknya.
“Tuhan ... terima kasih, anakku sudah lahir” Doa Fano membatin.
Perawat pendamping itu langsung menerima bayi itu, kemudian membersihkan tubuh si bayi. Sementara para Dokter kembali melaksanakan tugasnya pada Dakota.
“Selamat Presdir Fano, anak anda laki-laki. Anda sudah menjadi ayah” ucap Suster itu membungkus tubuh si bayi. Fano langsung melap air matanya, menerima bayinya itu sebentar untuk mencium bayi itu.
“Selamat datang anakku” ucap Fano menciumi seluruh wajah anaknya.
“Oeek ... oeek ...” kembali anak Fano menangis dipelukannya.
Sementara itu, semua orang yang ada di luar ruangan langsung berdiri ketika mendengar suara bayi sedang menangis dari dalam Ruangan Operasi.
“Admidjaya, akhirnya aku punya cucu” ucap Pak Purnomo memeluk Pak Admidjaya.
__ADS_1
“Selamat Purnomo, akhirnya kau punya teman untuk bermain” balas Pak Admidjaya. Begitu juga dengan ibu Lena, begitu gembiranya dia mendengar tangisan cucunya sudah lahir kedunia ini.
Semua orang sudah tidak sabar menunggu proses persalinan Dakota selesai.
Selama 3 jam semua orang menunggu, akhirnya para Dokter yang menangani Dakota sudah selesai melaksanakan tugasnya. Mereka sudah berangsur keluar dari ruangan itu.
“Dokter bagaimana keadaan menantu saya.”
“Bagaimana keadaan cucu saya.”
“Bagiamana keadaan adik saya.”
Semua pertanyaan bertubi-tubi di lontarkan untuk Dokter itu.
“Selamat buat Pak Purnomo, cucu anda laki-laki, anak dan ibu dalam keadaan sehat. Untuk sementara kalian tidak boleh masuk dulu, sampai ibu dari bayi siuman” jelas Dokter itu.
“Terima kasih Dokter” ucap mereka serentak. Dokter itu langsung meninggalkan ruangan itu.
Fano tetap menunggui keadaan istrinya untuk segera siuman. Sekitar 30 menit kemudian Dakota sudah siuman. Begitu Dakota menggerakkan perutnya, dia merasakan perutnya terasa sakit.
“Arngh ...” ringis Dakota. Memang selama obat bius habis kesadaran Dakota sudah kembali seperti semula.
“Sayang ...” ucap Fano mencium kening Dakota.
“Huhu ... huhu ...” tangis Dakota dipelukan Fano.
“Sayang, jangan menangis” ucap Fano melap pipi Dakota. Tidak berapa lama Fano sudah menggendong bayinya. Namun bayi Fano kembali menangis dipelukannya. Akhirnya Fano memberikan bayi itu kepelukan istrinya. Dengan wajah sumringah Dakota menerima bayinya.
“Anakku Alfata, sini nak ... ini ibumu” ucap Dakota. Bayi itu langsung terdiam. Fano mengikut saja anaknya dinamai oleh Dakota. Selama Dakota hamil, Dakota sudah membuat nama untuk anaknya kelak jika lahir laki-laki ataupun perempuan. Beberapa menit kemudian bayi itu merengek lagi.
“Oeek ... oeek ...” tangis Alfata.
“Sayang, anak kita sudah boleh kau beri ASI. Dokter sudah mencek tubuhmu tadi, ASI dari tubuhmu sudah lancar keluar” ucap Fano menunjuk dada Dakota. Namun Dakota belum juga membuka atasan bajunya untuk anaknya.
“Kau tidak perlu malu, aku akan melarang orang-orang untuk masuk” ucap Fano membuka atasan baju istrinya. Dakota mengangguk, untuk pertama kalinya dia memberikan ASI miliknya untuk anaknya.
Setelah Alfata menerima ASI dari Dakota, Alfata langsung tertidur. Fano membawa tubuh Alfata menuju keranjang bayi. Selang beberapa menit semua orang sudah masuk keruangan itu.
“Cucuku, selamat datang nak” ucap ibu Lena.
“Siapa namanya” tanya Pak Admijaya.
Semua orang sudah sibuk melihat Reinhard kecil sedang tertidur pulas.
__ADS_1
“Sst ... kalian jangan berisik. Berikan anakku ruang” ucap Fano. Namun mereka tetap ribut.
