
“Dimana Siti” ucap Dakota saat Naon membukakan pintu. Dakota sudah memperhatikan penampilan Naon sudah acak-acakan. Kela pun langsung berbisik pada Dakota.
“Nyonya Dakota, saya yang salah, sebenarnya Siti salah minum tadi. Siti meminum minuman botol yang sudah terisi obat perangsang yang saya bawa kebalik layar” bisik Kela. Dakota sangat terkejut mendengar bisikan Kela.
“Jangan bilang Manajer Naon meladeni tingkah Siti tadi, mereka kan belum menikah” batin Dakota.
“Maaf Nyonya Muda” ucap Naon menunduk.
“Kenapa dengannya” ucap Fano. Dakota langsung menahan Fano untuk tidak masuk kedalam kamar. Dakota dan Kela langsung masuk memeriksa keadaan Siti. Ternyata selimut yang Naon pakaikan untuk Siti sudah melorot membuat tubuh Siti terlihat oleh mereka sudah setengah bugil.
“Lebih baik kalian keluar” ucap Dakota pada Fano.
“Kenapa dengannya?” tanya Fano penasaran.
“Presdir, kita keluar saja dulu” ucap Naon sambil mendorong tubuh Fano.
Naon pun langsung menutup pintu kamar. Fano sudah keheranan dengan sikap Naon. Pasalnya karena Naon dan Siti tidak juga kunjung tiba ke ruangan Dakota tadi. Fano pun langsung mencek keberadaan Naon dari kamera pengawas karena saat Fano menghubungi ponsel Naon. Ponsel Naon tidak menjawab panggilannya. Ketika melihat hasil rekaman kamera pengawas, Fano sangat cemas pada Siti karena dari hasil kamera pengawas terakhir tubuh Siti sudah telihat tidak sadarkan diri dipapah oleh Naon. Hal itu lah yang membuat Fano panik langsung menemui Naon di kamar penginapan itu sesuai dengan petunjuk dari hasil rekaman kamera pengawas.
Saat ini Fano sudah memandangi tubuh Naon dari atas sampai kebawah.
“Ada apa denganmu, kau sudah berumur, tapi dalam sejarah hidup belum pernah lehermu itu berbekas” ucap Fano sambil memandangi leher Naon. Fano sangat paham juga tau dengan kondisi Naon. Karena Naon selalu setia padanya, belum pernah sekalipun Fano melihat Naon berkencan dengan wanita lain.
“Presdir, tolong jangan lihat saya” ucap Naon sambil menutupi lehernya pakai jasnya.
“Aku curiga padamu, kalau sampai aku mengetahui apa yang kau lakukan di dalam bersama Siti dari istriku, kau akan tahu akibatnya” ucap Fano mengancam Naon.
“Presdir, maafkan saya, saya salah” ucap Naon.
“Ceritakanlah” ucap Fano penasaran.
“Begini Presdir, tadi Siti salah meminum minuman botol yang dibawa oleh Kela kebalik layar. Ternyata yang Siti minum itu milik Nyonya Muda yang sudah Tuan Beni berikan obat perangsang tadi. Karena haus, Siti langsung meminum minuman botol itu. Setelah itu, saya membawa Siti kedalam kamar penginapan ini, saya tidak ingin Presdir tahu masalah ini” ucap Naon merasa bersalah.
“Lalu, setelah itu kau memanfaatkan keadaan begitu” ucap Fano sudah kecewa pada Naon.
“Maaf Presdir sedari awal saya sudah menolak, tapi saya khilaf” ucap Naon sambil menunduk. Naon saat ini sangat malu pada Fano.
“Kau belum menikahinya, kau tidak punya hak untuk menyentuhnya, sekalipun kau menyukai Siti. Jika Siti sadar besok, kau harus minta maaf padanya” ucap Fano pada Naon.
“Baik Presdir” ucap Naon.
“Tapi kau serius belum menyentuhnya” ucap Fano memastikan.
“Benar Presdir, saya belum sempat” ucap Naon malu-malu.
“Dasar Naon bodoh” ucap Fano sambil mengacak rambut Naon.
Mereka pun kembali menunggui Dakota dan Kela untuk segera keluar dari kamar itu. Hari sudah mulai larut, Dakota dan Kela sudah selesai memandikan tubuh Siti di dalam kamar mandi. Walau begitu, tubuh Siti masih saja terasa panas karena efek dari obat perangsang itu masih ada pada tubuhnya. Setelah mengganti pakaian Siti dengan pakaian yang ada di dalam kamar. Dakota dan Kela sudah memapah tubuh Siti untuk keluar dari kamar itu.
