
Selesai penandatangan kontrak, rapat itupun selesai. Semua yang ada diruangan itu sudah heboh bahkan tidak menyangka bahwa Dakota mampu mendapatkan kepercayaan dari Ceo Reliance Industries. Keluar dari ruangan rapat para karyawan itu masih bergosip.
“Dakota Kaif luar biasa ya, bisa mendapatkan kepercayaan dari perusahaan besar” bisik yang satu,
“aku yakin setelah ini dia akan naik jabatan” bisik yang lain,
“bisa jadi posisi Dakota bakalan sama dengan posisi Susi” bisik karyawan itu keluar dari ruangan. Susi sangat emosi dengan karyawan yang membanding-bandingkan dirinya dengan Dakota sebagai karyawan baru.
Sementara itu, saat permintaan Pak Rapijay pada Dakota untuk memandunya berkeliling perusahaan, sebenarnya ada hal yang akan disampaikan oleh Pak Rapijay pada Dakota. Dakota juga merasa akan ada hal penting yang akan di sampaikan oleh Pak Rapijay padanya. Namun Fano selalu ikut mendampingi tamu itu, seolah-olah Fano tidak ingin istrinya itu berduaan saja dengan Pak Rapijay.
“Kenapa suamiku ini terus mendampingi kami, apa mungkin dia merasa tidak enak dan ikut juga memandu” batin Dakota.
Dakota terus menjelaskan pada Pak Rapijay bagian-bagian dari Reinhard Group. Walau dia masih terbilang karyawan baru, untuk lokasi kantor dia sudah sangat hapal, mengingat awal diterima kerja disana, dia juga dipandu oleh atasannya. Fano juga ikut menemani, sekekali mereka tertawa karena candaan yang dibuat oleh Dakota.
“Istriku ini bisa juga bercanda” batin Fano.
Sekali-kali Fano memandangi istrinya itu, dia sangat kagum pada istrinya itu bisa berbahasa India, walau tidak pasih. Tidak berapa lama handphone Fano berbunyi, terpaksa dia menjauh dari Pak Rapijay dan Dakota.
“Tuan Rapijay, saya angkat telvon sebentar “ ucap Fano undur diri.
“Silahkan Presdir Fano” ucap Pak Rapijay.
Setelah kepergian Fano, disitulah kesempatan Dakota untuk bertanya pada Pak Rapijay.
“Tuan Rapijay, bagaimana bisa anda kenal dengan saya” ucap Dakota.
“Awalnya saya terkejut, saat moderator tadi menyebutkan namamu. Saya orang yang akan ingat dengan postur tubuh seseorang walau sekali bertemu. Begitu juga dengan Endangsi, dia awalnya memakai nama samaran, namun karena saya mengingat postur tubuhnya saat urusan bisnis dengan bosnya dulu. Saya juga mudah mengenali suara. Itulah alasan kenapa saya bisa kenal denganmu. Yang menjadi pertanyaan saya kenapa nama belakangmu sama dengan Endangsi” ucap Pak Rapijay.
“Pak Rapijy, ceritanya panjang, tidak bisa saya beritahukan saat ini” ucap Dakota menjelaskan.
“Kalau kau memang berhubungan dengan Endangsi Kaif, aku akan menunggumu di Paris. Bos dari Endangsi Kaif akan kau temui disana” ucap Pak Rapijay.
__ADS_1
Begitu terkejutnya Dakota mendengar bahwa ibunya memiliki seorang bos. Tidak berapa lama kemudian Fano sudah kembali menghampiri mereka berdua. Meraka kembali berkeliling.
Tidak terasa hari sudah semakin siang, Dakota juga sudah selesai memandu. Rencananya tamu undangan itu akan menikmati hidangan makan siang yang sudah disediakan oleh perusahaan, koki terkenal juga sudah datang dua jam yang lalu. Dakota merasa tidak enak harus bersama dengan mereka, dia pamit undur diri kebetulan dia juga sudah kebelet, dia meminta sekretaris Yunas untuk menggantikannya. Dia kembali keruangan rapat untuk mengambil tasnya, tas tersebut sudah dia tenteng menuju toilet wanita.
Sepanjang perjalanan menuju toilet wanita, pikiran Dakota dipenuhi tanda tanya, apa yang sudah ibunya Endangsi sembunyikan darinya, kenapa ibunya itu melarangnya untuk tidak bergabung dengan Sanggar Elaya. Dia juga tidak menyangka bahwa ibunya itu memiliki seorang bos. Sesampainya ditoilet Dakota dibuat terkejut oleh karyawan yang sudah bergosip tentang dirinya di toilet wanita itu. Dakota yang duduk dikloset duduk mengangkat kakinya dan menahan nafasnya supaya para karyawan itu tidak menyadari keberadaannya, dia menguping pembicaraan karyawan wanita itu.
