
Waktu terus berjalan hingga subuh tiba. Namun Dakota belum juga bangun dari tidur. Kebetulan karena Fano sudah sangat rindu pada istrinya. Fanopun melahap Dakota sampai subuh tiba.
Alfata sudah bangun dari tidurnya. Saat dia bangun orang yang dicarinya adalah Dakota. Namun karena Alfata tidak menemukan Dakota, Alfata langsung beranjak keluar dari kamar ibu Lena. Kebetulan ibu Lena sudah bangun lebih awal begitu juga dengan Pak Purnomo sudah bangun. Mereka membiarkan Alfata tetap tidur karena hari masih subuh juga Alfata sudah larut malam semalam tidur.
“Fata, kau mau kemana?” tanya ibu Lena saat Alfata keluar dari kamar.
“Nenek, Bunda ada dimana?” ucap Alfata mengucek matanya.
“Kemungkinan mereka masih tidur, hari masih pagi nak, tidur saja lagi” ucap ibu Lena.
“Aku mau tidur sama Bunda” ucap Alfata langsung beranjak meninggalkan ibu Lena.
“Fata” ucap ibu Lena mencegah cucunya untuk tidak membangunkan putra dan menantunya. Ibu Lena yakin anaknya sudah melepas rindu bersama menantunya.
Sesampainya Alfata didepan kamar orang tuanya. Ternyata pintu kamar orang tuanya terkunci. Alfata berpikir sejenak, karena Alfata sudah bijak, kemarin dia melihat Dakota membuka pintu kamar pakai pasword. Alfata menebak bahwa pasword itu pastinya ulang tahun Bundanya. Betul saja, Alfata langsung menekan tombol sesuai tanggal ulang tahun Dakota. Untungnya Dakota dan Fano sudah memakai selimut.
Karena masih mengantuk, Alfata langsung masuk saja bergabung di tengah-tengah Dakota dan Fano. Saat Alfata ingin memeluk tubuh Bundanya. Afata malah keheranan mendapati Dakota tidak berbusana. Alfata kembali bergeser kesamping mencoba memeluk tubuh Fano, Alfata juga mendapati tubuh Fano tidak berbusana.
“Tidur di Jakarta harus buka baju ya Bunda” ucap Alfata berbicara sendiri.
“Tapi kakek dan nenek tidak melepas pakaian mereka tadi” ucap Alfata kembali berpikir sejenak. Alfata yang polospun ikut membuka pakaiannya, dia tidur memeluk Dakota.
Namun tidak beberapa lama kemudian, alarm baker yang ada di kamar itu berbunyi sangat keras karena Dakota sudah menstel alarm supaya dia bisa bangun lebih awal untuk memasak.
“Tiriring ... tiriring ....”
Bunyi alarm itu membuat mereka bertiga mulai terbangun dari tidur mereka. Tubuh Fano langsung bergerak saat alarm itu berbunyi. Setengah sadar Fano mencoba memeluk istrinya. Bukan memeluk istrinya, Fano malah memeluk tubuh anak kecil.
“Aduh, ribut sekali” gerutu Alfata pelan.
Belum lama Alfata memejamkan mata dia sudah kembali bangun. Dakota yang sudah sadar langsung mematikan bunyi alarm itu dan mendapati tubuh anaknya sedang memeluknya. Mereka bertiga serentak membuka mata.
“Fata!” teriak Fano dan Dakota bersamaan. Alfata langsung menutup telinganya.
“Ayah dan Bunda kenapa teriak” ucap Alfata. Alfata langsung duduk diantara Dakota dan Fano, Dakota dan Fano saling menatap keheranan melihat putra mereka sudah bergabung dengan mereka. Apa lagi mereka melihat Alfata tidak memakai busana.
“Astaga, putraku ini kenapa tidak pakai busana” batin Fano.
“Apa mungkin Fata sengaja membuka pakaiannya, karena aku dan suamiku tidak berbusana. Haduh ... anakku ini” batin Dakota.
