
Fano sudah tiba di lokasi yang dikirim oleh Pak Sugiono. Dia bahkan menghabisi semua pengawal milik Pak Sugiono. Tidak berapa lama dia beranjak memanjat dinding pembatas menyusuri lorong atap gudang itu.
Gadis-gadis yang sudah diperintahkan oleb Pak Sugiono sudah kembali masuk kedalam gudang setelah memeriksa keadaan diluar. Mereka langsung menghadap pada Pak Sugiono.
“Bos... semua penjaga yang ada diluar sudah tewas dihabisi oleh Fano” bisik salah satu gadis itu.
“Wah.. wah... akhirnya kau datang juga Fano” ucap Pak Sugiono. Pak Sugiono langsung menjambak rambut Dakota.
“Sugggiono ...” teriak Pak Admidjaya dan Pak Purnomo bersamaan melihat Dakota disiksa.
“Tolong lepaskan menantuku” teriak ibu Lena menangis, bahkan ibu Lena sudah mau pingsan tidak kuat lagi menahan ikatan talinya.
“Arnghh ...” teriak Dakota meringis kesakitan memegangi rambutnya.
“Kalau kau menggunakan senjatamu, aku ragu untuk istrimu ini, akan segera lenyap di tanganku” ancam Pak Sugiono menekan rambut Dakota. Bahkan Pak Sugiono sudah memainkan pistolnya kekening Dakota. Dakota tidak bisa apa-apa, kedua tangan dan kakinya masih terikat, saat ini dia hanya bisa pasrah menahan rasa sakit.
Fano belum juga muncul.
“Kau mau aku membunuh istrimu ini, baiklah ... aku sudah katakan aku tidak segan-segan menghambisi nyawa istrimu ini" teriak Pak Sugiono mencekik leher Dakota.
“Suamikuuuuu, ukhuk ... uhuk ... tolong keluarlah, aku mohon padamu ...” tangis Dakota memohon agar Fano segera keluar dari persembunyiannya.
Mendengar istrinya menangis memanggilinya Fano menyerah dia langsung melompat dari atap gudang, dia sudah ditodong dengan pistol oleh gadis-gadis milik Pak Sugiono.
“Pak Sugiono, lepaskan istriku” ucap Fano melempar senjata apinya ke lantai. Fano sudah angkat tangan melihat Dakota sudah menangis tersedu-sedu. Fano tidak sanggup melihat air mata istrinya sudah keluar.
“Dari tadi kau mau main-main denganku” ucap Pak Sugiono melepas tubuh Dakota.
“Sayang ... bertahanlah” teriak Fano melihat tubuh Dakota sudah tergeletak di lantai. Ingin rasanya Fano saat ini mengangkat tubuh Dakota untuk segera dibawa ke Rumah Sakit, dia hanya bisa menangisi tubuh istrinya.
Tidak berapa lama kemudian, Haris sudah tiba membawa ibu Melda masuk kedalam, bahkan Haris sudah menodongkan pistol ketubuh ibu Melda.
“Tunggu dulu ...” teriak Haris membawa paksa ibu Melda masuk kedalam gudang.
“Ayah ... tolong selamatkan aku” teriak ibu Melda ketakutan.
__ADS_1
“Kau ...” teriak Pak Sugiono. Pak Sugiono sudah terkejut melihat cucu dan anaknya bermusuhan, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi. Setahu Pak Sugiono selama ini Haris putra kandung dari ibu Melda, yang dia tahu Elcid selingkuh hingga memiliki seorang putri dari perempuan lain. Hanya sebatas itu yang dia tahu.
“Ayah ... tolong aku. Aku tidak mau mati ...” teriak ibu Melda.
“Ada apa denganmu Haris, kau mau membunuh mamamu” teriak Pak Sugiono, dia tidak percaya bahwa cucunya itu akan tega membunuh ibu Melda.
“Kakek, aku tidak akan segan-segan membunuh mama. Cepat lepaskan Dakota dan kakek” ucap Haris mengancam.
Pak Sugiono semakin kebingungan menghadapi situasi saat ini. Selang hitungan detik kemudian.
“Dor ... dor ...” suara tembakan menerobos tubuh gadis-gadis milik Pak Sugiono.
“Dor ... dor ....” kembali tembakan jitu dari seseorang yang tidak diketahui sudah menembus lengan Pak Sugiono, membuat tubuh Pak Sugiono ambruk kelantai. Bahkan gadis-gadis milik Pak Sugiono tadi sudah ikut terkapar kelantai, tubuh gadis-gadjs itu tidak bernyawa lagi. Fano langsung bergerak menendang pistol yang ada ditangan Pak Sugiono, hingga pistolnya itu dia raih. Fano langsung beranjak mengangkat tubuh Dakota. Dakota sudah pingsan karena menerima cekikan keras dari Pak Sugiono tadi.
