
Selesai menghadap dengan papanya, Fano masih mengurus berkas untuk pertemuan penting besok dengan clientnya. Saat sudah larut dia memutuskan untuk masuk kekamarnya yang ada di hotel, dia masih menunggu kedatangan Naon karena handphonenya tertinggal. Karena cuaca yang buruk juga perjalanan penerbangan dari Papua ke Kota X memakan waktu, malam sudah larut Naon belum juga tiba. Padahal Fano sangat ingin mengabari istrinya itu.
Keesokan harinya, tiba acara pertemuan dengan client untuk membahas masalah yang dialami oleh perusahaannya. Fano bangun dari tidurnya menikmati udara yang masuk dari jendela. Dari jendela tersebut sudah tembus pemandangan indah, desiran air yang berbunyi oleh ombak. Tepat diarea belakang hotel terdapat pantai. Memang di Kota X laut lebih luas daripada daratan. Namun banyak pengusaha yang membangun gedung pencakar langit dikota itu. Lautlah yang menjadi ikon utama Kota X untuk dikunjungi oleh wisatawan. Setelah berpakaian rapi Fano sudah melangkah menuju bar hotel.
“Hai Presdir Cleofano” ucap salah satu pria menyambut Fano. Mereka sudah duduk di bar dan bercengkrama satu dan yang lainnya.
“Hai tuan Senov” ucap Fano berjabat tangan dengan mereka. Yang lain juga sudah memanggil Fano untuk bercengrama. Udara disana terasa kencang karena desiran ombak. Bar hotel memang ditata untuk tempat bersantai, apalagi lokasinya tepat ditepi pantai. Selama bercengrama sesekali mata Fano tertuju pada pantai. Dia memandangi keindahan pantai berharap bisa berpelukan dengan istrinya ditepi pantai itu. Namun karena kesibukannya dia bahkan belum sempat mengajak istrinya untuk berbulan madu. Tidak lama kemudian tiba-tiba saja Fano merasakan bahwa tubuhnya dipeluk oleh seseorang, dia tersadar dari lamunannya.
“Apa yang kau lakukan” ucap Fano berbalik badan dan melihat Kamila sudah memeluk tubuhnya dari belakang.
“Aku kangen sama kamu” ucap Kamila, suara Kamila dia sengaja agak meninggi biar terdengar oleh teman bisnis Fano yang juga teman bisnisnya sendiri.
“Wanita licik, kalau kau tidak melepaskan pelukan ini aku jamin kau akan kubuat malu dihadapan mereka” ucap Fano pelan.
“Cekrek” kamera handphone Kamila sudah mengambil fotonya dan Fano dari arah samping.
“Kau sedang apa?” Fano langsung mendorong tubuh Kamila.
“Aku hanya iseng, kamu masih saja terlihat muda seperti 5 tahun lalu” ucap Kamila menggandeng tangan Fano.
“Tuan-tuan yang hadir ditempat ini, lama tidak berjumpa. Apa aku sudah terlihat cocok dengan lelaki tampan ini” ucap Kamila pada semua client yang ada di bar.
“Ya, tentu saja, kalian pasangan yang serasi” ucap yang satu, “Kamila memang cantik” ucap yang lainnya.
“Lihat, mereka bahkan mendukungku, ternyata aku masih berpengaruh di mata mereka” bisik Kamila sambil tersenyum lebar pada Fano.
“Kau terlalu memuji, kehadiranmu tidak berarti apa-apa bagiku” ucap Fano menepis tangan Kamila. Fano langsung mengambil posisi untuk duduk dengan client yang belum diajaknya ngobrol dari tadi sejak ia sampai di bar.
“Aih, dia bilang aku tidak ada pengaruhnya, padahal papanya sangat mengharapkan aku untuk membantunya” batin Kamila.
Tidak terasa hari sudah gelap. Akhirnya Naon tiba juga di Kota X.
“Presdir, maaf saya baru tiba” ucap Naon menyerahkan handphone Fano.
“Apa kau sudah mengabari istriku kemarin” ucap Fano khawatir.
“Sudah Presdir, tapi nyonya muda ingin sekali berbicara dengan anda. Beliau sangat mencemaskan Presdir” ucap Naon.
“Baiklah, kau boleh bergabung dengan client, sementara biarkan aku sendiri disini” ucap Fano. Sedari tadi dia sudah sibuk dengan para client berbincang dan mengurusi saham. Belum ada waktu untuknya sendiri, apa lagi Kamila selalu menempel padanya, untungnya Kamila lagi pergi kekamarnya. Dia mencek handphonenya dan mendapati panggilan tak terjawab dari mamanya ibu Lena dan juga istrinya. Tidak lama kemudian dia menghubungi kontak dihandphonenya bertuliskan istriku.
__ADS_1
“Sayang” ucap Fano. Panggilan sudah berlangsung namun istrinya itu belum menjawab juga.
“Sayang, apa kamu sudah tidur?” tanya Fano lagi memastikan bahwa istrinya itu sudah tidur apa belum mengingat malam sudah semakin larut.
“Iya, kenapa” sahut Dakota dari balik handphone Fano. Fano lega mendengar suara istrinya.
“Apa kamu baik-baik saja” tanya Fano memastikan keadaan istrinya.
“Ya” jawab Dakota singkat.
“Sayang, aku minta maaf kemarin tidak bisa ....” suara Fano terpotong oleh client yang sudah hadir. Fano ragu untuk melanjutkan panggilannya karena dia merasa client itu sudah berada lama disitu dan menguping pembicaraan mereka. Dia masih memegang handphoennya.
