Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 138


__ADS_3

Setelah menerima foto terbaru dari Pak Purnomo mengenai Kamila dan pria misterius yang menjadi pasangan Irma saat acara pameran. Fano pun masih menunggui kabar dari team penyidiknya mengenai latar belakang pria misterius itu.


“Aku yakin pria ini adalah Mr. Pich, Septa juga tidak akan bohong” batin Fano. Fano pun kembali beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya. Karena hari sudah larut, Pak Purnomo juga ikut beranjak dari ruang tamu. Sesampainya Fano di dalam kamar. Fano sudah mendapati tubuh istrinya masih memkai handuk.


“Fata, kenapa bisa begini nak” ucap Dakota sambil melap tubuh anaknya dengan air hangat.


“Sayang, bukannya Fata tidur sama mama” ucap Fano menghampiri istri dan anaknya.


“Fata menolak tidur dengan mama. Akhirnya mama membawa Fata kemari. Karena aku masih di dalam kamar mandi, Fata sudah berbaring di kasur. Tapi saat aku selesai mandi, aku melihat anakku sudah tidak nyaman tidur di kasur ini” ucap Dakota. Dakota sudah cemas melihat tubuh Alfata.


“Bunda” ucap Alfata pelan.


“Iya nak, bunda ada disini” ucap Dakota sambil mengusap tubuh Alfata dengan minyak telon. Dengan cekatan Dakota langsung mengganti pakaian anaknya dengan baju tidur.


“Fata” ucap Fano sambil meletakkan punggung tangannya di kening Alfata.


“Sayang, kenapa tubuhnya panas begini” ucap Fano. Fano pun langsung membuka pakaiannya.


“Aku sudah telvon Dokter Mia, namun Dokter Mia tidak bisa datang malam ini, ada pasien yang sangat membutuhkan beliau malam ini. Bisa jadi Dokter Henri yang akan datang” ucap Dakota sambil merapikan pakaian kotor milik Alfata.


“Sayang, lebih baik kau pakai dulu pakaianmu, nanti kau bisa masuk angin” ucap Fano. Dakota pun mengangguki ucapan Fano. Setelah Fano melepas pakaiannya, saat ini Fano sudah bertelanjang dada. Fano pun langsung meraih tubuh Alfata dalam pelukannya.


“Ayah” rengek Alfata dalam pelukan Fano.


“Nak, jangan sakit ya, pindah saja panasnya pada ayah, ayah sudah buka baju” ucap Fano sambil mengelus punggung Alfata.


“Ayah, sakit” ucap Alfata sambil menggaruk tubuhnya.


“Nak, jangan digaruk” ucap Fano. Begitu terkejutnya Fano melihat tubuh Alfata mulai berbintik-bintik kemerahan.


“Fata, kenapa tubuhmu ada benjolan begini” ucap Fano sambil membuka baju Alfata.


“Mungkin itu hanya digigit nyamuk saja, bisa jadi tadi siang Alfata bermain di pekarangan halaman belakang” ucap Dakota sambil merapikan dirinya.


“Sayang, ini bukan digigit nyamuk, benjolannya ada banyak” ucap Fano semakin khawatir dengan anaknya.


“Sakit” ucap Alfata.


“Sabar ya nak, nanti Dokter Henri datang kemari” ucap Fano sambil mencium kening Alfata.


“Tadi benjolannya hanya satu” ucap Dakota. Dakota pun langsung menghampiri anak dan suaminya. Tangan Alfata mulai kembali menggaruki punggungnya.


“Fata, jangan digaruk nak, ini bukan benjolan, kalau digaruk nanti tambah banyak” ucap Dakota menarik tangan Alfata.


“Ini tidak bisa dibiarkan, kenapa Henri lama sekali” ucap Fano sambil meraih ponselnya.


“Anak Dokter Henri baru berusia seminggu, kemungkinan dia tidak bisa datang kemari, apa kita bawa Fata ke Rumah Sakit saja” ucap Dakota sambil meraih ponselnya.


“Ting ... Nong ....” Belum sempat Fano membuka layar ponselnya, bel pintu kamar mereka sudah berbunyi.


“Presdir, Dokter Henri sudah tiba” ucap Naon dari balik pintu kamar.


“Syukurlah” ucap Dakota langsung membuka pintu kamar.

__ADS_1


“Nona Dakota” ucap Henri.


“Dokter Henri, silahkan masuk” ucap Dakota mempersilahkan Henri masuk kedalam kamar. Henri dan Naon pun langsung masuk.


“Kenapa kau lama sekali” ucap Fano pada Henri.


“Maaf, kebetulan istriku baru kembali dari Rumah Sakit, aku datang dari rumah, bukan dari RS, jarak rumahku sampai kesini memakan waktu” ucap Henri sambil meletakkan peralatan medisnya.


