Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 150


__ADS_3

Tidak lama kemudian helikopter yang membawa Fano sudah tiba di Bali. Pak Rapijay sebelumnya sudah mengabari Dokter pribadinya yang ada di Bali untuk menyiapkan alat-alat medis dan menjaga kerahasian kedatangan Pak Rapijay dari media. Hal itu terlaksana dengan baik, di sekitar penginapan VIP itu sudah dijaga ketat oleh pengawal bayaran. Sambil menggendong tubuh Pak Reinhard Fano, Pak Rapijay, Naon dan Septa memasuki penginapan Vila milik Pak Rapijay.


“Selamat datang Tuan Rapijay” ucap para pelayan menyambut kedatangan mereka. Pak Rapijay balas mengangguk pada pelayannya.


Tubuh Pak Reinhard langsung diperiksa oleh Dokter pribadi milik Pak Rapijay. Fano sudah duduk di ruang tamu di luar kamar untuk menunggui kakeknya selesai diperiksa, begitu juga dengan Pak Rapijay, Naon dan Septa ikut duduk. Sambil menunggu di ruang tamu, Pak Rapijay langsung menyalakan televisi yang ada di ruang tamu.


“Lihat, berita kematianmu sudah menyebar keseluruh media” ucap Pak Rapijay sambil menonton berita tranding topik hari ini.


“Kabar menggemparkan seluruh masyarakat Indonesia datang dari Presdir Reinhard Group. Diketahui Perusahaan properti ini sudah kehilangan keberadaan pemimpin mereka. Ada banyak pemimpin dari cabang-cabang yang ada di seluruh Indonesia meminta segera melakukan rapat pemegang saham pada Pak Purnomo selaku ayah kandung dari Presdir Cleofano Reinhard. Belum ditemukan mayat sang Presdir, para pemegang saham sudah meminta rapat segera dilaksanakan. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh keluarga Reinhard” sahut pembawa berita. Pak Rapijay kembali mengganti siaran Televisi karena tidak mau membuat Fano kepikiran dengan perusahaan.


“Belum diketahui dengan pasti Presdir sudah meninggal, tapi mereka sudah meminta rapat pemegang saham” pekik Naon sambil menatap pada layar televisi.


“Selamat malam pemirsa, berita hari ini masih terkait dengan kabar kematian dari Presdir Reinhard Group. Diketahui wanita bernama Dakota sebelumnya adalah karyawan dari Reinhard Group. Wanita ini ternyata cucu dari pemilik Admidjaya Group, yang lebih mengejutkan lagi, wanita ini terus menangis di Terminal Peti Kemas sambil berteriak-teriak memanggili suaminya. Ternyata wanita ini benar istri rahasia dari Presdir Fano bahkan mereka sudah punya anak” ucap seorang pembawa berita. Fano langsung melihat berita itu. Sudah terlihat dalam berita itu video Dakota sedang berteriak-teriak memanggil suaminya.


“Haris ... lepaskan aku, suamiku sudah kedinginan berada ditengah-tengah laut” ucap Dakota membrontak. Siti pun ikut menahan kaki Dakota.


“Sadarlah ... ini sudah mau gelap” ucap Haris sambil memeluk tubuh Dakota dari belakang.


“Suamiku ... kau dimana ... jangan tinggalkan aku, bawa aku kemana pun kau pergi ....” teriak Dakota. Dalam video itu terlihat Haris dan Siti ikut menangkap tubuh Dakota. Mata Fano mulai berkaca-kaca melihat istrinya menangis histeris di depan kamera. Wajah Dakota terlihat sudah sembab, bahkan mata Dakota sudah bengkak.


“Apa kau akan mengunjungi istrimu?” tanya Pak Rapijay.


“Tidak, sampai nyawa pamanku ada ditanganku, saat itu akan tiba baru aku kembali, keadaan kakek juga belum stabil” ucap Fano sambil mengepalkan tangannya.


“Tapi Presdir ... apa Presdir tidak khawatir dengan Nyonya Muda, sebaiknya kita beritahukan pada Tuan Besar dulu” ucap Naon.


“Kalau kita muncul, itu terlalu cepat, masih banyak wartawan yang meliput, belum lagi pamanku sudah mengirim bawahannya untuk memastikan aku sudah meninggal atau belum” ucap Fano sambil beranjak menuju ruang perawatan tempat kakeknya dirawat.


“Kita harus bersabar, acara Mancanegara akan dilaksanakan 4 hari lagi, saat itu tiba kita akan muncul untuk menangkap Sutan Reinhard” ucap Pak Rapijay sambil mematikan televisi.


“Paman harus membayar semua derita ini, bahkan kakek sudah setua ini masih diancam dengan Bom rakitan, sangat tidak manusiawi” batin Fano sambil memperhatikan tubuh Pak Reinhard.


