
Pagi itu Dakota memasak dengan tenang, tidak ada yang mengganggunya lagi, hanya ada ibu Lena yang membantunya. Dakota merasa bahwa pagi itu dia akan berdebat juga dengan Kamila mengingat sifat Kamila sama dengan sifat bibi Fano, ternyata Kamila belum bangun. Dia bersyukur karena keadaan rumah kembali seperti biasa tidak terjadi perdebatan.
“Pagi ma” ucap Fano menghampiri ibu Lena dan istrinya di meja makan.
“Pagi sayang, kamu udah rapi” ucap ibu Lena memandangi anaknya. Ibu Lena sudah rindu pada anak semata wayangnya itu.
“Udah ma” ucap Fano, dia langsung mencium pipi ibu Lena. Fano sudah sangat rindu dengan mamanya, dia memeluk tubuh mamanya itu. Selama ini Fano tidak pernah membuat ibu Lena kecewa, ibu Lena adalah wanita spesial pertama dalam hidupnya.
“Kamu sudah besar sayang, tubuh mama ini sudah tidak muda lagi” ucap ibu Lena melepas pelukan anaknya yang erat.
“Ah iya ma. Aku lupa memeluk istriku” goda Fano melepas pelukannya dari tubuh mamanya. Dia langsung menghampiri kursi Dakota. Mendengar perkataan Fano membuat Dakota ingat isi perjanjian, harus terlihat romantis didepan orang tua Fano. Namun hati Dakota tidak bisa dibohongi, dia masih marah pada suaminya. Dakota hanya diam tidak berekspresi.
“Sayang, kamu cepat sekali makannya” bisik Fano masih terdengar oleh ibu Lena. Fano sudah memeluk tubuh istrinya dengan erat.
“Sepertinya hubungan mereka belum berkembang juga, Fano hanya memaksa Dakota” batin ibu Lena memandangi kelakuan anaknya.
“Lepas” bisik Dakota melepaskan pelukan suaminya. Namun pelukan Fano semakin erat membuat Dakota harus mendorong tubuh kekar Fano dengan kedua tangannya, tidak sengaja tangan Dakota terpleset menyentuh junior Fano bahkan tangannya sudah bertengger disana.
“Ya ampun, apa yang sudah kusentuh, ihh ....” batin Dakota.
“Ahhh ....” teriak Dakota sadar sudah menyentuh junior Fano, dia langsung menarik tangannya.
“Sayangku ini, sangat agresif ya, pagi-pagi tangannya udah liar, haha ....” tawa Fano, membuat wajah Dakota merasa malu dipelukan Fano. Akhirnya Dakota pasrah masih dipeluk oleh Fano bahkan menutup wajahnya pada dada bidang Fano. Dia sangat malu terhadap mama mertuanya.
“Pria ini sangat tidak sopan didepan orang tuanya masih bisa bicara begitu, apa yang akan dipikirkan mama mertua ya” batin Dakota.
“Ehem ....” ucap ibu Lena merasa diabaikan seperti nyamuk pengganggu.
“Sayang kamu lupa ya, harus bersikap romantis” bisik Fano, dia langsung melancarkan kecupan dikening istrinya. Fano tersenyum lebar merasa menang sudah mengerjai istrinya itu.
“Fano, kamu juga harus sarapan” pinta ibu Lena memahami menantunya. Sebenarnya ibu Lena tahu bahwa sikap Dakota belum sepenuhnya sudah menerima Fano, ibu Lena melihat hubungan Dakota dan Fano belum ada kemajuan.
“Iya ma” ucap Fano sudah duduk dikursinya untuk sarapan. Kebetulan sarapan Fano sudah Dakota siapkan di atas meja tepat depan kursinya biasa duduk. Dakota sudah memahami itu selama menjadi istri Fano. Jika sarapan, Fano hanya tinggal memilih lauk pauk yang dia mau saja. Fano melahap sarapan paginya. Namun Dakota tidak seperti biasa, dia sudah bergegas dari duduknya.
“Ma, aku harus pamit lebih dulu” ucap Dakota sudah melangkah. Belum jauh Dakota melewati kursi ibu Lena.
“Kenapa tidak bareng sama Fano sayang” ucap ibu Lena memberikan kode pada putranya untuk menahan istrinya. Namun Fano hanya melahap sarapannya.
“Tidak ma, aku ada yang harus dikerjakan lebih dulu di kantor” ucap Dakota langsung meninggalkan meja makan.
__ADS_1
“Fano, kamu kenapa tidak mencegah istrimu” ucap ibu Lena kecewa pada putranya.
“Ma, istriku ingin berangkat lebih dulu. Mungkin pekerjaannya banyak yang sudah menumpuk” ucap Fano mengarang karangan indah.
“Fano, kamu harus tau sayang, Dakota itu istri yang baik, mama sudah melihatnya selama ini, mama harap kamu tidak mengecewakan mama” ucap ibu Lena.
“Mama jangan khawatir, hubunganku dengannya akan baik-baik saja” ucap Fano sambil melahap sarapannya.
