
# Kembali 5 tahun
Usia 18 tahun Fano harus mengemban beban menjadi seorang Presdir. Sebenarnya dia sangat menolak untuk memimpin Perusahaan papanya itu diusia yang masih muda mengingat papanya Purnomo selalu sibuk dan tidak pernah ada waktu berada dirumah selama menjadi seorang Presdir. Hal itulah alasan terbesarnya tidak menginginkan Perusahaan papanya.
Dia selalu melakukan apa yang orang tuanya inginkan berharap bisa menikmati masa muda, namun karena ancaman mamanya ibu Lena akan bunuh diri jika Fano menolak perintah papanya membuatnya menerima tugas besar itu. Bahkan dia tidak sempat untuk jatuh cinta apalagi mencoba untuk menyukai perempuan, dalam hidupnya hanya ada urusan bisnis perusahaan.
Karena kesibukan Fano membuat ibu Lena melakukan perjodohan pada anaknya, berharap anaknya bisa segera menikah. Tepat 5 tahun lalu, saat itu Kamila berusia 23 tahun baru menyelesaikan studi Strata Satunya di Bandung. Kamila juga merupakan seorang model dewasa untuk majalah yang ada di Bandung. Walau Kamila berada di Bandung, setiap ada momen libur kuliah dia pasti menyempatkan diri untuk berlibur ke Jakarta menemui bibinya ibu Lena. Dia sangat jarang bertemu dengan Fano dirumah karena Fano sangat sibuk. Bila bertemupun itu hanya sebentar dan Fano akan terlihat dingin padanya.
“Fano, kamu sudah tiba nak” ucap ibu Lena menyapa Fano pulang dari kantor. Sementara itu Kamila sudah duduk di sofa ruang tamu.
“Iya ma” ucap Fano melangkahkan kakinya memasuki rumah.
“Fano sapalah sepupumu ini, dia baru saja tiba dari Bandung” ucap ibu Lena menyarankan anaknya untuk menyapa sepupu jauh Fano.
“Hmm ....” ucap Fano mengabaikan keberadaan Kamila, dia langsung beranjak kekamarnya. Melihat tingkah anaknya yang cuek dan dingin terhadap perempuan membuat ibu Lena paham dengan sifat anaknya itu.
“Kamila sayang, kamu harus tahu Fano memang seperti itu orangnya” ucap ibu Lena pada Kamila untuk menenangkan hati keponakannya.
“Nggak apa-apa tante, Fano cuek bila bertemu, tapi dia selalu perhatian sama aku kalau aku di Bandung tante” ucap Kamila.
“Oya, kenapa bisa begitu” tanya ibu Lena tidak percaya.
“Lihat tante, ini akun facebooknya Fano. Banyak pesan mesra yang dia kirimkan padaku, bahkan dia mengatakan suka padaku sejak aku berkunjung kerumah tante, waktu awal masuk kuliah” ucap Kamila pada ibu Lena.
Ibu Lena yang heran dengan perkataan keponakannya itu ikut membaca pesan yang dikirimkan Fano dari akun facebook atas nama Fano.
“Kenapa kata-kata yang dikirim oleh anakku begitu beda ya dengan dirinya, ini kata-kata yang romantis dan bukan seperti dirinya, apa mungkin dia malu bertemu secara langsung dengan Kamila, kalau Fano suka dengan Kamila ini sangat bagus dong” batin ibu Lena membaca pesan Fano.
“Jadi Fano sudah suka sama kamu sejak awal bertemu, ini berita bagus dong sayang, tante tidak perlu repot menjodohkan Fano dengan wanita lain” ucap ibu Lena bangga dengan putranya sudah menyukai seorang wanita, apa lagi wanita itu keponakannya.
“Aku juga heran dengannya tante, aku belum mengatakan padanya kalau aku juga menyukainya, aku ingin selesai kuliah baru mengatakan padanya” ucap Kamila.
“Bisa jadi sayang, mungkin dia cuek padamu karena malu ada tante disini. Kamu juga tidak perlu terburu-buru sayang, kalau kamu sudah lulus kuliah, langsung saja kalian tunangan nanti biar tante yang urus semuanya” ucap ibu Lena memeluk tubuh keponakannya.
“Wow tante, aku langsung tunangan dengannya. Bentar lagi dong tante” ucap Kamila, dia sangat senang bahwa tantenya itu sangat mendukung hubungannya dengan Fano.
“Iya sayang, tante sangat berharap kamu akan jadi menantu tante” ucap ibu Lena tersenyum bahagia pada Kamila.
__ADS_1
“Aku akan sangat senang tante” ucap Kamila balas memeluk tubuh ibu Lena. Mereka tidak sadar sudah hadir bersama mereka seorang lelaki tampan yang seumuran dengan Fano.
“Hen, sejak kapan kamu duduk di sini” tanya ibu Lena melepas pelukan Kamila. Kamila juga terkejut dengan kehadiran temannya Fano. Kamila sudah mengenal Henri sejak dia berkunjung pertama kali kerumah Fano.
