
Sesuai dengan pesan Yohana mengemudikan mobil itu pelan-pelan, karena nyonya mudanya benar-benar tidur berbaring dikursi mobil. Siti tidak tega melajukan mobil itu dengan kecepatan seperti biasa, dia mengurangi kecepatan mobil membuat perjalanan menuju rumah agak lama.
Sesampainya di kediaman Reinhard.
Siti keluar dari mobil dia membuka pintu samping mobil, namun Dakota masih tepar.
“Siti, kenapa kau lama sekali” ucap Naon menghampiri Siti.
Siti hanya bengong tidak menjawab perkataan Naon, dia tidak tega membangunkan Dakota. Naon yang melihat kedalam mobil saat pintu mobil dibuka oleh Siti. Dia juga tidak tau harus berbuat apa, kalau dia memapah tubuh nyonya mudanya takutnya Fano nanti marah. Mereka berdua serba salah masih didepan pintu rumah.
“Kalian sedang apa?” ucap Fano menghampiri mobil yang sudah parkir dedepan pintu rumah. Sudah lama dia menunggui kedatangan Siti membawa istrinya.
“Presdir” ucap Siti dan Naon bersamaan. Mereka berdua saling menatap serba salah.
“Dimana istriku” tanya Fano saat dia tiba didekat mobil.
“Presdir, nyonya muda masih tidur” ucap Siti melangkah kesamping membuat posisi Dakota yang tertidur didalam mobil terlihat oleh Fano.
“Kenapa tidak kalian bangunkan” ucap Fano kesal.
“Maaf Presdir” ucap Naon dan Siti bersamaan.
Dia masuk kemobil dan memandangi tubuh istrinya sudah tepar.
“Kenapa dia bisa tidur dimobil, apa dia begitu mengantuk” batin Fano.
Fano mengangkat tubuh istrinya itu, membawanya masuk kekamar mereka. Siti sudah membawa barang-barang Dakota masuk kerumah, sementara Naon memarikirkan mobil itu keparkiran.
# Kamar Fano
Tiba dikamar, Fano melepaskan tubuh istrinya dari gendongannya dan menaruhnya di atas kasur.
“Kenpa dia tidak bangun” gerutu Fano menatap tubuh istrinya.
“Pakaiannya bahkan belum diganti” ucap Fano, dia berbicara sendiri dikamar. Fano mencoba mendekat pada tubuh istrinya, dia sudah duduk menindih tubuh Dakota.
“Sial, aku belum pernah mengganti pakaian wanita” gerutu Fano.
“Apa yang kau lakukan” ucap Dakota pelan tubuhnya bergerak karena refleks sudah disentuh oleh Fano, matanya sangat berat untuk dia buka, dia masih setengah sadar.
“Bodoh, aku hanya mengganti pakaianmu” ucap Fano.
“Kamu ... jangan macam-macam padaku” sahut Dakota, dia sudah kembali tidur lagi.
__ADS_1
“Kenapa pakaian wanita banyak sekali” gerutu Fano membuka pakaian istrinya, dia mengabaikan perkataan istrinya itu.
Dakota hanya menerima, tidak melakukan pergerakan atau membrontak. Tubuh Dakota sudah telanjang, perasaan Fano sangat aneh saat dia melihat tubuh istrinya sudah telanjang.
“Glek” mata Fano sudah tertuju pada tubuh Dakota yang sudah bugil, dia menatap dari mulai bagian rambut sampai keujung kaki Dakota.
“Sabar ... sabar” batin Fano.
Fano mengambil baju tidur dari lemari untuk dipakaikan pada istrinya.
Setelah baju tidur itu dia ambil, dia kembali menatap tubuh Dakota.
“Aku tidak akan melakukannya terlalu jauh, hanya sedikit menikmatinya” gumam Fano membuka pakaiannya.
Karena tubuh istrinya itu sangat menggiurkan, Fano mencoba melakukan aksinya. Dia mendaratkan ciumannya pada bibir Dakota. Lama dia menikmati ciuman sepihak itu. Tidak sampai disitu saja, dia mencoba menjilati tubuh istrinya itu bahkan sudah sampai kegunug kembar Dakota. Saat bibirnya bersentuhan dengan tubuh Dakota dia merasakan hawa tubuh dari Dakota tidak seperti biasanya.
“Kenapa tubuhnya panas” gumam Fano.
Fano menghentikan aksinya, dia langsung meletakkan punggung tangannya dikening istrinya, sontak dia sangat terkejut ternyata kening istrinya juga panas.
“Apa yang sudah kulakukan” gumam Fano.