Dakota langsung cepat-cepat beranjak dari kasur menarik selimut mereka untuk menutupi tubuhnya. Dakota langsung beranjak kelemari pakaian. Dakota tidak sadar dia menarik selimut membuat tubuh bugil Fano ikut terlihat oleh Alfata.
“Wow ....” ucap Alfata memperhatikan tubuh Fano.
__ADS_1
“Fata, tutup matamu” perintah Fano sambil beranjak mencari keberadaan boxernya.
Wajah Fano langsung malu pada anaknya, dengan gerakan cepat Fano langsung memakai boxer kecilnya yang tergeletak dilantai.
“Ayah, kenapa ayah pakai pakaian” tanya Alfata keheranan melihat Fano dan Dakota sudah memakai pakaian mereka. Fano terdiam tidak ingin mejawab pertanyaan putranya. Setelah Fano memakai boxernya Fano langsung memeluk tubuh Alfata yang sudah telanjang.
“Sejak kapan kau kemari” ucap Fano memeluk erat tubuh Alfata.
“Baru saja, ayah kenapa pakai pakaian bukannya tidur itu harus buka pakaian” ucap Fata dengan wajah polosnya.
“Hari sudah pagi, sudah waktunya memakai pakaian” ucap Fano berbohong pada putranya.
“Begitu ya, aku juga pakai pakaianku dulu” ucap Fata. Setelah Dakota selesai berpakaian, Dakota langsung mengembalikan selimut yang sudah dia bawa tadi kekasur.
“Tidak perlu” ucap Dakota langsung menyelimuti tubuh suami dan anaknya.
“Kenapa bunda, ayah bilang hari sudah pagi, aku belum pakai baju” tanya Fata lagi membuat Dakota tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya.
“Aku akan memasak, kalian lanjutkan saja kembali tidur” ucap Dakota dengan wajah malu-malu.
“Astaga, kenapa juga aku menjawab tidak perlu, sudah jelas putraku sangat bijak” batin Dakota beranjak keluar dari kamar.
Setelah selesai memasak Dakota dan ibu Lena sudah menyajikan sarapan pagi di meja makan. Dakota langsung beranjak kekamar untuk merapikan diri karena dia harus bergabung dengan Admidjaya Group untuk pembukaan cabang Boutik baru yang sudah dibangun oleh Pak Admidjaya untuk Dakota. Sekembalinya Dakota ke kamar, Dakota mendapati tubuh suaminya sudah rapi memakai pakaian, begitu juga dengan Alfata ikut merapikan dirinya saat Fano merapikan rambutnya, Fata juga ikut menyisir rambutnya yang tidak panjang itu. Dakota sudah geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
“Bunda, aku bisa sendiri, lebih baik bunda mandi, tubuh bunda sudah bau dapur” ucap Alfata sambil menutup hidungnya. Mendengar ucapan Alfata, Fano langsung tersenyum pada istrinya. Perkataan Alfata ini sama persis dengan ucapan Fano saat dulu Dakota mencoba merapikan dasinya. Dakota menyerah, dia pun mencoba membantu merapikan tubuh suaminya untuk memakaikan dasi pada Fano.
“Sayang, tubuhmu sudah bau dapur, lebih baik kau mandi” ucap Fano pada Dakota saat Dakota meraih dasinya.
Mendengar ucapan yang sama Dakota langsung menatap anak dan suaminya, mereka malah mengabaikan Dakota dan kembali merapikan diri masing-masing. Dakota langsung beranjak kekamar mandi.
“Kenapa sifat mereka sama” gerutu Dakota menciumi tubuhnya.
“Perasaan tubuhku tidak bau lah” ucap Dakota kembali.
Fano langsung senyum-senyum sendiri sudah mengerjai istrinya.
# Meja Makan.
Fano dan Alfata langsung beranjak menuju meja makan. Mereka sudah di sambut oleh Pak Purnomo dan ibu Lena. Fata langsung mencium pipi Pak Purnomo.