“Kamu harus bisa membuat dia bahagia nak, kamu jangan seperti papamu. Mama hanya berharap kamu juga segeralah memberikan mama cucu, kalau kamu punya anak, mama yakin hubungan kalian akan semakin erat” ucap ibu Lena berharap. Sudah sepantasnya ibu lena menimang-nimang cucu mengingat usianya juga sudah tua.
“Ma, Fano juga berusaha. Fano tidak bisa memaksa Dakota, dia belum menyukaiku sepenuhnya” ucap Fano menyudahi sarapannya.
“Berarti kamu sudah menyukai Dakota?” tanya ibu Lena penasaran pada putranya.
“Kenapa mama menanyakan itu, pria mana yang tidak akan jatuh cinta pada wanita secantik dia” ucap Fano malu-malu pada ibu Lena. Dia bergegas dari kursinya.
“Ternyata putraku ini bisa juga jatuh cinta, aku belum pernah melihat wajahnya seperti ini, benar-benar bukan putraku yang biasa, selalu dingin dan cuek kalau menyinggung wanita” batin ibu Lena melihat tingkah Fano yang lucu.
“Ma, aku juga berangkat” ucap Fano membuat lamunan ibu Lena buyar. Fano mencium tangan ibu Lena.
“Hati-hati ya sayang, jaga istrimu baik-baik di kantor” ucap ibu Lena mengingatkan putranya.
“Nyonya Besar kami berangkat dulu” ucap Naon pamit pada ibu Lena.
“Ya, hati-hati mengemudinya Naon” ucap ibu Lena mengantarkan kepergian anaknya bekerja. Mobil mewah itu sudah pergi menjauh.
“Aku harap Kamila tidak akan menggangu hubungan mereka” batin ibu Lena.
# Reinhard Group
“Selamat pagi Presdir” ucap karyawan sudah menyambut kedatangan Fano.
“Kya ... Presdir sudah kembali dari luar kota” bisik yang satu, “kenapa dia semakin tampan saja ya” bisik yang satu lagi, “aku dengar kemarin Presdir di Kota X bertemu dengan wanita yang gagal tunangan dengannya” bisik yang lain. “Serius, itu berita besar” bisik karyawan bergosip menyambut kedatangan Fano.
“Selamat datang Presdir Fano” ucap Yunas berjalan beriringan bersama Fano dan Naon menuju lift. Tiba-tiba Dakota juga baru lewat ingin menuju lift, dia lari terburu-buru karena merasa lift akan tertutup.
“Ahh ....” ucap Dakota terkejut melihat Fano sudah berada didalam lift bersama Naon dan Yunas. Dakota langsung melangkah mundur, lift tertutup.
“Kenapa jumpa dengannya di lift” batin Dakota.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian lift terbuka.
“Ning Nong” bunyi lift terbuka. Wajah Fano kembali terlihat oleh Dakota, membuatnya terkejut.
“Kau tidak masuk” ucap Fano. Ternyata Fano menunggu Dakota untuk ikut masuk di lift yang sama.
“Ah, saya akan naik lift yang lain Presdir” ucap Dakota menolak.
“Kau sudah menghabiskan waktuku, bisakah kau masuk segera” perintah Fano, wajahnya sudah terlihat dingin. Terpaksa Dakota masuk, tubuhnya mulai gemetar, dia selalu mengingat bahwa sikap Fano akan terlihat berbeda kalau sudah diperusahaan.
“Ah, kenapa aku masuk kandang harimau sih” batin Dakota.
“Kenapa dia gemetar” batin Fano.
“Presdir ada apa ya dengan anak baru ini” batin Yunas.
“Nyonya Muda terlihat tertekan jika dikantor bersama Presdir” batin Naon.
Mereka yang berada di dalam lift bergumam dengan pikiran masing-masing, suasana di lift menjadi diam dan hening, tidak ada yang membuka suara. Membuat suasana terasa panas, padahal mereka hanya berempat, sementara muatan lift untuk 25 orang.
“Ning Nong” bunyi lift terbuka. Ternyata Fano tidak lupa menekan tombol lift untuk lantai 15.
“Kau tidak keluar” ucap Fano pada Dakota.Yunas terheran-heran memandangi Presdirnya, bahkan tombol lift ditahan untuk karyawan baru. Sementara itu Naon hanya menahan tombol lift agar lift tetap terbuka.
“Eh, iya” ucap Dakota terlihat bodoh melihat lantai berapa didalam lift.
“Ini sudah lantai 15 bodoh, kau hanya melamun” ucap Fano. Ucapan Fano membuat Yunas dan Naon terkejut, Fano tidak pernah menekan tombol lift sekalipun. Bahkan untuk tombol lantai 15, semua yang melakukan tugas itu selama ini hanya Naon manajer pribadinya.
“Ah, saya pamit Presdir” ucap Dakota gugup langsung keluar dari lift, dia tidak melihat wajah Presdir nya sedikitpun hanya menunduk keluar. Lift kembali tertutup.
“Akhirnya aku keluar dari kandang harimau” batin Dakota melangkah keluar.
BERSAMBUNG..........
Hai Reader Wanita Presdir. Terima kasih sudah mampir.😊
Mohon like dan komentarnya🙏🌹
Jangan lupa Vote juga😊
__ADS_1
See You🙋🙋🙋