Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 112


__ADS_3

Kembali ke Jakarta


Seminggu kemudian setelah hari kelulusan Dakota. Jadwal penerbangan Dakota dan keluarga untuk kembali ke Jakarta akan tiba. Sebelum berangkat mereka berpamitan dulu dengan Pak Reinhard.


“Kakek Buyut, nanti jangan rindu ya sama Fata” ucap Alfata masih memeluk Pak Reinhard.


“Aku tidak akan rindu padamu” balas Pak Reinhard.


“Bagus, kalau kakek Buyut teringat padaku nanti kakek telvon saja” saran Alfata.


“Kau tidak perlu mengajariku” ucap Pak Reinhard mengelus punggung Alfata.


Setelah Alfata pamit pada Pak Reinhard kini giliran Dakota untuk pamit pada Pak Reinhard.


“Kakek” ucap Dakota memeluk Pak Reinhard.


“Jaga diri baik-baik disana” ucap Pak Reinhard mengelus punggung Dakota.


“Terima kasih untuk segalanya kek" ucap Dakota melap pipinya yang sudah basah.


“Kenapa kau menangis, kakek sangat senang kalian ada disini, justru kakek yang harusnya mengucapkan terima kasih, kalian sudah mau menemani kakek. Kakek pasti sedih nanti tidak bisa lagi main dengan Alfata” ucap Pak Reinhard.


“Nanti saat kami sudah sampai di Jakarta, kami akan mengabari kakek” ucap Dakota.


“Ya, kalian harus terus kabari aku” ucap Pak Reinhard.


Tidak berapa lama kemudian, Pak Reinhard tidak bisa mengantar kepergian menantu dan cucunya. Hanya pengawal yang mengantarkan mereka hingga naik pesawat. Alfata sempat menangis karena harus berpisah jauh dari kakek buyutnya.


“Fata, tadi kau mengatakan tidak akan menangis” ucap Dakota menenangkan Alfata di dalam pesawat.


“Bunda, kasihan kakek buyut, dia tidak punya siapa-siapa lagi disana” ucap Alfata.


“Nak, kita harus kembali. Kami sudah memaksa kakek untuk kembali pulang ke Inonesia. Tapi beliau memilih untuk tetap menjaga kediaman leluhurnya” ucap Dakota.


“Kita akan tinggal dimana nanti?” tanya Alfata.


“Kita akan tinggal di rumah kakek” ucap Dakota.


“Kakek yang mana?” tanya Alfata penasaran.


“Nanti kau akan tahu juga” ucap Dakota.


Beberapa menit kemudian Alfata sudah tertidur di samping Dakota. Dakota sudah tidak sabar, sedari tadi dia melihat jam tangannya. Kerinduan yang mendalam sudah di rasakan oleh Dakota pada ibu Kota Jakarta lebih tepatnya pada suaminya Fano. Sebentar lagi pesawat mereka akan mendarat di Bandara Soekarno-Hata.


“Bunda, aku bisa jalan sendiri” ucap Alfata tidak ingin digendong oleh Dakota saat turun dari pesawat memasuki area Bandara.


“Bunda takut kau nanti hilang” tolak Dakota tetap menggendong anaknya.


“Bunda, please ... aku akan pegang tangan Bunda” ucap Alfata memohon.


“Baiklah” ucap Dakota melepas Alfata dari pelukannya.


Tidak berapa lama, Naon dan Siti juga Eveno sudah melambaikan tangan pada mereka menyambut kedatangan Dakota dan keluarga.


“Nyonya” ucap Naon pada ibu Lena dan Dakota.

__ADS_1


Dakota sangat kecewa, karena Fano tidak ikut menjemput mereka. Wajah Dakota sangat terlihat kecewa, bahkan dia malas melangkahkan kakinya.


Ibu Lena langsung tersenyum bahagia melihat Naon dan Siti sudah menjemput mereka begitu juga dengan ibu Endangsi ikut tersenyum melihat putranya Haris dari kejauhan melambaikan tangan dari persembunyiannya dengan Fano. Tidak berapa lama kemudian, tangan Dakota dan Alfata sudah ditarik oleh seseorang dari samping.