“Nyonya Muda, biar saya saja” ucap Naon meraih tubuh Siti. Namun Naon tidak berani menatap pada Dakota maupun pada Kela. Dakota pun langsung menyerahkan tubuh Siti pada Naon. Naon langsung menggendong tubuh Siti. Mereka pun beranjak keluar dari IndoBoutik. Sepanjang jalan menuju parkiran, Fano pun menyentuh lengan Dakota.
__ADS_1
“Ada apa sih” ucap Dakota pada Fano.
“Kau lihat Naon” bisik Fano pada istrinya.
“Iya aku lihat, kenapa kau harus berbisik” ucap Dakota sambil memperhatikan Naon menggendong tubuh Siti menuju mobil yang ada di parkiran.
“Naon sudah kebelet kawin” bisik Fano sambil tertawa.
“Jangan bilang tadi itu Naon hampir menyentuh Siti” ucap Dakota tidak percaya. Selama ini Dakota selalu melihat bahwa Naon memang pria yang polos dan lugu walau sudah berumur.
“Aku juga awalnya tidak percaya, namun saat aku lihat lehernya, aku yakin dengan penglihatanku, aku pun langsung menanyainya” ucap Fano sambil meraih tangan istrinya dalam genggamannya.
“Astaga, pantesan dia tidak berani menatap padaku” ucap Dakota mengingat kembali sikap canggung Naon tadi.
“Setidaknya kita datang diwaktu yang tepat, kalau tidak, aku yakin saat Siti sadar besok, bisa jadi tubuh Naon langsung jadi samsak besok” ucap Fano mengingat Siti bukan wanita sembarangan.
“Bagaimana pun sikap Siti pada Manajer Naon, tetap saja, Manajer Naon tidak boleh menyentuh Siti, mereka belum menikah” ucap Dakota.
“Benar yang kau bilang, aku sudah memperingati Naon tadi” ucap Fano. Mereka pun ikut masuk kedalam mobil. Naon sudah menyetir untuk Siti dan Kela. Sedang Fano dan Dakota naik mobil terpisah dengan mobil yang Naon setir. Fano memilih menyetir sendiri karena Siti tidak sadarkan diri. Saat mobil yang Fano setir keluar dari parkiran.
“Tin ... tin ....” Haris sudah mengklakson pada Fano pertanda Haris beranjak lebih dulu pada Fano dan Dakota. Fano pun langsung balas membunyikan klakson mobilnya. Mobil yang mereka naiki pun melaju menuju kediaman Reinhard.
#Kediaman Reinhard.
Sesampainya mobil yang Fano setir di depan lobi kediaman Reinhard. Kedatangan Dakota dan Fano sudah ditunggui oleh anak mereka Alfata.
“Ini sudah larut, Fata belum tidur juga” ucap Fano pada istrinya. Pelayan yang ada di kediaman langsung membuka pintu mobil untuk Dakota.
“Baik Presdir” ucap pengawal itu.
“Bunda” ucap Alfata saat Dakota baru saja turun dari mobil.
“Nak, kau belum tidur, ini sudah larut” ucap Dakota langsung menciumi pipi Alfata.
“Kenapa kalian lama sekali baru kembali” ucap Alfata sambil merengek dipelukan Dakota.
“Bunda minta maaf ya” ucap Dakota sambil membawa anaknya, diikuti oleh Fano dari belakang, mereka pun masuk kedalam kediaman. Pak Purnomo pun langsung memainkan matanya untuk berbicara empat mata pada Fano saat Fano tiba di ruang tamu.
“Kau sudah kembali” ucap Ibu Lena pada menantunya.
“Iya ma” ucap Dakota melepas Fata dari pelukannya. Fata pun langsung menghampiri ayahnya.
“Lebih baik kau langsung membersihkan diri, hari sudah larut” ucap Ibu Lena. Dakota pun langsung beranjak menuju kamarnya membiarkan Fata bersama suaminya.
“Ayah” ucap Alfata memeluk kaki Fano.
“Kau belum mengantuk” ucap Fano langsung meraih tubuh Alfata.
