
Selesai menghisap dua batang rokok, Fano langsung meminum segelar air putih, setelah itu dia beranjak kekamar. Walau sudah tidur, Dakota masih merasakan keberadaan suaminya naik kekasur. Fano langsung berbaring, namun belum menutup matanya, dia masih ingat dengan ucapan Naon tadi.
“Apa istriku ini masih menyukai seniornya itu” batin Fano menatap wajah istrinya.
Pikiran Fano dipenuhi dengan pria lain yang disukai oleh istrinya. Tanpa Fano sadari istrinya sudah membuka matanya.
“Ini sudah pukul berapa?” tanya Dakota mengucek matanya.
“Kenapa kau bangun, ini sudah pukul 23.15 wib” ucap Fano melihat jam tangannya yang dia letakkan di atas meja samping kasur mereka. Kebetulan kamar mereka sudah remang-remang tidak terlihat lagi jam yang tergantung di dinding kamar.
“Aku sudah tidur sebentar, seharian tadi aku juga tidur, aku belum mengantuk” ucap Dakota mengambil minum yang terletak di atas meja lalu meminum air putih itu.
“Tidurlah lagi” ajak Fano kembali, dia mencoba memejamkan matanya.
“Suamiku, kenapa baru masuk kekamar jam segini” tanya Dakota, dia kembali membaringkan tubuhnya menghadap pada suaminya. Fano hanya terdiam tidak merespon ucapan Dakota. Dakota mencoba mendekati suaminya dan mencium aroma rokok dari tubuh Fano.
“Kenapa dia bau rokok” batin Dakota.
“Suamiku” ucap Dakota.
“Hemm” ucap Fano singkat. Dakota langsung mencium bibir Fano dan merasakan aroma rokok dari bibir suaminya.
“Kau nakal ya” ucap Fano membuka matanya.
“Apa kamu merokok” tanya Dakota kesal, dia sangat benci pada pria yang merokok. Fano hanya terdiam tidak menyahuti pertanyaan istrinya.
“Aku sudah minum air putih, kenapa dia bisa tau” batin Fano.
“Jawab aku, kenapa kau harus merokok, usiamu sudah tua saat menikah, apa kau tidak ingin memiliki seorang anak dan membesarkan mereka kelak, kenapa tidak jaga kesehatan” ucap Dakota, dia sangat geram melihat Fano. Fano malah tersenyum mendengar ucapan istrinya.
“Kenapa kau tersenyum sih, sudah tau salah” ucap Dakota kesal langsung memalingkan tubuhnya membelakangi Fano.
“Sayang” ucap Fano menarik tubuh istrinya. Tubuh Dakota kembali menghadap pada Fano. Dakota menatap wajah Fano dengan kesal.
“Aku tidak akan merokok lagi” ucap Fano serius.
“Berjanjilah” ucap Dakota.
“Aku berjanji” ucap Fano menatap istrinya.
“Kalau kau ketahuan lagi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, terima saja konsekuensinya saat itu moodku lagi baik atau buruk” ucap Dakota mengancam suaminya.
__ADS_1
“Asal aku tidak di kasih jatah saja, selain itu apapun hukumannya aku terima” goda Fano pada istrinya sambil tersenyum.
“Tidak kasih jatah, bisa juga hukuman itu” ucap Dakota mengerutkan keningnya.
“Hal itu aku tidak bisa, bahkan saat ini aku sudah ingin, kita juga masih pengantin baru masih hangat-hangatnya” bisik Fano menggoda istrinya.
“Kita baru saja melakukannya sore tadi” bisik Dakota menolak.
“Bukannya kau yang barusan bilang memiliki anak, ayolah sayang” goda Fano kembali, wajah memelas Fano sudah muncul seperti anak kecil yang imut minta minum susu.
Dakota hanya terdiam. Melihat istrinya tidak menolak atau merespon, Fano langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Dakota. Dengan lembut Fano melum** bibir istrinya. Dakota hanya menerima serangan dari suaminya. Bahkan Fano menari-narikan lidahnya di dalam mulut Dakota. Kali ini Fano sudah bisa menyentuh istrinya tanpa harus menerima penolakan seperti sebelumnya. Karena mereka sudah saling mencintai. Saat Fano melepaskan ciuman intens itu mereka berdua kembali mendesah.
“Sayang, aku ingin” ucap Fano meminta izin pada Dakota, tangan Fano sudah membuka kancing baju tidur Dakota.
Dakota hanya mengangguk pertanda dia mau melayani suaminya. Melihat istrinya setuju dengan gerakan cepat Fano membuka semua pakaiannya dan melemparkan pakaiannya kesembarang arah sambil tangannya meremas gunung kembar Dakota. Fano sudah melucuti tubuh Dakota membuat tubuh Dakota menggeliat.
Walau masih terasa sakit, sesekali Dakota masih mendesah merasakan sakit efek serangan dari Fano. Dakota juga masih malu-malu menatap suaminya saat mereka bercinta, dia memilih menutup matanya walau sesekali Fano menarik tangan istrinya itu untuk tetap menatapnya. Dari mulai bagian wajah hingga ujung jari kaki istrinya malam itu Fano sudah mengukur panjangnya perjalanan lidahnya menjilati tubuh istrinya, hingga dia menuju surga dunia. Malam itu menjadi malam yang panjang bagi pasangan suami istri itu.
