
Melihat Fano yang membawakan belanjaan, Dakota sangat senang melihat suaminya begitu perhatian, bahkan saat ini Fano sudah menggenggam tangan Dakota sembari mereka beranjak keluar dari Mall.
“Suamiku ini memang pria yang perhatian, bisa saja dia meminta pada Naon untuk membawakan belanjaan kami” batin Dakota. Saat mereka mau menaiki eskalator, tiba-tiba saja mata Dakota tertuju pada perhiasan berlian yang sudah terpampang dilayar iklan. Perhiasan kalung terbaru dengan desainnya yang menarik, membuat mata Dakota tidak bisa berpaling dari kalung itu.
“Waw ... siapa yang mendesain kalung itu, desainnya sangat bagus, kalung itu mirip dengan kalung yang dipakai oleh Lady Diana, wanita yang memakai kalung itu pasti sangat beruntung” batin Dakota.
Melihat arah pandangan istrinya sudah mengarah pada layar iklan, mata Fanopun ikut melihat apa yang sudah diperhatikan oleh istrinya, hingga tidak bisa berpaling dari layar iklan itu.
“Sepertinya istriku ini sangat tertarik dengan kalung itu, bahkan pandangannya sangat fokus pada kalung itu” batin Fano.
Fanopun langsung main mata pada Naon. Naon yang memahami kedipan mata Fano langsung menunduk pamit untuk segera melaksanankan instruksi dari Fano.
Mereka beranjak menuju mobil yang sudah tiba dilobi Mall. Para pengawal itu sudah menunggui Fano dan Dakota untuk segera masuk. Sesampainya mereka di dalam mobil, mobil itu langsung melaju.
“Tunggu dulu, Siti Manajer Naon ada dimana?” tanya Dakota melihat Naon tidak ada di dalam mobil dan yang mengemudikan mobil malah pengawal bukan Naon.
“Dia ada urusan sebentar, nanti dia akan menyusul” ucap Fano langsung menjawab pertanyaan istrinya, takut Siti salah jawab.
“Begitu ya” ucap Dakota.
Memakan waktu sekitar 20 menit, akhirnya mobil yang mereka naiki sudah tiba juga di kediaman Reinhard. Saat Dakota keluar dari mobil.
“Bunda ....” ucap Alfata sambil berlari menyambut kepulangan Fano dan Dakota.
“Fata, bunda sudah kangen padamu” ucap Dakota langsung meraih tubuh Alfata dalam pelukannya.
“Kau tidak kangen padaku” ucap Fano sambil mengelus kening Alfata saat Dakota melepaskan tubuh Alfata dari pelukannya.
“Aku yakin ayah tidak kangen padaku, ayah juga tidak membutuhkan aku, ayah hanya peduli pada bunda” ucap Alfata sambil memeluk tubuh Dakota.
“Hei, siapa bilang aku tidak peduli padamu” ucap Fano langsung meraih tubuh Alfata.
“Kalau ayah peduli padaku, tolong kasih aku waktu untuk main game, kakek seharian ini tidak memberikan aku waktu untuk bermain, dia malah mengajariku tentang bisnis, aku sangat muak” ucap Alfata sambil merengek dipelukan Fano.
“Kakek melakukan itu untuk kebaikanmu, bukannya kau menginginkan perusahaanku, belajarlah dari sekarang” ucap Fano. Sambil menggendong Alfata, Fano dan Dakota sudah beranjak menuju kamar mereka.
“Aku tidak mau bersandar pada perusahaan ayah, aku mau bantu kakek buyut saja” ucap Alfata sambil mengelus dagu Fano.
“Ayah, dimana brewokmu?” tanya Alfata.
“Sudah kuhilangkan” singkat Fano.
__ADS_1
“Ayah, walau brewok ayah, ayah hilangkan, wajah ayah tetap saja tidak berubah, benarkan bunda, ayah masih terlihat jelek” canda Alfata pada Dakota.
(...) tidak ada respon dari Dakota. Dakota memilih membuka pintu kamar mengabaikan ucapan anaknya.
“Bunda, benarkan ayah tetap jelek tidak pakai brewok” ucap Alfata sambil main mata pada Dakota.
“Nak, bagi bunda ayahmu itu tetap pria yang paling tampan” ucap Dakota dengan wajahnya sudah merona.
“Istriku ini tidak bohongkan” batin Fano.
“Bunda tidak bisa diajak kompromi, lihat wajah ayah, ayah sudah senang dipuji dengan ucapan yang paling tampan” gerutu Alfata sambil menekan hidung Fano.
“Aku memang tampan, kau tidak bisa memungkiri hal itu” ucap Fano sambil mengecup pipi Alfata.
“Aih, jangan cium aku” ucap Alfata balas mencium pipi Fano. Fano langsung tersenyum melihat anaknya sudah mengambek.
“Kita sudah sampai” ucap Dakota sembari membaringkan tubuhnya diatas kasur.
“Bunda, kita mandi dulu” ajak Alfata saat Fano menurunkan tubuhnya dari pelukan Fano.
“Sebentar lagi nak” ucap Dakota sambil memejamkan matanya. Ada banyak hal yang sudah dia lalui selama berada di kantor seharian ini.