Fano langsung keluar dari kamarnya, dia masih memakai boxer. Dia sangat panik mengetahui tubuh istrinya panas. Dia memanggil Siti untuk menyiapkan kompres. Dia memerintahkan pada Naon untuk menghubungi Dokter keluarga.
Tidak berapa lama kemudian Dokter Henri selaku Dokter pribadi Fano sudah tiba di ruang tamu kedua dekat dengan arah kamar Fano.
“Kenapa kau yang tiba?” tanya Fano melihat Henri sudah membawa alat-alat medis. Fano memerintahkan pada Naon untuk mendatangkan Dokter wanita, namun yang tiba malah Henri.
“Naon mengabari bahwa kau yang sakit, aku langsung turun tangan dari Rumah Sakit, ini juga sudah larut” ucap Henri ngosngosan mengatur pernapasannya. Fano langsung menatap sinis pada Naon.
“Maaf Presdir, untuk Dokter Mia (mama Henri) tidak bisa, beliau baru diperjalanan. Sangat sulit mendatangkan Dokter, hari juga sudah larut,” ucap Naon merasa bersalah.
“Jadi siapa yang sakit” ucap Henri sambil meletakkan peralatan medisnya, dan mencoba untuk mendudukan tubuhnya di sofa.
“Kenapa kau duduk, tubuh istriku sangat panas” teriak Fano pada Henri.
“Baiklah, aku akan memeriksanya” ucap Henri membawa peralatannya menuju kamar Fano, dia yakin Dakota ada dikamar Fano.
“Tunggu dulu, siapa bilang kau boleh masuk” ucap Fano menahan Henri didepan pintu kamarnya, sementara Siti dan Naon mengikut dari belakang.
“Kau ini kenapa, istrimu sedang sakit bukan” ucap Henri. Dia sangat kesal karena sudah diperintahkan untuk datang secepat mungkin bahkan dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Istriku saat ini sedang telanjang, aku akan memakaikan selimut untuknya, setelah itu kau baru boleh masuk” ucap Fano masuk kekamar. Henri terkejut mendengar perkataan Fano, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Siti dan Naon saling menatap.
__ADS_1
“Ya ampun Presdir terlalu ganas” batin Naon.
Tidak berapa lama Dakota langsung diperiksa oleh Henri, dia sudah memakaikan infus. Fano yang ada di kamar hanya bisa menatap tubuh istrinya sudah terlihat pucat. Siti dan Naon juga berada didalam kamar itu ikut menunggu.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Fano pada Henri. Henri baru saja selesai melakukan tugasnya.
“Dia hanya demam ringan karena kelelahan. Kalau bisa dia mengurangi aktivitasnya dulu, demam ringan itu diakibatkan karena kurang istrihat” ucap Henri menatap sinis pada Fano.
“Hmmm, kenapa kau menatapku begitu” ucap Fano heran melihat Henri sudah menatapnya sinis.
“Apa kau tidak sabar untuk melakukan wik wik dengan istrimu. Kau bahkan tidak sadar tubuh istrimu sudah panas” ucap Henri menatapi tubuh Fano setengah bugil memakai boxer.
“Kau terlalu banyak ngoceh” ucap Fano dia kembali memakai pakaiannya yang ada dilantai. Siti dan Naon kembali saling menatap.
“Aku tidak menyangka tuan muda Fano tidak bisa menahan nafsunya, haha” tawa Henri meledek sahabatnya.
“Tidak bisakah kau diam” ucap Fano menatap pada Henri. Namun Henri mengabaikan perkataan Fano dia kembali meledek.
“Apa juniormu itu mau meledak, haha... aku maklum sih kau sudah setua ini, haha ....” tawa Henri.
“Buk ....” lemparan bantal mendarat di wajah Henri.
“Kau mau tidak digaji selama setahun ini” ucap Fano dingin. Mendengar perkataan Fano, Henri kembali sadar bahwa sahabatnya itu tidak bisa dibercandain lagi.
“Maaf tuan muda Fano, saya salah” ucap Henri.
“Takut juga tidak digaji. Makanya jangan banyak mengoceh, berikan saja resep obat yang akan dikonsumsi oleh istriku” perintah Fano.
“Aku sudah memberikannya pada Naon, dia harus minum sup supaya tubuhnya kembali pulih” ucap Henri serius.
“Ya sudah, kalian boleh pergi” ucap Fano mengusir mereka dari kamar.
“Baik Presdir” ucap Naon dan Siti keluar dari kamar.
“Habis manis sepah dibuang, hah, akhirnya aku bisa istirahat.” celoteh Henri membawa peralatan medisnya keluar dari kamar Fano.
BERSAMBUNG........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Jadiin favorit untuk up selanjutnya. Jangan lupa like dan komentar.🙏🌹
Vote juga boleh😊
See You🙋🙋🙋
__ADS_1