Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 90


__ADS_3

Fano menerobos masuk ke ruangan khusus itu, bahkan pelayan hotel hanya terdiam melihat keberadaan Fano seorang Presdir dari Reinhard Group, Fano sudah sering menjadi tamu penting di Hotel itu mereka membiarkan Fano masuk. Tiba-tiba saja Fano langsung menyerang tubuh Janter yang sedang duduk di sofa.


“Bruggh ....” jeb tangan kanan Fano langsung melayang ke dagu Janter.


Pelayan itu langsung bersembunyi tidak berani mendekati Fano dan Janter.


“Aah ... kauu, kenapa kau memukulku” tanya Janter memegangi dagunya, pukulan Fano terasa sakit di dagunya.


“Dimana pengawal bodoh itu” gerutu Janter kesal.


“Kau masih bisa ngomong” ucap Fano kembali memegangi kerah baju Janter.


“Ada apa denganmu, kau seorang Presdir dari perusahaan besar tiba-tiba menghajarku, bisa-bisa berita ini akan heboh di media sosial” ucap Janter memegangi tangan Fano. Fano langsung mendorong tubuh Janter di sofa itu membuat tubuh Janter terhempas.


“Aih, kuat sekali tenaganya” gumam Janter. Janter langsung bangkit dari duduknya. Fanopun mendekat pada Janter.


“Berani sekali kau bertemu dengan Dakota, apa kau tidak tahu dia sudah menikah. Aku ini suaminya” tegas Fano di telinga Janter. Janter sangat terkejut mendengar bahwa Fano suami dari Dakota.


“Jadi suamimu Presdir dari Reinhard Group, bukannya dia masih lajang, atau mereka menikah secara diam-diam" gumam Janter. Karena Janter diam, kembali Fano melayangkan kaki kanannya, bahkan telapak sepatunya itu sudah mendarat di perut Janter.


“Buk ....” tubuh Janter kembali terhempas ke sofa.


“Aduh ....” Janter meringis kesakitan memegangi perutnya.


“Apa kau yakin dia wanitamu, aku lupa mengatakan padamu, aku yakin pria yang emosian yang kutemui saat berdansa di Paris itu juga dirimu. Cih.. kau tidak pantas jadi suaminya, kau bahkan tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik dan lembut” sindir Janter pada Fano, dia masih bisa menahan sakit akibat serangan dari Fano.

__ADS_1


“Kau tahu apa bajinga*, mau bagaimana aku perlakukan dia, itu urusan rumah tanggaku, bukan urusanmu” ucap Fano, dia langsung duduk di sofa, menahan emosinya, karena Janter mengatai dia pria emosian, dia mencoba menghadapi Janter secara baik-baik.


“Hahah ...” tawa kecil keluar dari mulut Janter. Fano memicingkan matanya, bahkan alisnya sudah naik.


“Aku saat ini sedang menahan diriku, jangan buat aku semakin emosi, bisa-bisa kau masuk Rumah Sakit nanti” tegas Fano.


“Aku orang yang pertama kali mengenal Dakota, bukan kau. Kau hanya menikahinya, namun tidak memiliki dirinya seutuhnya. Kau bahkan tidak bisa menampilkan dirinya sebagai wanitamu didepan semua orang. Oya aku lupa mengatakan padamu. Saat makan pagi di Restoran Four Seasons, aku melihat kau sedang sarapan pagi dengan Sena. Kau saja yang sudah menikah masih bisa didekati oleh wanita lain apa lagi wanita simpanan. Kau tidak mengenal Dakota, aku rasa Dakota juga melihatmu saat di Resotoran itu, miris sekali rumah tanggamu” sindir Janter kembali.


“Bagaimana bisa kau mengetahui kejadian di Restoran itu” tanya Fano heran.


“Aku orang yang mencintainya dengan tulus, selama aku tahu keberadaannya, aku bisa mengawasi gerak-geriknya, dia bahkan keluar dari Restoran saat melihat dirimu makan dengan Sena. Apa kau tidak tahu, Sena itu wanita jahat yang sudah mencelakai Dakota waktu di SMA. Aku pikir dia keluar dari Restoran karena tidak ingin melihat wajah Sena, ternyata karena suaminya. Hal itu membuktikan, kalau kau tidak pantas bersama dengannya, kau bahkan dengan mudahnya mendekati wanita lain” ucap Janter.


“Lalu bagaimana dengan kau, kau masih saja bertemu dengan wanita yang sudah bersuami” sindir Fano balik pada Janter.


