
Hari sudah gelap, walau lampu di jalan raya menghiasi kota Jakarta, namun cuaca sudah terlihat buruk, bahkan petir sudah menggelegar, angin juga sangat kencang membuat daun-daun pepohonan yang ada di dekat jalan trotoar ikut jatuh dari rantingnya berterbangan.
Dakota masih tetap pada posisinya duduk di jalan itu walau orang-orang berlewatan melewati jalan dia tidak menghiraukan pandangan orang lain padanya, sudah banyak orang yang memperhatikan keadaannya, namun orang tersebut tidak menyapanya hanya melihat sekilas saja lalu berjalan melewatinya.
Sudah 2 jam Dakota duduk di jalanan, karena merasa sudah lelah menangis ia langsung merapikan diri, tidak berapa lama dia memutuskan untuk menghubungi Haris, ada banyak hal yang harus dia bahas dengan Haris. Namun saat dia tekan memanggil atas nama kontak Mr. Gipi dari handphonenya.
“Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi” jawab dari balik handphonenya. Dia kembali menghubungi Haris, jawaban yang sama juga dia dapatkan.
“Disaat penting begini, kenapa nomornya sibuk” gumam Dakota memandangi handphonenya.
Akhirnya Dakota menghubungi sahabatnya, hanya Yohana tempat Dakota untuk meluapkan segala emosinya, apa lagi setelah dia mengetahui siapa ayah kandungnya. Handphone Dakota sudah terhubung dengan nama kontak Bebeb.
“Halo beb” ucap Yohana dari seberang.
“Halo beb” ucap Dakota, suara Dakota terdengar berat di telinga Yohana.
“Ada apa beb, apa kamu baik-baik saja” ucap Yohana, suara Yohana juga terdengar berat di telinga Dakota.
“Beb, apa kamu baik-baik saja” ucap Dakota balik bertanya.
“Aku baru saja bertengkar dengan Haris beb, kaukan tahu hubunganku dengannya saat di Paris sudah tidak baik, bahkan saat ini aku baru saja baca artikel, dia akan bertunangan dengan Tina Sugiono adiknya Irma” ucap Yohana menangis dari balik handphone Dakota.
“Apa kau sudah memastikan padanya, bisa saja artikel itu palsu, hanya pemberitaan untuk rating” ucap Dakota memberikan saran.
“Saat ini dia ada di depan rumah kita, aku nggak mau ketemu sama dia beb” ucap Yohana.
“Beb, lebih baik temui saja dia, tanyakan saja padanya, itu lebih baik dari pada berlarut akan terjadi salah paham nanti” ucap Dakota.
“Jgeeer ....” tiba-tiba suara petir guruh menggelegar sangat kuat. Bahkan gerimis sudah turun. Suara petir tadi terdengar oleh Yohana, panggilan mereka masih tersambung. Dakota langsung beranjak dari duduknya berlari kecli mencari tempat teduh, semua orang sudah berlari menghindari hujan.
“Beb, apa kamu diluar, cuaca hari ini sangat buruk, hari juga sudah larut” tanya Yohana dari balik handphone Dakota. Dakota tidak merespon ucapan Yohana karena hujan mulai turun. Siti yang sedari tadi mengawasi Dakota langsung berlari menghampiri Dakota sambil membawa payung.
Tidak berapa lama hujan semakin deras sudah membasahi tubuh Dakota.
“Nyonya muda, sebaiknya kita pulang” ucap Siti langsung memayungi Dakota. Dakota mengangguk pada Siti.
“Halo beb, apa kamu baik-baik saja” tanya Yohana mengkhawatirkan Dakota.
“Aku baik-baik saja beb, udah dulu ya” ucap Dakota memutuskan panggilannya.
__ADS_1
Setelah berlari menuju ke parkiran mobil, Dakota langsung masuk kedalam mobil duduk di belakang kemudi, dengan sigap Siti melajukan mobil itu membawa Dakota menuju kediaman Reinhard.