“Harusnya kau pindahkan saja rumahmu di dekat rumahku, jika terjadi seuatu yang genting begini, kau bisa langsung datang kemari” ucap Fano semakin meninggikan suaranya.


“Suamiku, Dokter Henri juga punya keluarga, sudah mending dia bisa datang, hari sudah larut begini” ucap Dakota menatap suaminya. Henri pun langsung mengeluarkan alat-alat medisnya. Suasana di dalam kamar menjadi canggung karena Fano masih marah pada Henri.


“Presdir, saya keluar dulu” ucap Naon memecahkan suasana. Fano pun balas memainkan mata pada Naon pertanda Naon boleh keluar untuk melaksanakan perintahnya pada Naon. Naon pun balas menunduk, setelah itu Naon keluar dari kamar itu.


“Saat ini Fata sudah umur berapa?” tanya Henri sambil menatap pada Fano dan Dakota.


“Saat ini usia anakku 5 tahun 1 bulan” ucap Fano.


“Dokter Henri, kenapa tubuh anakku ada benjolan begini” ucap Dakota sambil membuka sedikit baju Alfata.


“Biar aku periksa dulu tubuh Fata” ucap Henri.


Fano pun langsung membaringkan Alfata kekasur. Setelah Alfata berbaring, wajah Alfata sudah terlihat pucat tidak seperti biasanya, hal itu membuat Fano semakin cemas melihat anaknya sakit. Ini kali pertama Fano melihat anaknya sakit dari dekat. Sebelumnya, Fano hanya bisa menahan diri di tempat karena jarak yang jauh antara Indonesia dan Jerman. Kalau sudah mendengar anaknya sakit, saat itu Fano begitu cemas dan tidak bisa berbuat apa-apa.


“Nak, beritahu saja pada Dokter Henri apa yang kau rasakan saat ini” ucap Fano pada Alfata. Henri pun langsung memeriksa keadaan Alfata. Beberapa menit kemudian, Henri pun mengeluarkan jarum suntik dari dalam tasnya.


“Bunda, aku takut dengan jarum itu” ucap Alfata melihat jarum suntik yang ada di tangan Henri.


“Fata, tutup saja matamu nak” ucap Dakota sambil menenangkan tubuh anaknya.


Sejauh ini Alfata paling takut dengan jarum suntik. Hal itu sangat Fano pahami, mengingat sifat Alfata ada sedikit kemiripan dengan Fano. Dulu Fano juga takut jarum suntik hingga Fano naik kelas 3 SD, karena tidak mau diejek oleh Henri, Fano memaksakan diri untuk tidak takut disuntik.


“Aku harus menyuntik anakmu, saat ini Fata harus disuntik untuk menahan rasa sakit juga gatal dalam tubuhnya, sebelum tangan anakmu nanti semakin liar menggaruk seluruh tubuhnya” ucap Henri.


“Dokter Henri, suntik saja Alfata” ucap Dakota sambil menutup mata Alfata.


“Ayah, aku takut” ucap Alfata sambil menarik tangan Fano.


“Nak, kau disuntik untuk kebaikanmu, tutup saja matamu, ingat game terbaru yang ayah beli, besok kau sudah bisa memakainya” ucap Fano menghibur anaknya. Fano pun langsung mengelus tangan Alfata. Dengan sigap Henri cepat-cepat menarik celana Alfata, tidak lama jarum suntik itu langsung tertancap di pantat Alfata.


“Aduh sakit ....” ringis Alfata saat jarum suntik itu di tarik dari pantatnya.


“Tidak apa-apa nak, anak bunda hebat” ucap Dakota. Dakota pun langsung menenangkan tubuh Alfata. Setelah itu, Henri pun menulis resep obat untuk diberikan pada Alfata.


“Beli saja ini di apotek terdekat” ucap Henri menyerahkan daftar obat yang harus Alfata konsumsi.


“Bisa kau jelaskan benjolan ditubuh anakku, kenapa semakin banyak begitu?” tanya Fano.


“Saat ini Fata baru mengalami campak tahap pertama” ucap Henri.


“Campak” ucap Fano.


“Dokter Henri, kenapa baru sekarang anakku sakit campak, bukan seharusnya sedari dia berusia 1 tahun atau 2 tahun” ucap Dakota bertanya-tanya pada Henri.

__ADS_1


“Benar yang Nona Dakota katakan. Tapi untuk sakit campak yang Fata alami lumayan berbeda dari orang lain, tapi bagus juga dia mengalami campak di usianya baru 5 tahun lebih” ucap Henri.


“Bagus katamu, jelas-jelas benjolan ditubuhnya semakin banyak begitu” ucap Fano.