“Kau pikir Dakota itu wanita murahan, dia menemuiku karena urusan penting, aku bahkan merayunya tadi, dia langsung menepis tanganku, dia bukan wanita gampangan” ucap Janter beranjak dari sofa.


“Aku tidak peduli kalau dia sudah menikah, bahkan dia bisa saja berpaling darimu, jagalah dia sebisa mungkin, aku pria yang siap menerima dia walau dia sudah disentuh olehmu, bahkan sekalipun dia punya anak darimu, aku masih siap menerimanya, hanya saja kau seorang Presdir dari perusahaan besar, kau bahkan tidak tahu apa tujuan dari istrimu selama ini. Kalau kau sampai membuatnya menangis, aku juga akan mengambil hatinya kembali. Jangan kasih aku celah untuk merebutnya” ucap Janter keluar dari ruangan itu.


“Sial, apa mereka saling menyukai dulu” gumam Fano.


“Ada apa denganku, kenapa aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan dari istriku, dia bahkan menangis keluar dari ruangan ini” gumam Fano kembali, Fano sudah terlihat gelisah.


Dengan pandangan kosong Fano keluar dari ruangan itu, ucapan Janter masih terngiang di telinga dan pikirannya. Dia masih mengingat setiap kata yang diucapkan oleh Janter, bahkan ingatan saat Janter memeluk tubuh istrinya tadi masih dia ingat, hal itu membuat emosinya semakin melunjak.


Fano bukannya kembali ke Aula Hotel untuk menghadiri undangan, dia malah duduk betah di Bar Hotel, bahkan dia meminum minuman anggur beralkohol. Naon sudah mencegah Fano untuk tidak minum minuman beralkohol, kalaupun harus minum minuman beralkohol itu biasanya Fano terpaksa meminum saat bersama dengan client dari luar negeri saja sebagai rasa hormat mendampingi tamu, kali ini Fano benar-benar banyak minum.

__ADS_1


“Bagaimana ini, Presdir bahkan meninju wajahku, wajahku sudah babak belur. Aku tidak bisa menahannya, tenaganya sangat kuat. Sudah kucegah untuk tidak minum, tapi dia tetap memaksa. Aku bisa apa” gerutu Naon di samping Fano.


Ternyata selama minum, Fano meluapkan emosinya pada Naon, selama Naon bicara, Fano langsung memukul wajah Naon, bahkan Fano sudah mulai mabuk.


***


Siti yang diperintahkan oleh Naon untuk tetap mendampingi dan mengawasi Dakota, dia ikut sedih melihat Dakota menangis sepanjang jalan keluar dari Hotel. Ternyata sejak Dakota keluar dari hotel, air matanya sudah keluar, dia tidak bisa menahan lagi mengingat selama ini dia selalu penasaran mengenai ayahnya. Dakota melangkah menyusuri trotoar jalan, dia tidak peduli sudah sampai mana dia menyusuri jalan. Tiba-tiba di tengah jalan, langkah berat kaki Dakota terhenti, saat dia melihat sepasang orang tua bersama anaknya berjalan melewatinya, bahkan anak kecil perempuan yang digendong oleh ayahnya itu terlihat bahagia. Dakota malah menangis melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh anak kecil itu dipelukan ayahnya.


“Huhu ... aku ... tidak tahu seperti apa wajah ayahku.”


“Aku belum pernah bertemu dengan ayahku.”


“Hiks ... ternyata aku punya ayah.”


“Selama ini aku sangat ingin merasakan pelukan seorang ayah, bahkan aku sudah di bohongi. Siapa yang harus aku percaya, aku bahkan memiliki saudara kandung, tega sekali mereka menyembunyikan hal ini dariku, aku seperti dipermainkan” tangis Dakota di tengah jalan trotoar, bahkan dia sudah duduk di jalanan itu menutupi wajahnya dengan kedua lututnya.


“Nyonya muda kenapa begitu sedih, terlihat seperti anak kecil yang hilang dari orang tuanya”


“Hari sudah malam, bahkan terlihat mau hujan. Apa aku menghampirinya” gumam Siti mengawasi Dakota dari kejauhan.


BERSAMBUNG...................


Hai Reader Wanita Presdir, jangan bosan ya reader dukung novel ini dengan tekan like dan komentar kalian🙏


Oya, sesekali Vote ya😊

__ADS_1


See You 🙋🙋🙋


__ADS_2