# Kediaman Reinhard
Sesampainya di kediaman Reinhard, keluar dari mobil Dakota memilih beranjak kekamarnya, dia juga melihat sekilas di rumah itu tidak ada mama mertuanya begitu juga suaminya. Siti sangat khawatir melihat keadaan Dakota, apa lagi tubuh Dakota sudah sempat basah tadi. Sepanjang di perjalanan tadi Dakota bahkan tidak bersuara pada Siti seperti biasa. Biasanya ada saja hal yang diucapkan oleh Dakota pada Siti walau sekilas bertanya.
“Hatshy ... hatsty ....” Dakota sudah memegangi hidungnya yang basah.
“Apa aku demam, padahal hanya sebentar di timpa hujan” gumam Dakota menggosok hidungnya, kebetulan hidungnya sudah gatal. Dakota langsung masuk ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya menghilangkan air hujan yang menempel pada tubuhnya.
Saat Dakota bebersih diri di kamar mandi, Naon sudah tiba di rumah memapah tubuh Fano. Fano hanya teriak-teriak memanggili istrinya.
“Sayang ....” teriak Fano, tubuh Fano bahkan sudah terhuyung melangkah masuk kedalam rumah, Naon membantu Fano beranjak menuju kamar Fano.
“Naon bodoh aku bisa jalan sendiri” ucap Fano mendorong wajah Naon.
“Presdir, anda sudah banyak minum” ucap Naon tetap memegangi tubuh Fano.
“Kau sangat keras kepala” ucap Fano mendorong tubuh Naon. Naon terpaksa melepas tubuh Fano, Fano langsung melangkah menuju kamarnya. Naon masih memandangi tubuh Fano hingga Fano masuk kedalam kamarnya.
“Sayang, kau ada dimana ....” teriak Fano di dalam kamar, dia tidak menemui istrinya di dalam kamar. Walau mabuk dan setengah sadar Fano masih memiliki tenaga untuk melepas semua pakaiannya. Dakota yang berada di dalam kamar mandi sangat terkejut mendengar suara suaminya sudah teriak-teriak memanggilnya, dengan gerak cepat Dakota merapikan dirinya di dalam kamar mandi. Kebetulan dia baru selesai mandi, dia tidak membawa pakaian ganti, hanya handuk yang menutupi tubuhnya. Saat dia keluar dari kamar mandi dia sudah menemukan suaminya hanya memakai boxer kecil. Namun tubuh Fano terlihat tidak seperti biasanya
“Kenapa kau harus teriak-teriak” ucap Dakota mengabaikan Fano, dia beranjak menuju lemari untuk berganti pakaian. Fano langsung menarik lengan Dakota, membuat Dakota berbalik badan menghadap pada Fano.
“Ada apa denganmu?” tanya Dakota heran melihat sikap Fano.
“Beri tahu aku, apa hal penting yang kau bicarakan dengannya, hingga kau tidak izin padaku menemuinya hari ini” ucap Fano suaranya mulai meninggi. Mendengar ucapan Fano, Dakota mulai mencerna perkataan suaminya.
“Apa dia tahu aku menemui Janter tadi” gumam Dakota.
“Katakan padaku apa hal penting itu, kau bahkan berpelukan dengannya” teriak Fano kembali dia menarik tubuh Dakota hingga tubuh Dakota terhempas ke atas kasur. Fano langsung menekan tubuh Dakota, membuat Dakota tidak bisa bergerak sedikitpun, kedua tangannya sudah di kunci oleh Fano, bahkan dia mulai melucuti tubuh istrinya. Dakota sudah mencium bau alkohol dari tubuh Fano.
“Apa kau mabuk” tanya Dakota mencoba mendorong tubuh Fano dengan lututnya. Fano mengabaikan ucapan istrinya, dengan paksa dia menarik handuk yang tertempel di tubuh Dakota.
“Semua tubuhmu ini sudah di sentuh olehnya, berani sekali kau membiarkan pria lain menyentuh milikku” ucap Fano, Fano malah menggigit leher Dakota.