“Apa gunanya Susi sebagai desain utama perusahaan, dia bahkan dilangkahi oleh pembantu muda” ucap salah satu karyawan wanita itu,
“aku dengar cewek culun itu mendekati Presdir Fano, makanya Presdir Fano memberikan proyek besar ini padanya” ucap wanita yang lain,
“kasihan banget Susi, proyek besar ini dia tidak bisa menunjukkan eksistensinya, hanya mendapat malu dan cibiran dari para atasan” ucap karyawan wanita bergosip.
Mereka tidak mengetahui bahwa kedua orang yang mereka gosipi sudah mendengar pembicaraan mereka.
Setelah karyawan wanita itu keluar dari toilet, Dakota belum berani keluar, dia merasa masih ada karyawan lain di dalam toilet itu. Tidak berapa lama kemudian dia mendengar bunyi panggilan keluar, orang sedang menelvon.
“Sepertinya, ada yang menelvon” batin Dakota.
“Ya Cin” jawab dari seberang, hanya Susi yang mendengar jawaban itu karena dia silent.
“Aku sangat kesal hari ini cin, aku mau melaksanakan rencanamu. Ayo kita hancurkan wanita culun itu” ucap Susi.
“Serius cin” jawab dari seberang.
“Aku mau hari ini wanita culun itu hancur” ucap Susi.
“Wah, tanpa pikir panjang ya cin, bagus aku akan telvon mereka” ucap dari seberang menutup telvon.
Mendengar pembicaraan Susi membuat tubuh Dakota mulai merinding, kata hancurkan dan hari ini membuat otaknya berputar. Dia yakin orang yang ditelvon Susi itu adalah Kamila, panggilan akrab kata cin (cinta) atasannya mengucapkan kata itu hanya pada sahabatnya Kamila. Dakota belum berani keluar dari toilet, apa lagi dia baru saja mendengar orang lain akan berbuat hal buruk padanya hari ini.
“Apa yang harus aku lakukan. Apa yang mereka rencanakan. Apa aku beritahukan saja pada suamiku, tidak ... tidak, dia juga masih sibuk dengan tamu-tamunya. Apa yang harus aku lakukan, berpikirlah” gumam Dakota didalam toilet.
__ADS_1
“Aku harus melakukan perlindungan diri” gumam Dakota lagi. Dia memeriksa isi tasnya mencari sesuatu yang bisa berguna untuk tubuhnya.
Dakota keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya sudah keringat dingin, dia tidak tau rencana apa yang akan Susi perbuat padanya. Dia beranjak ke kantin perusahaan untuk makan siang, dia juga mencoba untuk berbaur dengan keramaian. Dia cemas kalau dia sudah sendiri, dia akan benar-benar dihancurkan seperti perkataan Susi.
Namun waktu istirahat sudah selesai. Keramaian yang ada di kantin sudah bubar karena semua karyawan kembali lagi untuk bekerja. Begitu juga dengan Dakota, dia kembali menuju ruangannya, dia beranjak dari kantin perusahaan ditemani oleh teman seruangannya Sita. Walau baru bergabung beberapa bulan Dakota belum mengenal sifat Sita. Dia hanya berteman sewajarnya saja, ketika diajak bicara Dakota akan menyahut, dan pembahasan mereka hanya seputar pekerjaan saja.
Saat diperjalanan menuju ruangannya, tiba-tiba seorang pria mencegah langkah kaki Dakota dan Sita.
“Nona-nona cantik, boleh saya minta tolong” ucap pria itu.
Dakota dan Sita langsung menoleh pada pria itu, mereka memperhatikan pria itu bukan karyawan dikantor mereka. Walau pria itu berpakaian rapi dengan jas hitamnya dan kacamata hitam juga.
“Kenapa Pak?” tanya Dakota.
“Ada yang bisa kami bantu” ucap Sita.
“Saya pengawal dari tamu undangan perusahaan ini, namun saya tidak tahu dimana basement (tempat parkir) dari kantor ini, bisakah kalian mengantarkan saya” ucap pria itu.
Dakota dan Sita saling memandang.
“Pak anda adalah tamu, biar saya antar anda” ucap Dakota, dia menitipkan tasnya pada Sita. Sita menerima tas itu.
Dakota dan pria itu sudah beranjak menuju basement kantor.
BERSAMBUNG.......
Hai Reader😄
Terima kasih sudah mampir. Jadiin Favorite +Vote ya. Jangan lupa like dan komentar 😘
See you 😍
__ADS_1