Sementara itu, Dakota masih berada di Termintal Peti Kemas.


Air mata Dakota sudah habis karena seharian ini menangis, matanya juga sudah bengkak. Haris dan Siti sudah mengajak Dakota untuk segera pergi meninggalkan Terminal, namun Dakota tidak merespon, bahkan jaket yang Haris pakaikan untuk Dakota sudah terjatuh.


“Jika kau terus begini, kau bisa sakit nanti, anakmu juga baru sembuh, tolong pikirkan juga kesehatanmu demi anakmu” ucap Haris di samping Dakota.


“Nyonya Muda, Alfata terus-terusan menangis mencari Presdir dan Nyonya Muda, tolong Nyonya kembali saja, ini sudah malam” ucap Siti sambil menangis. Mendengar anaknya menangis, air mata Dakota kembali mengalir.

__ADS_1


“Jawaban apa yang akan aku berikan pada Alfata, aku tidak sanggup mengatakan suamiku sudah pergi untuk selamanya, huhu ....” tangis Dakota sambil melap air matanya.


“Nyonya ... tolong jangan menangis lagi, anda sudah terlihat tidak fit” ucap Siti sambil melap matanya.


“Nak, Fano akan sedih melihat kau terus menangis untuknya” ucap Pak Purnomo sambil memakaikan jaket pada tubuh Dakota. Dakota langsung berbalik badan dan mendapati mertuanya ikut menangis.


“Papa ... suamiku belum pergikan, benarkan ....” tangis Dakota sambil memeluk Pak Purnomo.


“Nak, aku yakin dia belum pergi, akan aku suruh semua orang untuk mencarinya” ucap Pak Purnomo sambil menenangkan menantunya.


“Huhu ... benar suamiku belum pergi, papa memang benar” ucap Dakota sambil melepas pelukannya.


“Nak, papa bisa minta tolong padamu, papa berjanji akan membawa Fano kembali, tapi kau harus kembali karena Alfata saat ini sangat membutuhkan keberadaanmu” ucap Pak Purnomo.


“Anakku yang malang, apa yang harus aku katakan padamu nanti” ucap Dakota sambil menatap pada laut lepas. Akhirnya Pak Purnomo berhasil membujuk menantunya untuk segera kembali.


“Pak Purnomo, mayat Persdir Fano belum ditemukan, sudah jelas beliau sudah tiada, tapi kenapa keluarga Reinhard belum membuka suara mengenai kematian Presdir Fano” ucap salah satu wartawan. Pak Purnomo tidak menjawab, begitu juga dengan Dakota dan Haris hanya berjalan tidak merespon orang-orang di sekitarnya.


“Apa kalian tidak lihat keluarga Reinhard sedang berduka, saat ini keluarga Reinhard belum bisa memberikan klarifikasi pada media” ucap Mail untuk menghalangi para wartawan itu mendekati Pak Purnomo. Para wartawan itu masih saja mengejar sampai Dakota dan rombongan masuk kedalam mobil. Mobil itu langsung melaju meninggalkan terminal Peti Kemas, pandangan mata Dakota masih tertuju pada laut sampai laut itu menghilang dari kaca spion mobil.


Menempuh perjalanan selama satu jam setengah, mobil yang membawa Dakota sampai juga di lobi utama kediaman Reinhard. Ada banyak para wartawan masih meliput informasi terbaru mengenai keberadaan Fano. Namun mereka tidak bisa masuk karena banyak pengawal yang sudah berjaga sesuai dengan perintah Pak Purnomo. Saat Dakota keluar dari mobil, Alfata sudah menangis dipangkuan ibu Lena. Ibu Lena terpaksa menurunkan Alfata karena sedari keluar dari Rumah Sakit, Alfata hanya merengek mencari kedua orang tuanya. Alfata langsung berlari menghampiri Dakota.


“Alfata anakku, jangan menangis nak” ucap Dakota langsung meraih tubuh anak semata wayangnya. Dakota sangat erat memeluk tubuh Alfata. Air mata Dakota malah keluar melihat wajah Alfata semakin mirip dengan suaminya. Melihat Dakota menangis, hal itu membuat tangis Alfata semakin menjadi.


“Hua ... bunda ... huhu ....” tangis Alfata semakin erat memeluk Dakota.


“Anakku Fano kembalilah nak ....” ucap ibu Lena ikut menangis melihat menantu dan cucunya.


“Angin malam semakin kencang, bawalah Alfata masuk kedalam” ucap Haris pada Dakota.


“Nak, masuklah kedalam, tenangkan dirimu di dalam” ucap Pak Purnomo. Dakota langsung membawa Alfata masuk kedalam rumah.


“Selamat malam Nyonya Muda” ucap para pelayan. Dakota terus melangkah menuju kamarnya.