“Ayah sudah janji akan membelikan game untukku” ucap Alfata menagih janji Fano untuk membelikan game pada Alfata.
__ADS_1
“Sudah aku beli, Naon akan membawakan gamenya padamu” ucap Fano. Tidak lama kemudian, Naon pun membawakan game keluaran terbaru. Alfata langsung kegirangan melihat game yang sudah Naon letakkan di atas meja yang ada di ruang tamu.
“Aku sudah membelikanmu game, tapi ada syaratnya” ucap Fano.
“Apa itu” tanya Alfata.
“Kau harus segera tidur, setelah itu kau baru boleh memakai game itu” ucap Fano sambil menatap jam tangannya sudah menunjukkan pukul 23.00 wib.
“Aku sudah menunggu sedari tadi, kenapa ayah lama kembali” rengek Alfata sudah kecewa tidak bisa bermain lagi.
“Fata, lebih baik kita tidur nak, ayahmu masih ada hal penting yang harus diurus” ucap Ibu Lena memahami situasi, sedari tadi Pak Purnomo sudah menunggui anaknya untuk berbicara empat mata dengannya.
“Nak, ayah akan bermain denganmu besok, ayah janji, besok ayah akan pulang lebih cepat” ucap Fano sambil mencium pipi Alfata.
“Ayah sudah janji, tidak boleh diingkari” ucap Alfata. Alfata pun mengikut pada Ibu Lena untuk segera tidur.
Setelah ibu Lena membawa Alfata masuk kekamarnya. Fano pun langsung duduk di sofa menghadap pada Pak Purnomo.
“Aku dan Pak Admidjaya baru saja menerima foto terbaru dari Elcid” ucap Pak Purnomo membuka pembicaraan serius itu.
“Wajah Om Elcid terlihat di foto itu memang wajah terbaru beliau saat ini, hanya saja untuk tempat beliau berbaring, tempat itu adalah editan. Belum bisa disimpulkan saat ini Om Elcid benar-benar berbaring karena sakit atau pun koma sesuai dengan ucapan Irma pada istriku. Aku yakin foto itu menunjukkan posisi Om Elcid sedang tidur” ucap Fano.
“Benar yang kau katakan, aku sudah menyuruh karyawanmu ahli desain grafis untuk melacak foto itu. Ternyata foto itu memang foto editan. Foto itu diambil saat Elcid sedang tertidur. Namun anehnya, foto itu diambil secara diam-diam. Itu artinya saat ini Elcid sedang di sekap disuatu tempat” ucap Pak Purnomo.
“Lalu bagaimana reaksi dari Pak Admidjaya setelah tau hal itu?” tanya Fano.
“Tentu saja dia begitu syok melihat wajah terbaru dari putranya yang sudah semakin tua” ucap Pak Purnomo.
“Pastinya pak Admidjaya akan syok, mengingat Om Elcid sudah lama menghilang” ucap Fano.
“Aku dengar pasangan Irma Sugiono adalah Mr. Pich” ucap Pak Purnomo.
“Memang Mr. Pich, hanya saja dia tidak mudah kami dekati. Topeng wajah yang dia pakai sama persis dengan yang Septa gunakan. Saat ini team penyidik sedang meneliti ciri-cirinya. Haris sudah mengurus hal ini” ucap Fano.
“Apa langkah kalian selanjutnya?” tanya Pak Purnomo.
“Aku masih mengandalkan Septa, saat ini Septa bisa di percaya, apa lagi acara Mancanegara akan diadakan seminggu lagi. Septa bisa dijadikan sebagai sumber informasi” ucap Fano.
“Kau harus membuat plan A sampai plan Z, jangan sampai cucuku ikut terluka nanti” ucap Pak Purnomo.
“Aku sedang mengusahakan hal ini” ucap Fano.
“Aku juga ada hal penting yang harus kusampaikan padamu” ucap Pak Purnomo sambil menyerahkan selembar foto pada Fano. Fano sangat syok melihat foto Kamila bersama dengan seorang pria yang baru saja Fano kenal malam tadi saat acara pameran.
“Bukannya pria ini pasangan Irma tadi, dia juga memanfaatkan Kamila” pekik Fano dalam hati.
BERSAMBUNG.............
Hai Reader Wanita Presdir. Dukung selalu novel ini dengan like dan komentar kalian. Di Vote juga boleh😍
__ADS_1
See You🙋🙋🙋