Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 121


__ADS_3

Alfata berlari kecil menuju kamar orang tuanya. Sesampainya Alfata di depan pintu kamar.


“Ting Nong ....” Alfata menekan bel kamar.


“Bunda” ucap Alfata. Dakota yang masih sadar terpaksa menyahuti ucapan anaknya.


“Iya” ucap Dakota.


“Bunda ... bukain pintunya dong” rayu Alfata dengan suara manjanya.


“Bukannya kau tidur dengan kakek?” tanya Dakota dari dalam kamar.


“Bunda, aku nggak jadi tidur dengan kakek” ucap Alfata. Sementara itu, Fano sudah datang menyusul disamping Alfata.


“Apa saat ini kau bersama ayahmu?” tanya Dakota. Dakota langsung beranjak mendekati pintu kamar.


“Bunda, aku sendiri” ucap Alfata.


“Serius, kau tidak bohong” tanya Dakota. Alfata langsung menoleh kesamping dan mendapati Fano sudah berdiri mendengar ucapan bundanya. Alfata bingung, dia belum pernah berbohong pada Dakota maupun pada orang lain.


“Bunda, emang kenapa dengan ayah?” ucap Alfata bertanya sambil melirik pada Fano. Fano sudah memainkan jari telunjuknya menutup mulut Alfata untuk tidak mengatakan bahwa dirinya ada disamping Alfata.


“Bukannya kau tahu, Bunda sangat marah padanya” ucap Dakota.


“Bunda, ayolah buka dulu pintunya, aku sudah lelah berdiri disini” ucap Alfata dengan suara manjanya.


“Baiklah, maafkan Bunda” ucap Dakota langsung membuka pintu. Alfata langsung menerobos masuk meraih tubuh Dakota diikuti Fano ikut masuk dari belakang.


“Kau!” teriak Dakota. Begitu terkejutnya Dakota saat melihat Fano ikut menerobos seperti pencuri. Fano bahkan sudah menutup pintu kamar itu kembli, dia menahan pintu kamarnya takut diusir keluar dari kamar.


“Ayolah sayang, jangan marah lagi” ucap Fano sambil memegangi gagang pintu.


“Bunda, jangan marah lagi” ucap Alfata sambil memeluk Dakota.


“Kau memanfaatkan anak kecil” gerutu Dakota. Namun Dakota tidak melirik pada Fano, bahkan saat ini Dakota langsung menggendong Alfata menuju kasur mereka. Fano masih merasa bersalah dan berdiri melongo di dekat pintu.


“Bunda” ucap Alfata saat Dakota membaringkan tubuhnya di atas kasur.


“Hem ....” singkat Dakota. Dakota sudah berbaring sambil mengelus punggung Alfata seraya memunggungi Fano.


“Bunda, kasihan ayah masih berdiri” ucap Alfata melirik ayahnya. Fano sudah memohon pada anaknya agar merayu Dakota.


“Anakku ini bukannya merayu malah terlena” batin Fano.


“Fata, lebih baik kau tidur” ucap Dakota sembari menarik selimut untuk mereka. Dakota sudah mulai memejamkan matanya. Alfatapun menarik selimut itu, dia duduk dikasur. Karena Alfata belum berhasi juga, Alfata mulai memainkan tangannya untuk menyuruh Fano segera beranjak kekasur.


“Ayah, kemarilah” ucap Alfata pelan. Padahal Dakota belum tidur, dia masih pura-pura tidur karena rasa kesalnya pada Fano. Fanopun beranjak keatas kasur sambil berjalan mengendap-endap hingga Fano berbaring disamping Alfata. Dakota yang mendengar dan merasakan kasur mulai bergoyang.


“Pria ini memanfaatkan anaknya, bukannya langsung minta maaf” batin Dakota. Dakota langsung membuka matanya dan mendapati Fano sudah memejamkan mata, begitu juga dengan Alfata sudah memejamkan mata sambil memeluk Fano. Dakota sudah melihat wajah anak dan suaminya sangat mirip.

__ADS_1


“Mereka bisa-bisanya kompak begini” batin Dakota.


“Fata, bunda tahu kau belum tidur. Kau tidak perlu pura-pura tidur, sebenarnya kau dukung bunda atau ayah” ucap Dakota. Akhirnya Alfata membuka matanya.


“Bunda, maaf” ucap Alfata.


“Sepertinya kau berpihak pada ayahmu” ucap Dakota. Dakota langsung memiringkan badannya membelakangi Fano dan Alfata.


“Sayang” ucap Fano menarik tubuh Dakota. Dakota tetap mengambek mengabaikan suaminya.


“Bunda, aku disogok sama ayah, kalau aku berhasil merayu bunda, ayah akan segera memberikan aku adik” ucap Alfata mulai jujur dengan wajah polosnya.


“Astaga, anakku ini jujur sekali, tidak bisa berbohong” batin Fano.


“Jadi kau mau diberi adik dari wanita lain” ucap Dakota.


“Sayang, aku tidak mau menikahi wanita lain, aku sudah punya satu istri tidak akan berubah” ucap Fano.


“Kenapa tadi siang dengan mudahnya kau dirayu wanita lain, bahkan makan bareng, kalau kau sudah sadar punya istri, harusnya kau jaga diri, kan bisa kau tolak walau dia mungkin memaksamu” ketus Dakota.