“Greb ...” seorang pria dewasa sudah memeluk tubuh Dakota. Bahkan dia sudah menenggelamkan wajah Dakota pada dada bidangnya. Saat Dakota mencium wangi dari tubuh pria itu.


“Tidak salah lagi, ini tubuh suamiku” batin Dakota. Sejenak dia lirik wajah Fano. Benar saja suaminya itu sudah memeluk dengan erat tubuhnya. Bahkan kumis Fano sudah tumbuh. Wajah Fano lumayan brewokan.


“Sayang” ucap Fano mendaratkan ciuman pada bibir istrinya. Bibir itu sudah dia rindukan sejak lama. Walau ciuman itu hanya singkat.


“Aku pikir kau tidak akan menjemput kami” rengek Dakota memukul dada Fano.


“Apa kalian akan terus berpelukan, anak kalian sangat sombong, sedari tadi aku sudah merayunya, dia mengabaikan aku” papar Haris. Haris angkat tangan tidak bisa merayu Alfata. Fano langsung melepas pelukannya dia sudah mendapati anaknya sedang mengambek.


“Aku akan menemui ibuku” ucap Haris langsung beranjak meninggalkan Alfata.


“Bunda tidak sayang lagi padaku” rengek Alfata melihat Dakota nyaman dipelukan Fano. Alfata merasa terasingkan dengan kehadiran Fano.


“Apa dia mengambek, jangan bilang sifat anakku ini sama dengan istriku” batin Fano menatap Alfata. Alfata sudah dipegangi oleh ibu Lena. Ibu Lena harus memberikan Fano kesempatan untuk bertutur sapa dengan ibu Endangsi.


“Ibu Mertua” ucap Fano saat ibu Endangsi tiba bersama Haris dengan mereka.


“Fano” balas ibu Endangsi. Tidak berapa lama Fano langsung memeluk ibu Endangsi.


“Ibu mertua terima kasih sudah melahirkan istriku juga menjaga istri dan anakku selama ini” ucap Fano mengecup kening ibu Endangsi.


“Kau tidak perlu berterima kasih, aku hanya seorang ibu. Sudah sepantasnya aku menjaga mereka” ucap ibu Endangsi.


“Aku sudah hutang banyak waktu untuk ibu mertua, kami akan sering berkunjung ketempat Pak Admidjaya” ucap Fano melepas pelukannya.


“Kau lebih dulu pergi menemui ibu” ucap Dakota balas memeluk Haris.


“Selamat datang kembali” ucap Haris mengecup kening Dakota.


“Dimana Yohana?” tanya Dakota penasaran.


“Dia sudah berisi, aku katakan setelah dia merasa baikan baru berkunjung kerumah kalian nanti” ucap Haris melepas pelukannya.


“Wah, kau akan jadi ayah” ucap Dakota kegirangan mendengar Yohana sedang hamil muda.


“Mulai saat ini ibuku aku tarik kembali dari kalian” ucap Haris memeluk lengan ibu Endangsi.


“Kabari aku kalau kalian sudah sampai. Besan kami berangkat dulu” ucap ibu Endangsi pamit pada ibu Lena. Dakota langsung mengangguki ucapan ibu Endangsi.


“Kita akan sering bertemu” balas ibu Lena. Sementara itu, Alfata masih saja mengambek sudah merasa diabaikan oleh semua orang.


“Nenek, kau memilih Om Haris, setelah sekian lama kita bersama” rengek Alfata pada ibu Endangsi.


“Fata, nenek tidak pergi jauh” ucap ibu Endangsi mengelus pipi Alfata.


“Kalian semua mengabaikan aku” ucap Alfata menyembunyikan tubuhnya pada ibu Lena. Semua oang langsung tersenyum melihat Alfata sudah mengambek.


“Baiklah, kami berangkat dulu” ajak Haris pada ibu Endangsi.


"Kami akan berkunjung nanti” ucap Fano melambaikan tangan. Fano langsung mendekati ibu Lena.