“Siti tolong kabari aku jika terjadi sesuatu pada Dakota” ucap Haris pada Siti.


“Baik Presdir Haris” ucap Siti ikut masuk kedalam. Haris ikut masuk kedalam ruang tamu karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan pada Pak Purnomo. Sementara ibu Lena, ikut masuk untuk melihat keadaan Dakota dan Alfata. Saat Haris duduk di ruang tamu. Penampilan Pak Purnomo terlihat lesuh juga banyak pikiran. Haris sangat memahami situasi saat ini karena Pak Purnomo baru saja kehilangan anak dan ayahnya.


“Aku tahu saat ini anda sangat terpukul karena Fano belum juga ditemukan begitu juga dengan kakek Reinhard” ucap Haris pelan sambil menunduk. Setelah menghela nafas, Haris kembali membuka suara.

__ADS_1


“Aku punya firasat kalau Fano belum meninggal, setahuku selama ini dalam bertindak Fano selalu punya perencanaan yang matang. Apa lagi, barusan Eveno mengabariku bahwa Fano mengabari Pak Rapijay untuk rencana penangkapan Pak Sutan. Dari informasi yang aku selidiki, saat ini keberadaan Pak Rapijay ada di Indonesia dan beliau menggunakan Helikopter kesayangannya yang ada di Bali dari tadi siang, satu jam sebelum kapal Peti Kemas itu meledak” ucap Haris.


“Kau serius?” tanya Pak Purnomo. Raut wajah Pak Purnomo mulai berubah mendengar ucapan Haris barusan.


“Aku tidak bohong, aku juga melacak ponsel Dakota, panggilan tak terjawab dari nomor luar negeri. Saat aku suruh Eveno melacak, nomor itu milik Pak Rapijay, kemungkinan besar Pak Rapijay yang menyelamatkan Fano” ucap Haris.


“Apa kau yakin mereka selamat, tapi kenapa Pak Rapijay tidak membawa Fano dan ayahku kembali kemari” ucap Pak Purnomo.


“Ini masih firasatku, sudah banyak satgas yang mencari mayat mereka, tidak ada petunjuk yang membuktikan kalau Fano sudah meninggal” ucap Haris.


“Apa aku harus menyampaikan berita ini pada Dakota dan istriku” ucap Pak Purnomo.


“Untuk Dakota sangat sulit mengatakan padanya kalau suaminya masih hidup, sebelum dia melihat batang hidung suaminya ada di hadapannya. Bisa jadi saat ini Fano sedang bersembunyi untuk menghindari Pak Sutan” ucap Haris.


“Ini semua salahku, seharusnya dari dulu aku membunuhnya, tapi melihat ayahku dan cucuku Tasya, aku tidak tega membunuhnya” ucap Pak Purnomo sambil melap matanya.


“Anda tidak boleh menyalahkan diri sendiri, anda sudah melakukan yang terbaik. Saat ini kita hanya perlu mengepung Pak Sutan. Kebetulan acara Mancanegara akan diadakan di Jakarta 4 hari lagi, aku masih penanggung jawab untuk acara ini. Bahkan jika harus melibatkan istriku untuk mendapatkan Pak Sutan, aku bersedia melakukan hal itu” ucap Haris.


“Tapi ... Tasya masih hamil muda, itu tidak mungkin” ucap Pak Purnomo.


“Anda tidak perlu khawatir, aku juga awalnya takut akan hal itu, tidak ada seorang kakek yang tega membunuh darah dagingnya sendiri. Saat ini sudah larut, lebih baik anda segera istirahat” ucap Haris.


“Oh ya ... satu lagi, aku khawatir akan ada mata-mata suruhan Pak Sutan dikediaman ini, lebih baik jangan katakan dulu pada Dakota mengenai keberadaan Fano” ucap Haris.


“Hati-hati dijalan” ucap Pak Purnomo mengantar Haris sampai di lobi. Setelah Haris membunyikan klakson mobilnya pertanda pamit, Pak Purnomo kembali masuk kedalam.


“Tuan Besar” ucap Mail pada Pak Purnomo.


“Apa kau sudah menyelidiki dimana keberadaan Sutan saat ini?” tanya Pak Purnomo.


“Mereka pergi meninggalkan Indonesia sejak pukul 15.00 WIB tadi Tuan” ucap Mail.


“Selidiki semua pengawal yang ada di kediaman ini, sepertinya di antara mereka ada yang tidak beres” ucap Pak Purnomo.


“Baik Tuan” ucap Mail undur diri.


BERSAMBUNG................


Hai reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like dan komentar ya 🙏

__ADS_1


Maaf ya kalau author lama up, author harus bagi waktu dengan kerjaan author di dunia nyata. Makasih juga buat yang sudah vote🤗


__ADS_2