“Fano, kenapa bayimu ini sangat mirip denganmu” ucap ibu Lena memperhatikan Reinhard kecil.
“Benar, dia sangat mirip denganmu nak” ucap Pak Purnomo menimpali.
Kembali semua orang tersenyum bahagia.
Tidak berapa lama kemudian Haris membawa Yohana masuk untuk bergabung keruangan itu. Karena Yohana sangat khawatir pada keadaan Dakota. Walau sekujur tubuhnya sudah babak belur, dia tetap ingin memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Mengingat kejadian buruk barusan begitu menghantui pikirannya. Apa lagi dialah yang sudah mengajak Dakota untuk keluar dari kediaman Pak Admidjaya, rasa bersalah selalu menghantui pikirannya, seandainya bayi Dakota tidak selamat, dia akan semakin merasa bersalah dan tidak akan memaafkan dirinya. Untuk itulah Haris terpaksa memapah tubuh Yohana.
“Beb ...” tangis Yohana memeluk tubuh Dakota.
“Badai sudah berlalu beb ...” tangis Dakota balas memeluk Yohana.
“Aku minta maaf, ini semua salahku ... aku terlalu ceroboh” tangis Yohana meminta maaf.
“Nak, kau tidak perlu meminta maaf, semua ini sudah direncanakan olehnya, tidakpun kalian keluar, kediaman Pak Admidjaya akan tetap diserang olehnya” ucap Pak Purnomo pada Yohana.
“Kakek, kenapa kakek ada disini?” tanya Yohana kebingungan dengan situasi saat ini melihat keberadaan kakeknya bersama dengannya.
Sebagian orang di ruangan itu ikut kebingungan, mendengar Yohana memanggil Pak Purnomo dengan sebutan kakek. Tidak mungkin Pak Purnomo selingkuh lalu memiliki cucu. Tetapi Dakota, Fano, Haris dan Pak Admidjaya sudah memahami situasi itu.
“Pa, kenapa Yohana memanggilmu kakek” tanya ibu Lena pada Pak Purnomo.
“Yohana anaknya Boya” jelas Pak Purnomo. Mendengar anaknya Boya, ibu Lena langsung beranjak memeluk tubuh Yohana.
“Ya ampun Tasya ... nenek tidak mengenalimu. Tubuhmu masih luka-luka begini, kau tidak perlu merasa bersalah nak” ucap ibu Lena memeluk tubuh Yohana.
Yohana jadi kebingungan dengan situasi itu. Walau selama Dakota hamil, dia menerima saja dipanggil dengan sebutan Tasya, Yohana berpikir karena Dakota hamil juga Fano mengatakan dia sangat mirip dengan Tasya teman kecil Dakota. Padahal Yohana tidak tahu bahwa dirinya memang Tasya yang asli.
“Nak, tenanglah. Ayah dan ibumu yang ada di Malang itu hanya orang tua angkatmu, setelah kedua orang tuamu meninggal karena kecelakaan. Saat itu hanya dirimu yang selamat dari kecelakaan itu. Karena orang tua angkatmu tidak punya anak, kebetulan mereka yang menyelamatkan dirimu. Lama aku mencari keberadaan dirimu. Namun karena mereka memohon untuk menjadikanmu sebagai putri mereka, aku menyanggupinya, ingatanmu juga sudah mulai hilang saat itu” ucap Pak Purnomo panjang lebar menjelaskan identitas asli Yohana. Begitu terkejutnya Yohana mendengar penuturan kakeknya, ternyata selama ini Pak Purnomo selalu mengunjungi Yohana, bahkan Pak Purnomolah orang yang selalu membantu finansial kedua orang tuanya. Tangis Yohana meledak di ruangan itu.
Namun tidak berapa lama kemudian, Mail sudah datang berbisik pada Pak Purnomo. Ternyata kabar buruk yang di sampaikan oleh Mail. Pak Purnomo langsung pamit undur diri mendengar informasi yang di sampaikan oleh Mail. Melihat situasi itu, Pak Admidjaya juga ikut keluar mengikuti Pak Purnomo.
BERSAMBUNG.................
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir🙏
Jangan lupa dukung novel ini, dengan like dan komentar ya😊
Jika berkenan Vote juga boleh, hihi😊
See You 🙋🙋🙋
__ADS_1