“Sayang ... tolong bangun ... kau harus kuat” teriak Fano memapah tubuh Dakota keluar dari gudang.
“Tuan Besar ...” teriak Mail juga Naon.
Semua pengawal sudah tiba dilokasi mengamankan tubuh Pak Sugiono. Ternyata penembak jitu itu adalah Mail Sekretaris Pribadi sekaligus pengawal setia Pak Purnomo.
“Maaf Tuan Besar, kami mencari celah saat Pak Sugiono menjauh dari tubuh nyonya muda Dakota” ucap Mail memberikan alasan.
Naonpun bergegas membuka ikatan ibu Lena dan Eveno langsung melepas ikatan Pak Admidjaya.
“Kau baik-baik saja” ucap Pak Purnomo meraih tubuh ibu Lena. Ibu Lena hanya mengangguk.
“Bawa mereka, jangan bunuh ...” perintah Pak Purnomo untuk mensekap tubuh Pak Sugiono dan ibu Melda untuk segera di introgasi.
“Baik Tuan” sahut para pengawal itu.
Semua orang langsung bergegas menuju Rumah Sakit terdekat di Kota X. Sementara itu, Haris, Naon juga Eveno masih tetap mencari keberadaan Yohana dan Siti. Tidak berapa lama, mereka sudah menemukan keberadaaan Yohana dan Siti dekat juga dari area gudang. Begitu terkejutnya mereka melihat tubuh Yohana dan Siti sudah luka-luka di sekujur tubuh mereka. Gadis-gadis itu ternyata menghajar Yohana dan Siti hingga babak belur.
“Sayang...” teriak Haris melepas ikatan Yohana. Naon juga langsung melepas ikatan Siti.
“Huhuhu... sakit sekali” teriak Yohana sudah menangis menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Tubuh mereka sudah lebam. Begitu juga dengan Siti, sebenarnya air mata Siti sudah keluar, tapi dia tetap tahan air matanya itu agar terlihat tegar menahan sakit disekujur tubuhnya.
__ADS_1
“Bertahanlah, kau sudah aman” ucap Haris memeluk tubuh Yohana, dia langsung menggendong tubuh Yohana.
“Hei ... kalau kau mau menangis, menangis saja, untuk apa kau tahan ...” ucap Naon memapah tubuh Siti. Mendengar ucapan Naon Siti langsung menangis dipelukan Naon.
“Huhuhu ... huhu ....” tangis Siti meledak di pelukan Naon.
“Kau juga wanita, bukan robot, bukan super hero” ucap Naon menenangkan tubuh Siti.
# Rumah Sakit di Kota X.
Setibanya di Rumah Sakit, Fano sudah teriak-teriak pada semua orang yang ada di Rumah Sakit agar mereka segera menangani tubuh istrinya.
“Suster... Dokter... tolong istriku” teriak Fano menggendong tubuh Dakota dipelukannya. Fano sudah membawa tubuh Dakota keruang ICU.
“Presdir Fano, tenanglah” ucap Dokter langsung melakukan tugasnya. Fano disuruh keluar oleh Dokter itu.
“Dok.. tolong selamatkan istri dan anakku” ucap Fano memohon pada Dokter itu.
“Kami akan melakukan tugas kami, segera anda keluar dulu” ucap Dokter itu. Fano menganguk, terpaksa Fano keluar, dia sudah menunggui di luar ruangan.
Begitu juga dengan Pak Purnomo sudah membawa ibu Lena untuk segera di rawat. Menyusul Yohana dan Siti ikut di rawat di Rumah Sakit yang sama.
Semua orang sudah tiba di Rumah Sakit, mereka sudah menunggui kabar, terutama kabar dari Dakota dan bayi yang ada dalam kandungannya. Terlihat begitu cemasnya Fano, menatapi jendela Ruang ICU tempat istrinya dirawat. Sudah dua jam lamanya Dokter di dalam ruangan itu, belum juga ada yang keluar membawa kabar baik. Bahkan ibu Lena yang baru saja selesai dirawat sudah ikut menunggui menantunya.
“Nak, minumlah dulu” ucap ibu Lena memberikan botol minuman pada Fano. Wajah Fano sudah terlihat pucat. Fano juga kurang istirahat karena mengurusi acara ulang tahun perusahaannya semalam. Fano langsung menerima botol minuman itu.
“Tuhan ... tolong jangan ambil nyawa istri dan anakku, aku mohon padaMu.” Doa Fano membatin. Pandangannya tetap tertuju ke Ruang ICU.
BERSAMBUNG...........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah like, komentar dan Vote, saya sayang kalian😊
Tetap dukung novel ini ya🙏
See You 🙋🙋🙋
__ADS_1