“Fata, kau mandi dengan ayah saja” ajak Fano sambil melepas pakaiannya.
“Tidak, tidak ... biar aku yang mandikan Alfata, yang ada kalian berdua main air nanti” ucap Dakota langsung beranjak dari kasur merapikan pakaian anaknya yang sudah terletak dilantai. Saat Fano membuka kaus kakinya, dengan sigap Dakota membantu melepas semua pakaian yang dikenakan oleh suaminya.
“Tidak perlu” tolak Fano saat Dakota melepas kancing kemeja yang Fano pakai.
“Biar aku saja” ucap Dakota tetap membantu melepas pakaian yang Fano kenakan. Setelah Fano hanya memakai boxernya, Dakota langsung merapikan pakaian kotor anak dan suaminya dan memasukkan pakaian itu ketempat pakaian kotor.
“Sayang, seharian ini kau pasti sudah lelah, lebih baik istirahat” ucap Fano. Fano langsung memeluk tubuh Dakota dari belakang. Tidak sengaja Fano menyentuh gunung kembar istrinya.
“Ternyata miliknya sudah semakin besar” batin Fano. Fano pun tetap mendaratkan jarinya pada kedua gunung kembar milik istrinya hingga tangan Fano meremas kedua gunung kembar itu. Tidak sampai disitu, Fano mulai menciumi leher istrinya.
“Ah ....” ucap Dakota sambil menggeliat.
“Suamiku, tanganmu ini sangat mesum” ucap Dakota sambil berbalik badan menghadap pada Fano. Fano sudah senyum menatap wajah istrinya.
“Kita baru pulang, tunggulah sampai malam” ucap Dakota sambil melepaskan tangan Fano.
“Aku ingin menikmatinya, sebentar saja” ucap Fano dengan wajah memelas. Fano pun langsung mendaratkan bibirnya pada atasan gunung kembar milik Dakota. Fano sudah melaksanakan aksinya, Dakota hanya bisa pasrah karena suaminya menginginkan dirinya. Dakota hanya bisa menggeliat menerima serangan dari suaminya. Bahkan kedua bibir mereka sudah bertemu.
__ADS_1
“Embh ....” Ciuman intens itu pun berlangsung lama. Mereka tidak sadar anak mereka sudah menunggui di dalam kamar mandi. Melihat respon dari tubuh istrinya mulai terangsang, tangan Fano mulai liar menuju pembungkus kecil area sensitif istrinya, sambil menari-narikan jari-jemarinya dibalik pembungkus kecil itu.
“Ayah ....” teriak Alfata dari dalam kamar mandi.
“Astaga ... anakku ini mengganggu saja” batin Fano.
“Ayah ... mataku tidak bisa melihat, hangh ....” Tangis Alfata beranjak keluar dari kamar mandi.
“Fata” ucap mereka bersamaan. Aksi Fano pun berhenti melucuti tubuh istrinya, mereka sudah mendapati wajah anaknya penuh dengan sabun.
“Aduh, mataku sakit ... ayah ada dimana, katanya mau memandikan aku, kenapa lama sekali masuk” rengek Alfata sambil memegangi matanya.
“Astaga, maafkan ayah” ucap Fano langsung membawa tubuh Alfata masuk kedalam kamar mandi.
“Aduh, mataku sakit” ucap Alfata saat sudah sampai di dalam kamar mandi.
“Itu makanya jangan sok jadi dewasa, sok pintar mau mandi sendiri” ucap Fano langsung membasuh wajah Alfata dengan air bersih.
“Salah siapa, kenapa ayah lama” ucap Alfata sambil mencubit lengan Fano.
“Tingkahmu ini sangat mirip dengan bundamu, matamu sudah baikan” ucap Fano sambil menghembus mata Alfata. Alfata mengangguk, dengan sigap Alfata langsung menyiram tubuh Fano dengan sabun cair.
“Kau ini” ucap Fano memandikan anaknya.
“Hie ... hie ....” tawa Alfata tetap memainkan air menyirami tubuh Fano.
“Benar kataku, mereka main air lagi” gerutu Dakota ikut menyusul anak dan suaminya kedalam kamar mandi. Saat Dakota sampai di dalam kamar mandi, tubuhnya ikut basah karena ulah anak dan suaminya.
“Kalian” ucap Dakota melihat Fano dan Alfata sudah saling siram menyiram.
“Ups ... bunda ayah yang lebih dulu” ucap Alfata melempar kesalahan pada Fano.
“Bunda saja yang memandikanmu” ucap Dakota langsung membasuh tubuh anaknya.
“Aku tidak dimandikan” canda Fano sambil membersihkan tubuhnya.
“Satu anak saja sangat sulit untuk dimandikan belum lagi dengan suamiku juga minta dimandikan, gimana kalau nambah anak, bisa-bisa aku memandikan mereka setiap hari” batin Dakota.
BERSAMBUNG..........
Hai Reader Wanita Presdir, maaf ya agak telat up. Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komentar ya🙏
__ADS_1
Mohon dukungannya, Sesekali Vote juga😊
See You🙋🙋🙋