
# Rumah Sakit
Hanya ada kepanikan di raut wajah semua orang saat berada di Rumah Sakit. Keluarga Pak Admidjaya dan keluarga Pak Purnomo sudah berkumpul di Rumah Sakit. Tiga jam setelah ledakan kapal raksasa Peti Kemas, keberadaan Fano belum juga di ketahui oleh keluarga Reinhard. Bahkan semua wartawan sudah sibuk mengambil informasi di lokasi saat kejadian kapal meledak. Sudah banyak media yang menyiarkan berita tentang meledaknya kapal Raksasa Peti Kemas hingga keberadaan Fano belum diketahui keberadaannya sampai sore ini. Hal itu membuat para pengawal milik Pak Purnomo sibuk. Para pengawal itu sudah Pak Purnomo perintahkan untuk berjaga karena belum banyak khalayak yang mengetahui kalau Fano berada di Kapal Peti Kemas itu. Namun sewaktu-waktu bisa saja informasi akan cepat terungkap, maka dari itu untuk menghalangi para wartawan masuk, para pengawal sudah stand by untuk mencegah para wartawan untuk menggali informasi mengenai keberadaan Fano saat ini dari Rumah Sakit.
“Pa, bagaimana ini, huhu ... Alfata masih sakit, bahkan Dakota masih pingsan dan papa mertua ... belum lagi anak kita ... anak kita pa ....” Tangis ibu Lena dalam pelukan Pak Purnomo.
“....” Tidak ada respon dari Pak Purnomo. Pak Purnomo hanya bisa mengelus punggung istrinya.
“Anakku Fano ... Fano ... jangan tinggalkan mama nak ... huhu ....” Ibu Lena masih menangis dipelukan Pak Purnomo.
Di Rumah Sakit yang sama, Haris dan Pak Admidjaya juga menunggui keadaan Pak Elcid Admidjaya untuk segera siuman. Semua orang sudah duduk di depan ruang ICU.
“Kakek” ucap Haris sambil mengelus punggung kakeknya.
“Ayahmu sudah 3 jam berada di ruangan itu, aku tidak tahu apakah dia bisa mengenali kita nanti atau tidak” ucap Pak Admidjaya sambil melap air matanya.
“Kakek ... ayah pasti sembuh ... jangan menangis lagi” ucap Haris.
“Dakota juga belum sadar, bahkan suaminya masih belum di temukan” batin Haris. Tidak lama kemudian ibu Endangsi dan Yohana datang kerumah sakit.
“Nak ... bagaimana keadaan Dakota dan ayahmu” ucap ibu Endangsi. Raut wajah ibu Endangsi sudah menahan tangis, bahkan air mata dari kelopak mata beliau mulai menetes. Haris pun langsung meraih tubuh ibu Endangsi.
“Ibu ... ayah sudah kita temukan” ucap Haris dengan erat sambil memeluk tubuh ibu Endangsi. Yohana yang baru tiba pun ikut menahan air matanya melihat sahabatnya juga masih pingsan di Ruang ICU.
“Hiks ....” Tangis ibu Endangsi semakin meledak di pelukan anaknya. Bahkan Haris pun ikut menangis. Hari ini semua orang yang berada di Rumah Sakit hanya bisa menangis. Tidak lama kemudian, Dokter dari ruang ICU yang merawat Pak Elcid sudah keluar. Melihat Dokter keluar semua orang langsung berdiri, termasuk Pak Admidjaya.
“Bagaimana keadaan putraku Dok?” tanya Pak Admidjaya langsung pada intinya.
“Keluarga terdekat sudah bisa masuk kedalam, hanya saja ....” ucap Dokter itu sambil menarik nafas. Raut wajah semua orang sudah tegang mendengar kabar Pak Elcid. Mendengar ucapan Dokter bahwa pihak keluarga sudah bisa masuk, ibu Endangsi langsung masuk kedalam untuk menghampiri Pak Elcid.
“Kenapa dengan ayah saya Dok?” tanya Haris lagi.
__ADS_1
“Pak Admidjaya ... saya minta maaf, sepertinya anak anda tidak bisa berbicara untuk saat ini, kalian hanya bisa berinteraksi dengan beliau melalui tulisan saja, pendengaran beliau juga tidak baik, Pak Elcid sudah menerima serangan mental selama lebih dari 20 tahun ini. Hal ini membuat beliau tidak bisa bicara” ucap Dokter itu. Tangan Haris pun mulai mengepal mendengar ucapan Dokter barusan.
“Apa kau tidak bisa menyembuhkannya, berapapun yang kau minta akan aku bayar” ucap Pak Admidjaya.
“Maaf Pak Admidjaya, hanya Dokter spesialis yang bisa menyembuhkan beliau, saya tidak bisa menjamin Dokter yang ada di Rumah Sakit ini bisa menyembuhkan beliau. Saya sarankan agar Pak Admidjaya mendatangkan Dokter sepesialis dari Singapore” ucap Dokter itu.