“Ahh ... sakit sekali” ringis Dakota matanya mulai berkaca-kaca, dia bahkan tidak memiliki tenaga, karena tubuhnya kurang fit juga. Dia menatap wajah Fano sudah tidak seperti biasanya. Fano memang terlihat setengah sadar, namun aksi Fano sangat brutal.
“Suamiku, saat ini kau terlihat mabuk, perutku akhir-akhir ini terasa keram, bisa tidak menyentuhku, aku minta maaf padamu untuk hari ini, aku salah sudah menemui pria lain” ucap Dakota minta maaf. Fano tetap mengabaikan ucapan istrinya, dengan paksa dia tetap melakukan aksinya menciumi tubuh Dakota.
__ADS_1
“Bagian yang mana saja yang sudah disentuh olehnya” ucap Fano.
“Apa bagian ini” ucap Fano menciumi kedua gunung kembar Dakota.
“Apa dia juga menyentuh ini” ucap Fano kembali mencium paksa bibir Dakota, bahkan bibir Dakota sudah berdarah.
“Kenapa dia sangat brutal, perutku semakin sakit” gerutu Dakota.
“Suamiku, tolong jangan paksa aku, perutku masih sakit” pinta Dakota, namun karena setengah sadar Fano tetap melaksanakan aksinya, hingga juniornya dengan paksa dia satukan ke area sensitif Dakota. Tubuh Dakota yang sudah terlihat tidak fit pasrah melayani suaminya yang sudah brutal, bahkan dia tidak ada tenaga lagi. Tidak berapa lama, tubuh Dakota tidak merespon lagi, namun mata Fano langsung terbelalak, begitu terkejutnya dia melihat banyak darah keluar dari area snsitif istrinya. Tubuh Dakota juga tidak merespon, Dakota sudah pingsan.
“Darah, kenapa banyak darah keluar” ucap Fano khawatir, Fano menggoyang tubuh Dakota, namun Dakota tidak merespon.
“Sayang ....” teriak Fano, Fano sangat panik melihat istrinya tidak merespon.
Dengan cepat Fano langsung membasahi tubunya dengan air, dia memakai pakaian seadanya memapah tubuh Dakota keluar dari kamar mereka.
“Presdir ....” ucap Naon melihat Fano terburu-buru menggendong tubuh Dakota.
“Cepat hidupkan mobil, kita ke Rumah Sakit” teriak Fano.
Naon langsung berlari keparkiran. Bahkan ibu Lena yang baru sampai di rumah sangat kebingungan melihat putranya sudah menggendong Dakota, Fano mengabaikan semua orang yang ada di rumah, bahkan Yohana dan Haris yang baru saja tiba di rumah itu ikut heran melihat tubuh Dakota sudah pingsan di pelukan Fano. Malam itu juga mobil melaju membawa Fano memapah Dakota, dia sudah sadar memeluk tubuh istrinya, bahkan tangan istrinya itu di genggam erat-erat menuju Rumah Sakit tempat Henri dan Dokter Mia mama Henri bekerja. Mobil Fano langsung diikuti oleh Haris, mereka ikut menuju Rumah Sakit.
"Sayang, sadarlah ...." cemas Fano mencium kening Dakota.
"Tidak bisakah kau lebih cepat" teriak Fano memerintah Naon. Mobil itu langsung melaju dengan cepat.
Sementara itu,
“Siti, apa yang sudah terjadi” tanya ibu Lena.
“Maaf nyonya besar, saya kurang tahu, tubuh nyonya muda memang kurang fit, dia baru terkena hujan juga tadi, lebih baik kita ikut juga ke Rumah Sakit nyonya” ucap Siti. Mereka ikut menuju Rumah Sakit.
BERSAMBUNG..............
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir, jangan bosan ya reader dukung novel ini, 🙏
Beri like dan komentar kalian, sesekali Vote ya 😊
See You 🙋🙋🙋
__ADS_1