“Baru saja tante. Kamila semakin cantik saja ya” ucap Henri menggoda Kamila. Ucapan Henri tidak direspon sama sekali oleh Kamila.
“Kamu kenapa bisa kesini Hen? bukannya kamu sibuk di Rumah Sakit” ucap ibu Lena.
“Aku ada urusan dengan Fano tante, kebetulan aku tidak sibuk-sibuk amat, jadi aku memutuskan untuk datang kesini” ucap Henri berbohong.
“Fano baru saja tiba, tunggu saja sebentar disini. Tidak apa-apakan tante tinggal dulu” ucap ibu Lena.
“Tidak usah sungkan tante, aku hanya ingin menemui Fano” ucap Henri. Pandangan Henri masih tetap tertuju pada Kamila.
“Kamila, kamu masuklah kekamar depan, tante juga ada yang harus dikerjakan” ucap ibu Lena melihat keponakannya terlihat lelah dalam perjalanan.
“Iya tante, aku akan kekamarku sebentar lagi” ucap Kamila masih tetap duduk di Sofa.
“Kalau Henri duduk disini, pasti Fano juga bakalan mengobrol dengannya disini, aku tetap duduk disini saja” batin Kamila.
“Kalau gitu tante tinggal ya, kalian mengobrollah” ucap ibu Lena sudah pergi meninggalkan ruang tamu.
Sepeninggalan ibu Lena, suasana di ruang tamu hanya ada keheningan tidak ada pembicaraan.
“Kenapa Fano nggak muncul juga, aku sudah lama duduk disini. Padahal setiap pesan facebook yang dikirim dia terlihat sangat akrab denganku, katanya dia sangat rindu padaku aku udah disini tapi dia cuekin aku. Bahkan kami tidak mengobrol sedikitpun, aku malah berlama sama sahabatnya” batin Kamila cemas.
“Kalau kamu ingin jalan-jalan ke Kota Tua, aku bisa temani kamu besok” ucap Henri membuka suara.
“Apa yang kamu katakan, bagaimana bisa kamu tau aku ingin ke Kota Tua” ucap Kamila heran.
“Aku sahabat Fano, tidak sengaja aku membaca pesan yang dia kirim padamu kemarin. Dia mengatakan tidak bisa menemanimu, sayang sekali kamu hanya sebentar berlibur, jadi aku menawarkan diri” ucap Henri bohong.
“Dia memang tidak bisa, tapi aku juga tidak terlalu dekat dengamu, aku tidak bisa pergi jalan dengan orang yang tidak dekat denganku” ucap Kamila.
“Kamu jangan khawatir, aku pria yang bisa dipercaya, sayang jika kamu tidak pergi padahal kamu ingin sekali kesana, kebetulan aku juga cuti besok” ucap Henri.
“Baiklah akan aku pertimbangkan” ucap Kamila.
__ADS_1
“Oke, sepertinya kamu sudah setuju, aku cari Fano dulu” ucap Henri beranjak.
“Ya, silahkan” ucap Kamila juga beranjak kekamar depan.
“Aku belum bilang setuju, dia sudah main pergi aja, percuma aku menghabiskan waktu dengannya, aku bahkan tidak melihat batang hidung Fano” batin Kamila.
# Kamar Fano
“Kau bisa tidak ketuk pintu dulu” ucap Fano memakai celana boxernya.
“Halah, apa yang perlu kau sembunyikan dariku, sebagai dokter pribadimu aku sudah tau semua bentuk bagian dari tubuhmu, tidak perlu kau malu” ucap Henri duduk di sofa kamar Fano.
“Sejak kapan kau banyak omong begitu” ucap Fano menghampiri Henri.
“Iyalah tuan muda Fano. Aku sangat rindu padamu ” ucap Henri merangkul lengan Fano.
“Sejak kapan kau rindu padaku, aku sudah tau tujuanmu datang kesini” ucap Fano melepas rangkulan Henri. Fano sudah menebak kedatangan Henri karena Kamila.
“Aku memang tidak bisa berbasa-basi denganmu” ucap Henri kesal.
“Kau bukan kemarin kenal denganku, waktuku sangat berharga. Langsung saja katakan, apa yang ingin kau sampaikan” ucap Fano serius.
“Kau belum menyampaikan pada Kamila mengenai akun palsu facebook yang kubuat” ucap Henri menyampaikan maksudnya.
“Aku sibuk untuk mengobrol dengannya saja tidak pernah”sahut Fano.
“Baguslah, aku berencana untuk jujur dengannya nanti” ucap Henri lega.
“Nanti itu kapan? jangan sampai cinta bertepuk sebelah tanganmu ini melibatkan aku terlalu jauh” ucap Fano mengingatkan sahabatnya.
“Secepatnya akan kuberitahu padanya” ucap Henri.
“Pegang saja kata-katamu” ucap Fano.
BERSAMBUNG.............
Hai Reader, terima kasih sudah mampir. jangan lupa ya jempolnya dan komentarnya ya.🙏🌹
__ADS_1
Vote juga boleh😊
See You🙋🙋🙋