###
Matahari memang belum terbit, hari juga hari minggu, namun Dakota tetap bangun pagi. Walau tubuhnya masih terasa sakit karena semalam, dia tetap bangun untuk membantu pelayan memasak.
“Kenapa nyonya muda harus bangun sepagi ini, padahal baru semalam dia menangis” batin Siti.
“Pagi juga Siti” ucap Dakota beranjak ke dapur. Siti mengikut dari belakang.
Dengan gerakan cepat Dakota sudah memasak beberapa menu kesukaan suaminya, yaitu ayam kecap terasa pedas manisnya, juga dendeng daging. Selama makan bersama Fano, Dakota selalu memperhatikan menu yang sering dimakan oleh Fano, ayam kecap salah satunya. Siti selalu terkagum-kagum melihat kemampuan nyonya mudanya yang pandai memasak. Sesekali Siti selalu menanyakan pada Dakota apa saja yang diberi bumbunya, dia sedikit belajar dari Dakota.
Selesai Dakota memasak, dia langsung beranjak ke kamarnya untuk bebersih diri, karena dia harus berangkat ke Sanggar, ada hal penting yang harus dia sampaikan pada rekan-rekan penari nanti. Saat dia masuk kedalam kamar, dia masih melihat Fano tertidur dengan lelap. Dia membiarkan suaminya, karena hari juga hari Minggu, dia yakin suaminya itu sangat mengantuk, dia langsung mandi.
Tidak berapa lama Dakota sudah selesai merapikan diri dengan pakaian biasa, penampilannya masih tetap terlihat culun. Dakota masih tetap di dalam kamar menunggui Fano untuk bangun, hari sudah menunjukkan pukul 07.00 wib. Dakota menunggu setengah jam lagi, dia agak kesiangan juga bisa ke Sanggar. Setelah lewat setengah jam, Dakota langsung membangunkan Fano.
“Suamiku” ucap Dakota dekat dengan telinga Fano.
“Ya” ucap Fano membuka matanya, ternyata ucapan Dakota langsung di dengarnya.
“Aku akan berangkat ke rumahku, apa kau mengizinkan” tanya Dakota.
“Aku akan mengantarmu, itu harusnya kalimat yang kuucapkan” batin Fano.
“Suamiku” ucap Dakota kembali, Fano belum memberinya jawaban.
__ADS_1
“Kau harus berangkat dengan Siti, biarkan Siti mengawasi segala aktifitasmu seharian ini, baru aku menyetujui kau pergi” tegas Fano. Fano ragu juga takut dengan keadaan istrinya, foto yang sempat tersebar selama 4 jam semalam, takutnya orang-orang akan mengenali istrinya nanti. Fano hanya ingin memastikan tidak terjadi hal buruk pada istrinya.
“Baiklah” ucap Dakota beranjak dari kasur.
“Tunggu aku, kau belum boleh berangkat, temani aku sarapan dulu” ucap Fano menahan istrinya.
“Aku akan menunggumu” ucap Dakota kembali duduk di kasur. Fano langsung senyum melihat istrinya menurut. Dia langsung beranjak dari kasur masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai Fano merapikan diri, dia dan Dakota langsung sarapan pagi, ibu Lena juga ikut sarapan pagi. Ibu Lena sudah melihat perkembangan hubungan anaknya dan Dakota semakin maju. Bahkan Dakota menunjukkan bentuk cintanya pada Fano, dia mengambilkan semua menu kesukaan Fano ke piring Fano. Fano hanya tersenyum menerima perlakuan istrinya.
Setelah selesai sarapan Dakota masih menunggu suaminya untuk menyelesaikan sarapannya. Kalau masalah makan Fano memang agak lama, dia selalu menikmati apa yang dia makan. Siti juga sudah selesai sarapan, dia menunggui Dakota di lobi utama kediaman Reinhard.
“Suamiku, aku berangkat dulu” ucap Dakota mencium punggung tangan Fano. Fano malah balas mencium kening istrinya. Fano merasa terharu melihat istrinya mencium tangannya.
“Semenjak kami menyatu, kenapa dia berubah menjadi istri yang sesungguhnya” gumam Fano. Ternyata Fano mengantarkan istrinya sampai ke lobi. Dakota melambaikan tangan pada Fano saat mobil itu di hidupkan oleh Siti.
“Tin ... tin ....” Siti membunyikan klakson mobil pertanda izin berangkat. Fano hanya mengangguk. Setelah mobil itu membawa istrinya meninggalkan kediaman Reinhard.
“Naon” ucap Fano.
“Iya Presdir” ucap Naon, sedari tadi dia sudah berdiri di samping Fano.
“Sudah kau utus orang yang mengawasi istriku” tanya Fano pada Naon.
“Sudah Presdir” ucap Naon. Fano langsung melangkah masuk kerumah.
BERSAMBUNG...........
Hai Reader Wanita Presdir, semoga kita semua sehat selalu ya🙏
Jadiin novel ini Favorite untuk up lanjutan, jangan lupa Vote ya😍
Oya, tinggalin jempol kalian juga komentar untuk penyemangat author.
Author: Setiap komentar reader selalu author baca, terkadang author tertawa karena reader semangat baca novel ini😍😘
Reader: Curhat ya thor😎😎😎
Author: 😄😄😍😍
See You 🙋🙋🙋
__ADS_1