Diwaktu yang sama, Dokter dari ruangan Alfata serta Dokter dari ruangan Dakota juga keluar secara bersamaan. Pak Purnomo dan ibu Lena, diikuti oleh Siti ikut berdiri untuk menghampiri Dokter yang menangani Alfata dan Dakota barusan.
“Bagaimana keadaan cucu saya Dok?” tanya Pak Purnomo.
“Bagaimana keadaan menantu saya Dok?” tanya ibu Lena.
“Tolong kalian tenang” ucap Dokter itu sambil melepas sarung tangannya.
“Untuk cucu anda sudah mulai membaik, semua bintik-bintik campaknya sudah pecah, kami sudah memandikan beliau dengan obat tradisional untuk mengeringkan lukanya” ucap Dokter itu. Ibu Lena langsung masuk kedalam ruangan ICU untuk menghampiri cucunya.
“Lalu bagaimana dengan menantu saya?” tanya Pak Purnomo.
“Nyonya” ucap Siti. Air mata Siti mulai menetes melihat keadaan Dakota.
“Beb ....” ucap Yohana sambil memeluk tubuh Dakota. Mata Dakota sudah memandangi sekitar ruangan. Yohana pun langsung melepas pelukannya dari Dakota.
“Aku ada dimana?” tanya Dakota sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing karena efek obat penenang pada tubuhnya. Tidak lama kemudian ibu Lena pun membawa Alfata masuk ke ruangan Dakota, karena sedari Alfata bangun, Dakotalah orang pertama yang Alfata cari.
“Bunda ....” ucap Alfata sambil meringis menahan rasa sakit pada tubuhnya. Tubuh Alfata masih di infus.
“Alfata anakku ....” Tangis Dokota langsung meraih tubuh Alfata. Yohana dan Siti hanya bisa menatapi keadaan Dakota saat ini. Air mata ibu Lena masih menetes melihat menantu dan cucunya. Pak Purnomo pun meraih tangan istrinya untuk tidak memberitahukan keberadaan Fano pada menantu dan cucunya.
“Ma, kenapa mama menangis, Alfata baik-baik saja ma” ucap Dakota masih memeluk tubuh anaknya. Semua orang hanya bisa diam, tidak ada respon yang mereka berikan.
“Bunda, sakit ....” ucap Alfata sambil melap pipi Dakota yang baru saja basah.
__ADS_1
“Ibu minta maaf nak, kau masih sakit campak” ucap Dakota sambil memeriksa tubuh anaknya.
“Lukamu sudah mulai kering semua” ucap Dakota merasa legah melihat tubuh anaknya sudah membaik.
“Bunda, aku kangen ayah, kenapa ayah belum pulang dari kantor, aku sedang sakit begini, ayah malah tidak datang” ucap Alfata.
Semua orang di dalam ruangan itu kecuali Alfata dan Dakota langsung syok sembari sambil menatap satu sama lain mendengar ucapan Alfata yang menyinggung keberadaan Fano saat ini.
“Ayahmu” ucap Dakota sambil mengingat. Karena baru sadar setelah tertidur selama 3 jam akibat obat penenang, kesadaran Dakota belum pulih.
“Iya bunda, ayah ... ayah kenapa tidak ada disini, aku kangen padanya” ucap Alfata.
“Ayahmu ... bukannya dia ada di kantor ya ... tunggu dulu ...” ucap Dakota lagi sambil mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan Fano.
Sementara itu, tanpa mereka sadari dari arah pintu ruangan itu, tiba-tiba saja para wartawan sudah berkerumun lengkap dengan kamera mereka.
“Pak Purnomo, kami mendengar kabar dari Reinhard Group, bahwa Presdir Fano juga berada di dalam Kapal Peti Kemas yang baru saja meledak.”
“Benar, tolong berikan klarifikasi, kenapa Presdir Fano bisa berada di Kapal Peti Kemas itu.”
“Kapal Peti Kemas” ucap Dakota.
Wajah semua orang mulai panik melihat keberadaan para wartawan barusan. Para pengawal pun sudah menghalangi para wartawan itu. Tubuh Dakota mulai merinding, ingatan memori mengenai Kapal Peti Kemas yang baru saja meledak didalam memorinya langsung muncul, spontan Dakota pun langsung berdiri dari kasurnya tempat dia berbaring sambil melepas pelukannya dari Alfata.
“Bunda kenapa?” ucap Alfata.
“Nak, tenanglah” tangis ibu Lena menahan tubuh Dakota.
BERSAMBUNG ..........
To Reader Wanita Presdir: Terimah kasih untuk dukungan kalian terhadap novel ini. Untuk kalian yang sudah memberikan vote, yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Jangan lupa tetap dukung novel ini, dengan like dan komentar kalian. Saya minta maaf kalau saya sangat lama up.🙏
__ADS_1
See You👋👋👋