“Tuan Muda Fano, sakit campak yang Fata alami saat ini sama juga dialami oleh semua orang, bahkan kau sendiri juga mengalami hal ini. Sakit campak biasanya dialami oleh semua orang saat berusia dari 1 tahun hingga remaja. Namun saat berusia 1 tahun, kalian akan sangat kewalahan mengurus bayi berusia 1 tahun belum bisa bicara apapun sudah merasakan sakit yang luar biasa. Namun ketika mengalami sakit campak saat remaja, juga terasa sakit, biasanya pas remaja bekas benjolan dalam tubuhnya akan berbekas dan meninggalkan jejak. Tentu saja hal itu sangat sulit dihilangkan. Menurutku bagus Fata mengalami campak saat ini ketika dia bisa berbicara, kalian tahu perasaannya. Kalau sempat Fata sakit campak saat usia 1 tahun dulu, aku rasa Nona Dakota akan kewalahan” ucap Henri panjang lebar.


“Benar juga Doter Henri, tetangga kami sewaktu di Jerman, anaknya memang sakit campak sewaktu berusia 1 tahun lebih, aku sangat kasihan melihat anaknya, aku pikir Alfata tidak akan sakit campak, ternyata semua orang harus mengalami sakit campak ya” ucap Dakota mengangguk.


“Lalu, sampai kapan anakku bisa sehat kembali?” tanya Fano.


“Malam ini baru fase pertama, fase benjolan muncul semua. Benjolan pada tubuh Alfata, kemungkinan besok mulai berair, lebih baik kalian segera mencari obat-obatan yang sudah aku tulis, bukan hanya di apotek saja, aku juga menulis obat tradisional untuk di mandikan pada tubuh Fata, kalian bisa mencari obat itu di pasar terdekat” ucap Henri.


“Terima kasih Dokter Henri” ucap Dakota. Alfata sudah tidur setelah Dakota mengelus punggung anaknya.


“Aku sudah menyelesaikan tugasku, berjagalah untuk anakmu, bisa jadi dia sewaktu-waktu akan bangun kembali” ucap Henri. Setelah merapikan alat medisnya, Henri pun langsung keluar dari kamar di dampingi oleh Dakota.


“Dokter Henri, terima kasih banyak sudah sempat mampir. Oya, selamat sudah jadi seorang ayah, maaf belum bisa berkunjung menemui anakmu” ucap Dakota merasa bersalah belum bisa menjenguk istri dan anak Henri.


“Tidak perlu sungkan Nona Dakota, itu sudah jadi profesiku. Kalian juga sibuk, jika ada waktu luang saja bisa mampir” ucap Henri. Dakota pun melambaikan tangannya pada Henri dari lobi utama saat Henri keluar membawa mobilnya melaju.


Setelah mobil Henri menghilang, Dakota kembali masuk kedalam rumah.


“Nyonya Muda” ucap Naon pada Dakota saat Dakota sampai di ruang tamu.


“Kenapa Manajer Naon” ucap Dakota menghentikan langkahnya.


“Beni dan Sena sudah tidak ada di dalam penginapan, ini hasil rekaman dari kamera pengawas yang Yoki kirim” ucap Naon sambil menyerahkan tablet pada Dakota. Dakota langsung menerima tablet yang Naon beri.


“Bagaimana bisa” ucap Dakota keheranan melihat kamar penginapan tempat Sena dan Beni seharusnya berbaring sudah kosong melompong dari hasil rekaman kamera pengawas yang ada di dalam kamar.


“Tadi ada seorang penyusup yang masuk kedalam kamar penginapan itu, bahakan para bodyguard yang berjaga sudah pingsan semua. Bisa jadi ini ulah dari Mr. Pich” ucap Naon.


“Bagaimana dengan Yoki dan Kela, bukannya Kela kembali kesana untuk berjaga” ucap Dakota.


“Kela dan Yoki berhasil bersembunyi, untungnya Kela bisa diandalkan” ucap Naon.


“Ini sudah larut, tolong urus masalah ini, anakku juga sedang sakit, aku tidak mungkin keluar lagi. Apa suamiku sudah tahu hal ini?” tanya Dakota.


“Kemungkinan Presdir sudah tahu hal ini, karena semua laporan hasil rekaman langsung terkirim ke ponsel Presdir” ucap Naon.


“Bagaimana dengan Siti?” tanya Dakota lagi.


“Siti sudah mulai membaik, para pelayan juga membantunya” ucap Naon.


“Baiklah, tolong bereskan semua pengawal yang sudah pingsan itu, usut penyebab mereka bisa pingsan” ucap Dakota.


“Baik Nyonya Muda, saya undur diri dulu” ucap Naon.


BERSAMBUNG.............


Hai Reader Wanita Presdir. Maaf ya, kalau author jarang up😭😭😭😭


Dukung selalu novel ini ya🙏

__ADS_1


Author sedih lihat jumlah like novel ini, padahal yg baca tiap harinya ribuan, tapi yg like bisa dihitung. Like kalian itu gratis kok, author sudah bagi waktu author buat nulis walau author sibuk kerja. Tolong semangatin author dgn like kalian, walau cerita ini gak menarik😓😓😓😓


See You🙋🙋🙋


__ADS_2