“Sial aku tidak memperhatikan sekitarku. Ternyata benar yang dikatakan papa, ada juga yang penasaran dengan pernikahanku” batin Fano.
“Fano sayang, berbaque party udah dimulai, kamu ngapain disini, party ini tidak boleh kita lewatkan, teman-teman kita sudah menunggu” ucap Kamila sudah mampir menggandeng lengan Fano. Fano pasrah dibawa oleh Kamila menuju acara berbaque party.
Acara berbaque party itu diadakan untuk merayakan kesepakatan yang sudah mereka sepakati tadi siang. Kebetulan client yang ada dalam acara itu masih seumuran dengan Fano dan dihadiri oleh teman-teman alumni SD Fano.
“Hai Fano, kemana Henri? biasanya ada kamu pasti ada dia” ucap teman Fano sekaligus clientnya. Kamila tetap menggandeng lengan Fano.
“Dia sibuk di Rumah Sakit” ucap Fano.
“Tuan tepatnya bukan kekasih, tapi calon istri” ucap Kamila menatap wajah Fano. Fano diam dan tidak ingin berkomentar, mengingat dirinya belum sepenuhnya diketahui oleh teman-temannya sudah menikah, bahkan Kamila juga belum tau. Dia biarkan saja Kamila sedang berakting.
“Boleh aku berdansa denganmu nona cantik” ucap pria itu memegang tangan Kamila. Kamila menatap wajah Fano berharap Fano tidak mengizinkan pria itu.
“Silahkan bawa dia, lama juga tidak apa-apa” ucap Fano senyumnya melebar. Mendengar perkataan Fano membuat pandangan Kamila berubah menjadi sinis dan cemberut.
“Justru bagus Kamila pergi” batin Fano.
“Baiklah, ayo nona kita berdansa” ucap pria itu.
“Sayang aku berdansa dulu ya” ucap Kamila lembut pasrah dibawa pria itu untuk berdansa.
“Wanita ini tidak tau malu” batin Fano.
Selesai berdansa Kamila sudah kembali lagi kesisi Fano. Mereka sudah duduk dimeja makan. Kehadiran Kamila ini membuat Fano merasa risih dan ingin sekali rasanya dia mandi, perasaannya sudah gerah, tidak pagi, siang dan sepanjang malam ini dia terus didekati oleh Kamila.
“Presdir Fano” ucap Senov. Senov dan client lainnya sudah mampir di meja mereka, menghampiri Fano dan Kamila.
__ADS_1
“Ah ya, tuan Senov” ucap Fano.
“Kapan anda akan menikah? saya lihat nona Kamila juga sudah cukup dewasa untuk jadi istri anda” ucap Senov.
“Kalian juga pasangan yang serasi” timpal pria lain client Fano.
“Kami akan kirim undangannya, kalian siapkan saja dari sekarang hadiah pernikahan untuk kami” ucap Kamila melirik Fano. Fano tidak mendengarkan ucapan Kamila, dia sedang menatap sekitar berharap menemukan Naon agar bisa keluar dari lingkaran itu. Tidak berapa lama ternyata yang dicari oleh Fano tiba juga batang hidungnya. Fano main mata pada Naon memberikan kode isyarat.
“Presdir Fano” ucap Naon menghampiri meja itu.
“Iya Naon ada apa?” tanya Fano santai.
“Sepertinya Presdir belum bertemu dengan client dari luar kota, malam ini mereka sudah tiba dipenginapan” ucap Naon memperhatikan jam tangannya.
“Baiklah. Aku tidak bisa berlama disini, tuan Senov dkk bisakah kalian aku tinggal di acara ini” ucap Fano berbasa-basi.
“Presdir Fano tidak perlu sungkan, silahkan lanjutkan” ucap Senov.
“Aku pamit dulu” ucap Fano.
“Bagaimana denganku” ucap Kamila berdiri.
Fano mengabaikan Kamila dan menyuruh Naon menemani mereka berbincang. Sejak saat itu sampai satu minggu Fano harus menutup panggilannya, dia merasa ada yang mengawasinya, belum lagi Kamila yang selalu berakting dan dia sangat senang memainkan perannya sebagai kekasih Fano. Selama seminggu ada banyak client yang bergantian datang dan pergi dari Kota X hanya untuk menghadiri kerja sama dengan Reinhard Group.
# Kamar Fano.
Lama Fano mengingat kejadian saat dia di Kota X, dia menceritakan pada istrinya itu tentang hubungannya dengan Kamila. Namun istrinya itu sudah tidur dengan lelap.
“Aku sudah panjang lebar membahas mengenai Kamila (bahkan sampai 2 episode, hehe), tapi dia sudah tertidur. Apa dia mendengar apa yang aku sampaikan mengenai Kamila, aku ragu saat bangun besok dia masih marah padaku” batin Fano.
Fano menatap wajah istrinya itu, dia memperhatikan bentuk bulu mata istrinya yang lentik, kemudian dia perhatikan lagi hidung istrinya yang mancung hingga dia mendaratkan ciuman selamat malam di bibir istrinya yang masih merah merona walau tidak poles apapun. Dia memeluk tubuh istrinya itu, tidak lama kemudian Fano ikut tertidur, karena matanya juga sudah mengantuk.
BERSAMBUNG.........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Jadiin favorite, tinggalin like dan komentar.🙏🌹
Vote juga boleh😊
See You🙋🙋🙋
__ADS_1