“Ayah memang salah, bunda aku tidak mau adik dari wanita lain” ucap Alfata mulai meraih tubuh Dakota.


“Hei, katanya kau berpihak padaku” ucap Fano menarik tubuh Alfata. Alfata malah balas menolak tangan Fano.


“Sayang, kau jangan salah paham dulu, aku sudah tau Sena itu bukan wanita baik-baik, tadi semua orang sudah memergoki kami karena aku tidak sengaja menabraknya, walau sebenarnya dia yang menabrakku, aku hanya mengikuti permainannya saja, kau jangan kahwatir” ucap Fano.


“Fata, tadi kau bilang mau bantu ayah, ayah sudah janji akan segera berikan adik padamu” bisik Fano pada Alfata. Namun suara Fano masih terdengar ditelinga Dakota.


“Aku sudah laksanakan tugasku” ucap Alfata melepas pelukannya dari Dakota.


“Apanya yang sudah, kau belum merayunya” ucap Fano menjitak kening Alfata.


“Aduh ... bunda bilang selama ayah dan bunda bisa tidur sekamar saja, setelah itu aku pasti punya adik dari bunda” ucap Alfata mengingat ucapan Dakota.


“Anakku ini begitu polos” batin Dakota. Wajah Daktoa mulai malu mendengar ucapan anaknya, karena Alfata selama ini selalu meminta pada Dakota untuk segera diberikan adik, Dakota selalu mengatakan tunggu ayah dan bunda tidur sekamar. Fano mulai tersenyum nakal mendengar ucapan anaknya.


“Mulai saja aku manfaatkan anakku ini” batin Fano.


“Kau tanyakan pada bundamu, bunda berikan aku adik” bisik Fano ditelinga Alfata. Alfatapun melaksanakan tugas dari Fano, dia mulai merengek.


“Bunda, berikan aku adik” rengek Alfata. Fano sudah senyum melihat tingkah anaknya. Dakota semakin jengkel dengan Fano karena sudah memanfaatkan anaknya yang polos.


“Fata, lebih baik kau tidur” ucap Dakota. Melihat istrinya belum juga merespon, Fano menarik lengan Dakota.


“Sayang, tidak baik kita marahan didepan anak kita” ucap Fano meraih jari jemari Dakota.


“Bunda, udahan marahnya ya” ucap Alfata ikut meraih lengan Dakota. Dakota tetap diam mengabaikan anak dan suaminya.


“Fata, kau kembali saja kekamar kakek” bisik Fano pada Alfata. Alfata mengangguk, dia langsung bergegas beranjak dari kasur.

__ADS_1


“Fata kau mau kemana?” tanya Dakota saat Alfata sudah sampai didekat pintu.


“Aku mau tidur dengan kakek” ucap Alfata berbalik badan. Fano sudah memainkan tangannya untuk mengusir Alfata segera keluar dari kamar mereka.


“Kau yang mengusirnya” ucap Dakota berbalik badan menghadap pada Fano. Fano menggeleng sambil mengangkat bahunya.


“Bunda, kakek sudah menungguiku” ucap Alfata


“Fata” ucap Dakota saat Alfata sudah beranjak keluar dari kamar.


“Sayang aku minta maaf” ucap Fano meraih tubuh Dakota. Saat ini posisi Dakota sudah menyamping.


“Lepaskan aku” ucap Dakota melepas tangan Fano. Fano tetap memeluk tubuh Dakota, nafas Fano sudah terasa memburu pada leher Dakota. Tidak lama Fano sudah menciumi leher Dakota bahkan dengan cepat Fano mulai membuka atasan baju Dakota. Namun tidak berapa lama, tiba-tiba saja handphone yang ada disaku Fano berdering.


“Drrtt ... drrtt ....” bunyi dari handphone Fano.


“Kau angkat dulu” ucap Dakota mendorong tubuh Fano.


“Kau sudah memaafkan aku atau belum?” tanya Fano mengabaikan handphonenya, dia tetap melaksanakan aksinya.


“Handphonemu sangat berisik” ucap Dakota. Fanopun menghentikan aksinya. Fano langsung meraih handphonenya dan melihat kontak yang menghubunginya adalah Naon.


“Halo” ucap Fano.


“Halo Presdir, saya dan penyidik sudah berada di tempat biasa, pria misterius itu sudah kami sekap” jawab Naon dari seberang.


“Bagus, aku akan datang kesana” ucap Fano memutus panggilan.


Setelah menerima kabar dari Naon, Fano mulai bergegas beranjak dari kasur menuju lemari, Fano sudah memakai jaket berwarna hitam. Dakota yang sudah setengah bugil merasa aksi suaminya tanggung, Dakota merasa kecewa pada suaminya.


“Kau akan pergi?” tanya Dakota.


“Iya, aku ada hal penting yang harus kuurus” ucap Fano.


“Malam ini juga, ini sudah larut” ucap Dakota mengkhawatirkan suaminya.


“Aku tidak akan lama” ucap Fano mendekati tubuh istrinya. Fano langsung mendaratkan ciuman pada kening Dakota sembari dia memasangkan kembali atasan baju istrinya.


“Aku berangkat ya” ucap Fano langsung keluar dari kamarnya.


“Ini sudah larut, dia masih ada urusan” batin Dakota.


BERSAMBUNG..........


Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir🙏


Jangan lupa like dan komentar ya, di Vote juga boleh👍


See You🙋🙋🙋

__ADS_1


__ADS_2