__ADS_1


“Kau marah” tanya Fano langsung meraih tubuh Alfata kepelukannya.


“Aku tidak mengijinkanmu memeluk Bundaku” ucap Alfata memukul punggung Fano.


“Aih ... siapa yang mengajarimu memukul orang” ucap Fano tetap memaksa memeluk anaknya. Dakota sudah yakin melihat tingkah Alfata saat ini pada Fano, suaminya itu butuh waktu yang lama untuk bisa dekat dengan Alfata, walau selama ini Fano sudah sering berkomunikasi dengan mereka.


“Tolong turunkan aku, aku sudah besar” rengek Alfata di pelukan Fano.


“Panggil aku ayah” ucap Fano menolak menurunkan Alfata dari pelukannya.


“Aku tidak mau” tolak Alfata.


“Aku tidak akan menurunkanmu” ucap Fano bertahan menerima pukulan kecil dari anaknya.


“Kau sangat jelek memakai kumis” ejek Alfata memegangi berewok Fano.


“Kau masih kecil, tahu apa soal ketampanan. Beginipun penampilanku istriku tetap cinta padaku” ucap Fano berbangga diri melirik istrinya.


“Haih, kau terlalu memuji diri, aku sarankan padamu segeralah cukur kumismu ini, Bundaku tidak akan suka pada penampilanmu ini. Kau terlihat semakin tua” ucap Alfata tetap memegangi brewok Fano.


“Aku tidak tahu kenapa istriku menyuruhku untuk brewokan. Aku tidak nyaman, namun demi dia apa pun itu akan kulakukan” batin Fano mengingat pesan Dakota setiap mereka video call. Dakota akan menanyakan kenapa brewok dari suaminya itu belum panjang juga. Fano ektra memakai obat pemanjang rambut pada wajahnya.


# Kediaman Reinhard


Sesampainya mereka di kediaman Reinhard. Alfata langsung berlari menemui kakeknya Pak Purnomo. Walau Afata tidak dekat dengan Fano. Namun untuk Pak Purnomo dia lebih dekat. Selama ini Pak Purnomo selalu berkomunikasi dengan cucunya itu melalui Pak Reinhard.


“Kakek” teriak Alfata meraih tubuh Pak Purnomo. Begitu senangnya Pak Purnomo melihat cucunya terlihat sangat mirip dengan Fano saat kecil dulu.


“Jagoan, kau sudah tiba” ucap Pak Purnomo meraih tubuh Alfata.


“Kakek, kau sangat tampan. Lihatlah anakmu itu, dia sangat jelek” puji Alfata untuk mengejek Fano.


“Terserah padamu saja” ucap Fano memeluk tubuh ibu Lena.


"Kenapa kau peluk nenekku. Aku tidak mengijinkanmu” ucap Alfata.


“Ini mamaku, kau mau apa” rengek Fano tetap memeluk ibu Lena. Fano juga sangat rindu pada mamanya itu.


“Dia nenekku, kau mau apa” tantang Alfata.


“Kenapa kau memeluk papaku, kau mau apa” tantang Fano balik.


“Ini kakekku” ucap Alfata merasa kalah. Dakota langsung menggelengkan kepala melihat perdebatan anak dan suaminya. Dia langsung memilih beranjak kekamar mereka. Kamar itu sangat dia rindukan. Siti sudah masuk membawa barang bawaan Dakota.


Saat Dakota membuka kamar itu, kamar itu sudah terlihat seperti semula saat dia tidur disana dan yang paling mengejutkan lagi, sprey yang di kasur mereka sama dengan sprey saat dia menyerahkan tubuhnya pada Fano untuk yang pertama kali. Dakota langsung berbaring di atas kasur itu mengelus sprey itu.


“Sprey ini masih sama lembutnya dengan 6 tahun yang lalu” batin Dakota mengingat momen begitu buasnya Fano menyerang tubuhnya saat itu.


BERSAMBUNG..............


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir🙏


Jangan lupa dukung novel ini, dengan like dan komentar😊


Vote juga boleh😊

__ADS_1


See You 🙋🙋🙋


__ADS_2