“Pagi kakek” ucap Fata duduk disamping Pak Purnomo.
“Nenek tidak dicium” ucap ibu Lena. Fata beranjak dari kursinya langsung menciumi pipi ibu Lena.
__ADS_1
“Pagi nenek” ucap Alfata. Ibu Lena balas memeluk tubuh Alfata.
Tidak berapa lama Dakota sudah bergabung dengan mereka di meja makan. Begitu terpukau semua orang memandangi penampilan Dakota sudah elegan dengan pakaian kantornya. Bahkan rambut Dakota tergerai jatuh, wajahnya dipoles sedikit membuat tubuh dewasanya semakin perpancar. Hal itu membuat jantung Fano semakain berdetak melihat penampilan dewasa istrinya. Sejak kembali dari Jerman penampilan Dakota memang sudah berubah.
“Wow, bunda sangat cantik” ucap Alfata beranjak memeluk bundanya.
Mereka kembali berkumpul untuk sarapan pagi. Setelah sarapan pagi mereka kembali berbincang sejenak.
“Fata, kau akan belajar dari rumah kenapa secepat ini merapikan diri” ucap Pak Purnomo memperhatikan jam tanganya. Seharusnya cucunya itu masih tidur.
“Kakek, ayah sudah rapi, aku juga harus rapi” jawab Alfata.
“Apa kau tidak mengantuk, semalam kau sangat lama baru tidur” ucap Pak Purnomo kembali.
“Aku tidak bisa tidur lagi kek, aku tadi membuka pakaianku, karena aku sudah membuka pakaianku aku langsung saja ikut mandi dengan ayah” ucap Alfata polos. Dakota dan Fano saling menatap mendengar ucapan Alfata.
“Kenapa bisa kau telanjang, apa kau mengompol?” tanya ibu Lena sudah heran mendengar ucapan Alfata. Dakota dan Fano semakin panik mendengar jawaban Alfata selanjutnya. Dakota mencoba menendang kaki Fano untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Apa lagi Alfata duduknya disamping Pak Purnomo mereka tidak bisa menutup mulut Alfata.
“Karena ayah dan bunda juga tidur telanjang” ucap Fata mantap menatap pada kakek dan neneknya. Semua orang langsung terdiam mendengar jawaban Alfata.
“Tapi anehnya, ayah dan bunda langsung memakai pakaian kembali saat matahari sudah terbit. Kakek apa semua orang di Jakarta ini saat malam tiba tidur tidak pakai pakaian, tapi kenapa kakek dan nenek tidak telanjang” ucap Alfata kembali membuat suasana di Meja Makan itu semakin canggung. Naon dan Siti yang ada di tengah-tengah mereka sudah senyum-senyum sendiri mendengar ucapan Alfata yang sangat polos itu.
“Ya ampun, ini sangat memalukan” batin Dakota melihat sekitar. Rasanya pagi itu suasana di rumah itu sudah panas.
“Anakku ini terlalu jujur” batin Fano.
Pak Purnomo dan ibu Lena malah senyum mendengar ucapan Alfata yang begitu polos juga jujur.
Tidak lama kemudian Dakota sudah diantar oleh Siti. Sementara Fano masih berada di Ruang Bacanya.
“Apa semua berjalan sesuai dengan instruksiku” tanya Fano pada Naon.
“Sudah Presdir, semua kamera pengawas sudah dipasang di acara konferensi pers hari ini. Haris mengatakan semua lokasi sudah diamankan” ucap Naon.
“Beritahu pada tim IT untuk tetap memantau nanti” perintah Fano kembali beranjak keluar dari Ruang Baca.
“Baik Presdir” ucap Naon juga beranjak ikut keluar dari Ruang Baca. Fano langsung pamit pada orang tua dan anaknya untuk berangkat kekantor.
BERSAMBUNG...............
Hai Reader Wanita Presdir. Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komentar ya🙏
Vote juga boleh😊
__ADS_1
See You🙋🙋🙋